selamat ulang tahun erisandi arditama, semoga hidup selalu menyertaimu dengan kebaikan dan kerendahan hati.

★

Kiana Khansmith
Three Goblin Art
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

ellievsbear
🪼
Sweet Seals For You, Always
Claire Keane
Game of Thrones Daily
$LAYYYTER

No title available

❣ Chile in a Photography ❣
I'd rather be in outer space 🛸
dirt enthusiast
we're not kids anymore.

pixel skylines
almost home
No title available

shark vs the universe

No title available

seen from Netherlands

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye

seen from United Kingdom
seen from Germany
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Netherlands

seen from Germany
seen from Germany

seen from United States
seen from South Africa
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Germany
seen from United States
@dinnaannisaa
selamat ulang tahun erisandi arditama, semoga hidup selalu menyertaimu dengan kebaikan dan kerendahan hati.
Seberapa baik aku mengenalmu?
Barangkali sebaik aku memahami bahwa kamu tak suka dipotong ketika bicara. Maka aku memilih diam, menunggumu menuntaskan segala yang ingin kamu ucapkan. Meski dadaku penuh pembelaan dan kata-kata yang ingin keluar, aku tetap tinggal dalam tenang, nenunggu amarahmu reda, menunggu suaramu kembali teduh.
Barangkali sebaik aku tahu bahwa kamu memiliki prinsip-prinsip yang kamu tegakkan sepenuh hati; menjaga batas antara lelaki dan perempuan sebagaimana kamu menjaga kehormatan dirimu sendiri. Itulah sebabnya ada begitu banyak rasa yang kutahan, begitu banyak kalimat yang urung kusampaikan, meski hatiku berkali-kali bergemuruh memanggil namamu.
Aku tahu bagaimana wajahmu saat marah. Tatapanmu menjadi tajam, dan kata-kata yang terlontar seringkali emosional. Namun aku juga tahu, hatimu mudah luluh untuk memaafkan. Kamu tetap seseorang yang baik hati, tetap seseorang yang menyenangkan untuk dipandang dan dipeluk oleh perasaan.
Aku tahu bagaimana kamu saat senang. Kamu banyak tersenyum tapi sedikit bicara. Matamu indah tapi senyummu jauh lebih memesona.
Aku mengenalmu, sebab aku tak pernah sungguh-sungguh melewatkan setiap sisi yang kamu biarkan terlihat di hadapanku.
Dan meskipun mungkin saja aku keliru menafsirkanmu, tak sedikitpun mengurangi perasaanku yang membara, untukmu.
kita semua pernah punya
si punggung. seseorang yang hanya bisa kita nikmati punggungnya saja.
si bapak sungai. seseorang yang menjadi sumber semangat kita, inspirasi kita.
si manusia salju. seseorang yang dingin sekali, yang dinding hatinya begitu tinggi.
si bintang di langit. seseorang yang kita kasihi, tetapi tidak bisa kita gapai.
si abi pohon. seseorang yang menjadi alasan kita berani.
kita semua pernah punya seseorang seperti itu. mungkin masih. nggak apa-apa orangnya nggak nyata. seringkali memang orangnya nggak benar-benar ada. yang penting semangatmu iya. semangatmu nyata. dan kamu masih ada.
Cerpen : Selepas Sekolah
Masa-masa remaja yang dulu kulalui dengan ragam cerita, cinta monyet, merasa paling tahu, ke sana kemari tanpa harus tahu bagaimana caranya memenuhi kebutuhan hidup - karena masih ditanggung sama orang tua. Kini telah sirna.
Ternyata selepas sekolah, seumur hidup kita akan bekerja. Paling tidak mencari cara untuk bertahan hidup dan membiaya hidup sendiri, jika kita masih sendiri. Kalau sudah berkeluarga, maka lain ceritanya.
