Mantra akhir-akhir ini:
"ayo jangan kabur. Jangan kabuuur"
"gapapa, indirak. Kamu sejatinya secara umum keren, ko. Alias yaudah gaskeun!!!"
"ayo banguuun. Geraaaaaaaak. Tritmen bayarnya mahaaaaal."
"ayok indirak jangan biarkan otakmu mubajir."
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Cosimo Galluzzi
styofa doing anything
ojovivo
Sade Olutola

Kaledo Art
todays bird

if i look back, i am lost

tannertan36

Kiana Khansmith
taylor price
Peter Solarz
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Today's Document

★

Origami Around
Stranger Things
Alisa U Zemlji Chuda
dirt enthusiast

pixel skylines
seen from Chile
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Chile

seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Sweden
seen from United States
seen from United States
seen from Germany

seen from United States
@notesaurel
Mantra akhir-akhir ini:
"ayo jangan kabur. Jangan kabuuur"
"gapapa, indirak. Kamu sejatinya secara umum keren, ko. Alias yaudah gaskeun!!!"
"ayo banguuun. Geraaaaaaaak. Tritmen bayarnya mahaaaaal."
"ayok indirak jangan biarkan otakmu mubajir."
the basic form of love is loving yourself enough to know what you want, how to get it and how to enjoy it.
I love you, lemon madeleine guten morgen 🤍
Tadi begitu sampe stasiun sepulang kerja, hujan. Gue ngeluarin mantel, ganti sendal, lalu jalan dari stasiun ke rumah sambil dengerin radio. Di tengah jalan, sebuah lagu jadul terputar, dan gue termenung bahkan sejak lirik pertamanya mengalun.
'... for all the time that you rained on my parade'
Gue hapal banget lagu ini, jaman kuliah sering dengerin bolakbalik sampe jadi salah satu lagu karokean juga. Tapi kali ini, gue baru bener-bener meresapi liriknya tang ternyata, wow.
Lagu itu menceritakan si tokoh utama yang akhirnya moved on dari mantan yang 'told him his opinion was wrong', 'made him forget where he came from', made him feel small, so low, vulnerable. Tapi sekarang ceritanya dia dah sadar, dah nggamau sedih-sedih lagi. Bahkan bisa bilang; the only problem was with you and not them.
Ada satu kelompok lirik yang membuat gue merenung cukup banyak sampe tiba di teras rumah;
"I fell in love, now I feel nothing at all. Was I a fool to let you break down my walls?"
Kalo urusannya sama perasaan cinta, apakah adil kalau perilakunya ini disebut 'bodoh'? Kayanya ngga, ngga sih?
Kita tau kalo setiap orang tumbuh dan besar dengan bentuk cinta yang berbeda-beda. Seiring berjalannya waktu, bahasa yang membuat mereka merasa dicintai ini akan berubah, bergeser, bahkan bisa jadi berkebalikan dari sebelumnya. Apakah ada bahasa cinta yang paling benar atau paling salah, paling pandai dan paling bodoh?
Di lagu itu, tokoh utama pernah jatuh cinta, maka berarti ada hal-hal yang dilakukan si mantan yang membuat dia merasa dicintai, ya kan. Tapi seiring berjalannya waktu, data variasi dari bentuk cinta itu di kepalanya mulai berubah. "Kok gue sebel ya disalahin terus pendapat gue?", "kok gue ngga nyaman ya dia bilang dia benci semua temen-temen gue?". Dia mulai merasa ngga dicintai, sehingga rasa cinta dia juga memudar. Then he decided to leave.
Dulu, pada masanya gue pernah merasa dicintai, entah dalam lingkup relasi darah, relasi platonik, ataupun relasi romantik, yang kemudian lama kelamaan berunah dan memudarkan rasa cinta yang gue punya terhadap mereka.
Gue kira dilarang itu bentuk cinta, ternyata eh kok gue ngga boleh ngelakuin hal harmless kayak gini sih? Gue kira, dibentak itu bentuk cinta, tapi eh kok gue sedih dan jadi takut sih setelahnya? Gue kira, ditarik-ulur itu bentuk cinta, kok tapi gue jadi gelisah terus sih? Gue kira, di-invalidasi perasaannya dan dianulir pendapatnya itu bentuk cinta, trus kenapa gue malah gemeteran dan marah yah?
