“I’m not lazy. I’m just exhausted from fighting my way through every single day.”
— Mimi love
almost home
Three Goblin Art
macklin celebrini has autism
we're not kids anymore.
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
todays bird
dirt enthusiast
Stranger Things

oozey mess
he wasn't even looking at me and he found me

shark vs the universe
d e v o n
Cosimo Galluzzi
Lint Roller? I Barely Know Her
Sade Olutola

Origami Around
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

ellievsbear
trying on a metaphor
One Nice Bug Per Day
seen from Mexico
seen from United States
seen from United States

seen from T1

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from South Korea

seen from Australia
seen from United States
@duapuluh-empat
“I’m not lazy. I’m just exhausted from fighting my way through every single day.”
— Mimi love
12.12.2020
Alhamdulillah tsumma alhamdulillah
Nanti kita belajar sama-sama ya dek. Sehat terus dan saling menguatkan, sampai bertemu di hari H nanti sayangnya Baba dan Uma ❤️
Setiap orang memiliki cerita sedih dan bahagianya sendiri. Tidak ada yang memiliki "aku lebih bahagia dari si X" atau "aku yang paling sedih dari si X, Y, Z". Jika kamu masih menilai dirimu adalah yang paling, maka kamu belum bisa menghargai orang lain. Sedihnya orang lain belum tentu jadi sedihmu. Dan bahagiamu belum tentu menjadi bahagia yang lain pula. Semua perlu pemakluman, rasa saling mengerti bahwa dia sedang bersedih dan dia sedang bahagia.
“How to be more Self-Disciplined”
—
1. Choose to act, or to do what you should you. Don’t wait until you feel that you are in the right mood.
2. Decide to keep on going, and to finish what you’ve started. Don’t allow yourself to give up when you’re only part way through.
3. Be honest with yourself and call yourself on the excuses. They’re often just a cover for not wanting to do something.
4. Plan ahead and break large goals down into smaller, short-term goals – and put these on a calendar, and tick them off each day.
5. Remind yourself how great you’ll feel when later you’ve achieved and reached the goals you set yourself, and have that better life.
6. Also, distinguish what’s important and will matter down the road, from what is temporary – or seems worthwhile in the moment.
7. Try not to be distracted by the things that eat up time - like gaming, watching movies or just hanging out with friends.
8. Hang out with other people who display self-discipline, and understand the value of working hard right now.
Rendah
“Merendahlah serendah-rendahnya, sampai orang lain bahkan tak mampu merendahkanmu lagi” - Pesan Ayah yang sering diulang-ulang
Hidup kita sekarang adalah hidup di masa orang ingin banyak berbagi. Berbagi kebahagiaan, berbagi kesedihan, berbagi hal-hal dalam kehidupan melalui platform sosial medianya masing-masing. Termasuk berbagi pencapaian, ikut seminar, dapat sertifikat, bahkan terkadang hal-hal yang seharusnya menjadi konsumsi ruang privasi masih juga dibagikan di sosial media.
Sekarang betapa banyak klaim-klaim yang terlahir dari sosial media. Para anak muda berlomba-lomba meng-klaim menjadi “founder”, “co-founder”, “CEO”, dan aneka macam jenis klaim lainnya, yang terkadang membuat saya kian hari kian merenung, apakah benar setinggi itu “klaim” yang kita tuliskan di platform media sosial kita?
Nyatanya terkadang, kita mungkin tidak setinggi itu. Kita sedang berada di masa di mana orang berusaha mencapai pengakuan sosial setinggi-tingginya. Saya tidak berada dalam posisi menyalahkan, hanya saja mencoba merenungi, setinggi itu kah pencapaian dan kontribusi kita? Apakah benar yang kita klaim-kan itu bernilai amal ibadah di sisiNya? Atau bahkan justru itu tidak membawa nilai apa-apa, bahkan ditulis sebagai riya’ yang membumi hanguskan amal ibadah kita? Semestinya kita harus jauh lebih waspada.
Kalau kita kembali membaca sejarah, bagaimana para sahabat dan shalafus shalih menyembunyikan amal baiknya, hingga pada akhirnya Allah sendiri-lah yang mengabarkan melalui RasulNya agar dapat menjadi inspirasi bagi para sahabat yang lain. Mereka selalu menampakkan kerendahan yang padahal mereka jauh lebih tinggi dari apa yang disangkakan.
