Gunung Sindoro: Gunung Kedua dari Triple S
Sindoro. Satu dari gunung triple S yang banyak diidamkan orang-orang. Tetiba pas lagi kumpul, Aga ngajakin kesana karena dia cepe-nya. Setelah perdebatan panjang lebar dengan........keuangan yang menipis akhirnya aku memutuskan ikut. Hitung-hitung latihan sebelum sesuatu yang besar awal Mei nanti!
Aku bilang pada Aga bahwa akan mengajak teman, dan niatnya akan mengajak Wahyu, teman satu divisi di kantor yang hobi naik gunung juga. Tapi apa daya, ternyata Wahyu ga bisa karena kita berdua ga mungkin izin kantor barengan hikssss. Aku yang sudah bilang ke Aga akan mengajak teman akhirnya mengajak @delfm, teman naik gunungku ke merbabu dulu. He said yes. Daaaaaan ternyata banyak dari grup BPJ 8 yang ikut ada Aga, aku, Delly, Yoni, Bayu, Dilla, Ocky, dan Acho. Bismillah...
FYI: di Backpacker Jakarta ini dibuat sistem RT yang 1 RT = 1 Grup Whatsaap, jadi kami ber8 berada di 1 grup whatsapp dengan nama RT 8 :)
15 April 2016
Malam itu aku diantar Ayah ke Sekret BPJ, segera saja aku bergabung dengan yang lainnya. Ternyata pendakian Sindoro dan Sumbing digabung dalam satu bis. Ada sekitar 60 orang dalam bis itu. Seperti biasa, aku memilih duduk dekat jendela agar bisa senderan, maklum ga punya senderan sih HAHAHAHA *oke skip*. Kami berangkat sekitar jam 10 malam dan sempat berhenti sekali di pom bensin untuk shalat dan menuntaskan hajat di kamar mandi hehe
16 April 2016
Pagi ini kami sempat mampir lagi di sebuah rumah makan, sebagian makan, dan sebagian lainnya seperti aku justru do nothing, karena masih belum nafsu makan. Setelah ada yang selesai makan, perjalanan dilanjutkan dan kami sampai di basecamp sekitar pukul 7 pagi. Sebenarnya tidak diturunkan langsung di basecamp tapi di jalan raya dan harus jalan sekitar 500meter lagi, ini pemanasankah? Pft. Begitu sampai basecamp, hal pertama yang aku pikirkan ialah makan. Well, catatan saja buat kalian dan aku juga sih, sebaiknya membungkus satu bekal nasi+lauk, jaga-jaga agar tidak kelaparan di jalan dan sindrom malas-masak-karena-kecapean datang hahaha. Pastinya kalau sudah sampai di pos tenda nanti, tetiba saja capek dan malas masak.
Setelah itu, segera juga kami repacking. Anyway jangan mau naik gunung sama aku, aku anaknya ngerepotin suka nitip nitip barang ahahaha. Gak deeeeeh canda kok canda~ oiya, tetiba ada Puput (dulu kenal pas ke Krakatau) yang sesungguhnya ga masuk list peserta tapi udah nongkrong di basecamp dan akhirnya ikut. Hemmmmm......yaudahlahya itu urusan cepe, bukan urusanku hahaha. Well, di Sindoro kalau mau hemat tenaga mending naik ojek dari basecamp ke pos perbatasan ladang dan hutan. Lumayan cuma 15ribu dibandingkan harus jalan satu jam setengah. Tapi jangan lupa pegangan sama abangnya karena jalanan yang cukup terjal. Pegangan ya, bukan peluk, dasar jomblo cari kesempatan aja~~
Hampir semuanya naik Ojek, entahlah di pos ataspun sempat main uno dan shalat sambil menunggu yang jalan kaki, warbiyasa kan? Perjalanan dimulai sekitar jam setengah satu. Aku? As always selalu mengambil posisi jalan di depan. Sekali lagi, bukan karena aku egois atau sombong. Justru aku memikirkan diri yang lemah ini kalau jalan di belakang dan berhenti istirahat malah akan tertinggal dan merepotkan. Gitu... Serunya adalah anak RT 8 banyak yg ikutan, jadi kami menggerombol di depan, yeay!
Well, jalan masih berupa tanah sampai pos ke dua. Kami membutuhkan waktu sekitar 1.5 jam untuk mencapai pos 2. Setelah itu pos dua jalannya berbatu dan nanjak. Jalurnya pun cenderung sempit dengan tipe agak dengkul ketemu dada haha. Aku yang lemah ini seringkali berhenti. Iya Dinna itu mah lemah tapi suka sok-sokan mau naik gunung, huft~ Selain itu jalur menuju pos tiga sebelah kanan serupa punggungan gunung yang agak curam, bahkan terkadang sebelah kiri-pun jadi harus hati-hati terutama jika berpapasan dengan pendaki lain. Lihat! Yoni dan Bayu pun kelelahan~
Hujan mulai turun, dan sepanjang jalur menjadi licin. Errrr, terpaksa memakai jas hujan. Beruntung aku dan beberapa orang telah sampai terlebih dahulu di pos tiga daaaaaaaan sudah penuh oleh tenda-tenda. Kami menumpang di satu pondok milik penduduk setempat. Kami umpel-umpelan di dalam pondok sambil menunggu yang lain datang. Bahkan kami sempat makan roti dulu, sepertinya memang lebih susah jalur ke pos tiga saat hujan deras sehingga menghambat yang lain.
