Suka isteri orang
Carili isteri sunyi

seen from United States
seen from United States
seen from Australia

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from China

seen from Malaysia
seen from Morocco

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Germany
seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Türkiye
seen from United States
seen from Uruguay
Suka isteri orang
Carili isteri sunyi
Eksistensi & obsesi validasi;
"Daripada sibuk mencari untuk dapat memilih, mengapa tidak berfikir untuk menjadi dan dipilih."
Kita seringkali sibuk mencari agar "bisa memilih"; baik itu memilih pasangan, memilih pekerjaan, atau sekadar memilih citra di media sosial, kita sering kali terjebak dalam ilusi kendali dan mengira kekuatan ada pada hak pilih kita. Padahal, tanpa disadari, kita sedang melelahkan diri dalam kompetisi luar yang tiada habisnya.
Sibuk Mencari (Konsumsi & Opsi): Fokusnya keluar. Energi habis untuk membandingkan, menimbang, dan mengejar standar eksternal agar kita "layak" mendapatkan yang terbaik. Ini melelahkan, karena opsi di dunia ini tidak terbatas.
Berpikir untuk Menjadi (Kultivasi & Esensi): Fokusnya ke dalam. Energi digunakan untuk menempa diri, membangun kedalaman karakter, ketulusan, dan kompetensi yang autentik. Ini bukan tentang apa yang bisa kita ambil dari dunia, tapi apa yang terpancar dari dalam diri kita.
Kamu tidak lagi perlu berdesakan dalam antrean pencari opsi. Dunia, peluang, dan orang-orang yang tepat yang akan bergerak mendekat, "memilih" kamu tanpa kamu harus memohon atau berpura-pura menjadi orang lain. Itu adalah bentuk kemerdekaan diri yang tertinggi.
Ada kedamaian yang magis ketika seseorang selesai dengan pencarian luar dan fokus pada "menjadi". Ketika kualitas diri, baik itu intelektual, spiritual, maupun rasa sudah matang dan bernilai tinggi, hukum gravitasinya akan berubah.
Yaitu: Kamu akan dicari dan menjadi pilihan oleh pribadi-pribadi yang masih sibuk mencari dan memilih.
"Jadi, masih terus sibuk mencari atau menjadi?"
Nama yang Menunggu di Tepi Bait
Tampaknya semua aksara ini sedang berjalan ke arahmu, menyusuri lorong kertas seperti sungai mencari muara. Entah siapa dirimu, hanya siluet yang kupeluk lewat doa, namun kuyakin kaulah hujan yang mereda panas dada.
Tenanglah.. Tuhan sedang menyiapkan ruang belajar, mempertemukanku dengan orang-orang penuh hikmah, menulis cerita dari tiap luka dan tawa, untuk nanti diceritakan sebelum kita terlelap.
Kupastikan setiap kata cinta dan sayang di baitku, terbang menembus langit, menyebut namamu dalam diam. Dan pada saatnya tiba, engkaulah yang jadi alasanku menulis, alasanku menggubah kata menjadi ibadah yang hidup. Lalu kelak ketika kita menua dan tiada, namamu dan namaku hanyalah huruf di buku orang lain, namun semoga huruf itu jadi cahaya yang menginspirasi, meneduhkan, dan menuntun jiwa.
Sebab kasih sayang ini tak sekadar kisah manusia, melainkan ibadah yang ditulis bersama-Nya. Semoga di ujung jalan nanti kita temui cinta yang tumbuh dari tanah ridha Ilahi.
"Resiko, untukmu yang menyertai setiap perjalananku".
Sebelum melangkah, kita akan dihadapkan dengan berbagai jalan yang disertai dengan bermacam-macam resiko. Baik yang sedikit, ataupun yang banyak rintangannya. bahkan tidak sedikit pula jalan yang memiliki resiko kegagalan.