Saya menjadi teringat nasihat almarhumah nenek saya,
“Gak opo-opo diilokne wong elek, sing penting awakmu gak elek. Gak opo-opo dicap wong gak nduwe opo-opo, sing penting awakmu iku nduwe opo-opo. Gak opo-opo diilokne wong ora apik, sing penting atimu iku apik” (Tidak apa-apa diejek orang jelek, yang penting kamu itu tidak jelek. Tidak apa-apa di cap orang sebagai orang yang tidak memiliki apa-apa, yang penting sebenarnya kamu itu berkecukupan bahkan kaya. Tidak apa-apa diejek orang itu tidak baik, yang penting hatimu baik)
Kita tidak akan pernah selesai jika menanggapi sekeliling dan orang-orang di sekitar kita. Yang ada hanyalah kita akan lelah sendiri, sementara masih banyak waktu yang sudah seharusnya kita pergunakan untuk mengupgrade diri. Dan tak perlu barangkali terlalu menampak-nampakkan segala proses kebaikan, entah di media sosial, atau digembor-gemborkan.
Barangkali akan jauh lebih tenang, saat kita merendahkan kita, di hadapan orang, teman, rekan, seolah kita tak punya apa-apa. Seolah kita hanya biasa saja. Sebab, kembali lagi ke falsafah hidup yang diajarkan almarhumah nenek saya tadi, jika kita terus disibukkan meninggikan diri, maka tidak akan pernah ada habisnya kita berusaha melampaui pencapaian orang lain. Sementara saat kita memilih terlihat rendah, maka orang lain pun takkan pusing, hingga bahkan bingung bagaimana lagi harus merendahkan kita.
Jadi, merendahlah, hingga orang lain tak mampu merendahkanmu lagi. Meninggilah dalam hati, meninggilah diam-diam, hingga suatu hari nanti, biarlah Yang Maha Mengetahui, yang membuka tabir itu sendiri, bukan saat kamu menginginkannya, namun saat kamu membutuhkannya.
Ditulis sebagai pengingat di hari Jum’at Malang, 21 Agustus 2020 | Mushonnifun Faiz Sugihartanto
Hari ini 13 Juni 2020,
Dia datang bersama keluarganya dihadapan keluargaku dan kedua orang tuaku untuk menyampaikan tujuannya secara resmi. Walaupun 30 Mei lalu dia sudah mengutarakan niatnya kepada bapak secara pribadi. Entah apa ini namanya, tapi alhamdulillah jalan kami selalu dipermudah Allah.
Bismillah. Kami memantapkan hati untuk mengambil jalan yang lebih serius. Tanpa basa-basi dan mengesampingkan segala kekhawatiran selama tentang hari esok. Aku memilih menyembunyikan tentang ini, bukan maksud yang lain tapi demi menjaga keamanan kerahasiaan wkwkkwk
Dear Mas H ❣️
Terimakasih sudah sangat berlari dengan kencang sampai detik ini. Terimakasih selalu menguatkan aku untuk selalu percaya. Semoga sabarmu akan selalu ada untukku dan untuk semua rencana-rencana kita. Mari berjalan bersama, berproses bersama, sakit bersama dan tentunya 'santuy'. Masih nggak percaya dan bisa secepat ini. Bismillah, mencari ridho Allah bersama yah mas. Jangan bosan menjadikan aku wanita yang pantas buat kamu nantinya.
Keraguan dalam memilih seseorang, apakah hal wajar dirasakan? Lalu untuk apa saling percaya jika keraguan itu datang di tengah tujuan kami berjalan? Apakah salah jika aku merasa tidak teryakinkan?
18/05/2020
Peran Wanita dalam Mendidik Anak.
بسم الله
Jika berbicara tentang mendidik anak, maka itu bukanlah kewajiban ibu seorang. Bahkan bapak memiliki tanggungjawab tidak kalah besarnya dalam mendidik anak.
Lihatlah di dalam Surat Luqman, Allah menceritakan bagaimana Luqman sebagai seorang bapak menasihati anaknya. Juga di dalam surat Al-Baqarah, tentang Nabi Ibrahim berdoa untuk anak cucunya agar mereka menjadi ummat yang tunduk dan patuh kepada Allah.
Hal ini menunjukkan bahwa mendidik dan mendoakan anak adalah kewajiban kedua orangtua, bapak dan ibu sang anak.
