Sebelum berucap mari timbang dan ukur
Jangan sampai buat orang insecure
Membuat hati yang sedang berusaha bersyukur
Bisa pindah jalur
Ke arah kufur
art blog(derogatory)

⁂
dirt enthusiast
RMH
Xuebing Du
we're not kids anymore.
almost home
DEAR READER
taylor price
Claire Keane
styofa doing anything
Not today Justin
wallacepolsom

No title available

tannertan36
will byers stan first human second
No title available

oozey mess

#extradirty
todays bird
seen from Philippines
seen from United States

seen from Belgium

seen from United States
seen from Uruguay
seen from Belgium
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Belgium

seen from United States

seen from India

seen from United States

seen from Belgium

seen from Malaysia
seen from Brazil
seen from Germany
seen from Italy

seen from United States

seen from Maldives
@fdhlhmh
Sebelum berucap mari timbang dan ukur
Jangan sampai buat orang insecure
Membuat hati yang sedang berusaha bersyukur
Bisa pindah jalur
Ke arah kufur
Menunaikan amanah berarti kau juga menunaikan hak hati untuk merasakan tenang
Di sepertiga terakhir malam yang temaram
Mata ini terjaga, bangkit dari terpejam
Padahal badan ini terasa remuk redam
Namun hati tak ingin mengalah, ia mencari tenteram
Mengajakku beranjak dari dipan hitam
Membawaku berdoa agar diampuni semua kelam
Meminta hati ini agar jauh-jauh dari iri juga dendam
Bolehkah aku kecewa?
Jika menurutmu keadaanku saat ini bahagia. Kau benar, tapi itu kurang sempurna karena aku belum bisa merayakannya dengan kalian. Juga bersamamu.
Modal
“Macam toko kelontong kau, Dhil.”
“Si Dhil emang yang paling modal.”
Komentar beberapa orang melihat barang bawaanku saat dinas hampir selalu lengkap. Aku memang selalu memastikan tidak ketinggalan sesuatu apapun agar tidak menghambar persiapan ku saat dinas. Seperti satu pak tisu besar yang hampir selalu tersedia di dalam tasku.
Memang ku akui tas punggung selalu menjadi teman setia kemanapun aku pergi. Bahkan saat datang ke pesta pernikahan sekalipun. Sampai Ummi bilang, “Gak cocoklah ke pesta pakai tas gitu, Un, emang mau bungkus makanannya?”
“Kan biar muat botol air besar, mukena, dan barang-barang lainnya, Mi. Lagian kan perjalanannya jauh, biar gak usah beli air lagi di jalan.” sanggahku.
.
.
Akhir-akhir ini kebiasaan itu menjadi bahan renungan diri ini. Sudah kah aku juga “bermodal” untuk akhirat ku seperti halnya aku mempersiapkan diri untuk dunia sekolah, pekerjaan, dan keseharianku? Apakah setidaknya sama timbangannya atau kurang dari yang seharusnya?
Astaghfirullah
Harusnya untuk negeri akhirat yang kekal
Engkau lebih mempersiapkan modal
Agar jangan sampai surga yang kau rindukan untuk tempat tinggal
Hanya menjadi khayal
Jakarta, 4 Desember 2020
Nasibmu tidak ditentukan oleh keberuntungan dan keadaan
Tapi ia akan datang sesuai dengan keyakinan dan tindakan
Gus Reza, 2020
.
.
Masa ini diselimuti kekalutan dan ketakutan
Beberapa ada yang hidupnya menjadi kesusahan
Yang sakit ada juga yang sampai mendapati penolakan
Bahkan mayat ada yang ditolak di pemakaman
Oleh oknum yang mungkin masih memerlukan pemahaman
.
Mereka yang di medan juang pun banyak yang merasakan kelelahan
Memberikan edukasi untuk pencegahan dan perawatan
Bahkan ada yang sampai menemui kematian
Meskipun ajal adalah sesuatu yang sudah ditetapkan
Tapi amat disesalkan
Tidak bermaksud menyalahkan takdir Tuhan
.
.
Semua saat ini sama-sama sedang mengalami cobaan
Tapi jangan sampai putus harapan
Tetap jadikan sabar dan shalat sebagai upaya memohon pertolongan
Apakah sabar hanya dengan berpangku tangan?
Berharap dari langit langsung turun bala bantuan?
Oh, tidak tuan
.
Sabar kita saat ini adalah dengan menaati aturan