Semua itu pasti akan kita temui. Dan andai pun ada dan boleh memilih, pastilah jalan tanpa resiko dan kemungkinan kegagalan adalah pilihan yang tepat untuk kita pilih. Namun, ini bukan soal "memilih". tapi "memahami" .
Aku memang tak mengerti dan tak akan pernah tahu tujuan hidup yang kalian inginkan. Bukan pula sok tahu menahu tentang penderitaan dan kepayahan yang kalian rasakan. apalagi mengatakan hal itu dengan sangat mudahnya.
"إِذَا فَتَحَ لَكَ بَابُ الفَهْمِ فِي المَنْعِ # عَادَ المَنْعُ عَيْنُ العَطَاء."
"Bila telah terbuka kepadamu pintu pemahaman dari sebuah kegagalan, maka ia akan kembali dan menjadi nikmat terindah bagimu."
Begitulah. Seorang Ibnu Ata'illah memahami arti dari sebuah kegagalan. Apalagi hanya sebatas resiko yang kita harus hadapi kenyataannya?
itulah mengapa adanya jalan yang penuh dengan resiko, bukan suatu yang pantas untuk dipilih. Tapi pahamilah, dia adalah batu pijakkan yang harus kau lewati untuk terus mempertahankan langkahmu. Dialah yang membantu mempertahankan tegakmu dikala kau berjalan. Dan dia pula yang bisa mebuatmu tak terjatuh walaupun seterjal dan sesulit apapun jalan yang harus kau lalui.
Tanyakanlah pada dirimu, apakah niat dan tujuanmu yang sekarang sudah tepat? sudahkah kau meletakan ketakutan dan keraguan dihatimu dengan tepat, dan membedakannya dengan rasa takut dan khawatir yang seharusnya kau letakan ditempat lain?
Ingat kawan....
Jangan pernah mengatas namakan rasa takut atas resiko dan kegagalan dengan mengatakan itu semua hanya kehati-hatian belaka, hingga kau akhirnya malah berhenti melangkah!
Hadapi dia, Taklukan dia, yakinkan pada dirimu bahwa sebatas kerikil saja tak cukup untuk menghentikan langkahmu. Selagi dengan niat dan tujuan yang benar, kau tak perlu takut melangkah.
Kau tahu tentang waqaf? Orang yang memberikan barang sacara Waqaf, tak akan pernah khawatir terhadap barang yang ia berikan. Karena dia telah yakin, bahwa penerima barangnya pasti dan akan selalu menggunakannya untuk kebaikan. Sama halnya dengan hidup. Selagi kau telah telah me-Waqafkan nya untuk Allah, mempasrahkan niat hidupmu hanya untuk-Nya, Maka Ia akan menggiring hidupmu untuk selalu menuju kebaikan.
Ingatlah! semua hal yang telah direncanakan-Nya, adalah proses terindah yang tak akan pernah kau duga.
-
-
-
Kairo, 02 Desember 2022
backup
kalau masing-masing mengisolasi diri, membuat dunia yang terpisah, bertahan dalam dunia homogen dan tidak main ke luar, sepertinya kecenderungan untuk tetap curiga akan bertahan. semakin tak tampaklah kebaikan yang bisa jadi hadir dalam keseharian pihak-pihak seberang. entah kapan bisa sampai pada tahap mewarnai dan mencelup pihak lain jadinya. banyak masalah tetap menjadi masalah ketika tidak ada duduk bersama, menyamakan definisi, dengan kepala dingin.
"akhirnya itu ujungnya ke pilihan untuk nanti lho, shaf". pilih mana, siap yang mana: menerjunkan ke zona aman dan nyaman atau biarkan beradaptasi dan tahan banting dalam keberagaman.
bersiaplah untuk backup.
resume dari tiga obrolan beda topik, setidaknya. mulanya ngomongin perumahan. yang terakhir disambungnya ke parenting.
ahiya saya harus bisa nyetir.
Untuk hati yang selalu memperbaiki diri, semoga lekas bertemu dengan yang saling mencari..
.
banditfluencer | Pekanbaru
men.ca.ri (v)