Malam Minggu Bersama Pak Budi
Sabtu, waktu istirahat bagi para pegawai kantoran. Jika yang lain berlibur atau belanja, Ivan memilih untuk mencuci motor dan pakaian kerjanya.
Sabtu ini Ivan sendirian di rumah. Sudah sejak Kamis Emak dan Mpok Metty, kakak perempuan Ivan, berkunjung ke rumah kerabat di Bogor. Sengaja ia bangun sebelum Shubuh supaya ada waktu masak nasi dan air sebelum cek motor dan cuci pakaian. Karena semua selesai cepat, Ivan bergeletak di bale-bale teras, memainkan smartphonenya tanpa tujuan. Berpikiran untuk makan di luar, tapi tidak ada makanan yang membuatnya tertarik.
Baru saja ia memutuskan untuk cari minuman dingin untuk dipesan, notifikasi WA datang dari Pak Budi.
"Van, ini Pak Budi. Kamu lagi lowong, nggak? Kalau iya, boleh minta tolong ke rumah, periksakan printer saya? Dari Rabu tintanya keluar ngadat."
Aduh, Pak Budi. Ivan agak enggan menanggapi. Bosnya ini sering membuatnya tidak nyaman, salah tingkah. Ingin rasanya menghindar tapi ia tidak punya alasan kuat.
Setelah bergumul dengan rasa enggan, 10 menit kemudian Ivan merespon. "Saya lagi lowong, Pak. Saya berangkat jam 10." Dan sekarang pukul 8.47, cukup waktu untuk menyiapkan laptop dan peralatan reparasi. Ivan bangkit dan bersiap.
Rumah Pak Budi tidak terlalu jauh, hanya berjarak 3 kilometer. Tiap kali Ivan mengantar bosnya pulang, ia tidak pernah masuk. Tapi ia hafal jalannya. Saking seringnya diminta antar ketika beliau tidak bawa mobil.
Pikirnya, di rumah Pak Budi tentu ada anaknya, ada alasan untuk tidak berlama-lama, hanya untuk cek printer lalu pulang.
Sampai di tujuan, pria tengah 40 tahunan itu sendiri yang menyambut Ivan. Rumah ukuran 100 m persegi dengan cat putih dan pagar hitam itu nampak bersih. Pasti ada yang merawatnya setiap hari, pikir Ivan. Walau bukan model minimalis, Ivan menduga rumah itu dibangun baru beberapa tahun belakangan. Di bagian depannya dinaungi pohon salam yang rindang namun rapi dipangkas.
Pak Budi mempersilakan Ivan untuk memasukkan motornya ke dalam pagar. Ia mengenakan pakaian rumah dan rambutnya tidak disisir ke belakang seperti biasanya.
"Terima kasih ya, Van. Saya bingung ini printernya kenapa. Saya butuh untuk cetak laporan Selasa besok, rencananya mau dibaca dulu, eh malah ngadat," ujar Pak Budi sambil memandunya ke dalam rumah.
Ivan dipersilakan masuk ke dalam satu kamar di area belakang rumah yang berisi rak buku dan komputer pribadi.
"Ini aslinya kamar anak perempuan saya, si Indah. Tapi dia kuliah di luar kota dan betah di sana. Jadi, ya saya pakai untuk kantor pribadi saya saja." Ujar Pak Budi ringan. Ivan bisa melihat satu rak kecil berisi buku2 novel dan komik di antara buku-buku bisnis dan dewasa lainnya. Jadi Pak Budi tinggal sendiri?
Lalu ia melihat printer yang dimaksud. Printer keluaran beberapa tahun lalu dengan pemindai ukuran A4 di atasnya.
"Ini printernya, Pak?" Ivan berlutut dan menunjuk printer yang dimaksud.
"Iya. Bisa tolong cek, Van?
"Boleh saya pakai PCnya?"
Pak Budi menyalakan komputer pribadinya dan memasukkan password. "Silakan."