Bahkan, gue pernah dengan gamblang bilang ke psikolog gue:
"Saya pikir, saya pantas dipukul karena itu bentuk sayang dan peduli mereka ke saya"
Oke, ini dalam norma apapun salah. This is not love. This is a big fockin red flag.
Balik lagi ke contoh-contoh sebelumnya yang tidak se-ekstrim itu. Pada masa itu, kumpulan informasi di kepala gue mengenai perilaku mencintai dan dicintai itu ya baru segitu aja. Gue belum cukup mapan mengelola varian-varian emosi yang muncul dalam kondisi dicintai dan mencintai ini. Pendek katanya, gue iya-iya aja. Gue belum tahu.
Gue bahkan kepikiran satu hal lagi; jangan-jangan saat itu gue juga berperilaku demikian dalam hal mencintai orang terkait. I simply got what I deserved. Mungkin gue juga suka ngebentak, jadi orang bentak gue balik. Mungkin gue suka ngatur-ngatur orang, jadi orang ngatur gue balik.
As the time goes by, ya gue manusia yang bertumbuh, berkembang, yang kemudian akhirnya berubah. Gue bertemu varian cinta lain yang lebih membuat gue nyaman, yang akhirnya membuat gue meralat definisi "dicintai" yang gue pegang sebelumnya. Bahkan, gue jadi tau bahwa definisi sebelumnya itu "tidak cocok" untuk gue.
Ini di luar bentuk-bentuk yang melanggar segala norma tadi lho ya. Kalo itu fix salah.
Cinta itu katanya ngga nyakitin fisik dan mental. Tapi seringkali, kita tuh nggatau apasih yang bikin fisik dan mental kita sakit? Kita nggatau karena nggapernah nyobain sebelumnya, tapi apa iya kita harus ngalamin dulu semua bentuk cinta paling jahanam sebelum kita tau? Jawabannya adalah judul dari lagu yang gue dengerin tadi:
Love Yourself.
Lo ngga akan pernah tau lo mau dicintai seperti apa, kalo lo aja ngga cinta sama diri lo sendiri atau nggatau gimana caranya mencintai diri lo sendiri.
Kalo lo udah cukup cinta sama diri lo sendiri, minimal lo tau batasan sejauh mana lo layak diperlakukan, karena begitulah lo memperlakukan diri lo sendiri. Lo ngga akan bilang "apaan sih gitu doang" ketika diri lo lagi seneng abis beli bakso tusuk enak depan stasiun kan? Atau, lo ngga akan "iket rambutnya yg bener, jangan digerai-gerai gitu kayak lonste" ke diri lo sendiri yang lagi manjangin rambut kan? Dan sebagainya.
Karena pada akhirnya satu-satunya pertahanan diri ketika perlakuan orang lain mulai bikin lo ngerasa ngga dicintai itu adalah cinta lo ke diri lo sendiri. Kalo lo merasa ngga layak diperlakukan begitu, lo jadi punya cukup alesan buat pergi. Bukan malah ngemis bertahan hanya karena satu-satunya cinta yang lo punya cuma dari dia.
Ini berlaku ngga cuma ke relasi romantik, btw.
Gue mungkin belum nyicipin segala varian "dicintai" dari orang lain. Tapi setidaknya, detik ini, di relasi yang gue pilih saat ini, gue sedang dalam masa dimana gue merasa dicintai, dengan baik dan cukup.
Ternyata, gue merasa dicintai ketika diterima, didengarkan, tapi tidak selalu diiyakan. Ternyata, gue merasa dicintai ketika dipeluk, digenggam, tapi tidak selalu dipegangi. Ternyata, gue merasa dicintai ketika ditemani, tapi juga diberi ruang untuk sendiri. Ternyata gue merasa dicintai dengan makanan enak, inside jokes garing tapi tetep diketawain, keusilan-keusilan random, celetukan-celetukan judes, atau bentuk-bentuk tidak didukung sambil dikata-katain kalo emang lagi melenceng dari jalur.
Ternyata, dicintai itu rasanya hangat, sekaligus sejuk, tergantung dalam situasi seperti apa. Ternyata, dicintai itu tidak selalu dalam mode tergesa-gesa, berdebar-debar. Seringkali bentuknya malah perlahan-lahan, bersantai-santai, dengan napas satu tarikan demi satu tarikan beserta jeda sepersekian detik.
Tentu saja, gue bisa mengelola semua itu setelah gue tau, gue maunya apa, gue butuhnya apa. Dan gue bisa tau itu semua setelah gue punya cukup cinta untuk diri sendiri.
