Yang paling menakutkan dari sebuah pertemuan adalah, rasa rindu yang ternyata selama ini belum selesai, dan harap kosong yang tumbuh kembali meski tahu kalian sudah tidak punya kesempatan lagi.

blake kathryn
No title available

No title available
The Stonewall Inn
Cosimo Galluzzi

★
wallacepolsom

ellievsbear
Today's Document
noise dept.
Claire Keane

gracie abrams

❣ Chile in a Photography ❣
TVSTRANGERTHINGS
Game of Thrones Daily
Stranger Things
almost home
NASA
he wasn't even looking at me and he found me

#extradirty
seen from United States

seen from Brazil

seen from Malaysia
seen from Switzerland

seen from Netherlands

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from France
seen from United States

seen from Côte d’Ivoire

seen from France
seen from Canada

seen from Türkiye
seen from United States
seen from Malaysia
seen from Türkiye
seen from France

seen from Vietnam

seen from Czechia
@emaapriliana
Yang paling menakutkan dari sebuah pertemuan adalah, rasa rindu yang ternyata selama ini belum selesai, dan harap kosong yang tumbuh kembali meski tahu kalian sudah tidak punya kesempatan lagi.
Kedisiplinan "Pak Kentang"
Ada sebuah kantin yang cukup besar di tempat aku bekerja, yang terdiri dari banyak kedai-kedai kecil bermitra dengan penjual-penjual dari luar. Para penjual ini menjajakan berbagai macam makanan mulai dari nasi rames, soto, chinese food, dll. Salah satu kedai yang sering kukunjungi adalah kedai milik "Pak Kentang" begitu aku menyebutnya pada kawanku (karena aku tidak tau namanya). Bukan tanpa sebab aku menyebut pak kentang, karena memang beliau menjual kentang goreng, jamur goreng, dan tela goreng.
Satu hal menarik tanpa aku sadari selalu kuperhatikan dari beliau, yakni beliau selalu konsisten sampai di parkiran kantin pada sekitar pukul 8.10-8.15 dengan bahan baku dagangannya yang bertumpuk pada box besar di atas motornya (kebetulan, berkali-kali setiap masuk lingkungan kawasan tempat kerja, motor kami selalu berbarengan).
Dari situ aku berpikir, wahh dibalik ke sat-set an pak Kentang dalam melayani pembeli, beliau ternyata juga sosok yang disiplin. Pak Kentang bisa saja datang lebih siang, toh dia pedagang yang tidak terikat aturan jam buka kedai. Pun waktu berdagangnya biasa dimulai di sekitar jam 9.00 atau 9.30, kenapa harus bermacet-macetan dengan pengendara lain di jam-jam sibuk kantoran? bukannya akan lebih enak kalau berangkat agak siangan? dia sebagai pemilik kan bebas mau berangkat kapan pun, mau libur tutup kedai pun bebas aja.
Berbanding terbalik dengan kebanyakan karyawan (yang kuperhatikan di divisiku), jam kerja dimulai jam 8.00 sudahlah diberi toleransi keterlambatan 15 menit --presensi pukul 8.15 tidak dianggap terlambat, masih saja datang pukul 8.45 bahkan jam 09.00.
Kedisiplinan dari Pak Kentang ini pun menjadi pelajaran dan teladan bagiku yang hanya seorang karyawan (bukan bos seperti beliau), dibayar untuk bekerja agar selalu disiplin, seminim-minimnya tidak terlambat saat datang ke tempat kerja. Semoga Allah selalu membimbing kami dalam kebenaran dan kebaikan. Aamiin..
"Broken heart" hits me very hard. It hurts till now, till I've become so numb...
#oldnotesonmyphone
2019, all of my moments!
Banyak peristiwa menarik yang terjadi selama satu tahun lalu. Syukur tak terbendung untuk semua takdir baik pada tahun 2019, Alhamdulillah, Thank God. Aku menulis ini untuk mengingat momen-momen spesial yang amat kusyukuri. Bukan berarti aku tak bersyukur di hari-hari lain, hanya saja momen yang kutulis ini adalah hal yang pertama kalinya terjadi dalam hidupku atau mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup. terima kasih Allah, di tahun 2019 bulan :