Ternyata selepas sekolah, kehidupan orang dewasa yang dulu kusangka penuh dengan kekebasan karena bisa bepergian kemanapun tanpa izin, membeli apa yang disukai, jatuh cinta, dan segala hal yang dulu aku sangat tak sabar untuk segera dewasa. Kini telah menjadi kehidupan yang membuatku ketergantungan antidepresan, jamu tolak angin, minyak kayuputih, koyo, dan segala macam obat-obatan lambung.
Ternyata selepas sekolah, kita akan berusaha bertahan hidup. Bekerja apa saja yang halal selama bisa menghasilkan. Cita-cita yang dulu ditulis di buku gambar waktu TK banyak yang sudah dilupakan. Sementara dulu waktu aku kecil, aku berani bermimpi apapun, menjadi apapun. Kini, aku terlalu takut bahkan untuk bermimpi bisa menikah dan berkeluarga yang harmonis. Aku tak punya keberanian untuk mewujudkan mimpiku yang terasa kekanak-kanakan dan tak mau ditertawakan. Aku bahkan takut untuk menjadi diriku sendiri. Tidak menyangka, kalau jalannya seseru ini. Sampai-sampai aku tak sempat untuk merasakan banyak hal, karena badan sudah lelah dan pikiran sudah penuh. Waktu yang terus bergulir sering membuatku memiliki sesal, mengapa aku tak kunjung beranjak dari keadaan ini.
Apakah benar bahwa aku memiliki banyak pilihan dalam hidup seperti apa yang kusaksikan di Tiktok dan Instagram? Jangan-jangan memang aku tidak memiliki banyak pilihan, dan aku mendamba sesuatu yang tidak pernah ada sebagai takdirku.
Bukankah tidak apa-apa menjadi biasa saja dalam hidup? Apakah aku harus mencapai segala sesuatu seperti orang lain? (c)kurniawangunadi
this was so this is me trying of her...
34 Tahun
Hi semuanya, mungkin ada di antara teman-teman di sini yang telah mengikuti akun ini sejak tahun 2014? Artinya itu sudah 10 tahun yang lalu dan 10 tahun yang lalu, tepat di bulan Januari 2014 saya baru menyelesaikan sidang tugas akhir di ITB saat itu. Kemudian mengerjakan revisi dan akhirnya wisuda di bulan Mei nanti. Di tahun 2014 juga lahir buku pertamaku, Hujan Matahari. Buku yang menjadi penanda titik balik hidup dan jalan pintu gerbang keluar dari Quarter Life Crisis. Hehe...
Tahun itu, umurku masih 23 tahun - mau 24 ditahun 2014 akhir. Bagaimana rasanya melewati 10 tahun dari masa itu ke sekarang, nah ini yang ingin kucatat dalam tulisan panjang kali ini. Barangkali, ada teman-teman baru di sini yang baru mengikuti akun ini beberapa waktu lalu, sementara akun ini telah aktif sejak 2010 (14 tahun lalu!). Barangkali juga, saat 2014 lalu beberapa teman-teman di sini yang baru mengikuti halaman ini, mungkin masih SD, SMP, atau SMA mungkin? Sehingga dinamika di tahun yang sama saat itu, tahun2014, antara kita berbedanya luar biasa. Dinamika mahasiswa yang baru lulus kuliah dan dinamika anak SD/SMP/SMA. Tapi sekarang, di tahun 2024 ini, saat usiamu mungkin seusiaku pada saat itu. Jarak usia kita yang 10 tahun mungkin tidak begitu terasa, apalagi jika bertemu langsung. Kamu sudah cukup dewasa bahkan untuk memulai berumah tangga, dan seharusnya sudah cukup matang untuk menghadapi beragam dinamika kehidupan dewasa.
Pertama, jangan pernah takut buat memiliki mimpi. Sekalipun hanya kamu yang memiliki mimpi itu sendirian diantara keluargamu atau teman-temanmu. Nanti seiring berjalan waktu, saat tanggungjawab bertambah dan mungkin membuatmu semakin realistis, kamu akan berhitung dengan mimpimu sendiri. Justru pada saat ini, saat masih besar energinya - beranikan diri untuk mengejarnya.