Ivan menyalakan printer dan mengecek kabel yang terhubung. Ia mulai memeriksa dan mengetes hasil cetak yang bermasalah tersebut. Pak Budi mengambil kursi dan duduk di sampingnya, ikut memperhatikan.
Setelah beberapa lama mencoba, Ivan menyerah. Ia sudah memeriksa jumlah tinta, kabel-kabel, reinstall program, sampai memeriksa apakah dokumen yang hendak diprint ada masalah. Masih juga tidak mengerti apa yang salah.
"Maaf, Pak, saya nggak ketemu apa yang salah. Baiknya sih dibawa ke customer servicenya aja. Merek ini CSnya cukup bagus. Servis yang ga resmi pun juga lumayan kenal sama model ini." Ivan menatap bosnya dengan ekspresi menyesal.
Pak Budi menatapnya lama. Lalu bibirnya melengkungkan senyum.
"Ga papa, Van. Kamu tahu tempat servis yang buka Sabtu? Yang cukup dekat?"
Ivan menunduk, mencoba mengingat. Bibir bawahnya dimainkan dengan gigi atas sembari mengingat. Pak Budi memperhatikan kebiasaan bawahannya. Selalu, setiap kali Ivan berkonsentrasi atau mencari informasi yang tersimpan dalam otaknya, bibir bagian bawahnya selalu jadi korban.
"Ada, Pak. Di pertokoan dekat sini. Dia buka Sabtu, tapi sudah lama saya nggak ke sana. Yang sering Kakak saya, untuk beli tinta."
"Nggak papa. Ayo kita ke sana. Kamu ikut ya, saya nggak tahu tokonya." Kata Pak Budi sambil beranjak dari kursi. Matanya menatap Ivan lekat-lekat. Mulutnya tersenyum. Dan rambut di leher Ivan berdiri. Ia tak bisa menolak.
Pria yang lebih tua itu langsung mengambil kunci mobilnya. Ivan pun menyiapkan printer bermasalah itu untuk direparasi. Ia berharap prosesnya tidak lama jadi bisa segera pulang.
Kunjungan ke toko langganan kakak Ivan tidak bisa singkat. Setelah memeriksa printer Pak budi, mereka menyanggupi untuk memperbaikinya hari itu juga. Masalahnya tidak terlalu berat. Tapi butuh waktu untuk melakukannya. Dua bos dan bawahan itu diminta menunggu selama 2 jam.
Karena Pak Budi juga ada keperluan untuk belanja mingguan, Ivan terpaksa ikut menemani beliau berkeliling di supermarket dalam komplek pertokoan tersebut.
"Sudah lama saya dengar supermarket ini tapi baru kali ini kemari. Pembantu saya selalu belanja di sini karena katanya murah." Pak Budi mendorong kereta belanjanya ke area buah-buahan. Ivan mengikuti di belakang sambil menenteng keranjang belanja. Sudah kadung di sini, sekalian stok ulang satu dua barang yang sudah tinggal sedikit.
Ivan mengikuti kemana pun atasannya pergi. Ia memperhatikan jumlah yang dibelinya hanya untuk satu orang, dan tidak ada yang menandakan untuk perempuan.
"Pak Budi benar-benar hidup sendiri di rumah itu?" Lagi ia bertanya dalam batin.
"Dulu saya sering belanja berdua dengan istri seperti ini kalau weekend. Kalau Indah lagi ada maunya, lagi nggak jalan-jalan sama temennya, ya dia juga ikut. Sekarang saya sendirian belanja. Itu juga kalau ada waktu. Biasanya titip ke Bibi. Kalau sempat sering pas pulang kantor."
Ivan ingin bertanya tentang istri Pak Budi tapi urung. Ia hanya bergumam memberi tanda mendengarkan.
"Karena ada kamu, Sabtu saya jadi nggak sepi."
Pria itu tersenyum lembut pada Ivan. Lagi, pria muda itu tidak tahu mau memasang wajah seperti apa. Sikap atasannya yang seperti ini yang selalu membuatnya salah tingkah. Seolah ada maksud lain di balik yang terucap.