Yang sudah ditetapkan oleh pemangku kebijakan
Dan sama-sama melakukan tindakan pencegahan yang salah duanya adalah mencuci tangan dan maskeran
Tapi yang sungguhan ya, bukan dalam arti kiasan
Walau, masih ada saja yang tidak mengindahkan
Sabar yang lainnya adalah tetap kuat menahan rindu untuk berjauhan
Jangan mau kalah sama Dilan
Walau lebaran akhirnya jadi sendirian
Tak apa yang penting demi kebaikan
.
Tak lupa shalat juga wajib tetap didirikan
Doa terus dipanjatkan
Agar Allah memberikan kekuatan
Hati tetap syukur disaat yang tak mengenakkan
Agar segera hilang segala kesusahan
Yang setelahnya akan ada kemudahan
Agar bisa kembali dengan orang tersayang, dikumpulkan
(Source)
Obrolan dalam kepala (2)
"Hah, jadinya sesar padahal pengennya lahiran normal."
*nangis*
Terbayang alasan-alasan kenapa ingin lahiran normal tapi ndak bisa dilakukan, terbayang pulak "komentar" orang-orang luar.
Beberapa saat kemudian,
"Tapi kan lahiran sesar tu juga normal. Yang gak normal tu, anaknya keluar lewat pori-pori, lewat mulut, lewat anus."
Terus menyadari betapa recehnya aku.
“Karena membahagiakan semua orang adalah mustahil. Maka logikanya, kita punya hak untuk memilih orang yang akan kita bahagiakan.”
—
Jeda.
Tak banyak yang mengerti bahwa jeda bisa jadi anugerah terindah dalam hidup seseorang. Seseorang yang baru lulus kuliah misalnya, tak langsung mendapat pekerjaan bukan karena menurut Allah tak mampu tapi bisa jadi dipersiapkan untuk hal lain yang lebih sesuai dengan dirinya.
Sekolah lagi misalnya, menikah misalnya, atau berkontribusi ke masyarakat. Sehingga Allah beri jeda padanya sebenarnya adalah untuk ia merenung dan mempersiapkan diri memelankan jalannya sejenak setelah bertahun tahun lari hingga luput pada pemandangan kanan dan kiri.
Sayangnya seringkali yang terjadi bukan mata, pikiran, dan nurani yang nyalang peka pada hikmah. Melainkan telinga yang terlalu panas mendengarkan ucapan orang lain. Yang tadinya tengah menikmati perjalanan kemudian merasa harus berlari lagi. Padahal mobil dalam perlombaan balap saja harus berhenti sejenak di pit stop untuk mengisi kembali energinya. Atau memikirkan kembali strategi memenangkan pertandingan.
Apalagi kita yang tidak sedang berlomba dengan apapun, kecuali dengan waktu kematian yang semakin dekat. Sehingga secara logika kita harusnya hanya bekejaran memperbanyak kebaikan kebaikan apapun bentuk yang bisa kita lakukan saat ini. Bukan terus sibuk dengan angan angan atau kekhawatiran masa depan yang belum menjadi milik kita.
Alizeti, Jakarta
“Kakiku lelah sekali. Ia kerap mengejar seseorang yang padahal orang itu sendiri tidak menujuku.”
— (via mbeeer)
Mata ku lelah sekali . Ia kerap melihat seseorang bahagia yang orang itu sendiri bahagia nya bukan bersama ku .
Maka gunakanlah kakimu untuk mengejar Sang Maha Pemilik Cinta. Sebab Dia akan selalu menujumu, bahkan ketika kau menjauh, Dia beri isyarat-isyarat rindu lewat peringatan berupaa kesulitan dalam hidup, seakan pertanda bahwa engkau sedang tak menujuNya.
Dan gunakan matamu untuk melihat KitabNya, yang Kebahagian membersamainya dalam setiap waktu takkan pernah terganti, bahkan Ia akan menjadi teman yang akan selalu membersamaimu dalam setiap kebahagiaan, kesusahan, alam barzakh kelak, hingga saksimu nanti di hari akhir.
Tenang saja, tidak perlu menerobos memaksa. Kalau memang sudah berusaha, waktumu akan tiba. Giliranmu akan menyapa. Sabar...
Kerutan
10 menit berlalu semenjak aku mulai mengisi formulir. Tangan ini sangat lancar dan penuh keyakinan menggores tinta menjawab isian pertanyaan terkait dengan data diri (nama, ttl, alamat, dsb). Adalah hal dasar yang sudah sangat ku hafal, tanpa perlu berpikir keras, dan tidak sampai membentuk kerut di dahi.