Kedua, setahun-dua tahun atau bahkan beberapa tahun yang kamu perlukan untuk mengenal dirimu sendiri, ambilah! Karena setahun-dua tahun itu tidak akan ada artinya sama sekali dibandingkan dengan puluhan tahun berikutnya yang akan kamu jalani dengan badan dan pikiranmu sendiri.
Kalau kamu ingin pekerjaan A dan itu mentuntutmu untuk belajar 2 tahun lagi, ambil!
Kalau kamu ingin memperbaiki diri - berjuang- apapun itu untuk mendapatkan pasangan hidup yang paling ideal menurutmu dan itu membutuhkan beberapa tahun ke depan, ambil!
Kalau kamu ingin membangun usahamu dan itu butuh waktu beberapa tahun untuk sampai ke titik idealnya, ambil!
Kalau kamu perlu beberapa tahun untuk membujuk orang tuamu agar merestui jalan hidup yang sedang kamu perjuangkan demi memperbaiki pola kehidupan keluarga kecilmu nanti, ambil!
Jangan takut untuk mengorbankan beberapa tahunmu untuk puluhan tahun berikutnya. Apalagi kalau kamu tahu itu sangat berharga. Anggap aja kamu seperti lagi ngambil gap year, lulus SMA - jeda dulu untuk mempersiapkan diri lagi demi mendapatkan bidang/jurusan kuliah yang benar-benar sesuai keinginanmu.
Ketiga, jangan takut untuk jatuh cinta tapi bersikaplah dewasa. Kalau kamu suka sama seseorang,
Kalau kamu laki-laki - maka lihat keadaan dirimu apakah sudah cukup mampu untuk bertanggungjawab pada kehidupan lain, kalau masih ngandelin duit orang tua, lupakan! Kalau ngaji aja gak bisa, belajar dulu! Kalau masih belum bisa ngatur skala prioritas diri, lupakan! Pesanku, kalau sudah yakin siap - yakin matang emosinya dan pikirannya - berani menjadi imam yang baik, kalau suka sama seseorang, sampaikan langsung aja, kalau diterima ya dinikahi, kalau ditolak - cari yang lain, tidak perlu diperjuangkan berkali-kali. Kalimat terakhir barusan memang sangat subjektif, tapi based on experience, xixixii.... Apalagi kalau yang nolak orang tuanya, dah lupakan aja, segera move on!
Kalau kamu perempuan (ditambah sekarang saya udah punya 2 anak perempuan, heuheu...). Memiliki perasaan kepada lawan jenis itu wajar sekali, tapi terbukalah dan diskusikanlah dengan orang yang cukup matang pikirannya menurutmu, bisa orang tua, guru, mentor, siapapun yang menurutmu - pendapatnya bisa menjadi dasar dari keputusan-keputusan baikmu. Sebab, salah satu tantangannya di sini adalah dominasi perasaan, sehingga ketika perasaan itu muncul, logikanya agak eror. Padahal, di momen seperti itu sangat dibutuhkan pikiran yang jernih dan terang benderang. Agar jangan sampai mengorbankan hal-hal yang fundamental dan esensial dalam hidupmu. Apalagi sampai terjebak dalam toxic relationship, dsb. Belajarlah untuk memiliki sikap yang teguh, kuat, dan yakin. Fokus aja sama impianmu, nanti pasti ada orang yang sejalan di impian itu.(Ini agaknya nasihatku buat anak-anakku nanti). Keempat. Bekerja karena uang, di awal, itu nggak apa-apa, apalagi kalau memang ada tuntutan finansial misal membiayai adik-keluarga, dsb. Namun, tetaplah cari sebanyak-banyaknya pengalaman. Jika ada kesempatan, jangan langsung mengkonversi kesempatan tersebut dengan uang. Lihat lebih teliti, benefit apa yang bisa kamu dapatkan dengan kesempatan itu, apa yang bisa kamu pelajari, jaringan apa yang bisa kamu dapatkan, dan sebagainya. Kalau pun orang lain menilaimu - gampang dimanfaatin orang - eits, tunggu