My Life’s Journey Begin At...
If you happen to know me from when I was born or when I was kid or teenage, then I guess you’ll know me “a bit”. Why “a bit”? Yes, because that is the “old me”. MY OLD SELF IMAGE.
These were the times where all the memories, good and bad happened. I may not remember it all, indeed, but one thing I know that God really has wonderful plans in my life. Ini termasuk juga kesaksian saya. Kesaksian dimana semua orang, bahkan teman-teman, keluarga, dan orang-orang yang mengenal saya di masa lalu perlu mendengarnya juga.
Saya terlahir dari keluarga Kristen yang taat beribadah, bahkan saya rajin ke sekolah minggu, ibadah remaja, ibadah hari minggu, ikut kegiatan-kegiatan rohani dsb. Ketika menginjakkan kaki di SMA di Makassar, saya masuk di sekolah swasta Katolik dan saya tinggal selama 1 tahun di asrama sekolah tersebut. Di asrama juga sangat taat beribadah (berhubung asrama ini merupakan asrama yang disiplin dan dipimpin oleh para biarawati); doa malam, doa pagi, doa sebelum dan sesudah makan, doa sebelum belajar, dll. Bahkan doa-doa yang diaturkan di asrama tersebut selalu saya ikuti (hampir tidak pernah saya bolos di setiap jam-jam yang telah ditetapkan). Namun, satu saat tiba-tiba seorang teman saya mengajak beribadah di gerejanya. Jujur, sebenarnya sejak SMP ketika saya belum pindah ke Makassar, saya selalu tertarik untuk beribadah dan memuji Tuhan dalam keadaan bebas, dengan lagu yang dinyanyikan berulang-ulang tanpa ada ketetapan diulangi berapa kali, sambil menggoyangkan badan dan tanpa malu melompat memuji Tuhan. Saat itu pikiran saya seperti itu. Akhirnya saya ikut selama beberapa bulan dengan teman saya, namun saat masih SMA saya masih berpindah-pindah gereja. Saya belum paham bahwa seseorang harus memiliki gereja lokal tetap dimana dia bertumbuh, berakar, dan berbuah. Saat itu saya hanya berjalan dengan mengikut arus saja or people call it just “euphoria”. 3 tahun selama di SMA saya banyak mengalami pengalaman-pengalaman yang sekarang, saya sadar bahwa Tuhan mengijinkan semua terjadi untuk mengajarkan saya “a life’s lesson”, too many I think, but don’t worry I will share it to you.
Before High School’s Life.
Dari lahir sampai kelas 3 SMP saya tinggal di sebuah kota kecil called Soroako. It is a very cozy and beautiful small city in South Sulawesi. You can google it. And there you will find Matano Lake which is a very amazing lake (better go there once; sekalian promosi wkwk). I grew up as a dilligent, calm, and shy girl. Dulu saya benar-benar polos, cannot say “No” sampai-sampai saya sempat menjadi bahan bullyan di TK bahkan SD, pemalu, sangat sensitif terhadap omongan negatif atau kritikan. Overall, gambar diri saya rusak, meskipun mungkin orang lain melihat saya adalah anak yang rajin, baik, tidak pernah membangkang, and all the compliment words they said, but that’s actually not the real me. But thank God I have the best parents in the world, they really love me like God loves me.
Growing up with such kind of attitudes. Puji Tuhannya saya lahir di keluarga Kristen yang takut akan Tuhan, jadi dari kecil orang tua saya sering memutar lagu-lagu rohani yang sampai SMA pun saya jadi lebih suka dengar lagu rohani dibanding lagu sekuler. Namun, mendengar lagu rohani saja dari kecil sampai besar tidak menjamin kedalaman keintiman seseorang dengan Tuhan. I just realized that when I know Him more. Bahkan, setiap hari dengar lagu rohani saja tidak cukup untuk kita mengenal Tuhan lebih dekat, butuh inisiatif untuk membangun hubungan, layaknya orang yang berpacaran; ada inisiatif untuk mengetahui hobi, kebiasaan, kesukaan pasangan dll. Sama halnya dengan Tuhan, tidak cukup hanya mendengar atau melihat “status/update-an” Dia, tapi kita perlu inisiatif untuk berkomunikasi one-on-one dengan Dia.
