27 Desember 2018 ▪ Kamis Gerimis.
Mengawali hari seperti biasa, liburan telah usai aku pun tak bisa lagi menikmati hari-hari dimana bisa bermalas-malasan dan bersantai-santai. Tiap harinya pukul 04.00 waktu setempat dibangunkan udara dingin yang mengusik kehangatan tidur, berusaha merapal mantra-mantra kehidupan untuk menyemangati diri sendiri. Tanyaku pada diriku, "jika bukan kepada dirimu sendiri lantas kepada siapa lagi kau akan menaruh harap agar ia tetap mau berjuang?"
Ku urungkan niatku berangkat pagi, maksudku berangkat kerja kurang dari pukul 07.00 karena memang tak ada urgensi yang mengharuskan absen dan mulai lebih awal.
Mungkin itu adalah pertanda, bahwa Kamis kali ini akan gerimis.
Percakapan pukul 07.50 waktu Sukabumi.
"Aku naruh notes di meja"
"Dimana, Pak? Tidak ada disini"
Berani bersumpah demi Allah, tidak ada sedikitpun niat bertindak seperti yang dituduhkan. Pantaskah kalimat tersebut diucapkan oleh lelaki dewasa yang seharusnya bisa lebih bijak dalam berkata? Pun, dengan muka masam engkau berlalu begitu saja. Tanpa kata maaf, ataupun sedikit terimakasih untuk kesediaanku diusik di pukul 07.50 Hari Kamis yang tenang, awalnya.
Baiklah, saya selalu merapikan meja sedemikian rupa ketika pulang dengan harap agar esok paginya, kedatangan di kantor disambut dengan hangat-meja yang rapi sangatlah cukup buatku-. Lalu aku buka satu per satu tumpukan berkas, yang baru diletakkan disana setelah kepulanganku kemarin sore.
Siapa bisa menebak ada notes kecil di bawah tumpukan map, tergeletak begitu saja tanpa berkas?
Siapa bisa mengira bahwa ada pesan yang ingin disampaikan ketika di atas catatan itu, bertengger map pekerjaan lain?
Aku tahu kau telah kepalang marah, terlebih lagi ketika mendapati catatanmu tertimpa map yang lain dikuasailah dirimu oleh amarah. Tidak, aku tidak mencari benar dan salah. Apalagi marah, hanya membuang energiku untuk suatu hal yang sia-sia, kiranya begitulah. Hanya saja satu hal ingatlah, tak ada ruginya berucap maaf ketika berbuat salah, begitu bukankah?
Maaf, jika boleh berontak, tanpa mengurangi rasa sopan saya berucap,
"Siapa yang membuat peraturan tidak tertulis dengan senyaman hati hanya menuliskan pesan di kertas kecil, di tempat tidak strategis, tidak saya ketahui, lalu dengan senyaman lidah menyudutkan saya memakai kata-kata yang bisa melukai perasaan saya?"
Astaghfirullahaladzim. Beristighfar belum cukup membuat perasaan ini berhenti terkejut di pagi hari. Kamar mandi, satu tempat yang terlintas cepat dalam benak saat tak sanggup lagi berucap ketika lidah tercekat, tangis air mata pedih pun pecah, mengalir hebat.
"Perih...", ucapku lirih.
Sebegitu matikah nurani manusia, terlebih lelaki dewasa?
Sebegitu mudahkah berucap, asal ucap, yang dapat melukai hati orang yang mendengarnya?
Sebegitu entengkah melempar muka masam pada seseorang yang engkau anggap salah ketika kau tertangkap kalah?