dulu dan jangan langsung menelan itu mentah-mentah ya. Lihat lagi, lebih cermat, seberapa besar manfaat yang kamu bisa dapatkan dari kesempatan. Dan kamu perlu tahu dan menyadari, kenapa kesempatan belajar itu hadir ke kamu, bukan ke orang lain? Kelima. WAJIB BANGET PUNYA MENTOR! Kalau belum ada, cari sampai ketemu - sampai dapat. Orang yang bisa kamu jadikan sebagai guru-penasihat untuk bertanya dan bertukar pikiran. Cari untuk mengisi ruang kosong dan gap yang kamu miliki. Tahukah gap nya apa? Kebijaksanaan dan pengalaman!
Anak muda itu penuh semangat, minim pengalaman. Orang tua itu, energinya udah abis, tapi pengalamannya sangat kaya. Nah, ambil kebijaksanaan dan pengalaman itu. Dari orang-orang yang lebih senior, lebih berilmu. Cari mentor di pekerjaanmu, di kehidupan spiritualmu, di soal asmaramu, apapun. Itu benar-benar akan membantumu melewati fase krisis dengan lebih efektif. Membantumu mengurai benang kusut di pikiran, membantumu melihat jauh ke depan terhadap masalah yang sedang kamu hadapi. Bahkan, sesekali membantumu membuat keputusan saat logikamu lagi super eror karena jatuh cinta.
Keenam, ketujuh, ke seterusnya mungkin lain kali kuteruskan. Hehe.. punten XD. Tapi mungkin teman-teman di sini, yang mungkin sudah umur 30an dan mau berbagi pelajaran-pelajaran berharganya, boleh banget lengkapi di fitur komentar ya. Akan senang sekali jika tulisan ini menjadi ruang refleksi bersama-sama. Salam hangat, Kurniawan Gunadi
Orang-orang yang pernah kukenal dalam hidup ini tidak semuanya harus menjadi karib. Ada yang cukup untuk kenal, cukup untuk bekerja, cukup untuk hal-hal tertentu saja. Karena memang kehadirannya untuk bersinggungan takdir, mungkin sehari, seminggu, atau beberapa saat. Maka dari itu, tidak perlu terlalu mengambil hati apa-apa yang hanya lewat itu. Apalagi jika yang hanya lewat sebentar itu, membuatmu tidak nyaman sepanjang waktu dan kamu memeliharanya dalam pikiranmu bertahun-tahun.
Jangan sampai, sesuatu yang hanya sebentar, mengganggumu seumur hidup. Perasaan kagum, cinta, kasihan, marah, dan semua hal yang naik turun di dalam hatimu. Tidak perlu terlalu diambil hati. Lain kali, lebih hati-hati. Lain kali, lebih mawas diri.
belajar menghilangkan perasaan-perasaan yang tidak perlu. ingatan-ingatan yang mengganggu. dan segala hal lain tentangmu yang membuat rinduku jadi semakin menggebu.
ingin aku menghilang, seperti menjadi orang asing yang tidak pernah kau kenal. tapi bersamamu aku bak seperti kecanduan. lagi, lagi, dan lagi, denganmu aku selalu ingin bergandengan tangan.
tapi apa yang harus kulakukan. aku bukan yang kamu inginkan. aku bukan perempuan yang baik untukmu, dan kamu terlalu indah untuk bisa kugenggam.
lantas bagaimana jika ini akhir dari semua yang sedang kuperjuangkan?
apa kamu tidak merasa kehilangan?
23/11/22.
karena aku sangat mudah untukmu
karena aku sangat mudah untukmu.
kamu tidak perlu lelah-lelah berjuang, sebab aku tidak mungkin sampai hati membiarkan orang yang ingin memperjuangkanku berjuang sendirian.
kamu tidak perlu repot-repot membuat dirimu diterima, sebab aku selalu bersedia mengambil tanggung jawab untuk lebih dari menerima–yaitu memaafkan, melupakan, bahkan melepaskan.
kamu tidak perlu pusing-pusing memikirkanku, sebab aku sungguh selesai dengan diriku sendiri. sebab masa depanku adalah rangkaian rencana yang bisa diganti. sebab ambisiku selalu (hanya) sekeras tangan yang menggenggam pasir, secukupnya mencukupkanku.
