“Kau adalah apa-apa yang melekat di atas telapak tangan, tapi tak pernah mampu untuk kugenggam. Sedekat itu; Sejauh itu.”
— (via mbeeer)

祝日 / Permanent Vacation
d e v o n
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

tannertan36

Kiana Khansmith

shark vs the universe
Claire Keane

if i look back, i am lost
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Sade Olutola
Monterey Bay Aquarium
One Nice Bug Per Day
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
AnasAbdin
we're not kids anymore.
taylor price

titsay
DEAR READER
todays bird

⁂

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Brazil
seen from United States

seen from Germany

seen from United States
seen from T1

seen from United Kingdom

seen from Canada
seen from Russia
seen from Türkiye

seen from United States
seen from Malaysia

seen from United States
seen from Spain
seen from United States
seen from United States

seen from Ireland
seen from Türkiye

seen from United States
@eonniuna
“Kau adalah apa-apa yang melekat di atas telapak tangan, tapi tak pernah mampu untuk kugenggam. Sedekat itu; Sejauh itu.”
— (via mbeeer)
Ada yang mendung, tapi bukan langit.
You don't have to run, but don't ever stop.
Lupa siapa
Recalling, re-understand, re-apply, and re-analyze for better worship.
EP-2 #24yoofUna : Ucapan Selamat Ulang Tahun Terbaik
Sebenarnya momen ulang tahun bukan hal yang istimewa bagiku. Hal ini karena aku merasa ulang tahun bukan hal yang terlalu menarik. Momen ini justru membuatku kalut dan gugup karena ini berarti aku semakin menua dan sisa umurnya semakin berkurang. Hal ini mungkin baru aku rasakan dan sadari saat ulang tahun ke-19. Tidak ada perayaan besar, tidak ada kejutan, tidak ada kado, dan hal semacamnya. Aku masih ingat ketika ulang tahun ke-21 aku terpaku di meja belajar menyelesaikan tugas kuliah Metodologi Penelitian di kamar kosan bersama dua orang teman. Tiba-tiba dua teman SMA datang membawakan kejutan berupa kue ulang tahun dan balon, sayangnya aku tidak bereaksi yang seharusnya, sehingga mereka bilang, “Ah, ga asik.”. Aku cukup sedih dengan reaksiku sendiri mengingat aku sebenarnya orang yang cukup ekspresif. Tapi saat itu pikiran dan tenagaku sudah cukup terkuras karena tekanan tugas sehingga aku tidak cukup bagus bereaksi menerima kejutan dari mereka. Maaf ya, Yal, Ocha! Thanks a lot for spending your busy time for preparing my birthday surprise. I’d definitely appreciate your sincerity!
Tepat tanggal 13 Desember 2019 aku menginjak usia ke-24 tahun. Ucapan pertama justru datang dari teman semasa SMA yang tidak aku duga. She’s had birthday on same month as me, so i assume that she’s just remember it. No special case. Pukul 05.00 telepon datang dari Ibuk. Tidak kuangkat, hanya karena malas. Aku baru saja memejamkan mata pukul 03.00. Aku tahu beliau mungkin akan mengucapkan selamat, tapi dengan berpura-pura aku mengetik pesan ke beliau pukul 09.00 menanyakan perihal apa menelponku. Tidak diangkat. Well, as a daughter-mother relationship, i can’t deny that we are not as sweet as others. Pukul 09.30 Ibuk kembali menelponku. Benar saja, Ibuk mengucapkan ucapan selamat dengan gaya biasa-dan-terkesan-tidak-tulus nya hahaha.
Sebagai anak bungsu, aku menyadari bahwa memang sejak kecil aku tidak sepintar anak-anak beliau yang lain. Aku adalah anak dengan biaya pengeluaran terbanyak baik untuk kesenangan pribadi maupun kepentingan sekolah. Bisa dipastikan biaya sekolahku adalah yang terbesar, apalagi masa studi sarjanaku yang paling tidak tepat waktu diantara anak-anak Ibuk dan Bapak yang lain. Lalu apa hubungannya dengan ucapan selamat dari Ibuk?