Ya ngga selalu sih, kadang mah suka pengen nyabet kepala sendiri pake ujung sapu, tapi ya gitulah you know what I mean.
Gue selalu percaya; we get the love we deserve. Jadi ya mulai dari diri sendiri dulu biar jadi 'deserve' tu gimana. Kalo merasa dicintai dengan didengarkan, ya belajar dengerin diri sendiri dan orang lain. Kalo merasa dicintai dengan dipeluk, ya belajar ngga mukul diri sendiri dan orang lain.
Intinya, dengerin apa kata Mz Bieber:
'You should go and love yourself'
Sekian dan terima doughlab the nationalist 🍪
Semua manusia dibumi ini berpotensi untuk mengecewakanmu, jadi siap-siaplah.
Kamu boleh mengira ada orang yang tulus, tapi tetap sisa kan ruang untuk ikhlas dihatimu.
Semoga ga ada yang selingkuh di aplikasi ini ya 😂🤭
Di usia berapa pun seseorang berada, ada satu hal yang hampir semua orang pelajari dengan cara yang sama. Pelan-pelan, tidak nyaman, tapi sangat perlu yaitu tentang batas diri. Batas itu bukan tanda bahwa seseorang sedang menjauh, tapi cara paling sederhana untuk menjaga agar hati dan energi tidak terkuras habis.
Kadang kita baru sadar pentingnya batas setelah terlalu sering berkata “iya” ketika sebenarnya ingin berkata “tidak.” Setelah terlalu lama memaksakan diri menjadi kuat, sampai lupa bahwa kekuatan pun ada kapasitasnya.
Dan semakin dewasa seseorang menjadi, semakin jelas bahwa tidak semua hal harus direspon, tidak semua undangan harus dihadiri, tidak semua percakapan harus dijelaskan, tidak semua orang harus diberi akses ke keadaan hati kita. Batas diri bukan tentang ego, tapi tentang memahami bahwa menghargai orang lain dimulai dari belajar menghargai diri sendiri.
Ada orang yang merasa lega saat mereka mulai berani menetapkan jarak. Ada juga yang merasa takut kehilangan hubungan. Dan ada yang hanya merasa bersalah karena terbiasa memikul lebih dari yang seharusnya. Semua itu wajar karena boundaries adalah keterampilan, bukan sifat bawaan. Dan yang paling sering dilupakan adalah batas diri tidak selalu berarti “menolak,” kadang itu hanya tentang memilih waktu, memilih ruang, dan memilih versi diri mana yang sanggup hadir.
Pada akhirnya, batas bukan untuk mengeraskan hati, tapi justru untuk menjaganya tetap lembut, agar kita bisa memberi tanpa merasa terkuras, menerima tanpa merasa terpaksa, dan hadir tanpa kehilangan diri sendiri.
—Rini Alfianita, Rain 💧
Seneng banget ngeliat IG akhir-akhir ini, melihat banyak orang menikmati hidupnya (terutama yang kufollow yaa). Kek bahagiaaaa gitu, menjalani hal-hal yang disuka. Entah dibaliknya lagi personal branding atau yaa yang susah-susah emang gak ditunjukin aja. Tapi tuh, nyampek ke yang lihat positive vibes-nya dapet bangettt. Jadi ikut happy. Jadi kalo kamu lihat medsos makin ngerasa rungsing, mungkin perlu decluttering siapa aja yang difollow gasih? Cheers 🥂✨️
terimakasih atas perasaan dihargai tanpa emosi. terimakasih karna telah diajari tanpa kenal secara langsung. terimakasih telah diberi contoh tanpa harus dipeluk secara nyata. terimakasih telah mendukung tanpa harus menjatuhkan. dan terimakasih atas sabar mu yang kau peluk secara hangat setiap hari.
Ya Allah jangan ada lagi part gue ngemis-ngemis perhatian ke orang lain, siapapun itu!! Tolong cukupkan aku dengan kasih sayangMu tanpa harus mencari dan bergantung pada manusia.
Trusting someone's ability to make judgments and decisions.
Ketimbang selalu memahami, aku lebih suka mengakui bahwa pemahamanku terhadap setiap orang tidak pernah akurat. Kita sebagai manusia, tidak bisa lepas dari bias kognitif. Jadi, ada kalanya aku hanya perlu percaya pada kemampuan seseorang untuk membuat penilaian dan keputusan. Dan pada akhirnya keputusan setiap orang tidak perlu masuk akal buatku.