Tidak lama kemudian goresan tintaku mulai terhenti. Bukan, bukan karena habis. Bukan pula karena sudah selesai ku jawab semua pertanyaan. Namun, pertanyaan selanjutnya membuat tangan ini berhenti untuk berpikir, bukan hanya otak yang dibuatnya. Aku terpekur, menunduk dalam, garis kerutan di dahiku mulai tampak terlihat (bukan aku yang melihatnya, mungkin kamu, iya kamu).
Akhirnya kuputuskan diam-diam menyimpan lembaran formulir itu, tidak ku serahkan kembali kepada panitia. Berjalan keluar dengan kegelisahan yang mungkin masih jelas terukir di wajahku karena masih memikirkan jawaban soal-soal itu. Menjadi “pe er” terbesar yang harus ku temukan jawabannya.
Jika kamu mau tahu soalnya, ah kamu pasti bisa. Siapa dirimu?
Aku malu, tidak mengetahui diriku sendiri, tidak yakin saat akan menuliskannya dan muncul keraguan, “Apakah aku memang seperti ini?”
Teringat pula kalimat penuh makna yang menampar diri. Apakah jika aku tidak mengetahui diriku, berarti aku jauh dari mengenalNya?
Hari itu aku pulang, berjalan dengan lesu ke arah stasiun terdekat. Sambil terus merenungkan diri ini yang dahinya semakin jelas terbentuk kerutan.
.
.
.
Satu yang akhirnya aku sadari. Saat diri ini kesal akan tampak kentara sekali. Kerutan di dahi.
Di dunia ini sudah pasti ada dua sisi yang berseberangan
Kebenaran dan kebatilan
Tidak ada yang di pertengahan
Kalau kau tidak berbuat sesuatu untuk kebenaran
Jangan-jangan tanpa sadar dirimu sudah mendekati kebatilan
😭
Setiap detikmu yang berjalan
Akan semakin membuatmu mendekat pada kematian
Menunggu sebentar datangnya hari pembalasan
Untuk mendapatkan bahagia atau sengsara di keabadian
Ayo diri, kita persiapkan❗
Salam Pernah Bilang, Selalu Ada Tempat Untuk Pulang..
Tulisan ini agak panjang. Semoga kamu berkenan membacanya :) Sebuah cerita, Ketika lingkungan tak lagi ramah untuk pemuda pemuda yang mencintai agamanya.
Kemarin, saya cukup kaget ketika mendapat berita tentang adanya cap radikalisme yang memboncengi mahasiswa, kali ini sebuah organisasi keislaman mahasiswa, Salam UI dituduh sebagai pelakunya hanya karena adanya pendataan mahasiswa baru. Yang saya ketahui pendataan tersebut guna mengetahui apakah ada di antara mahasiswa baru yang merupakan penghapal qur'an dengan tujuan tentu untuk mengetahui mutiara qur'an sejak awal di antara para maba, karena di kampus ada kegiatan MTQ. Pertanyaan lainnya untuk mengetahui intensitas maba mengikuti pengajian, tentu agar mengetahui apa yang dibutuhkan teman teman mahasiswa baru. Tak ayal, media kemudian menggorengnya (dengan sangat garing) bahwa organisasi mahasiswa telah diboncengi radikalisme. Kita memang harus menyiapkan hati untuk menghadapi zaman dimana mengaji dan menghapal qur'an bisa dengan mudah di cap radikal.
Mendengar cap radikal yang disematkan pada organisasi sehangat salam saya merasa marah, tetap berusaha untuk tidak reaktif. Dan menuliskan cerita saya tentang salam ketika hati saya sudah hangat sehangat cerita yang mau saya ceritakan.
2013, saya memutuskan untuk bergabung bersama Salam UI. Sebelumnya saya memang tak terlalu terlibat dengan lembaga dakwah di kampus. Saya merasa senang berkumpul dengan teman teman yang lebih sering bicara kebangsaan dan nasionalisme. Tahun itu, entah kesadaran darimana saya memutuskan mendaftar sebagai calon BPH salam UI. Mengikuti rangkaian seleksinya, mulai dari berkas hingga wawancara. Awalnya saya berpikiran mungkin sama dengan teman teman yang sebelumnya tak terlibat di lembaga keislaman bahwa “ah paling mereka konvensional mikirnya, jadul, terlalu tradisional, dan tidak profesional”. Dengan segala kesiapan menerima hal hal yang tidak menyenangkan, saya mendaftar tahun itu dengan penuh arogansi masa muda. “Saya ingin melakukan perubahan”. Tapi yang saya dapat justru di luar dugaan. Mereka teman teman yang sangat menyenangkan. Dengan semangat untuk menjadi tempat pulang bagi siapapun yang membutuhkan mereka mampu menyentuh hati saya. Bagaimana bisa sekumpulan orang orang baik yang bisa kekurangan tidur berhari hari demi mempersiapkan serangkaian program untuk melayani kebutuhan orang lain, di cap radikal?
