"Mengetahui apa yang benar akan menuntun kita pada pengetahuan apa yang salah. Namun mengetahui apa yang salah belum tentu menuntun pada pengetahuan tentang apa yang benar".
Ungkapan sederhana dengan makna dalam yang saya dengar dari Habib Ali Baqir As-Saqaf.
Dalam ranah akidah, ini mungkin replika dari kebiasaan kita yang terlalu konsen pada permasalahan Khilafiyah Far'iyyah antara Ahlussunah dan saudara tirinya (Mujassimah, Mu'tazilah, Syi'ah, dll).
Atau bahasa simpelnya, kita sering terjebak dalam siklus "counter" dalil dan lebih mencari kesalahan akidah madzhab² sebelah. Hingga akhirnya lupa akan pemahaman utuh Akidah Aswaja yang harusnya kita prioritaskan terlebih dahulu. Itulah yang menjadi salah satu faktor pemahaman pemahaman kita tentang esensi Akidah Aswaja sangat sempit.
Bahkan saya sangat yakin, tidak sedikit dari kita yang mengenal konsep Akidah itu ya cuma soal "debat sama Wah*bi". Padahal kalau kita pelajari lebih lebih dalam, akidah itu nggak cuma soal debat² melulu...
Kenapa pemahaman akidah Aswaja harus diprioritaskan?
Sederhana saja, saat kita mengenal dengan utuh dan benar apa itu Akidah Aswaja, maka disaat yang sama kita juga akan tahu bahwa apa² yang bertolak belakang dengan Akidah Aswaja tidak-lah benar.
Namun beda kasusnya jika kita hanya tahu bahwa "si Mujassimah salah", "Mu'tazilah salah". "Syi'ah sesat", atau intinya jika kita sebatas mengetahui kesalahan tanpa memahami secara utuh mana yang benar, ujung²nya akan berakhir:
"kalo semuanya salah, trus yang bener gimana?".
Itulah salah satu konsekuensi saat kita hanya setengah², atau bahkan sama sekali ndak mengenal Akidah Aswaja. Dan malah sibuk di siklus counter²-an dalil sama madzhab akidah lain.
Bahkan lebih dari itu, karena konsep Akidah yang tidak dipelajari dengan utuh, plus disalahpahami dan dipersempit hanya sebatas soal "debat² sama Wah*bi" dan lain sebagainya, menjadi salah satu faktor yang membuat minat para santriawan akademis memilih belajar Filsafat --khususnya pada diskursus ketuhanan (ilāhiyāt), filsafat universal ('umūr 'ammah), epistemologi (logika/mantik) dan lain²-- untuk mencari validasi dari kebenaran iman mereka (dengan berbagai resiko berbahaya yang ada di dalamnya).
Padahal literatur keilmuan kita di Ilmu Akidah/Kalam telah menyediakan itu semua dengan format yang jelas lebih esensial, relevan, dan sesuai dengan ajaran Al-Qur'an dan Sunnah Nabi.
Tabik...