April tanggal 12, umurku genap 24 tahun. Disaat yang bersamaan, penyanyi favoritku, BTS melakukan comeback untuk album Map Of The Soul (MOTS) : Persona, and I have one of the series from MOTS Persona Album as my “self-reward”.
April tanggal 18, tepat satu tahun skripsi yang saya kerjakan. 6 bulan pertama masih lekat dihantui rasa pesimis karena mengalami kesulitan dalam alur penyelesaian penelitian, 4 bulan selanjutnya rasa ingin menyerah terkadang menguat tapi rasa pantang menyerah juga turut menguat tak ingin kalah, satu masalah selesai, muncul masalah baru. Tapi dengan kerja keras dan doa, semuanya membuahkan hasil. I can challenge my self with all my blood, sweat, and tears.
April tanggal 22, I was submitting all of my hard works for the last year. Setelah itu mulai memperbanyak doa agar dimudahkan untuk sidang skripsi.
April tanggal 30, Aku berinisiatif meminta dosen pembimbingku untuk membantu melatihku dalam presentasi sebelum sidang skripsi. Ya bisa dianggap seperti simulasi sidang skripsi. Semua file ppt sudah clear, tinggal persiapan mental dan doa.
Mei tanggal 2, The day was coming! Aku melakukan sidang skripsi tertutup di ruang Sidang Perkuliahan 01. Situasi saat itu rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Deg-degan selama menunggu giliran itu pasti, dan aku bukan tipe orang yang bisa belajar menjelang ujian. Percuma, materi-materi yang dibaca menjelang ujian pasti nggak akan nyantol di otak. Rasanya saat itu hanya bisa banyak berdoa pada Allah agar diberi ketenangan dan kemudahan dalam menyampaikan apa yang ada di dalam isi otakku. Setengah jam sebelum sidang skripsi dimulai aku sudah mempersiapkan semuanya, memasang layar proyektor dan menyalakan laptop. Oh Gosh! Nasib berkata lain. Ada masalah pada laptopku yang tiba-tiba rewel dan merusak file presentasi yang sudah aku siapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Aku yakin file ppt yang font nya tiba-tiba amburadul itu pasti akan sangat berpengaruh pada nilai sidang skripsiku. Tapi ya mau gimana lagi, nasi sudah jadi bubur. Pengalaman menyakitkan itu akhirnya memberiku pelajaran bahwa penting untuk menduplikat/menyalin file-file yang krusial. Dan akhirnya aku dinyatakan lulus oleh 3 dosen pengujiku di ruangan saat itu. Senyum nggak berhenti merekah dari wajahku. Terima kasih untuk Pak Almed Hamzah, Pak Kholid Haryono, dan Pak Ahmad Fathan Hidayatullah. Keluar dari ruangan sidang, aku disambut dengan tangis haru dari kawan-kawan dekatku. Melihat mereka menangis sempat membuatku bingung sejenak. Tangis bahagia kata mereka. Thanks girls! :)
Juli tanggal 2, Aku mendaftarkan diri untuk mengikuti acara seremonial wisuda. Acara yang sudah ditunggu sejak lama oleh bapak dan ibu.
Agustus tanggal 31, Hari wisuda telah tiba! this was the first time in my life, I woke up very early just for putting makeup on my face hahaha. Di hari itu juga, saat aku melangkah keluar setelah prosesi wisuda, aku melihat bapak dan ibu menungguku dari deretan kursi wali mahasiswa. Dipeluknya aku oleh mereka berdua saat aku sudah berdiri tegak dengan baju kebesaranku di depan bapak dan ibu. Aku melihat mereka tersenyum sangat lebar sembari menahan tangis haru, samar-samar kudengar mulut mereka yang tak hentinya berbisik mengucap syukur alhamdulillah. It was a heartwarming on my life...