kamu tidak perlu khawatir tentang apapun, sebab aku bisa mengikutimu ke mana pun. aku bisa diajak berjalan, berlari, merangkak. aku bisa bertahan pada segala musim dan cuaca, bisa berteman dengan segala rasa dan nuansa.
karena aku sangat mudah untukmu, semoga kamu merasakannya: bahwa yang mudah didapatkan, belum tentu tak berharga.
semoga aku sangat berarti untukmu.
bahwa yang mudah didapatkan, belum tentu tak berharga. 👍🏻
Jangan khawatir karena di dunia ini, masih ada orang yang sangat tidak ingin melihat kamu sedih, apalagi terluka.
Aku salah satunya.
Sebab hati yang terikat dan terkunci pada seseorang yang belum jelas itu biasanya akan merepotkan, melelahkan dan bahkan membatasi diri untuk melangkah. Apalagi untuk mengambil sebuah keputusan
Lepaskan saja. Jangan menggantung harapan pada janji manusia, apalagi soal menunggu.
Melepas untuk melangkah.
@jndmmsyhd
waktu terus beranjak dan aku tidak tahu sampai kapan harus menunggu. sepi dan sendiri yang kurawat dengan sabar dan ikhlas bertahun-tahun. harap dan lelah yang terus membaur jadi satu, keinginan untuk terus bersamamu tidak pernah sehari pun terasa luntur.
gejolak bosan yang melanda tidak pernah serta merta membuatku ingin lari darimu. rasa ragu, khawatir, dan curiga yang kadang-kadang datang mengganggu, kutolak dengan satu keyakinan bahwa kamu selalu menjadi orang yang setia; padaku.
semoga kamu mengerti, bahwa mencintaimu itu tidak mudah dan butuh waktu yang lama untuk terus merawat sabar. bahwa untuk mencintai orang secerdas kamu, aku butuh bahu lebih kuat lagi dalam menerima setiap apa saja mimpi-mimpi yang akan kamu wujudkan esok hari.
semoga kamu tidak berubah, semoga kita tidak lelah.
30 september 2022
Cerpen : Pertanyaan Kenapa
Aku belum juga menikah bukan karena aku gak mau, bukan pula karena gak ada yang mau. Aku masih harus bekerja dan fokus sama keluargaku, utang keluargaku nggak sedikit. Bahkan aku bertahan di pekerjaan yang membuatku begitu tertekan, aku betah-betahin karena aku butuh uangnya. Keluargaku tidak siap untuk masuk ke dalam fase baru, melihat anaknya menikah meskipun ibu seringkali bertanya dan menyuruh-nyuruhku untuk segera; malu sama tetangga, katanya. Aku belum mau menikah sampai aku merasa latar belakangku sudah kubenahi. Aku belum punya anak juga bukan karena aku menunda, aku ingin sekali. Tapi kan anak tidak bisa dibeli di supermarket, yang kalau punya uang bisa tinggal belikan saja. Aku dan pasangan sudah bolak balik rumah sakit untuk menyembuhnya penyakitnya, ada sakit yang tak bisa aku jelaskan satu per satu, toh kalian juga nggak akan nyumbang buat membiayainya, cuma kepo aja. Apalagi, kalau tahu, nanti kalian malah sibuk menyuruhku untuk menceraikannya dan menikah dengan yang lain saja, yang lebih sehat. Kupahami, memang di otakmu pernikahan hanya dipikir untung rugi aja, bukan hubungan saling mengasihi dan menyayangi. Aku bekerja di sini itu bukan karena aku gak diterima di mana-mana. Aku ingin menjaga bapakku yang tinggal sendiri. Meski katamu sayang ijazahnya, sayang udah disekolahin tinggi-tinggi ujung-ujungnya jadi guru PAUD. Gaji nggak seberapa, rugi sekolahnya udah bayar mahal-mahal. Kalian aja yang gak tahu kalau sebelum aku ambil keputusan jadi guru di desa ini, aku sudah diterima di perusahaan