Aku mulai menyadari bahwa memahami seseorang sepenuhnya adalah hal yang nyaris mustahil. Jangankan orang lain, diri sendiri saja sudah sulit. Setiap orang membawa pengalaman, luka, impian, dan cara berpikir yang tak selalu bisa kutebak, sekeras apa pun aku mencoba.
Dulu, aku sering berpikir bahwa jika aku cukup banyak bertanya (probing) dan cukup banyak mengamati (observing), aku akan sampai pada titik di mana segalanya masuk akal. Tapi nyatanya, ada hal-hal yang memang tak dirancang untuk kumengerti.
Jadi, sekarang aku belajar untuk lebih banyak menerima. Tidak semua keputusan seseorang harus sesuai dengan logikaku, tidak semua jalan yang mereka ambil harus bisa kupahami. Kadang, yang lebih penting bukanlah mencari alasan di balik pilihan mereka, tetapi memberi ruang bagi mereka untuk menjadi dirinya sendiri, dengan cara khasnya sendiri.
Aku memilih percaya bahwa mereka tahu apa yang mereka lakukan, bahkan jika aku tak selalu melihatnya dengan cara yang sama. Aku harap ini memberikan rasa aman bahwa aku tidak akan mencoba menebak dan berasumsi apapun mengenai motif dasar yang mereka lakukan dalam setiap pengambilan keputusannya.
— Giza, untuk teman-teman, maaf sebab pernah mendikte kalian menurut "penggaris" subjektif ala dirinya sendiri
Terkadang kita lupa, sebagian solusi dari beberapa persoalan adalah mengalah, bukan mengeluh.
Mengalah, tahu diri, kalau memang bukan milik kita ya sudah jangan dipaksakan.
Mengalah, tahu waktu, kalau memang belum juga ada, ya sudah ikhlaskan. Mungkin saat ini memang bukan waktu terbaiknya kan?
Mengalah, tahu tempat, kalau memang sudah di luar kemampuan kita, ya sudah lupakan. Lain waktu mungkin adalagi kesempatan.
@azurazie
Kita harus satu visi misi. Untuk mencari solusi. Agar tidak dicaci maki sama atasan sendiri 🤣
Let people respect their own choices.
Not everyone takes the brightest road.
Some of us take the quieter one.
The one that doesn’t sparkle,
but holds us gently.
There are no good or bad decisions.
Only the ones we regret,
and the ones we learn to embrace.
Even the hardest path softens
when we walk it with patience.
Not because it gets easier—
but because we stop trying to escape it.
And when we stop asking for permission to belong,
the road becomes ours.
~ Dea, setiap kali pilihan hidupnya dipertanyakan orang lain 🤣
There are so many burdens we carry simply because we think everything is about us. The awkward silence in a conversation. The unread message. The decision someone else made without telling us.
But here’s the truth: we are not the center of the world. And that is a gift.
When we stop imagining ourselves as the main character in everyone else’s story, we free ourselves from unnecessary weight. We begin to see that most people are caught up in their own worries, their own storms, their own endless to-do lists.
Realizing this doesn’t make us insignificant. Instead, it makes us lighter. We can finally walk without dragging the invisible expectations that were never ours to carry.
Maybe peace is not found in making everything revolve around us, but in learning how small we really are—and how liberating that smallness can be.
2024,
IT ENDS WITH US 🥀
Dear Daisy...
Aku baru saja menyelesaikan buku karya Coolen Hover, It Ends with us. Setelah selesai membaca, aku termenung sejenak. Masih mencerna apa yang baru saja aku baca. Ini buku pertama yang aku baca sampai membuat merinding sekujur tubuh, juga buku pertama yang aku mendapatkan banyak pelajaran didalam nya.