September tanggal 12, Aku keluar dari kosan Bu Sum Sukarjo. Aku sudah tidak menjadi bagian dari penghuni Kosan 46. Tapi kami masih menjadi keluarga Kosan 46 sampai tulisan ini diterbitkan dan (kuharap) untuk selamanya.
September tanggal 25, Kami sekeluarga, Bapak, Ibu, aku, dan 2 adikku bertolak ke negeri para nabi. Kami melaksanakan ibadah umroh bersama selama 9 hari. Waaahh... this was the first time I went to Jakarta and Saudi Arabia by plane and also my first time on a plane :) Baru pertama kali naik pesawat hehe. Naik pesawat yang kedua kalinya langsung 10 jam perjalanan di udara. Amazing!
Oktober tanggal 26, Pertama kalinya aku ikut tes TOEFL ITP yang diselenggarakan oleh ETS (Educational Testing Service). Skor yang aku peroleh adalah 490, I don’t know is it too bad or not for a newbie like me, tapi suatu saat kalau ada rezeki, aku ingin mengulang test TOEFL atau mungkin ambil les bahasa mandarin (?). Saat SMA aku pernah melakukannya sekali di Universitas Diponegoro, tapi sepertinya bukan TOEFL ITP dan skorku lumayan bagus saat itu, 509 (kalau tidak salah ingat).
Desember tanggal 16, Pertama kalinya aku mendapat panggilan interview kerja setelah membawa gelar sarjana di Semarang (PT. Charoen Pokphand Indonesia). Oh, jadi begini rasanya jadi job hunter...
Desember tanggal 21, Kami sekeluarga diberi kabar oleh sekolah adikku bahwa pada tanggal 18 Desember 2019, dia (satu-satunya adik laki-lakiku) sudah mengkhatamkan hafalan al Quran nya sebanyak 30 juz. Semoga dia bisa membawa bapak dan ibu ke surga nanti. Aamiinn...
Sekian momen-momen 2019 yang kuingat. Selamat menjalani hidup di tahun 2020, Ema! :)
karena aku sangat mudah untukmu
karena aku sangat mudah untukmu.
kamu tidak perlu lelah-lelah berjuang, sebab aku tidak mungkin sampai hati membiarkan orang yang ingin memperjuangkanku berjuang sendirian.
kamu tidak perlu repot-repot membuat dirimu diterima, sebab aku selalu bersedia mengambil tanggung jawab untuk lebih dari menerima–yaitu memaafkan, melupakan, bahkan melepaskan.
kamu tidak perlu pusing-pusing memikirkanku, sebab aku sungguh selesai dengan diriku sendiri. sebab masa depanku adalah rangkaian rencana yang bisa diganti. sebab ambisiku selalu (hanya) sekeras tangan yang menggenggam pasir, secukupnya mencukupkanku.
kamu tidak perlu khawatir tentang apapun, sebab aku bisa mengikutimu ke mana pun. aku bisa diajak berjalan, berlari, merangkak. aku bisa bertahan pada segala musim dan cuaca, bisa berteman dengan segala rasa dan nuansa.
karena aku sangat mudah untukmu, semoga kamu merasakannya: bahwa yang mudah didapatkan, belum tentu tak berharga.
semoga aku sangat berarti untukmu.
Tidak semua ulama sependapat, dan itu tidak apa - apa. Perbedaan harus dihormati, tidak perlu marah. Yang marah justru adalah yang kurang ilmu.
Aa Gym dalam tausiyahnya di 212, Monas. (via jagungrebus)
Jadi diri sendiri itu baik. Tapi kalau dirimu sendiri belum baik, ya di perbaiki
ka Faishal (via ramen-jawa)
Noted!!
Pelajaran hidup setelah 1 bulan magang...
“Mbak setiap jumat selalu bawa makanan porsi buuesaarr gini ya? masaknya dari jam berapa?” tanyaku sambil tak hentinya mengunyah mi goreng bikinan Mbak Wiwik.
“Aku masak dari jam setengah 4 dek hehe”
“berarti tiap jumat selalu bangun sepagi itu buat masak?” tanyaku masih heran, sudah 2 minggu ini terhitung setelah setengah bulan aku magang di kantor selalu saja ada sarapan gratis dari mbak Wik. dan aku baru tahu itu. minggu lalu dia bawakan nasi uduk untuk para pegawai di lantai 3.
