“Tetapi sekarang juga,” demikianlah firman Tuhan, “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.” Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbailklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya.(Yoel 2:12-13)
Hari ini, sesuai kalender gerejawi, kita kembali memasuki masa Raya Paska yang diawali dengan Rabu Abu. Rabu Abu merupakan sebuah momen atau simbol dari penyesalan umat atas segala kesalahan serta pelanggaran yang dilakukannya selama ini, dengan semua kerapuhan hidup yang dimilikinya. Manusia sebagai manusia yang rapuh, disimbolkan dengan abu, kerap mengalami kejatuhan dalam dosa. Abu juga menjadi sebuah “peringatan” bagi umat untuk terus melakukan evaluasi dan pembaruan di sepanjang hidup yang dijalaninya. Maka, satu pertanyaan yang terus diperhadapkan dalam peziarahan hidup kita adalah, sudahkah kita menyesal atas segala dosa-dosa kita serta mau bertobat dengan rendah hati di hadapan Tuhan?
Nabi Yoel sekali waktu memperingatkan bangsa Israel untuk bertobat atas segala kesalahan dan pelanggaran yang mereka lakukan selama ini. Ungkapan tersebut nampak di ayat 12, berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.” Bentuk pertobatan yang seharusnya dilakukan oleh bangsa Israel adalah dengan berpuasa. Mengapa puasa menjadi sebuah pilihan? Karena puasa melatih seorang manusia secara spiritualitas mengingat dan mengandalkan Sang Penciptanya di sepanjang kehidupan yang ia jalani. Puasanya tidak hanya sekedar menahan lapar-haus dalam jangka waktu tertentu, tetapi juga menahan segala bentuk godaan lain, baik yang lahir dari diri sendiri maupun godaan yang ada di sekitar kita. Puasa pun menjadi sebuah bentuk komitmen untuk berlaku hidup sungguh-sungguh di hadapan Tuhan dengan tulus dan apa adanya. Itulah mengapa di ayat 13, Yoel pun mengungkapkan, “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, ...” yang artinya, umat Israel diajak untuk berpuasa bukan lahiriah saja tapi juga secara rohani.
Dengan kata lain, jangan berpuasa hanya untuk pamer kesalehan pribadi tetapi menghayati puasa sebagai proses pertobatan yang utuh.
Kita pun juga akan berproses dalam puasa selama 40 hari ke depan. Puasa dalam ke-Kristen-an tidak dipatok atau distandardkan jenisnya. Kita bebas memilih ingin berpuasa dengan cara apa dan bagaimana. Selain puasa makan-minum, misal puasa untuk marah, puasa mempergunjingkan orang lain, puasa gadget atau media sosial untuk hal-hal yang menyenangkan, puasa emosi, dan hal-hal lain yang ingin kita jadikan komitmen berpuasa sekaligus kita ingin berubah menuju kepada pembaruan hidup. Berpuasa sebagai wujud penyesalan sekaligus pertobatan dalam kerendahan hati di hadapan Tuhan. Namun, ingat! Hindarilah untuk pamer dalam berpuasa, seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, “Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.” (Matius 6:16).
Marilah berpuasa dengan rendah hati dan kesadaran penuh, sehingga menolong kita untuk dapat menghayati makna yang sesungguhnya dalam 40 hari peziarahan masa-masa Pra Paska ini. Teruslah andalkan Tuhan dan hayatilah setiap kerapuhan kita sebagai cara Tuhan memproses diri kita menjadi lebih dewasa. Selamat berpuasa, Tuhan beserta! [septorang]