Menikah bukan soal dengan siapa. Bukan juga tentang kapan waktu itu tiba. Tapi tentang bagaimana kamu mengawali prosesnya ? menjalani perjalanannya ? dan apa tujuan menikahnya ? kemudian bagaimana menghadapi konflik yang ada di dalamnya.
Bila sudah siap, berarti juga harus siap dengan konsekuensinya. Sebab menikah tidak hanya soal bahagia. Tapi juga ada duka yang terselip sebagai ujian bahtera rumah tangga.
Hari ini, saya menghadiri pernikahan sahabat dekat saya. Tentu, disana saya banyak ketemu dengan teman sejawat sekolah dulu. (SMP dan SMA).
Banyak kisah yang di kisahkan. Yang tentu dapat di ambil manfaat hikmah dan pembelajarannya.
Diantara tentang pernikahan beberapa teman saya yang menikah.
Sebelumnya, saya menuliskannya disini hanya ingin mengingatkan diri saya pribadi.
Ketika saya ingin menikah, sudahkah saya siap dengan konsekuensi yang akan saya hadapi nantinya ?
Sebut saja Si A. Si A menikah beberapa tahun dengan suaminya, hingga punya seorang anak laki-laki. Namun sayang, akhirnya divorce juga. Mereka pisah. Menurut cerita teman saya, suaminya tidak bertanggung jawab memberikan nafkah kepada anak-istrinya. Terang saja, dimana harga diri seorang lelaki yang sudah menikh bila tak mau memberikan nafkah ? padahal sudah bekerja dan tentu mendapat ma'isyah ?
Sebut saja si B. Si B menikah dengan suaminya. Dia harus LDM karena suami si B bekerja di pelayaran. Sedang Si B harus merawat ibunya yang gagal ginjal. Namun d sisi lain, ia harus tinggal di rumah suaminya (mertuanya). Kontan si ibu kandung pun keberatan. Pada akhirnya timbulah konflik di dalamnya.
Sebut saja si C. Ia menikah dengan kaka si B tadi namun ia sungguh tidak mau merawat mertuanya (ibu si B dan suaminya si C). Kasarnya, bukan menantu yang baik. Akhirnya timbulah konflik.
Ah tidak. itu adalah yang di alami teman-teman saya.
Pada akhirnya, Allah seakan ingin memberikan gambaran pada saya. Bahwa menikah bukan menyoal bahagianya saja. Namun harus siap dengan segala macam problematikanya.
Lalu bagaimana biar menikah biar bisa bahagia dan meminimalisir timbulnya problematika?
Tentu tak semua kehidupan pernikahan itu sedih. Pasti ada bahagianya juga.
Disini saya ingin menasihati sekaligus mengingatkan diri sendiri. Ketika nanti ada seorang yang datang menghampiri, ada beberapa yang harus di pastikan dan di bicarakan agar konflik besar minim terjadi (meski bukan jaminan juga)
1. Samakan Visi dan Misi Pernikahan
2. Bicarakan masalah kedua orang tua dan buatlah kesepakatan.
3. Bicarakan bagaimana plotting finansial setelah pernikahan.
4. Bicarakan hal-hal/konflik yang mungkin terjadi selama pernikahan dan bagaimana cara masing-masing menyikapinya.
5. Buatlah komitmen untuk selalu menggali ilmu agama. Agar segala konflik dapat di atasi dengan cara pandang ilmu. bukan hawa nafsu.
6. Jangan lupa agar saling mengingatkan setiap adanya kesalahan diantara salah satu atau keduanya.
Semoga. Siapapun kamu yang kelak akan menjadi suamiku nanti, adalah laki-laki yang mau ku ajak kompromi. Menyamakan frekuensi. Dan mengambil jalan tengah bila konflik menghampirim Saling mengingatkan di kala lupa. Dan saling menguatkan di kala lemah.
Semoga semesta turut serta mengaamiinkaannya.