As you all know, umumnya usia para wisudawan berkisar antara 22 hingga 23 tahun. Saat ini usiaku sudah menginjak 24 tahun dan aku masih berkutat dengan tugas akhirku. Jika aku adalah anak dari orang tua lain, mereka setidaknya akan mengucapkan do’a agar aku segera menyelesaikan kuliahku. Tapi tidak dengan Ibuk, beliau berbeda.
Ada dua kemungkinan kenapa beliau tidak banyak menyinggung masalah masa studi sarjanaku.
Ibuk tidak pernah mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi karena beliau harus merelakan usia belianya untuk menikah dan menjadi ibu rumah tangga penuh. Ibuk tidak tahu bagaimana sistem perkuliahan, berapa nilai IPK yang dianggap baik,dan berapa lama masa studi sarjana yang seharusnya. Cukup mengherankan ya, mengingat semua anak-anak Ibuk yang lain pun kuliah tepat waktu. Mungkin Ibuk bukan orang yang terlalu ambil pusing apalagi di usia beliau yang sudah berkepala 6.
Ibuk tahu kemampuan dan kapasitasku. Ibuk tahu kalau anak bungsunya tidak terlalu baik di bidang akademis, tidak cukup pandai dibanding anak-anak seusianya, dan tidak cukup lihai mengatasi masalahnya sendiri.
Sejauh ini dua kemungkinan itulah yang mendasari keyakinanku mengapa Ibuk tidak banyak berkomentar mengenai keterlambatan masa studi sarjanaku selama ini.
Lantas, ucapan selamat apa yang beliau sampaikan?
“Selamat ulang tahun, ya. Yang rajin sholatnya.. Jangan lupa ngaji setiap hari.”
Dari sekian banyak target dan impian yang belum terwujud, do’a ini yang terucap sama beliau. Rasanya kayak aku minta beberapa es krim di indomaret tapi Ibuk ngasih aku satu pabrik es krim yang paling gede sedunia. Rasanya ngga kebayang... Sama sekali bukan hal yang diduga.
Ucapan ini sebenarnya tidak asing karena tiap Ibuk menelepon pun, pasti ada sepenggal kalimat itu yang di ucapkan, entah di tengah atau akhir percakapan. Satu hal yang meyakiniku mengapa Ibu memilih ucapan tersebut (selain karena beliau juga tidak pintar merangkai kata) adalah Ibuk lebih suka anaknya tumbuh sebagai manusia yang taat kepada Tuhan, melebihi apapun. Ibuk tahu kalau manusia yang taat dan beradab akan jauh lebih berbahagia di kehidupan selanjutnya. Ibuk pun mencoba berinvestasi karena lewat do’a dari anak-anaknya, Ibuk bisa mendapatkan tunjangan tak terhingga di kehidupan yang kekal. Ibuk peduli terhadap kehidupan dan kebutuhan duniaku, tapi Ibuk berdedikasi menjadikanku anak yang taat dan bermoral untuk kehidupan kekalku yang lebih baik.
Aku baru kenal Ibuk selama 24 tahun ini, jauh dibandingkan anak-anak beliau yang lain. Ibuk bukan sosok wanita hebat dan istimewa. Ibuk bukan wanita berpendidikan tinggi seperti ibu pada umumnya, Ibuk bukan wanita super cantik seperti ibu-ibu sosialita, Ibuk juga bukan tipe ibu yang manis dan penyayang ke anak-anaknya seperti ibu-ibu yang lain. Beliau hanya ibu rumah tangga penuh yang sama sekali tidak ada penghasilan mandiri. Beliau melakukan tugasnya sebagai istri dan ibu dengan gayanya sendiri. Aku tidak akan bilang bahwa Ibuk adalah Ibu terbaik di dunia ini. Aku hanya akan bilang bahwa Ibuk adalah ibu yang hebat dan istimewa bagi anak-anaknya sendiri, bukan terhadap orang lain.
Terima kasih atas ucapan dan do’anya ya, Buk.
EP-1 #24yoofUna : Catatan Pertama di Usia ke-24 Tahun
Hej, Una! Selamat ulang tahun yang ke-24. Selamat menikmati sisa umur yang semakin berkurang. Semoga di usia ini kamu benar-benar bisa memperbaiki kesalahan dan kekecewaan yang kamu perbuat di usia sebelumnya. Semoga di usia ini kamu benar-benar berhasil mewujudkan beberapa impianmu yang telah banyak tertunda dengan baik dan benar. Jadilah pribadi yang baik, bahagia, dan sejahtera.