Setelah sudah ada beberapa orang lagi yang sampai di pos 3, kami langsung menuju pos 3 setengah. Pos berupa tanah datar di atas pos tiga yang lebih sepi dan cukup luas untuk rombongan kami yang sangat banyak. Langit sudah mulai gelap dan berkabut saat itu. Tapi di depan kami terlihat Sumbing yang sangat kokoh dan meminta didaki, someday aku kesana! Hahaha. Tenda-tenda mulai dibangun, dan aku yang kedinginan langsung menyerbu tenda Yoni dan Delly, mencari kehangatan #eh haha. Aku segera berganti baju dan bersiap menuju dapur (darurat).
Menjelang maghrib, satu per satu tim mulai datang. Beberapa orang termasuk aku segera membongkar logistik. Pertama kami membuat minuman hangat kemudian menyusul memasak makan malam. Sedihnyaaaaa adalah aku yang memasak di ujung tidak terlalu tertutup flysheet. Angin berhembus dan hujan agak turun rintik-rintik, dingin adek mah dingiiiiiiiiin. Untung Delly gercep pinjemin jaket haha jadi drama kedinginan ga berlangsung lama dan segera masak lagi~
Btw, ternyata rendang yang ditunggu semua orang dibawa Bang Bule, dimana doi masih di perjalanan karena nemenin Puput. Emosilah orang-orang yang kelaparan ini hahaha. Sekitar setengah 8, Bang Bule, Bang Riza, dan Puput baru sampai di tempat kami. Kelelahan sangat terlihat di mata Bang Bule dan Bang Riza. Aku berikan segelas air hangat dan meminta Puput segera berganti baju. Umm aku agak shock sih, katanya cuma bawa baju daster.....what? Aku hanya menjawab untuk ganti dengan apapun yang ia bawa, karena baju yang ia pakai sudah basah terkena hujan.
Setelah makan malam, tak banyak yang bisa dilakukan. Aku sendiri hanya mempersiapkan barang-barangku untuk summit esok pagi. Aku masuk ke tenda yang diisi Dila, Ika, dan Nisa. Awalnya Ika ingin memberikan kejutan pada Ijal, tapi apa daya jam dua belas malam tidak terbangun hahahaha.
17 April 2016
Aku terbangun setengah tiga, dan segera bersiap. Aku sempat memakan sedikit roti dan milo hangat, hasil minta ke tenda sebelah hahaha. Berhubung Aku cuma bawa tas kecil isi handphone dan powerbank, jadiiiiiiiiii air dititip ke Delly, mukena dititip ke Bayu, tukang ngerepotin~ Setelah berhitung, kami segera melakukan pendakian. Jalan menuju puncak lebih banyak berbatu dan agak curam. Selain itu, jalurnya juga sempit sehingga harus bergantian.
Aku sendiri yang payah in sering berhenti, minta minum, nyusahin pokoknya hahaha :p enggak deeeeh. Kami sholat subuh di sebuah tempat yang cukup datar. Wudhu? Tinggal bertayamum. Mukena yang aku bawa cukup kecil dan ringan. FYI, kalian bisa menggunakan kain kecil yang bersih sebagai alas muka saat sujud. Tak jarang, daratan tersebut berpasir dan cukup menggangu bukan? Sholat itu mudah gaes kalau lagi traveling, asal niat~ Kami sempat berhenti agak lama saat matahari mulai muncul. Kami siap dengan kamera masing-masing. Cekrak Cekrek. Well, pejuang 5km berfoto bersama, eaaaa hahaha. In Frame: Dilla, Yoni, Delly, Bayu, Dinna :)
Aku lelaaaaaaaaaaaah. Siapa yang bilang naik gunung itu ga capek? Siapaaaa??!!!! Ketika sudah lelah, maka kata-kata semangat dan ucapan ‘puncak bentar lagi’ rasanya cuma selewatan aja. Sebel ga sih kalau ada yang ngomong ‘puncak bentar lagi, ayo jalan ayo’? Pft. Dijamin hampir 80% itu cuma buat nyemangatin aja, sisanya baru bener kalau puncak sudah dekat. Well, di Sindoro yang menjadi patokan puncak ialah bendera Merah Putih yang berkibar diantara putihnya bebatuan puncak. Tapi sekali lagi, aku berpikir, kapan lagi ke puncak Sindoro? Aku adalah tipe yang malas naik ke gunung yang sama, kecuali Merbabu~
Meskipun lelah, aku lagi-lagi mengambil posisi depan. Satu-satunya motivasi ialah menjadi yang pertama muncak di antara perempuan-perempuan BPJ yang naik ahahahak #ambisipribadi. Well, di depan ada Bang Epen dan.......entah siapa namanya lupa hehe. Aku tertatih-tatih melewati batu-batuan, diselingi teriakan semangat dan juga ejekan dari you-know-who, pft. Berbekal itu, semakin mendekatlah aku ke bendera tersebut. Tak jauh dariku ada Dilla yang kayaknya baru pertama kali naik gunung dengan trek semacam ini (Papandayan masih aman kan treknya? Hehe). Well, dia kece udah lebih dulu daripada yang ciwi-ciwi lainnya!