Namun seharusnya wanita memiliki peran yang lebih besar dalam mengasuh anak. Karena wanitalah yang melahirkannya, kemudian menyusuinya selama dua tahun, sebagaimana firman Allah (yang artinya),
”Dan hendaklah para ibu menyusui anaknya dua tahun penuh bagi yang ingin menyusui secara sempurna. dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang ma’ruf”. (QS. Al-Baqarah: 233)
Maka hendaklah para wanita menyadari pentingnya keberadaan mereka di rumah. Yaitu sebagai istri dan sebagai ibu. Karena dibalik kesuksesan lelaki, terdapat wanita yang hebat. Baik itu istri yang selalu memberinya semangat dan dorongan ataupun ibu yang selalu mendidiknya sejak kecil, dan menanamkan kepribadian mulia.
Seorang ibu adalah pendidik pertama untuk anak-anaknya. Seorang penyair Hafidz Ibrahim mengatakan dalam syairnya, “Seorang ibu adalah madrasah”, yaitu madrasah pertama bagi anaknya.
Betapa pentingnya madrasah pertama itu. Karena yang pertama adalah yang paling dasar. Seseorang tidak akan mungkin mencapai puncak jika ia belum bisa mencapai dasar. Itulah pentingnya seorang ibu.
Rasulullah shallaallaah ‘alaihi wa sallam bersabda, dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, “Apabila seorang anak Adam mati, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta anak sholeh yang senantiasa mendoakannya” (HR. Muslim).
Karena seorang yang sudah mati itu tidak bisa beramal lagi, maka ia sudah tidak bisa mendapatkan pahala lagi kecuali melalui tiga hal.
Hal pertama adalah shadaqah jariyah, seperti wakaf masjid. Ia akan terus mendapat pahala selama masjid itu digunakan untuk kebaikan.
Hal kedua, adalah ilmu yang bermanfaat. Contohnya, seorang ibu mengajarkan kepada anaknya cara berwudhu. Maka setiap kali anaknya berwudhu, sang ibu mendapat pahala yang sama seperti yang didapatkan anaknya. Bahkan setelah sang ibu wafat, ia terus mendapat pahala setiap kali anaknya berwudhu.
Sebagaiman hadits Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, bahwa Nabi shallaallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk, maka baginya pahala sebesar pahala orang-orang yang mengikutinya dengan tidak mengurangi pahala orang-orang yang mengikutinya sedikitpun. Dan barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan maka baginya dosa sebesar dosa-dosa orang-orang yang mengikutinya dengan tidak mengurangi dosa orang-orang yang mengikutinya sedikitpun.” (HR. Muslim).
Hal ketiga adalah anak sholeh yang senantiasa mendoakan kebaikan untuk kedua orangtuanya. Memintakan rahmat dan ampunan untuk keduanya saat keduanya sudah tidak bisa lagi meminta ampunan dengan lisan mereka sendiri.
Seorang ibu bisa mendapatkan jalan yang kedua yaitu apabila anaknya terus melakukan amalan yang ibunya ajarkan. Apalagi jika anaknya itu mengajarkan kepada orang lain, maka akan berlipat-lipat pahala untuk sang ibu. Juga jalan yang ketiga yaitu doa dari anak-anaknya yang sholeh.
Maka hendaklah seorang ibu selalu mendampingi anaknya di rumah. Menjadi suri teladan terbaik bagi anaknya, menanamkan dalam diri anaknya kepribadian sholeh dan aqidah yang lurus juga mengajarkan kepadanya adab-adab Islami seperti doa bangun tidur, doa masuk kamar mandi, tata cara berwudhu, tata cara shalat, mengajarkannya membaca dan menulis, dan lain sebagainya.
Jangan membiarkannya terpengaruh keburukan dari manapun. Sehingga semuanya akan menjadi kebaikan untuk anak sekaligus orangtuanya.
بارك الله فيك
Semoga Allah memberikan taufiq dan Rahmat-Nya kepada orang tua kita, anak-anak kita dan keluarga kita.