"Sama-sama, Pak, saya juga kebetulan jaga rumah weekend ini." Ivan mencoba tersenyum, tapi yang keluar lebih seperti ringisan.
Melihat ini senyum Pak Budi semakin melebar. Dan rambut leher Ivan semakin tegak.
Setelah menemaninya belanja, Pak Budi mengajak Ivan untuk makan siang. Ivan ingin menolak tapi perutnya tidak bisa bohong. Sudah pukul 2 siang. Sebentar lagi printer bisa diambil. Dan mau tak mau ia harus kembali ke rumah Pak Budi karena motornya masih di sana.
Ivan merekomendasikan sebuah rumah makan dengan citarasa tradisional. Persis seperti dugaan Ivan, Pak Budi nampak cocok dengan menu dan cara penyajiannya. Harganya pun pas dengan rasa dan porsi sajian. Agak mahal untuk Ivan, tapi karena Pak Budi berkeras untuk membayarkan, keuangan Ivan bulan ini aman.
Selesai makan, mereka kembali ke toko reparasi. Perbaikan sudah selesai. Puas melihat hasil tes, pak Budi membayar jasa reparasi, dan mereka pulang.
Ivan agak lega. Sebentar lagi ia bisa pulang. Ia berencana untuk segera pamit setelah tiba di kediaman atasannya.
Sayangnya, sesaat sebelum sampai di rumah, hujan turun dengan lebat. Pukul 3.56, mereka sampai dan hujan tidak ada tanda-tanda mereda. Ivan menawarkan diri untuk membukakan pagar. Ia basah kuyup. Dinginnya hujan cukup membuyarkan kegugupannya. Ia harus punya alasan kuat untuk pulang saat hujan lebat seperti ini. Ah, itu dia!
"Saya permisi langsung Pak. Lampu rumah belum dinyalakan, dan tidak ada orang. Jadi-" sahutnya di teras depan rumah Pak Budi sambil membawa plastik berisi printer.
Pak Budi terdiam. Ia memandang ivan yang basah kuyup. Diputarnya kunci ruang tamu.
"Lebih baik kamu tunggu sampai hujan reda, Van." Nada suara Pak Budi terdengar tegas. "Hujan selebat ini bahaya kalau kamu naik motor."
"Tunggu di sini sampai reda. Kamu bisa mandi dan pinjam baju saya. Jangan sampai kamu sakit."
Kata-kata itu diucapkan dengan tenang, tapi itu jelas adalah perintah. Ivan mengalah.
"Iya, Pak." Jawabnya lemah.
Pak Budi memintanya untuk meletakkan printer di meja tamu dan menunjukkan kamar mandi di ruang tidur utama.
"Kamu mandi dulu. Nanti saya siapkan pakaian ganti. Ini handuknya. Ganti saja di kamar ini. Ini kamar saya." Dan pintu kamar pun ditutup.
Ivan bergegas masuk ke kamar mandi, mengunci slotnya dan menyalakan shower. Lebih cepat mandi lebih baik. Ia ingin segera pulang supaya tidak berduaan dengan Pak Budi.
Baju Pak Budi ternyata terlalu besar untuk tubuhnya. Kaos masih lumayan, tapi jelas celana trainingnya kedodoran di tubuh Ivan. Untung ada tali serut, jadi Ivan bisa mengepaskan sesuai ukuran pinggangnya.
"Oh, agak kebesaran, tapi masih bisa dipakai." Komentar Sang Atasan memandang bawahannya yang dalam pakaian yang disiapkannya. Ia duduk di sofa di depan TV sambil memegang segelas cangkir berisi minuman hangat. "Kamu pakai itu saja untuk pulang nanti. Atau kalau tidak reda juga, kamu boleh kok nginap di sini."