ps: Terima kasih untuk usia-usiaku sebelumnya, meskipun belum ada prestasi yang bisa aku banggakan, namun aku harus percaya bahwa kesempatan hidup yang diberikan padaku hingga saat ini adalah untuk meraih prestasi di masa depan. Terima kasih sudah cukup bertahan.
Kalut.
Terlalu sering mendengarkan rangkaian cerita membuatnya ingin pula didengarkan. Tapi muncul rasa bimbang. Terlalu banyak untaian cerita di dalam pikiran. Mulutnya kian kaku untuk sekadar menyampaikan sepatah kata. Hari ini, kembali ia yang mendengarkan.
Kau tahu apa yang palimg buruk di dunia ini? Menjadi orang, anak, saudara, teman, sahabat, tetangga, rekan dan kolega yang tidak bermanfaat bagi mereka.
Terima Kasih.
Terima kasih telah menunjukkan betapa bagusnya kualitas diri dan semangat juangmu. Terima kasih sudah menjadi contoh sebagai mahasiswa tingkat akhir yang produktif. Terima kasih sudah berjuang mengharumkan nama almamater di waktu yang tiada orang menduganya. Terima kasih sudah semakin mantab melangkah menjauh dari jangkauanku.
You’re such an amazing one. Unattainable increasingly.
Tembalang, 19 Oktober 2017. Di tengah kamar kosan yang disinari banyak sinar mentari. Ditengah pikiran rumit terkait skripsi.
Halo, Anak Desain!
Hai, dik! Long time no see you. Aku baru sadar, kalau misalkan kita berada di satu kampus dan kampus itu adalah Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, kita bakal jadi teman se-fakultas lho!
Belajar Tahu dan Tahan Diri (to be continued)
Halo, Dia sang budak perancangan. It's been a long time no see him. Sebenernya aku gada niatan buat membahasnya kembali sejak cinta lokasi KKNnya terkuak olehku. Aku yang selalu menyadari we never ever getting together as a couple. Mimpi banget lah yaw!
Ada beberapa poin penting yang pengin banget aku utarakan di postingan ini tentangnya. Landasan awal penulisan postingan ini jelas berasal dari daftar nama yg ku temukan pagi ini di dekanat FT, yaitu daftar nama legalisir ijazah dan transkrip. Secara tidak sengaja aku menemukan goresan tulisan tangan menyantumkan nama panjangnya. i don't care who put write down his name, that's a bad hand writing exactly.
Pertama, ...(this part has been deleted for some reason. i thought it wouldn’t be proper discussion here)
Kedua, aku cukup sakit sih. hmm.. Ngga sesakit waktu tahu dia kena cinlok sih. Ngerasa sakit karena terkejut. You even ever told me that you will chat me if you're graduate later. Sayangnya, chat itu ngga pernah delivered ke HPku. Aku merasa kecewa karena sama sekali ngga ada kabar buat sekedar bilang kalo dia udah lulus. Aku merasa kecewa karena aku bahkan baru tahu dia udah lulus lewat daftar nama ijazah/transkripnya di dalam list buat dilegalisir.
Makin tahu diri aja sih, dia benar-benar menganggap rencana kunjunganku di sidang akhirnya hanyalah lelucon teman yg biasa terlontar. Please, padahal aku pengin banget dateng meski cuma sekedar say "congraduation!". Aku ngga bakal merasa terbebani jika emang aku bisa datang waktu itu.
Ambil positifnya sekarang. Dia udah lulus, udah tinggal wisuda November ini, udah bakal jarang ngerepotin ibu dan kakak. Bapak juga pasti bangga disana karena anaknya udah bakal arsitek selangkah lagi. Yang pasti dia bisa menjadi salah satu motivasiku untuk segera menyusul lulus dan wisuda di tahun depan.
"Congraduations! Terima kasih untuk 4 tahunmu selama di Tembalang ini. Mari capai cita-cita dan sukses dunia akhirat di jalan masing-masing. Do'akan aku segera menyusul tahun depan. Semoga ilmu kita bermanfaat bagi kemajuan negeri pertiwi. Aku bangga jadi temanmu."