Ketika saya bertumbuh dengan gambar diri yang rusak (seperti yang saya jelaskan di atas), saya benar-benar pemalu, sampai-sampai saya tidak berani bertemu keluarga saya sendiri ketika mereka berkunjung ke rumah. Suatu hari nenek saya pernah mengatakan sesuatu yang melukai hati saya, yang sebenarnya bagi orang normal perkataan itu adalah perkataan yang memacu saya untuk berubah, tapi karena gambar diri saya sudah terlanjur rusak jadi perkataan sekecil apapun itu pasti perasaan saya sedikit-sedikit terluka dsb. Bringing those heartache while growing up, it’s really damaging. It damages my self image in Christ. Dengan perilaku seperti itu, saya juga sering marah dengan mama saya karena salah saya sendiri tapi ya namanya juga masih kekanak-kanakan jadi walaupun saya salah, semua amarah saya timpakan ke mama saya. Mama saya adalah orang yang sangat sabar, penyayang, melankolis, betanggung jawab, dan lemah lembut. I do love my mom <3. Ketika sedikit-sedikit saya merasa dicuekin, saya akan ngambek/marah kepada mama saya (I never throw my anger at my father as he is a choleric man; papa saya adalah orang yang tegas, jadi dulu saya takut kepada papa saya), so all my anger mama saya yang kena. Marahannya bisa dalam bentuk saya banting pintu, saya teriak-teriak, atau saya tidak mau bicara dengan mama saya (ini yg paling sering). As I look back, how sinful I was.
Actually there were so many things I hid from everyone before I really met Christ in 2013.
Sebelum saya pindah ke Manado dan memulai hidup seorang anak kuliahan, I prayed to God that He will send me to a church where I can serve Him. Dari dulu keinginan saya adalah melayani Tuhan, khususnya menjadi seorang singer. Melihat teman-teman saya atau bahkan orang-orang yang melayani di atas panggung bernyanyi untuk Tuhan, saya mulai berkerinduan untuk melayaniNya, walaupun saat SMA hal tersebut belum terwujud. Actually I really wanna study in Surabaya (Airlangga University) or Jakarta (kota-kota metropolitan), tak pernah muncul di benak saya untuk kuliah bahkan tinggal di Manado. Karena di pikiran saya saat itu, Manado adalah kota kecil, dimana kurang update dengan perkembangan yang ada (but I was wrong indeed; Manado juga tak kalah dengan Makassar kok guys walaupun memang Makassar jauh lebih luas).
Pindah ke Manado merupakan jalan Tuhan. Yap, it really is. I never imagined how my life would be if God didn’t bring me here. I AM TRULLY GRATEFUL, LORD. Tahun 2013 tepatnya, ketika saya lulus SMA, saya sempat tes SBMPTN dan SNPMTN di Surabaya dan Makassar namun tidak lulus. Akhirnya Tuhan memperkenankan saya lulus di Universitas Sam Ratulangi jurusan kedokteran. Walaupun masuk di jurusan ini memang butuh perjuangan dan proses yang panjang. I can’t tell the detail but it is really just the Grace of God saya bisa lulus di kedokteran :’), berkat doa dari keluarga saya.
