Hatiku sedang sekarat. Sebab bahagiaku kau lenyapkan dengan satu kata; perpisahan.
Luka Kita (via lukakita)
dirt enthusiast
trying on a metaphor

tannertan36
Show & Tell

Andulka
he wasn't even looking at me and he found me
No title available

Product Placement
almost home
NASA
Not today Justin
occasionally subtle
TVSTRANGERTHINGS
Three Goblin Art
styofa doing anything
One Nice Bug Per Day
Monterey Bay Aquarium

Janaina Medeiros

JVL
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
seen from Germany

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States
seen from Malaysia
seen from United Kingdom
seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States

seen from France

seen from Singapore
seen from Germany
seen from Türkiye
seen from Malaysia

seen from South Korea
seen from Netherlands

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
@dwihachi
Hatiku sedang sekarat. Sebab bahagiaku kau lenyapkan dengan satu kata; perpisahan.
Luka Kita (via lukakita)
bukan berkhianat, hanya sedang dekat
bukan main belakang, hanya sedang merasa nyaman
Pada Akhirnya
Hiduplah sebagaimana kau ingin
Sesekali aku akan mendoakanmu.
Meski tidak sesering dulu
“Ketika kau dengan sadar memilih, seketika itu juga kesalahan adalah mutlak milikmu.”
“Kau tahu apa yang paling kurindukan darimu, Puan? Memelukmu erat dari belakang sampai kau tertidur tanpa merasa dikekang.”
mendekat lalu pergi, membisik lalu membisu, jadi apa maumu?
bukankah janjimu "akan selalu"??
siapa?
Beberapa tahun yg lalu.. Pagi, siang, dan malamku tak pernah sepi dari riuh tawa yg selalu terdengar disetiap sudut ruanganku. Candanya selalu sukses membuatku melepas penat yg seharian memang sudah membuatku jengah. Dan aku merindunya.. sekarang
Hari yang Lamur dan Kita Kehilangan Percaya
Kita belajar berjalan sesudah ibu mengatakan bahwa tangis telah dikhatamkan. Lalu dengan kedua kaki yang masih sering beradu kiri dan kanan, kita langkahi batas-batas yang ada. Mungkin seperti itulah ketika kita berjuang untuk sampai pada satu sama lain.
Kadang, ketika telapak tak lagi merasakan tanah. Kita coba merangkak sembari menjengkali orang-orang, tempat-tempat, laut, sungai, hutan, bahkan pikiran kita sendiri. Kita juga melihat terang menyilaukan dan gelap yang menuntun.
juga khatam.
tapi ada yang tak bisa kita selesaikan dengan diri sendiri. Kekhawatiran yang menjegal kita di simpang-simpang tandus, berduri, atau kadang begitu melenakan. Meski kompas telah di tangan. Kalender di sekujur badan.
kita saling menuding satu sama lain. Akukah? sayakah? Matahari kehilangan tugasnya. Bulan kehilangan usianya.
Tangan yang tadi menjengkal-jengkal bumi mulai belajar meraba.
Bengkulu, 2017.
aku menganggap aroma tubuhmu sebagai candu. sama seperti kopi yang yang selalu menemani malammu.
meskipun akhirnya kembali dan terlihat seperti semula lagi, kita tak pernah mencintai orang yang sama dengan perasaan yang sama, dua kali.
(via karizunique)
aku menyebutmu dalam doa di tengah malamku, sebagai wujud syukurku.
aku sedang menyempurnakan kalimat, mencari kata kita di kepingan nostalgia
no caption needed! ❤
ha!
nek koe ra gelem ngancani aku dolan, aku iso dolan dewe.. golek liyane 😂😂😂 . . . . . . . . . #minipiknik #candibarong #jogja #ayodolan #lifequotes #ha
❤