“Love is about finding courage inside of you that you didn’t even know was there”
Waktu puber dulu, anggota keluarga yang senior sering mewanti-wanti kami yang remaja dengan larangan pacaran. Kalimat yang diulang, begitu khas sampai redaksinya masih menempel di ingatan. Bunyinya, “Jangan pacaran kalau enggak mau dikawinkan!”. Kami yang waktu itu masih maraton film kartun di ahad pagi dibuat bergidik dengan ancaman “dikawinkan” yang terdengar mengerikan.
Sebetulnya, nilai yang diperkenalkan lewat larangan pacaran mengandung prinsip yang mendasar, jangan main-main kalau belum bisa serius. Sementara anak-anak ingusan tadi tumbuh jadi muda-mudi yang mulai mengenal ketertarikan terhadap lawan jenis, watak main-main mereka masih terbawa sebagai bekal karakter untuk menghadapi banyak hal baru. “Why so serious? Pacaran kan enggak mesti nikah” pikirnya. Akhirnya pantangan pun terlanggar karena rasa penasaran untuk coba-coba mengalahkan kengerian terhadap larangan tadi.
Dimulailah masa dimana muda-mudi (termasuk saya waktu itu) menggelorakan cinta monyet. Masa dimana semua upaya dikerahkan supaya gelora asmara yang tengah bernyala makin kuat kobarannya. Duile. Tapi ya seindah-indahnya cinta monyet, banyak yang berakhir percuma karena sifat hubungan yang dijalin masih coba-coba dan penuh asas “siapa-tau”. Siapa tau awet, siapa tau cocok, siapa tau memang jodohnya - tanpa ada kesiapan apapun.
Jadi, harusnya enggak perlu senewen kalau mereka yang udah nikah memandang drama romantika cinta monyet yang begitu menyita pikiran, tenaga, uang dan waktu dengan sebelah mata. Enggak heran juga sebetulnya kalau dulu nasihat, “Jangan pacaran kalau enggak mau dikawinkan!” umumnya diucapkan oleh orang yang udah menikah karena mereka telah mengalami sendiri perbandingan antara berpacaran dengan berumahtangga yang bagaikan langit dan bumi.
Misal waktu seorang laki-laki menyatakan perasaan pada perempuan yang ingin dipacari dengan pertanyaan, “Kamu mau enggak jadi pacarku?”, maka pria yang ingin menikah menindaklanjuti keberaniannya kepada bapak dari perempuan idamannya dengan pertanyaan, “Permisi, pak. Apa sudah ada laki-laki yang melamar anak bapak sebelumnya?”.
Atau saat laki-laki yang ingin berpacaran mengemukakan perasaan, penyampaiannya dilakukan di hadapan pujaannya semata. Lain halnya dengan pria yang ingin berumahtangga, pengucapan ikrarnya harus dilakukan di hadapan orang tua, keluarga juga petugas KUA agar hubungannya bisa disahkan secara hukum. Di saat hakikat dari kasih sayang adalah menemukan keberanian, maka harusnya muda-mudi di luar sana menyalurkan keberanian yang ditemukan pada sebaik-baik muara hubungan.
Wejangan, “Jangan pacaran kalau enggak mau dikawinkan!” belasan taun lalu punya hikmah yang mendalam buat saya setelah berkeluarga. Ternyata, laki-laki dianggap serius menyayangi seorang perempuan dengan menikahinya dan bertanggung jawab dengan dunia-akhiratnya. Kalau ada yang mengaku sayang tapi enggak berani menikahi, jelas dia main-main. Sampai kapanpun, kata “pacaran” enggak pernah cocok disandingkan dengan kata “serius”. Lagipula, siapa yang mau disayangi dengan main-main?
Kalau ingin berkasihsayang secara utuh, dewasalah dan menikahlah. Romansa layar lebar paling indah sekalipun akan terasa picisan saat kita menjalani kisah rumahtangga sendiri yang tingkat keseruannya lebih menakjubkan.
Kalau bayangan suami atau istri teladan mutlak bersumber dari pengalaman pacaran, semua orang tua akan mewajibkan anak-anaknya untuk berpacaran sebelum menikah. Nyatanya, mereka yang enggak pernah pacaran sekalipun dan memilih untuk menjaga debar perasaannya sampai akhirnya menikah, juga bisa menjadi suami dan istri teladan karena enggak ada kaitan yang berarti antara pacaran dengan berumahtangga.
Hal sederhana ini penting untuk disampaikan seiring terus mewabahnya pemahaman yang salah tentang hakikat hubungan pra-menikah di kalangan anak muda. Dengan gambaran yang sama, di masa depan nanti, saya akan berbicara kepada anak-anak saya, “Waktu muda dulu, Ayah pernah nyoba pacaran dan nyeselnya luar biasa sampai Ayah enggak rela kamu ngulangin kesalahan yang sama. Jangan rugiin orang lain. Jangan main-main dengan perasaan sebelum kamu berani untuk serius. Hidupi hidupmu dan hidupkan mimpimu sebaik-baiknya selagi muda. Pengalaman pacaran enggak akan masuk CV, juga enggak akan layak disebut pencapaian apalagi dibanggakan”