Terengah-engah, aku sampai di puncak Sindoro! Hal yang aku lakukan pertama hanyalah menyentuh tiang bendera tersebut. Pelan-pelan aku pegang tiangnya, sambil tangan tergetar karena lelah #tsah, dan kemudian jatuh terduduk karena terharu bercampur kelelahan. BAAAAANGGGGGG, ADEK SAMPE PUNCAAAAAK!!!!! Bersender dan mengatur napas. Daaaaaaaan.......gausahlah ya ditanya apa lagi selanjutnya. FOTO-FOTOLAH! Hahahahaha. Yeay, semua warga BPJ 8 sampai ke atas kecuali Aga yang menjaga tenda-tenda kita ~~/o/
In Frame BPJ 8: Atas: Dinna, Delly, Aa Acho, Dilla, Bayu Bawah: Ocky tukang PHP, dan Yoni penulis buku
Setelah puas berfoto-foto, kami segera turun. Jangan pernah percaya Dinna itu kuat kalau naik gunung, Dinna mah kuat karena emang niat dan teman-temannya banyak yang bantuin, uw~ Kaki ini sudah sakit, tapi tau lah Delly yang super-duper tega itu nyuruh turunnya sambil lari pft. Jorokin aja gue ke jurang deeelll, jorokin! Eh jangan, ntar Ayah Mama gapunya anak kesayangan lagi hahaha. Akhirnya dengan sedikit keterpaksaan dan jaminan bahwa ga akan jatuh karena ditangkap diujung, aku lari-lari kecil turunnya.
Masalah ga selesai di sana, aku kehausan! Air yang dibawa sudah habis entah dimintain siapa huhu. Lagi-lagi ngerepotin minta air ke orang, plus minta permen karet HAHAHAHA. Tuhkan ngerepotin, yakin mau ngajak naik bareng? Anyway, dari puncak ke tenda, butuh waktu kurang dari 2 jam (gegara dipaksa lari). Tujuan pertama ialah, minuuuuuuum dan......makan pecel yeay! Awalnya sok-sokan pengen makan pecelnya ga banyak. Eh terus kelaperan, terus minta dibikinin pop-mie haha maluuuuk!
Kami semua segera bersiap-siap pulang. Dan cuaca kembali sedikit mendung dengan gerimis kecil. Kami segera menuruni bukit dan lagi-lagi aku mengambil posisi di depan bersama Dila, Yoni, Delly, dan Bayu. Siapa bilang turun lebih asik? Hem justru kaki harus menahan beban yang lebih berat daripada naik, ga percaya? Google it! Kaki aku yang sudah lemas, berkali-kali jatuh atau menyerosot, yaudahlah yaa~
Setelah pos 2, aku semakin malas berlari jadi yaaa jalan-jalan santai aja bersama Yoni dan Delly. Dilla sama Bayu? Masih di belakang kayaknya~ Tau gaaaaaaa? Masa ada momen nyebelin sekaligus mengharukan gitu pas pos 1 udah di depan mata. Delly dan Yoni sengaja berhenti dan mengambil posisi jalan dibelakangku. Alasannya? Biar Dinna bisa duluan sampe pos 1. Ugh, entah ini mengejek atau mengharukan. Dinna anaknya gampang terharu sih hahaha.
Kami segera mengambil ojek yang mangkal di pos 1. Yes, ojek is the best choice ever in that time! Sesampainya di bawah, kami berlima segera menuju masjid untuk mandi dan sholat. Setelah itu segera menuju bis-yang-ternyata-masih-lama-jalannya, akhirnya kami makan dulu. Bis berjalan sekitar jam 7 malam. Kami sempat berhenti di beberapa pos pemberhentian, laper lagi! *pantes gendut lo Din* Bis sampai di Jakarta sekitaaaaaaar jam setengah 10 pagi, hari libur nasional ala BPJ! Kerjaan mana kerjaan? Haha. Aku menumpang taksi Delly menuju rumah dan baru berangkat kerja abis dzuhur. Aku hanya sempat makan dan mandi langsung kerja! Demi harga catering nikah yang semakin mahal. Sekian.
Ps: Gapapa dong ya ditutup dengan foto-foto aku sendiri, namanya juga tumblr-ku hahahak. Jangan lupa ajak fotografer pribadi kalau jalan-jalan (baca: Bayu dan Delly), biar semakin hits foto-fotonya hahaha :p thankyou!









