Hidup kita hampa rasa, mungkin karena kita salah memaknainya...
Apakah mungkin, satu peristiwa yang sama namun bisa dimaknai dengan cara berbeda?
Ya. Seperti seseorang yang kehilangan, dan mengingatnya sebagai “hidup saya hancur sejak itu”, atau mengingatnya sebagai “di situlah saya belajar berdiri sendiri.”
Peristiwa itu satu hal, dan memaknai sebuah peristiwa adalah satu hal lain.
Itulah mengapa seorang guru pernah bilang padaku, bahwa yang penting sebenarnya bukan hanya "experience", tapi "how to reflect experience."
Dan itulah yang diperintahkan Allah dalam Al Qur'an, "...Maka ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan." (QS Al Hasyr 2)
Peristiwa sudah terjadi. Tapi setelah peristiwa itu terjadi, kita diperintahkan Allah untuk mengambil pelajaran.
Dan jujur saja, tak semua orang pandai mengambil hikmah dari pengalaman.
Itulah mengapa ada kutipan, "orang biasa hanya bicara peristiwa, orang cerdas bicara gagasan."
Gagasan hadir dari mentadabburi peristiwa. Itu yang membuat pengalaman punya makna.
Benar ya, "pengalaman memang guru terbaik", karena ia kuat melakukan remidial bagi murid-muridnya.
Maka bagi kita, yang bertambah usia dengan kumpulan hari-hari dan peristiwa: apakah kita sudah layak disebut dewasa?
Hari ini aku baru sadar bahwa ada, bahkan banyak orang yang tua tapi tak bijaksana. Apa mungkin, peristiwa hidup itu hanya berlalu dan tak jadi pelajaran?
Pada akhirnya, apa yang terjadi pada kita tidak sepenuhnya bisa kita pilih. Hidup menempa kita dengan hal-hal yang tidak kita undang: kesedihan, kehilangan, atau bahagia.
Tapi memori adalah ruang tempat kita memberi makna. Dan, di ruang itulah hidup kita sebenarnya dibentuk.
Itu dalam ruang kita sebagai manusia. Maka, bagaimana jika kita memaknai peristiwa sebagai sebuah umat?
Tentang Gaza, merdekanya Suriah, bangkitnya Afghanistan, tangisan Sudan.
Tapi, bagi umat bijak, ia bisa berubah jadi renungan yang lahirkan gagasan!