Tembalang, 16 Oktober 2017. Di bawah langit senja yang segera menitikkan air matanya (ebuset mellow amat). Numpang di sebuah kosan Perumda Jalan Tembalang Baru VI.
Aku suka heran sama orang-orang yang ngga konsisten buat sekedar manggil nama sapaan temennya. Temen yang ngga deket sekalipun ya!
Mungkin bagi sebagian orang ini semacam hal yang ngga penting sih, tapi menurutku sekali kamu ngga konsisten manggil nama sapaan temen, artinya kamu juga ngga konsisten nganggap dia sebagai temen kamu.
Misalkan kamu punya temen namanya Kinan (i’d really love with this name).
Kalo kamu manggilnya “Kin”, yaudah “Kin” aja terus.
Sedang kalo kamu lebih prefer manggil “Nan”, yaudah “Nan” aja terus.
Jangan suka diubah-ubah. Ngga konsisten itu namanya.
Ini cuma pandanganku. Ngga usah lebay kalo ngga setuju.
Sleman, 18 Agustus 2017. 02.39 AM. Masih (dengan setia) revisian.
If you are looking for happiness in this world (dunya), you’re in the wrong place.
Hamza Yusuf (via islamic-art-and-quotes)
Sometimes I wish you would look at me the same way you look at her.
Unknown
Brief You From Me.
Untukmu yang pada saat malam ini pake kaos abu-abu, celana panjang item, tas selempang kecil item, dan sandal jepit.
Untukmu yang saat itu lagi nungguin kembalian dari mas-mas parkir di depan toko laundry.
Untukmu yang setia dengan sepeda motor gigi h*nda plat B dilengkapi helm h*onda item gratisan.
Bahkan cuma dengan ngelihat kamu sepintass doang, ngga bertegur sapa, dan cuma ngelihat ekspresi datarmu tadi berhasil membuatku tersipu malu.
Kamu yang sudah seperti itu dan aku yang hanya seperti ini.
Aku yakin banget kalo sebenarnya kita ngga bakalan bisa bersama. Kamu dengan kecerdasanmu dan kepribadianmu, bisa dengan mudah memilih perempuan yang pantas buat kamu jadiin pasangan. Kalo dalam Islam bilangnya, mencari pasangan itu adalah yang se-kufu.
Ditinjau dari kecerdasan, jelas kamu diatas rata-rata kebanyakan cowo. Aku menilainya secara obyektif kok. Kamu udah sering terlibat sama berbagai macam proyek dosen, banyak dosen yang suka diskusi sama kamu, bahkan ada dosen yang sempet terlihat memohon kamu biar jadi anak bimbingannya.
Ditinjau dari segi penampilan, kamu mungkin ngga semenarik cowo-cowo dandan diluar sana. But, that’s just its cover. Penampilan kamu udah makin sering rapih akhir-akhir ini. Aku juga ngga pernah lihat kamu nggondrongin rambut. Bentuk ketidakrapianmu paling cuma pas kamu lagi males nyukur jenggot tipismu yang makin panjang. Tapi itu salah satu yang bikin aku suka.
Ditinjau dari segi kepribadian. This is the main point. Meskipun banyak yang bilang kamu makin nyebelin sejak dikasih amanah buat nemenin kahim berjuang pas tahun 2015 silam, aku ngga pernah menganggapnya salah sih. Banyak yang bilang kamu tipe cowo sombong.
“Terlalu kritis.”
“Sok-sokan.”
“Too perfectionist.”
dan macam lainnya.
Tiap ada tugas kelompok, kamu selalu memiliki banyak peran. Seringnya jadi penggerak kalo ngga pas jadi pemimpin. Kamu juga cerdas jadi cocok kalo jadi konseptor meskipun ngga jarang juga ngebanyol di sela-sela diskusi. Kamu sering nyuruh-nyuruh sok nge-bossy dan seringnya nyebelin kalo udah keluar aura sok dewasanya. Kamu sering marah-marah kalo hampir semua jobdesc kamu yang menangani. Kamu selalu minta ini-itu ke mereka, sering ngga sesuai harapan, dan ujung-ujungnya kamu juga yang ngelanjutin job.
Jadi, ngga salah kan kalo misalnya mereka bilang kamu tipe cowo sombong?
Ngga salah emang. Tapi...
Apa salahnya sombong kalo emang kenyataannya kamu lebih baik dari mereka? Ya, meskipun sebenarnya sombong juga bukan hal yang baik buat dijaga lama-lama.