Semoga Allah memudahkan langkah kaki kita untuk terus menuntut ilmu serta menjadi suri tauladan yang baik untuk anak-anak kelak. امين يارب
Alhamdulillah tsumma alhamdulillah masih dipertemukan dengan ramadhan bulan suci yang selalu dinanti. Ramadhan kali ini akan terasa berbeda dengan adanya himbauan untuk tetap tarawih dirumah, meminimalisir kegiatan di luar, tidak ada ajakan "bukber yuk", atau para pencari takjil di sore hari, bahkan mungkin akan sedikit yang menggunakan kata "ngabuburit". Tapi semua ini berada di luar kuasa manusia yang tak punya apa2. Semoga keadaan segera membaik kembali dan aku harap doa2 kita semua tetap sama untuk bumi kecil ini. Bismillah menjadi lebih baik lagi :)
#Ramadhan Day 1 (24 April 2020)
Thankyou mas ❤️
Terimakasih sudah selalu sabar dan semoga harapan kita dan doa kita tahun ini bisa dilancarkan Allah SWT. Cuma pengen bilang "oh ini yang katamu gitaran sampe malem"
2020, April, 24
#Ramadhan Day 1
Wanita dan diamnya.
Kamu tahu? Jauh sebelum itu aku sudah pernah mencoba untuk membuat sebait harapan dan meyakinkan, namun apa daya ketika mulai menyematkan muncul kata demi kata yang membuat terdiam dan bungkam.
Entahlah, apakah benar atau tidak? Aku tidak tahu sayang sampai detik ini tapi perkataan itu telah meremukkan bait-bait harap dan yakin.
Aku manusia; pernah sedih, pernah kecewa, dan pernah terluka. Mungkin dia terlihat rumit tapi sedihnya, kecewanya, dan lukanya lebih baik disimpan dalam-dalam karena ayah selalu mengajarkan untuk tetap kuat dalam setiap keadaan.
Aku sangat tidak suka melihat orang lain ikut merasa sedih dengan kesedihan yang dibuat oleh diriku sendiri.
Aku sulit percaya, namun apa dayaku dan salahku. Terlalu meletakkannya dengan sungguh, hingga ketika percaya direnggut dariku. Apakah mungkin untuk meletakkan lagi? Aku butuh waktu.
Aku adalah wanita, tak naif dengan segala kekurangannya; berperasaan, lemah dan mudah dijatuhkan.
Jauh sebelum itu, aku sudah ikut berusaha. Dengan hakikatnya, wanita punya cara tersendiri untuk tidak terlalu menampakkan, menyembunyikan dan memendam.
Aku tidak akan pernah memaksamu untuk ikut berusaha, berjuang dan berharap. Itu karena aku ingin menjaga hatimu untuk tidak terluka serta ternoda. Ya, dengan berusaha mengabaikanmu, pura-pura tidak peduli dan terlihat semua tidak ada apa-apa. (Kamu pikir aku tega, tapi ini harus dilakukan demi keberlangsungan bersama)
Maaf, aku terlalu lancang untuk melukis senyum mu hingga membuatnya ikut tumbuh.
Ah sudahlah, aku lebih suka terlihat selalu bahagia, aku lebih suka disalahkan dan aku lebih suka merasakan semua sendiri. Nanti juga hilang sendiri, nanti juga akan bangkit kembali "Pikir ku".
Aku sudah terbiasa dengan itu semua, ayah tidak suka anaknya sedih maka dari itu ku tak ingin melakukan sesuatu yg tidak ayah sukai, aku juga terbiasa karena menjadi si bungsu yang ketika adik nangis akulah yang kadang disalahkan, aku selalu menjadi tempat pendengar rasa sakit dan sedih teman-teman terbiasa hanya menguatkan hingga sedih dan sakitku lebih baik tidak di bicarakan.
ah sudahlah, kamu punya hak bukan untuk berspekulasi, menyimpulkan dan menerka-nerka semuanya sendiri (dg orang lain). Kamu sudah banyak belajar serta paham lebih dari aku yang lemah ini. Aku mendukung semua keputusan yang kamu rasa itu baik, aku tidak akan menahan dan tidak akan meminta kembali.
Kamu sudah jauh lebih tumbuh dan berakal dengan segala macam kelebihan yang Allah tetapkan pada dirimu.
Hakikatnya wanita banyak kurangnya, begitu pun aku. Tapi banyak yang mesti disyukuri bukan? Aku pernah berusaha menjauhi tapi nyatanya tidak bisa.
Teruslah mencari dalam kesendirian dengan hal-hal yang Allah sukai ya. Tak mengapa, mungkin saat ini Allah ingin kamu sendiri menikmati waktu untuk lebih berekprolasi serta menuntut ilmu sebanyak-banyaknya sebelum nanti waktumu dihabiskan untuk membimbingnya. Tetaplah mensyukuri nikmat-mu dalam kesendirian ya, Allah tahu waktu terbaikmu untuk hidup berdua.