Beberapa minggu berlalu sejak dimulainya perkuliahan, tiba-tiba di bulan September, saat jam istirahat di kampus, ada seorang kakak tingkat dari kedokteran gigi datang memperkenalkan diri dan mengajak saya dan teman satu orang untuk datang di acara KKR mahasiswa baru; Kisah Kota Kusam. Perjumpaan yang singkat itu tak disangka mengubahkan hidup saya hingga saat ini (kakak tersebut pun menjadi salah satu pemimpin saya di CG; her name is Ce Nikhe). Setelah secarik undangan saya ambil, hari demi hari kakak tersebut selalu menghubungi saya, mem-follow up dan mengingatkan untuk datang. Berhubung saya suka dengan hal-hal yang berbau KKR, saya sangat antusias bersama dengan teman saya. Walaupun kami sempat memutuskan tidak jadi pergi karena suatu hal, tapi Tuhan ternyata punya banyak cara untuk mendatangkan anak-anakNya. Akhirnya saya dan seorang teman datang. Acaranya bertempat di Ex.Haha Café Megamall. Ketika ibadah dimulai saya sangat excited karena sudah lama saya tidak merasakan atmosfir ibadah seperti KKR. Dari KKR Kisah Kota Kusam, akhirnya saya diajak untuk bergabung di sebuah komunitas rohani anak muda, komsel atau kami menyebutnya CG (Connect Group) dan bergabung di gereja lokal yang ada; Gereja Mawar Sharon. Not talking about the church, but thank God He brought me here. Saya benar-benar sangat bersyukur karena Tuhan sangat baik. Ia tidak ingin membiarkan anak-anakNya diperbudak dan dibodohi oleh iblis. Awal-awal bertumbuh saya selalu diajak dan di sms untuk ikut CG dan ibadah AOG (Army of God) jam 2 siang (waktu itu masih di Hotel Arya Duta). Saya selalu ikut berhubung saya belum punya gereja lokal tetap, dan pada saat bertumbuh disinilah Tuhan mengajarkan saya betapa pentingnya memiliki gereja lokal hidup yang tetap dan komunitas rohani untuk kita bertumbuh. Ibadah-ibadah yang ada saya ikuti dan dari situ kehidupan rohani saya mulai diubahkan, dulunya saya tidak tahu arti saat teduh yang sesungguhnya, yang bukan hanya just doa biasa-biasa, tapi ada penyembahan kepada Tuhan di dalamnya dan merenungkan firman. Sungguh, sampai sekarang kehidupan roh saya terus diperbaharui. Bahkan saya yang dulunya bertobat setengah-setengah, tapi sekarang bertobat sepenuhnya. Dulu gambar diri saya sangat rusak, tapi Tuhan mengubah gelap menjadi terang, gambar diri yang rusak Ia gantikan dengan gambar diri yang pulih; a healthy self image. I am not a saint nor a perfect person, but by the Grace of God, He set me free from sin that I don’t even deserve it. I was lost but now I am found. I was blind but now I see.
Now I just want to encourage you whoever is reading this, whether you believe in Jesus or not. First, Jesus loves you so much. Ia tidak ingin Anda diperbudak dan dibodohi oleh iblis. Masuk ke surga tidak ditentukan oleh perbuatan baikmu, tapi ditentukan oleh imanmu kepada Yesus. Saya bukan seorang pendeta (walaupun sering saya mendengar orang-orang banyak berpikir untuk memberitakan hal seperti ini they will say “sok suci”, “kamu jadi pendeta saja”, dll, terkadang kasihan juga lihat respon orang seperti ini. It actually reflects their spirit, I mean you need God, you need to be filled with His Spirit again, you need to know what’s inside God’s heart), namun saya hanyalah seorang mahasiswa yang kuliah di kedokteran, yang notabenenya menggunakan “logika”, berpikir ini itu, too many “Why why and whys?”, but really kuliah di kedokteran malah membuat saya berpikir betapa ajaib dan hebat Tuhan menciptakan bumi, how He created human. Manusia yang memiliki berjuta bahkan miliaran sel saraf yang sangat rumit (trust me if you study neurology about all the nerves through human body, get ready to be blown by them haha (joking)). My point is that, JESUS CAN REALLY CHANGE YOU. You think all this time you are just okay? Think again. Sebelum saya benar-benar komitmen untuk membangun hubungan pribadi dengan Tuhan, saya merasa saya baik-baik saja, saya Kristen, percaya Yesus, yang penting masuk surga, and.. that’s it. But I was really wrong. From the deepest of my heart, ada sesuatu yang kosong, dimana kebahagiaan dunia tak bisa menggantikannya. Bagian yang kosong dalam hati saya akan penuh bila hanya Yesus yang mengisinya, only if I INVITE HIM to come into and fill me again, then I’ll be ALIVE.
Well, it really is a longgggggg posting but it’s okay. As long as it is an important message, I am okay to write it down. I have so many to post actually but I’ll take time to post it again later.
Thank you for reading this. May this blesses you. With love, His beloved daughter. –FA.