Tapi, satu yang pasti. Tiap kali kelompokan dan kamu yang mimpin, kamu ngga pernah belagak sok menggurui. Kamu lebih suka nerima pendapat orang lain. Meskipun ujung-ujungnya pendapatmu emang lebih sering dipake sih.
Ngga salah banget sih ya kalo makin lama, leadership skill-mu makin terasah. Bahkan ngga heran kalo kamu jadi koordinator kecamatan waktu KKN kemarin. Bytheway, sorry banget spam chat KKN yang dulu, ya!
Cukup dengan tiga peninjauan diatas tadi, aku makin yakin kalo selamanya aku cuma bisa berani kagum semaksimal mungkin ke kamu. Aku ngga cukup berani buat meyakinkan diri kalo sebenarnya aku banyak rasa lebih ke kamu. Insya Allah, aku tahu diri lah.
Kalo kata mb Raisa, “Ku tak harus memilikimu, tapi bolehkah ku selalu di dekatmu?”
Kalo Allah SWT ngijinin, aku pengin banget bisa memantaskan diri. Sebenarnya ngga seutuhnya biar bisa se-kufu dengan kamu, tapi lebih sebagai bentuk kontribusi kualitas diriku sendiri sama Allah yang udah baik banget ngasih kesehatan dan kenikmatan hingga detik ini. Jadi, sekarang mungkin lebih baik aku mulai belajar banyak hal, meraih cita-cita setinggi langit...
Dan kalo aku udah mapan diri maupun hati, doakan aku masih bisa ada kesempatan buat memilikimu suatu saat nanti.
Dariku yang masih sering tersipu setiap menerima sapamu,
Tembalang, 17 Mei 2017.
Truth(s) of Me.
Paling ngga suka dipegang kepala/rambutnya
Ngga suka kalo HP-nya dipegang orang lain, apalagi kalo dipinjem dan dibuka-buka
Paling menghargai privasi dan selalu belajar akan hal tersebut selamanya
Seringnya jadi tempat sampah teman
Paling ngga enakan kalo mau curhat, suka sedih karena ngga tahu harus numpahin masalah ke siapa. Ujungnya, sering dipendem sendiri dan membusuk di pikiran dan muncullah bibit jerawat di pipi
Suka segala macam olahan green tea (matcha)
Kalo ngerjain tugas seringnya di kosan, menyendiri, dan ga suka tempat yang berisik karena ngga bakal bisa mikir
Ngga bisa deadline, tapi selalu ngerjainnya mepet: Sadar kalo tipe manusia yang bekerja keras, bukan manusia yang berbakat
Suka belajar banyak bahasa, especially Korea sama Prancis
Bermimpi bisa apply dan lolos jadi penerima beasiswa magister ke luar negeri, dimanapun saya mau asalkan ada ridlo Allah SWT
Pengin ngerasain punya adik kandung sendiri: berasa manja banget nih jadi anak bungsu!
Pengin banget jadi cewe mandiri dan tangguh
Ngga berniat nikah sebelum usia 25 tahun: S2 dulu dong!
Boros (banget) uang dan waktu
Punya masalah dengan public speaking
Ntah karena kelaparan, sedang gugup, ataupun tidak keduanya saya menderita tremor
Pengin kerja kantoran yang nyantai, ngga masalah kalo rig, sih.
Staf KBRI boleh juga. Duh! Pelajaran bahasa saya sampai mana, ya?
Coffee-Addicted
Ngga suka baca komik, nonton anime, jauh banget dari kata otaku atau istilah jepang-jepangan
Tulisannya bagus, cenderung ke rapih (kalo niat). Kalo lagi nulis biasa? Keriting kayak rambutnya
Pengin ikut handwriting training
Pernah dipuji kalo handwriting-ku bagus sama Bu Rahm (guru SMAN 1 Jepara tergahol dan baik banget). “I’d really love ur handwriting” tulisnya di akhir buku tugas matematikaku. Wkwkwk...
Pengin punya kerjaan yang sering mengharuskan saya buat ke luar negeri, tapi kontradiktif dengan sifat saya yang gampang homesick.
(to be continued)
Evidence of my personality Pt.2
Aku ngga maksa -dan justru ngga berharap- kalian datang ketika hari sidang proposal, pembahasan, dan akhirku tiba nanti. Bukan aku tak mau. Aku cuma malu. Aku juga merasa ngga deserve atas kesediaan kalian meluangkan waktu buatku. Sejatinya, do’a kalian-lah yang terpenting dan yang paling ku butuhkan.