Corona Virus 19 sudah beredar ke seluruh dunia. Berawal dari Wuhan, Cina, kemudian menyebar ke negara-negar Asia, kemudian Eropa. Banyak negara yang melakukan Lockdown alias melakukan isolasi dan membatasi ruang gerak masyarakatnya sendiri karena virus ini sangat berbahaya. Penyebaran antar manusia terjadi dengan sangat cepat dan tingkat kematiannya tinggi. Gejala awal seperti batuk, pilek kemudian tenggorokan sakit, demam, itu memang terlihat seperti gejala biasa. Sampai akhirnya kita merasa sesak napas dan menuju maut. Semuanya dapat dilihat dalam masa 7 hari hingga 14 hari. Dunia ketar ketir. Italia yang rakyatnya awalnya menganggap remeh virus ini sekarang malah me-lockdown negaranya karena kasus postitifnya mencapai 3000 orang dengan angka kematian yang tinggi.
Sebuah ketakutan yang sangat mencekam lagi adalah saat negara tetangga Indonesia positif kena corona, Indonesia masih aman-aman saja. Tidak ada kasus yang terjadi. Menteri kesehatan memang memberitahukan kalau masyarakat harus melakukan standar pengamanan kesehatan yang paling dasar. Apalagi kalau bukan cuci tangan pakai sabun dan pakai masker kalau sakit. Tapi dari artikel-artikel awal yang aku baca, memang pemerintah belum benar-benar menganggap serius masalah ini.
Contoh yang paling geli adalah saat gubernur sumbar mau repot-repot datang ke bandara demi menyambut turis asal cina. Tujuannya sih baik, untuk memberitahukan kepada dunia bahwa indonesia masih bisa bersikap ramah saat rakyatnya ketar ketir soal kemungkinan virus ini masuk negara. Kemudian ada yang bayar buzzer sekian miliar untuk promosi dan mengangkat duta anti corona yang aku nggak tahu apa gunanya sekarang. Karena latah begitu akhirnya kena juga kan?
Peneliti harvard curiga, WHO curiga, dan kecurigaan itu akhirnya meledak. Seperti fenomena gunung es yang tiba-tiba ada di depan mata, Indonesia pun positif kena dampaknya. Bahkan Papua pun juga sudah kena. Sumbar? Sampai sekarang belum ada laporan walau Sumut dan Sumsel sudah melaporkan kejadiannya.
Di Sumbar ada dua rumah sakit yang dijadikan rujukan bagi pasien korona yaitu RS M Djamil, di Padang dan RS Ahmad Mochtar, di Bukittinggi. Untuk saat ini, dua memang cukup untuk Sumbar yang belum ada laporan kasus sama sekali.
Kemudian apa yang dilakukan pemerintah selanjutnya untuk menangani masalah nasional dan internasional yang mendadak muncul ini? Yang jelas kita nggak akan mendengar kelakar menkes yang kemarin masih santai-santai sambil ngelawak di TV. Yang sekarang muncul bukan menkes lagi, tapi ketua BPB (Badan Penanggulangan Bencana). Nada bicara mereka sudah low a.k.a rendah dan serius dibanding kemarin-kemarin.
Saat ini beberapa wilayah di Indonesia seperti Bandung, Jakarta, Papua menerapkan sistem WFH alias Work From Home. Sholat Jumat diganti sholat Zuhur seperti fatwa MUI. Saat ini aku sedang mengetik di hari Jumat dan di daerahku Sholat Jumat masih dilaksanakan di Masjid karena kotaku masih aman untuk melakukannya. Kemudian pelajar dan mahasiswa diwajibkan belajar di rumah. Bagi mahasiswa, mereka pakai kelas Daring alias online, entah itu lewat vidcall atau W.A. Dan tempat wisata ditutup.
Indonesia tidak bisa melakukan lockdown karena menurutku negara kita belum siap menerima dampak jangka pendeknya. Melakukan lockdown sama dengan melumpuhkan roda ekonomi sebentar. Positifnya, angka penyebaran penyakit dan kematian dapat dikendalikan. Negatifnya, kehidupan mulai kacau jika pemerintah tidak punya anggaran yang cukup untuk menanggung beban masyarakatnya. Indonesia adalah negara berkembang. Dan rata-rata yang bisa melakukan lockdown itu adalah negara maju macam Italia, Malaysia, Cina dll.
Posisi Indonesia sama seperti Iran. Iran sendiri dicurigai kalau jumlah penderita positif corona dan jumlah kematiannya berbeda dengan jumlah yang dirilis resmi ke masyarakat. Banyak yang curiga kalau sebenarnya kasus kematian di sana lebih banyak. Mereka tidak bisa melakukan lockdown karena memang tidak bisa melakukannya dan itu bukanlah opsi terbaik untuk saat ini. Indonesia kemungkinan ada di posisi yang sama. Kalau tidak berada di posisi yang sama, akan lebih mudah melakukan lockdown sekarang juga dan menekan angka penyebaran penyakit mumpung belum 3000 orang macam di Italia.
Social distance yang diberlakukan pemerintahpun juga tidak sepenuhnya dipatuhi rakyatnya sendiri. Bayangkan! Masa ada yang memanfaatkan momen seperti ini untuk liburan di luar, pergi ke puncak? Pas kena nanti baru nangis raung-raung bilang pemerintah tidak adil padahal sendirinya takabur luar biasa. Dan bagi mereka yang bilang ‘kami nggak takut korona’ sungguh adalah orang yang punya nyali besar. Entah kurang informasi atau berpikir kalau kena ya sudahlah... Ya itu memang hak mereka untuk berpendapat. Mungkin terlalu takut bukanlah sikap yang benar. Tapi setidaknya mulailah aware dengan masalah ini dan sampaikan kata-kata yang bijak ke publik. Saling mengingatkan dan melindungi itu lebih baik. Jangan sampai seperti Italia yang warganya takabur, mengolok-olok virus ini, dan sekarang malah negara mereka di lockdown karena kasus kematian dan inveksi yang tinggi.
Jadi sekarang bagaimana? Presiden sudah memerintahkan untuk mengadakan tes deteksi dini secara massal untuk seluruh rakyat Indonesia. Anggaran sudah ditetapkan, dan sekarang kita tinggal menunggu tanggal untuk dideteksi saja. Ini adalah langkah yang sama yang digunakan Korea Selatan dalam mendeteksi dini virus korona di negaranya. Terlambat? Rasanya iya karena sekarang jumlah lonjakan pasien sudah 300%. Masih bisa dilakukan pencegahan? Masih. Mari kita tunggu pergerakan selanjutnya.