Terimakasih dan Maaf, semoga Allah membalas kebaikanmu. Teruslah berjalan maju dan jangan menoleh kebelakang lagi:)
Semoga bulan Ramadhan kali ini, kita termasuk kedalam hamba-Nya yang beruntung dengan menjadikan tahun ini lebih baik dari sebelumnya. (ان شاء الله)
لا تحزن.
Tentang rasa yang kuciptakan sendiri, tenang biar aku urus. Kamu harus baik-baik saja. Oke!! :)
Mencoba cerita baru
Aku mungkin sudah bosan untuk mencoba mengenal makhluk lain di bumi ini. Mencoba memahami dan dekat tapi pada akhirnya tidak bersama. Bagi sebagian orang hal ini akan menjadi trauma tersendiri. Aku merasa, kini juga merasakan hal yang sama. Tapi hati tetaplah hati. Ia mengikuti aliran yang sudah ditemuinya. Berdebah dengan diri dan mencoba mengingkari, tapi sekali lagi hatiku sudah masuk dan entah sampai mana saat ini.
Aku mengenal dia di tempat kerja, orang yang sopan, baik, dan kupikir dia adalah seorang pekerja keras. Awalnya kami hanya bercerita biasa, tapi lama kelamaan kami sering kucing-kucingan mencuri waktu untuk sekedar sarapan diluar bersama. Atau ketika makan siang tidak menggungah selera kami diam-diam mencari makan. Lucu memang jika diingat kembali. Lalu kami sering menikmati olahraga bersama. Sepertinya aku sudah mulai nyaman dengan makhluk Tuhan satu ini. Bagaimana caranya memandang kehidupan, memperlakukan aku, bercerita tentang dirinya dan keluarganya.
Tapi....kadang aku ingin mengingkari rasa nyaman ini. Aku takut terlalu nyaman dan tidak ingin pergi. Aku takut apa yang akan kami hadapi nanti, rasanya ingin sekali mengatakan "kedepannya aku takut, bisakah kamu meyakinkan aku untuk tidak takut" Dan lagi-lagi dia berhasil meneguhkan aku kembali. Sampai detik ini dan aku masih menikmati rasa entah apa namanya. Terimakasih sudah menarikku dari jurang luka waktu itu, terimakasih telah membawaku tertawa dan tersenyum setiap harinya. Tak ada yang kuinginkan kali ini, hanya ingin menikmati rasa yang sudah Tuhan berikan, dan mengembalikannya kepada-Nya hingga nanti takdir yang membawa kita
“Yang benar-benar baik untukmu, datangnya akan selalu tepat. Tidak terlalu lama, tidak terlalu cepat. Buru-buru mencari tempat rebah hanya akan membawamu ke banyak tempat singgah.”
— (via mbeeer)
Untuk menilai seseorang bukan dilihat dari kendala-kendala yang hadir di dalam hidupnya, tapi bagaiman ia menyikapi dan mencari solusi dari masalah itu
Ada banyak luka yang ingin kutulis. Sayangnya aku merasa terlalu naif untuk menulis. Jika ada kesempatan untukku melukis semua luka, mungkin hanya dengan tangis. Kecewa bukan hanya tentang rasa, rasanya kecewa dengan diri sendiri adalah yang paling pahit. Terlalu menikmati rasa, harusnya aku tidak seperti ini.
“Doamu yang mana, kerja keras dan usahamu yang mana, kita tidak pernah tahu mana yang membuahkan hasil dan mana yang yang diijabah olehNya. Sebab itulah tugas kita hanya 2: Perbanyaklah dan Istiqomahlah :’)”
— Mushonnifun Faiz Sugihartanto
“Temenan itu harus dalam batasan wajar. Karena sekalinya keluar dari batasan wajar. Salah satu pasti bakalan ada yang terluka.”
— dwitasaridwita
Aku tahu. Harusnya memang aku sudah sadar sejak beberapa bulan yang lalu. Tidak seharusnya aku dan kamu seperti ini. Menikmati hari dengan tertawa bersama, diam-diam pergi berdua tanpa sepengetahuan orang-orang sekitar, memberikan support satu sama lain, dan menceritakan hal-hal yang kadang bisa membahagiakan satu sama lain. Harusnya aku dan kamu menyadari bahwa kita adalah teman. Apa aku terlanjur nyaman?