Saya ingat, bagaimana seorang kakak bisa sampai jam 3 pagi nungguin poster untuk grand opening salam. Saya ingat kehebohan mereka waktu di kantin ui melakukan freeze mob untuk memperkenalkan diri. Ya Allah, anak anak baik nan lucu seperti itu bagaimana bisa disebut radikal?
Saya ingat, bagaimana tawa yang kami buat bersama saat lomba bikin nasi goreng. Ada yang enak ada yang asin. Untuk memeriahkan program kerja anak kemuslimahan “Masak Bareng Master Chef”. Apakah kegiatan imut kemuslimahan seperti memasak, mendesain, ngaji bareng seperti itu layak untuk direndahkan dengan cap radikal?
Saya ingat, kesenangan mereka waktu datang ke pusat kegiatan mahasiswa (pusgiwa) bagi bagi minuman segar ke teman teman mahasiswa lain seperti BEM bahkan organisasi antar keagamaan. Sehangat itulah mereka. Saya juga ingat love box saya yang sering penuh dengan permen dan coklat diiringi dengan kalimat kalimat penyemangat dari mereka. Atau ketika saya kehilangan sepatu, esoknya ada hadiah sekotak sepatu baru untuk saya :’)
Semangat mereka yang juga menulari saya sampai rela begadang untuk membuat sebuah kartu pos untuk menyambut orang lain, memberikan senyum bagi mereka yang membacanya. Sebuah kartu pos dengan tulisan “selalu ada tempat untuk pulang” yang bertahun kemudian masih di simpan oleh salah satu penerima,
Di akhir tulisan ini saya ikut merenung, apakah menyayangi sesama sebagai bentuk perwujudan dari keimanan ini adalah hal yang radikal? Apakah saling memberi dan mengasihi sebagaimana yang Allah dan rasulNya ajarkan adalah hal yang radikal? Apakah peduli pada orang lain mengajak yang lain pada kebaikan adalah hal yang radikal? Saya yakin, mereka yang memiliki hati nurani yang jernih akan mampu membedakan mana kasih sayang mana yang kebohongan. Saya tahu usia saya sudah jauh sekali dari teman teman SALAM UI yang hari ini sedang berjuang membuktikan ketulusan mereka pada banyak orang. Semoga tulisan sederhana saya sampai pada orang orang yang masih mencurigai ketulusan mereka.
Untuk teman teman pembaca yang budiman, bila di kampusmu, lembaga dakwah islam di cap sebagai hal yang radikal. Yang pertama perlu kamu lakukan bukan serta merta mempercayainya dan lekas membenci. Melainkan berkenalanlah dengan mereka, perhatikan akhlak mereka. Dan tanyakan pada hatimu pantaskah mereka dibenci dan dihindari? Atau malah justru mereka adalah teman teman yang akan membersamaimu dan melimpahimu dengan banyak kebaikan.
—
Di suatu malam, bertahun lalu saya menatap layar komputer yang menampilkan sebuah poster. Dengan kalimat yang sampai sekarang tak pernah saya lupakan,
“Selalu Ada Tempat Untuk Pulang.” Dan mereka menepati janji mereka. Menjadi tempat yang nyaman untuk saya pulang selama 2 tahun terakhir di kampus masa itu :)
Terima kasih salam, dan orang orang yang ada di dalamnya. Sudah 5 tahun lewat, tapi kenangan nya masih sehangat itu terasa..
Bila hati manusia tak mampu merasakan ketulusan kalian, percayalah Allah selalu mengetahui sebesar apa kasih sayang yang kalian miliki untuk sesama. Yang berasal dari hati akan sampai ke hati, dan takkan sampai pada yang tak memiliki hati :)
Alizeti, Jakarta