"Jangan, Pak, saya harus pulang. Rumah benar-benar gelap-"
"Kalau sudah reda kamu boleh pulang. Tapi kalau masih deras, baiknya kamu tidur di sini. Biar dekat, kalau sudah malam, berbahaya pulang naik motor hujan-hujanan." Kali ini Pak Budi nadanya sangat tegas. Ivan pun diam. Mengangguk pelan.
"Ayo istirahat. Kita nonton TV aja, sambil menunggu reda" Ajak Pak Budi sambil menepuk tempat kosong di sampingnya.
Di meja samping sofa, sudah tersedia satu cangkir berisi teh hangat. Ivan mengambilnya dan duduk di tempat yang disediakan. Mereka mencari sajian dari tv kabel yang menarik.
"Kamu kalau Sabtu biasanya ngapain, Van?" tanya Pak Budi. Tangan kirinya sudah berada punggung sofa, tepat di belakang kepala Ivan.
Ivan meniup-niup uap teh hangatnya. "Di rumah saja, Pak. Bantu Emak, atau tidur seharian." Jari telunjuknya tanpa sadar menggambarkan bentuk lingkaran di dinding cangkir yang hangat.
Pak Budi memperhatikan gerakan jari Ivan. Pria itu tahu kalau bawahannya gugup. Jarang-jarang mereka bisa berduaan, dan kini hasratnya untuk menggoda pria muda itu makin besar.
"Nggak jalan? Sama temen? Sama pacar mungkin?" Alis Pak Budi terangkat sebelah. Senyumnya jelas niat untuk menggoda. Ivan menoleh ke arahnya.
"Nggak, kok, Pak. Saya nggak punya pacar!" Wajah Ivan kelihatan panik. "Belum." tambahnya pelan sambil menunduk malu.
"Oh ya? Wajahmu itu cakep, lho. Yakin nggak ada yang coba mendekat?" Kali ini tangan kiri Pak Budi menopang pipinya. Sementara matanya memperhatikan Ivan yang semakin salah tingkah.
Telinga Ivan memerah. Terbakar godaan. Penggodanya semakin terbakar untuk melanjutkan niatnya.
"Sebenarnya saya senang sih, kamu belum ada pacar. Jadi kita bisa kencan seperti sekarang."
Ivan dengan cepat mendongakkan kepalanya. Melihat mata Pak Budi langsung. Otaknya berpikir keras mencari makna tersembunyi dalam kalimat atasannya. Bibir bawahnya sekali lagi jadi korban. Gigi Ivan menggigitnya dengan keras.
Mata Pak budi berjengit melihat kebiasaan ini. Diraihnya dagu Ivan dengan tangan kanan, disapukannya ibu jari ke permukaan bibirnya yang teraniaya.
"Jangan digigit. Nanti luka." Suaranya lembut.
Ivan tidak menepis lalu melepaskan gigitan pada bibir bawahnya. "Maaf, Pak." Kali ini lehernya ikut memerah.
Telunjuk kiri Pak Budi perlahan menyentuh bagian leher Ivan yang memerah. Kaget, Ivan menarik dirinya menjauhi pria itu. Menumpahkan teh manis hangat ke tangannya.
Pak Budi segera mengambil tissue di meja samping sofa. Mengambil tangan Ivan yang terkena teh hangat, lalu menyekanya dengan lembut. Ivan tidak menarik tangannya.
"Kamu nggak suka saya sentuh? Atau kamu memang nggak suka disentuh orang lain?"
Ivan mencoba menjawab. Wajahnya memerah. Mulutnya mencoba menjawab tapi tak ada yang keluar.
"Ketika pak Krisna merangkul pinggangmu, kamu sampai marah di depan manajer yang lain."
"I, itu karena saya nggak suka pinggang saya dipegang. Risih." Jawab Ivan panik.
"Kalau saya sekarang?" Kedua tangan Pak Budi menggamit kedua tangan Ivan. Pria muda itu berusaha menarik tangannya tapi tidak bisa.
Pak Budi kemudian mengangkat tangan kirinya, mendekatkan tangan kanan Ivan ke wajahnya.