multinasional. Gak jadi kuambil karena aku kasihan sama bapakku kalau kutinggal sendiri. Nanti kalau aku tinggal bapakku, katanya aku kurang ajar dan gak kasihan sama orang tua karena ditinggal sendirian di rumah, kalau sakit gimana? kalau mau mati, gimana? Aku kayak gini tu bukan sepenuhnya hal yang kuinginkan, kalau kubunuh rasa peduli dan rasa cinta, pasti aku abaikan semuanya, kutinggalkan semuanya dan aku akan kejar apa yang aku mau mau gimanapun caranya. Tapi, gara-gara kalian sering tanya kenapa, yang tadinya aku sudah bulat dengan segala keputusanku, kini terkikis juga rasa syukurku. Kalau nanti di pengadilan Tuhan aku ditanya kenapa rasa syukurku sedikit, kutuntut kalian satu persatu karena telah merusak rasa syukurku tersebut karena terlalu sering bertanya kenapa padahal aku tak pernah meminta pendapatnya. ©kurniawangunadi
coba kamu tambahin sendiri
Kalau pas lagi pusing, biasanya aku gak cerita ke siapa-siapa. Bahkan ke temen deket sekalipun. Karena sering merasa lebih nyaman kalo bisa nyembunyiin perasaan sendiri dari orang lain, keliatan kuat. Keliatan tabah dan sabar. dan juga membuat aku seperti tidak bisa ditebak.
Tapi yah, kadang rasanya jadi orang yang sok kuat itu ternyata bisa beneran bikin diri sendiri jadi pelan-pelan kuat beneran. Kaya mau nangis tapi ditahan, akhirnya gajadi nangis dan besok-besok kalo kenapa-kenapa jadi lebih bisa menahan diri. Kaya mau marah tapi taarrik nafas panjang buat sabar dan akhirnya besok-besok jadi bisa lebih luas hati. Tapi balik lagi di awal— kadang-kadang.
Aku juga sering bertemu dengan orang-orang pintar dan baik hati, tapi setelah cerita banyak ternyata aku tidak menemukan kenyamanan dengan mereka. Tidak. Sampai aku bertemu denganmu.
Iya, kamu. Karena memang sejak awal kamu ngga hanya kasih support secara lisan, tapi juga tindakan. Dan apa yang selalu aku takutkan selalu kita coba upayakan berdua. Bukan salah satu. Meskipun itu cita-citaku, impianku. Tapi kamu selalu merasa itu juga bagian dari mimpi-mimpimu, untuk mewujudkan apa yang aku impikan.
Aku tidak pernah merasa se-lega ini bercerita, resah yang kubagi, luka yang kamu terima, dan segala hal-hal menyakitkan yang ku rasa tapi kamu bersedia menerima tanpa banyak memberi kata-kata. Kamu hanya menatapku lekat seperti berkata bahwa denganmu semua pasti baik-baik saja. Hal-hal yang ku rasa berat tetapi denganmu aku bisa sabar melewatinya.
Terima kasih sudah menjadi orang asing pertama yang melihat aku menangis, marah, dan juga diam. Sejak 4 tahun lalu saat kita masih sama-sama bertumbuh, dan hari ini kita menjadi sepasang yang saling berkomitmen.
Karena kamu adalah teman senang-sedih-dan juga tabahku dalam menjalani lika-liku fase kehidupan ini. Semoga kamu tidak berubah.
7/7/21
Apakah dengan semakin lama kita bersama, kita semakin bisa mengenal satu sama lain?
aku tidak bisa tidur malam ini, persis seperti malam beberapa bulan lalu. angin terasa lebih kencang, udara mencekam, langit yang lebih gelap dari biasanya. aku hendak mengenang yang dilupakan, mengukir yang hancur. apa yang dirasakan saat ini, membuatku lelah dan bingung sendiri. “apa sudah benar?” batinku.
tapi apa yang harus kukatakan, perasaan memaksa keadaan, kita tidak mungkin dipaksa. aku tidak bohong atau sedang bercanda, kamu sangat baik hanya saja kita tidak bisa terus bersama. semesta yang pernah kita bagi, harapan yang belum terwujud, kamu terlalu sibuk dan aku yang enggan menunggu. aku yang terlalu banyak bercerita dengan responmu yang seadanya.