Lucu nya, kau tahu darimana aku terinspirasi menciptakan ini? Iya, dari buku itu. Aku berniat menjadikan Tumblr ku sebagai Ellen nya Lilly. Anonim dan tidak ada yang tahu dibalik sosok akun ini. Mungkin, jika suatu saat ada seseorang yang tahu, aku tidak keberatan untuk mempersilahkan nya mengomentari laman menulis ku. Toh, ini hanya sebuah tulisan, yang tidak terlalu personl untukku. Seperti kata Lily, aku butuh pelampiasan, aku butuh hiburan, untuk menjaga diriku dari stress. Dan menulis adalah solusinya. Aku bisa bebas mengungkapkan apapun yang ingin aku ungkapkan disini. Iya meskipun tidak sebebas itu. Hanya yang menurut ku pantas untuk ada di laman ini.
Sepanjang aku membaca cerita mereka, aku tidak terlalu bersemangat saat part Ryle muncul, aku selalu tidak sabar ketika Lily menceritakan kisah nya dengan Atlas. Ada begitu besar perbedaan ketika aku membaca Lily bersama Atlas dan ketika Lily bersama Ryle. Saat bagian Ryle muncul, aku lebih banyak tersenyum dan baper, aku salting sendiri membaca kisah mereka berdua di awal cerita. Tetapi, saat bertemu dengan bab yang menceritakan Atlas, ada kesedihan bersama dengan kegembiraan yang sulit untuk diutarakan, aku seolah merasakan apa yang Lily rasakan, setiap apa - apa yang keluar dari sisi Atlas, begitu terasa menyedihkan. Apalagi setelah aku rasa memiliki beberapa kesamaan cerita dengan nya, rasanya aku begitu paham apa yang Atlas rasakan. Ya Daisy aku tau, ini terdengar lebay.
Paragraf berikutnya mengandung spoiler dari buku itu.
Baiklah Daisy, kau tahu apa yang membuat ku termenung begitu selesai membaca buku itu? Sosok Ryle yang baru aku sukai di akhir cerita. Justru, aku menyukai tokoh Ryle setelah Coolen, selesai menuliskan Epilog pada buku itu. Lucu bukan? Aku merasa iba dan menyayangkan akhir dari tokoh Ryle, begitu pula Lily. Jujur saja, aku memang tim Atlas garis keras sejak awal, tetapi tetap ada sedikit rasa dukungan ku untuk Ryle juga dalam kisah cinta mereka di buku itu.
Aku menyayangkan sekaligus senang dengan akhir cerita dari buku itu. Baru pertama kali ini aku membaca cerita dengan tidak mendukung sang tokoh utama bersatu. Alih - alih menginginkan hubungan seperti mereka, aku justru mulai berpikir hubungan apa yang aku inginkan. Batasan apa yang harus aku pasang dan pasangan ku harus menghargai itu sampai kapan pun. Rumah tangga seperti apa yang ingin aku bangun, kriteria pasangan bagaimana yang aku butuhkan, serta bagaimana aku bisa menerima kekurangan diriku serta pasangan ku nanti.
Daisy...
Buku ini begitu banyak mengajarkan aku bagaimana sudut pandang lain dari sebuah hubungan yang romantis tetapi berakhir tragis. Mengingat kan aku pada luka masa lalu yang sekarang aku masih berjuang untuk terus sembuh dari itu. Rasanya seperti aku tenang namun didera ombak secara bersamaan.
Tentu saja aku senang ketika akhirnya Atlas bersama dengan Lily, ugh Atlas... Aku juga ikut jatuh cinta kepadanya. Sungguh, aku kira Atlas tidak akan mendapatkan akhir yang bahagia. Aku sungguh menangis ketika membaca bagian "Pada masa depan, jika ada keajaiban yang membuat mu berada pada posisi untuk jatuh cinta lagi... Jatuh cintalah kepada ku." Lagi, "Kau masih orang yang paling kusuka Lily. Akan selalu begitu." Daisy, jika ada seseorang dari masa lalu yang sangat membekas seperti Atlas berucap begitu, aku akan menangis sekencang - kencang nya, tersungkur, terjatuh dan terkulai lemah di dasar jurang paling dalam di bumi. Jangan tertawa, aku tahu ini berlebihan, tapi Daisy, andai kau bisa membaca buku itu juga, sedih sekali kau tahu. Tapi semua terbayarkan di akhir cerita, aku senang.
- Daisy
Ketika kita sedang merasakan lelah setelah seharian bekerja. Tetiba dirimu teringat. Oh iya, sampai begini pun memang untuk keluarga tercinta di rumah. Terbayang senyum sumringah mereka. Senda gurau setelah kepulangan kita. Dan memang itu yang sejauh ini kita perjuangankan untuk tetap terjaga. Untuk tiap-tiap upaya kita. Yang kita setiap hari usahakan. Lelahnya memang tidak serta merta hilang, tetapi rasanya jadi lebih bermakna.
@azurazie_