"Kalau begini?" Lalu mengecupnya lembut.
Ivan terkejut dan berusaha menarik tangan kanannya. Dicegah oleh cengkraman tangan kiri Pak Budi. Wajah pria muda itu memerah. Wajahnya nampak panik.
"Pak, saya nggak suka-" dengan cepat Pak Budi melepas kedua tangan Ivan.
"Saya tertarik sama kamu, Ivan." Kata Pak Budi cepat.
"Eh?" Mata Ivan membesar.
"Kamu mau jadi sama saya?" Tambahnya.
"Tapi saya-, istri bapak? Anak bapak bagaimana-?"
"Istri saya sudah wafat, sudah 5 tahun lalu. Anak saya sudah besar dan sudah punya jalan hidupnya sendiri." Pria itu tersenyum lembut.
"Tapi, saya-" Ivan menjawab ragu.
"Apa itu jadi masalah? Kamu ada rasa tertarik pada saya? Kalau ada, kita bisa mulai dari situ."
Ivan nampak bingung. Pak Budi menarik tangan kanannya lembut kembali duduk di sofa.
"Sini, Ivan. Kamu nggak suka disentuh tiba-tiba?" Tanya Pak Budi lembut.
"Kalau begitu. Boleh saya belai rambut kamu?" Ivan ragu. Ia menarik tubuhnya sedikit. "Nggak boleh?"
Pria muda itu menggigit bibir bawahnya lagi. Spontan Pak Budi memegang dagu Ivan. Dan mengusap ibu jarinya ke tempat gigitan itu.
"Jangan digigit. Nanti luka!" Kata Pak Budi terulang lagi. Ivan melepas gigitan di bibir bawahnya. Matanya tak lepas dari wajah pria itu.
Ivan menelan ludah, lalu mengungkapkan pendapatnya tentang atasannya itu.
"Buat saya, Bapak nyeremin. Kadang lembut. Kadang saya merasa Bapak punya maksud lain." Mata Ivan masih menatap mata Pak Budi lekat. Suaranya gemetar. Tangannya dingin. Ia gugup.
"Saya nggak tahu saya tertarik pada Bapak atau nggak. Saya bingung mau bersikap bagaimana. Seperti barusan saya tidak risih disentuh oleh Bapak." Kali ini kepala Ivan menunduk. Lehernya memerah.
"Saya memang punya maksud tersembunyi, Van. Tapi kamu tidak usah merubah sikap kamu. Kalau kamu tidak nyaman dengan perbuatan saya padamu, tolong bilang."
Ivan mengangguk pelan. Kepalanya masih tertunduk.
"Kalau begitu...., kamu keberatan kalau saya melakukan ini?" Pak Budi mengecup ubun-ubun Ivan.
Kepala Ivan tiba-tiba mendongak kaget. Wajahnya memerah.
Ivan menggelengkan kepalanya. "Nggak risih, Pak." Suara Ivan lirih.
"Kalau ini?" Pria lebih tua itu mengecup dahi Ivan. Lembut. Kemudian meletakkan hidungnya di rambut Ivan lalu menghirup aromanya.
"Saya nggak risih, Pak." Jawab Ivan pelan.
Didekatkannya tubuh Ivan ke tubuhnya. Disandarkannya kepala Ivan ke bahu kirinya. Dibelainya rambut ikal bawahannya itu.
Ivan mendongakkan wajahnya. Menatap mata pria temoatnya bersandar.
Pak Budi tersenyum lembut. Lalu bibirnya mengecup mata kanan Ivan. Dan turun ke telinga kanan. Pria muda itu mengedik. Pak Budi tertawa ringan di telinganya. Rambut di leher Ivan berdiri seketika. Lalu pria itu berbisik.
"Malam ini sampai sini dulu." Ibu jari kanannya menyentuh bibir Ivan. "Kita jalani pelan-pelan."
"Ini," disapunya bekas gigitan di bibir bawah Ivan, "untuk lain waktu."