maaf ya, kamu tidak pantas disakiti. kamu sungguh baik padaku hanya saja aku tidak bisa memilihmu. Hanya saja aku ragu denganmu. Hanya saja aku tidak bisa menunggu. Semoga kamu memaafkan apa yang pernah menjadi kesalahanku dulu, semoga kamu tidak disakiti lagi, semoga kamu bisa lupa dan luka segera terobati.
Hati-hati di jalan.
Maaf, kalau aku salah bagimu… (1)
ini kedua kalinya aku tes mbti sejak 2 tahun yang lalu. kali ini, aku dapat lagi. INFP-T. si pendiam yang sulit dimengerti, yang sebenarnya banyak bicara dan senang mengasihi.
kalo kataku, memang INFP-T ini punya dua sisi, satu yang visible, dan satu yang invisible. sisi visible yang sering dilihat orang lain selalu menunjukkan kalau aku adalah orang yang pendiam, cuek, anti kritik, tidak mau tahu, tidak suka berbaur, dan senang mengisolasi diri. Padahal aku merasa justru kebalikannya. aku suka diskusi, suka jalan-jalan, suka menjawab telpon, dan sangat suka mendengarkan. bahkan dengan beberapa orang yang sudah aku kenal, aku menjadi sering sekali bicara. aku sebenarnya easy going, humble dan friendly. Sayangnya aku kesulitan untuk mengekpresikan perasaan itu, sehingga banyak yang tidak mengerti, aku sering merasa sepi dan sendiri.
aku merasa sulit memposisikan diri dalam kelompok, berbaur dalam keramaian, berbicara di depan orang baru. tidak mudah rasanya memperkenalkan diriku dengan baik hanya dalam sekali jumpa, karena pasti yang terlintas dalam pikiran mereka adalah bagaimana diriku pertama kalinya. dan aku sadar betul, mungkin suara, gaya bicara atau mataku, tidak ramah bagi mereka.
aku yang INFP-T juga seringkali dianggap abai, judes, sombong, dan mau menang sendiri. padahal tidak seperti itu. aku akan senang sekali bisa menyapa, bisa tersenyum lepas, atau bisa berbaur dengan mudah dengan semua yang kutemui. tapi ternyata aku kesulitan, sulit rasanya membuka pertemanan, sulit rasanya menjadi mudah untuk kalian. semakin aku berusaha mendekat, ternyata aku semakin membangun sekat. lelah bukan? seperti pesan-pesan yang pernah mereka tulis untukku di bawah ini.
bukannya tidak mau intropeksi, tapi beradaptasi dengan lingkungan yang mudah memberi stigma itu sungguh menguras tenaga. berusaha nampak baik untuk semua, tapi malah menguras daya. bukankah lebih baik jadi diri sendiri saja?
ternyata aku yang disiplin, tidak suka diganggu values nya, tidak suka merugikan diri sendiri, ternyata itu menjadi hal yang menyebalkan. karena aku yang tidak mudah memberi maklum, maka aku dianggap kaku dan tidak bisa berbaur. bahkan ketika aku berusaha mengutarakan sesuatu, justru dibilang kompor. tidak open-minded, dsb.
semakin berusaha aku terbuka, semakin sesak rasanya. semakin aku ingin bersama mereka yang bisa memahamiku saja. padahal, aku ingin orang lain mudah memahamiku. meskipun aku sudah berusaha santai dan banyak senyum, ada saja hal-hal yang membuatku sulit berteman dengan orang baru.
tapi yaasudahlah. tidak masalah kok kalau mereka tidak nyaman berteman denganku. setiap dari kita punya frekuensi pertemanannya masing-masing, dan bukan keharusan orang lain untuk bisa mengerti apa yang ada dalam diri seseorang. senantiasa berbuat baik dan mengutamakan kemanusiaan, aku rasa sudah cukup (:
18/4/22