“Jadi setiap hari aku selalu bangun jam setengah 3 dek, aku ada komunitas namanya Tahajjud call,” seperti biasa, senyum lebar nggak pernah lepas dari wajah mbak Wik.
***
Namanya Wiwik Indra. Mungkin dia adalah pegawai kedua yang kukenal selain dari ruangan kantor tempat aku magang. Kesan pertama yang akan kamu dapatkan ketika melihat Mbak Wik (begitu sapaan akrabnya) adalah ibu-ibu usia 30an (mungkin kamu akan tercengang ketika tahu berapa umur asli dari mbak Wik, dia terlihat jauh lebih muda dari usianya) yang cantik tanpa polesan, enerjik, pede, ramah, dan periang. Berawal dari dia yang meminta tolong untuk dibuatkan softcopy profil kantor, aku pun mulai sering berinteraksi dengan Mbak Wik. Kurang lebih selama satu minggu aku dan Wiwik (kawan satu magang) berkutat di depan monitor komputer, menyusun profil kantor, dan satu minggu itu juga kami semakin akrab dengan Mbak Wik.
Mengenal Mbak Wik aku seperti melihat jendela inspirasi. Beberapa hari yang lalu, dia bercerita sedikit mengenai kesibukannya sebelum dipindah tugaskan ke Yogyakarta.
Tahun 2015 mbak Wik ditugaskan di Yogyakarta, dulunya dia ditugaskan di kantor pusat, di ibu kota tepatnya. Ketika masih di Jakarta, ada agenda khusus setiap pekan, yakni Mbak Wik selalu menghabiskan waktunya selama 4 jam untuk menemani anaknya les bahasa inggris. Seringkali waktu yang sangat lama itu hanya digunakannya untuk main hp atau ngobrol santai dengan ibu-ibu lain yang bernasib sama, menunggu anak mereka les. Dia bercerita bahwa sebetulnya dia bukan tipe perempuan yang suka rumpi, dia butuh aktivitas yang bisa membunuh rasa bosannya. akhirnya dia memutuskan untuk meminta ijin pada suaminya setelah beberapa waktu ia habiskan untuk browsing mencari informasi di internet, ia minta di ijinkan untuk mengajar anak jalanan di sebuah rumah baca di pinggiran rel kota Jakarta. setelah mengantongi ijin dari suaminya, ibu dari 3 anak ini pun memutuskan untuk menambah aktivitas baru di tengah kesibukannya, dengan semangat awal yang sederhana untuk membunuh waktu agar tak membosankan.
Adanya aktivitas baru tersebut membuat Mbak Wik mau tak mau setiap ada jadwal anaknya les, Mbak Wik buru-buru mengantar anaknya lebih awal agar tak terlewat kereta menuju Jakarta. Ya, perjalanan menuju rumah baca pinggiran rel tersebut memakan waktu kurang lebih 1 jam menggunakan kereta. Mbak Wik yang bertempat tinggal di Bekasi, harus mengejar kereta jam 3sore untuk menuju ke Jakarta. dia mulai aktivitas mengajarnya dari jam 4 sore hingga jam 6 sore, setelah itu ia harus bergegas menuju kereta tujuan Bekasi karena pukul 7malam anak Mbak Wik sudah selesai dengan kegiatan les bahasa inggrisnya. Perjalanan yang tidak singkat itu ia lakukan terus menerus setiap pekannya dengan semangat untuk bermanfaat bagi banyak orang.
cerita Mbak Wik saat itu tidak berhenti sampai disitu saja,
Tahajjud call. Komunitas yang masih aktif dengan ia sebagai koordinatornya. Setiap pagi, mbak Wik akan menelpon satu persatu anggotanya yang berjumlah 40an orang untuk mengingatkan solat tahajjud. Bangun setiap jam 2.30 pagi dan menghabiskan waktu sekitar 20-30 menit untuk menelepon anggotanya. Ramadhan yang lalu, komunitas Tahajjud call nya ini mengumpulkan donasi untuk beramal, jumlah donasi yang terkumpul sebanyak 13juta rupiah. Jumlah yang bukan sedikit mengingat anggota komunitasnya yang tidak terlalu banyak. Mbak Wik dengan amanah membelanjakan uang tersebut untuk wakaf Al-Quran dan paket sembako. tak ingin paket sembako ini jatuh pada penerima yang kurang tepat, Mbak Wik terjun langsung ke daerah pelosok Gunungkidul untuk tahu dengan mata kepala sendiri, mana orang-orang yang berhak menerima bantuan. Aku yang hanya membayangkannya saja sudah capek, di bulan Ramadhan terik bepergian jauh sambil membungkus dan membagikan paket sembako. “Niatkan lillahi ta’ala dek hehe,” begitulah kata Mbak Wik.
“Mumpung kalian masih muda, perbanyak kegiatan-kegiatan yang manfaatnya itu bisa dirasakan sama banyak orang. Kalo udah ibu-ibu kayak aku gini, pikiran dan waktu udah banyak tersita. udah ada urusan pekerjaan, keluarga, dan lain-lain.
semuanya itu harus imbang. aku melakukan ini karena dulu masa mudaku belum bisa bermanfaat buat banyak orang. Dulu masa mudaku baik-baik saja sih, tapi aktivitas yang kulakoni hanya bermanfaat bagi diriku sendiri. Di sisi lain aku juga berharap anakku nanti bisa peduli sama orang lain, dengan melihat aku yang melakukan kegiatan semacam ini biar dia bisa meniru. semangat dek! kebaikan itu menular. dari satu kebaikan maka akan muncul kebaikan-kebaikan yang lain.” kalimat mbak Wik yang seperti itu masih terngiang di kepalaku. Tertampar sekaligus termotivasi di saat yang sama.
Mungkin bagi anak muda jaman sekarang, menjaga diri menjadi anak baik-baik di lingkungan pergaulan merupakan sebuah prestasi mengingat pergaulan saat ini yang sudah semakin tak terkendali. tapi kembali lagi, akan lebih mulia ketika seseorang dapat menebar manfaat bagi orang lain. Kalau kata bapak, “Allah itu sayang sama pemuda yang semangat dalam kebaikan,”.
Belajar memang bisa darimana saja. Belum genap 2 minggu aku mengenal Mbak Wik, seorang wanita karir sekaligus wanita yang sudah berkeluarga dengan seabrek kegiatan dan beban pikiran namun masih memikirkan nasib orang lain. Aku termasuk orang yang percaya bahwa semakin dewasa seseorang beban pikiran tidak semakin ringan. Seberat-beratnya mahasiswa mikirin kuliah, masih berat orang tua yang memikirkan bagaimana caranya agar si anak tetap sekolah, bagaimana keluarga dan pekerjaannya berjalan dengan baik. Dan Mbak Wik bisa melakukan semua beriringan. Salut. meski belum lama mengenalnya, sudah banyak pelajaran yang bisa diambil darinya. termasuk belajar origami dari tangan terampil milik mbak Wik haha :))
Alhamdulillah…
Ketika bercerita denganmu rasanya tak lagi sama dengan yang dulu
Bukan apa-apa, bukan aku tak mempercayaimu lagi, bukan...
Aku hanya takut
Takut tercipta kenyamanan untuk kedua kalinya
Ketika berseloroh denganmu tak lagi menjadi hal yang aku suka
Bukan aku ingin menyombong seperti tak kenal dirimu
Tapi ini masalah hati. Bolehkan aku menetralisirnya barang sejenak?
Seharusnya aku membencimu dari awal
Tapi aku tetap saja menyebutmu dalam doa pada Tuhanku
Bukan agar kita bersama, bukan...
Aku hanya ingin kamu tetap menjadi dirimu sendiri,
Ingin kamu berproses menjadi lebih baik, seperti yang sedang kucoba sekarang,
Ingin kamu bisa menerima kebenaran tanpa mencela ajakan kebaikan dari orang lain,
Mungkin inginku terlalu banyak untuk diwakilkan dengan kata ‘hanya’
Untukmu, semoga selalu berbahagia di tuntunan Tuhan
Kasih maaf bila aku jatuh cinta Maaf bila saja ku suka Saat kau ada yang punya Haruskah ku pendam rasa ini saja Ataukah ku teruskan saja Hingga kau meninggalkannya dan kita bersama
-HiVi!-
Kakak Rumah Tangga, Ngurus Anak
“Masya Allah!!” tercengang karena ngeliat jam yang menunjukkan pukul 6.10 WIB. Sontak langsung ngelipat mukena (salah satu kebiasaan burukku adalah gelesotan tiduran abis subuhan), buru-buru bangunin Bita yang saat itu masih ileran nyandar di tembok kamar.
Yosh!! itu hari pertamaku jadi Kakak Rumah Tangga di bangku kuliah ini. jadi kakak rumah tangga yang bener-bener KAKAK RUMAH TANGGA. Mulai dari ngurus anak (adekku umur 6 tahun), ngurus rumah, dan ngurus piaraan. anggaplah ini jadi ajang Training, karena selama 3 hari kedepan bapak-ibu meninggalkan kami berdua untuk suatu urusan ke Jakarta. Kalau kata salah satu kawanku, “Sekalian lah em, sekalian belajar jadi ibu wkwk”, bolehlaaa
Day One. Bisa dibilang aku failed jadi kakak rumah tangga. Kenapa? pertama, bangunin adek kesiangan. Nggak cuma itu, masalah kedua timbul saat aku ngecek Rice Cooker, ternyata nggak ada nasi buat sarapan si adek. Selama ada ibu di rumah, aku nggak pernah melakukan rutinitas masak nasi tiap pagi habis subuhan, dan karena itulah aku jadi sedikit kelabakan nyiapin nasi, takut matengnya telat eh ntar malah si adek nggak sarapan -oo- dan beneran, masak nasi jam 6.15 dan baru mateng jam 6.45 haha
Rintangan nggak cuma berhenti disitu aja, di waktu yang hampir bersamaan, aku harus mandiin adek dan nyiapin segala macam kebutuhannya, nyiapin seragam sekolahnya, cariin kaos kakinya, siapin bekal minumannya, siapin sarapan dan lain-lain. karena keburu waktu, akhirnya sarapan adek kubuat minimalis, cuma aku bikinin telur ceplok setengah mateng hahaha. Yang biasanya kalo ada ibu di rumah, jam 6.45 adek udah berangkat sekolah, karena aku yang handle, jam segitu baru mau sarapan. gile emang. Pokoknya setelah bak bik buk sana-sini, adek aku antar ke sekolah jam 7.03 dari rumah hehe. dan pas pulang sekolah, Bita cemberut karena hari itu adalah pertama kalinya dia berangkat sekolah telat dan disuruh berdiri di belakang kelas selama 30 menit. maafkan kakakmu ya wkwk
belajar dari pengalaman di hari pertama, hari keduanya tepat pukul jam 5.30 WIB aku dah gendong Bita ke depan kamar mandi, cipratin air ke muka dan melakukan rutinitas seperti biasanya sebelum dia berangkat sekolah :D Ini baru ngurus anak doang ya, belum yang lain-lain mwehehehe
Tak salah jika Ibu Rumah Tangga dimaknai sangat mulia, karena ternyata jadi ibu rumah tangga bukan lah perkara yang mudah. Bersyukurlah kalau ibu/ummi/mama/bunda kita masih diberi kesehatan dan kekuatan oleh Tuhan, doakan selalu mereka agar selalu dalam genggaman kasih sayang Tuhan :)
Enggan terlelap meski sekejap hanya karena rasa jatuh cinta yang semakin menggila. Dulu aku hanya mengangguk mendengar kekonyolan yang demikian dari tutur temanku. Tetapi belum lama ini, aku mengalaminya, aku tahu bagaimana rasanya. Konyol memang.
Terus kamu bangga gitu? Ada cewek yang udah lama setia jaga hatinya demi kamu, pas kamu nyatain perasaan di hadapannya, dia dengan senang hati terima. Nggak lama setelah itu kamu putusin dia demi cewek lain. Dan kamu menceritakan itu semua kepadaku dengan berbinar. Terus kamu bangga gitu? Yakin masih punya hati?
Ratapan Patah Hati
Air mata itu ada bukan untuk ditahan agar tak keluar, menangislah jika memang dengan begitu membuatmu sedikit lega. Seperti kata pujangga, setiap kematian butuh peratapan. Begitu pula cinta yang berujung patah hati. Maka menangislah, tak peduli tertawaan orang lain atas dirimu, itu bukan hal yang memalukan. Bersabarlah... Hingga suatu saat nanti, ketika kau mulai bangkit dari kesedihanmu, teriakkan bahwa kamu pantas bahagia.