Tentang sebuah keimanan, yang semestinya merefleksikan ketakwaan.
Tentang sebuah keyakinan, yang sepatutnya menggambarkan keshalihan.
Kita semua sama, punya masa tertinggi dan terendahnya. Level yang berubah naik turun, anti statis, dan pantang bergeming.
Di sebuah hutan lebat yang sedang badai salju menderas, samar-samar terdengar percakapan di balik sebuah batu, suaranya terdengar amat tergetar. Ialah bisik-bisik tupai, kura-kura, kelinci dan kalkun.
Mereka berempat ialah sekelompok yang dikondisikan terus bersama selama musim dingin tersebut. Pagi, siang, malam terus bersama hingga pagi lagi. Begitulah seterusnya. Pertemanan kesetiakawanan.
Di saat yang sama, kelompok lain pun terbentuk. Dengan jumlah yang bermacam-macam, dan jenis rimba beraneka pula. Ada singa, beruang, domba, kucing, hingga gajah dan serigala. Hampir semuanya ada. Namun tentu saja, mereka di kutub lain.
Sebagaimana azasnya musim dingin, mereka harus mempertahankan hidup sekelompok mereka untuk melewati dinginnya salju. Tak tertelak lagi, perselisihan antar kelompok pun terjadi. Persaingan, kebencian, sampai hal termengerikan, permulaan merebaknya virus dendam.
Oleh karena itulah, antar kelompok pun semakin bersitegang, walau di dalam lingkarannya mereka saling menghangat satu sama lain. Begitulah, aturan rimba di suhu yang ekstrim, sadis dan menyedihkan.
Suatu ketika, terjadilah suatu momen dimana danau beku di tengah perbukitan mendadak menjadi pecah. Isi danau tumpah ruah, mengeluarkan deras aliran air ke sekitar. Akhirnya mereka semua tak terelakkan lagi, terkepung oleh banjir dengan air bersuhu minus. Hal tersebut terjadi berhari-hari sampai berminggu-minggu. Semakin waktu berputar, semakin terasa kacau. Menjadi tambah sengitlah desakan antar kelompok itu.
Walau bagaimana pun kelompok yang terlihat kecil itulah yang tertindas. Bahan makanan tercurangi, dijatahkan sepertiganya saja. Minuman pun mengalami hal serupa, diambil berdrum-drum dari yang semestinya. Pun tentang kehangatan, yang katanya sinar matahari akan digilirkan, nyatanya mereka hanya mendapatkan sisanya.
Akhirnya mereka mendera penderitaan, hingga kesakitan luar dan dalam.
Tupai, kura-kura, kelinci dan kalkun.
Kelinci mengeluh, mengapa mereka harus terjebak hal menyedihkan seperti itu. Kura-kura hanya bersungut mengangguk tanpa komentar tambahan. Kalkun melirik tupai, yang diakhiri hembusan napas panjang.
Tupai berdiri, berkata bahwa mereka tidak seharusnya seperti itu terus menerus. Mereka harus berjuang agar tidak diakali dengan kejahatan kelompok lain. Mereka harus berupaya, jangan terus mau menjadi korban. Mereka harus gigih, mempertahankan keutuhan kesejahteraan kelompoknya. Karena pihaknya, tidak selamanya akan harus mengalah.
Alih-alih berupaya menguatkan diri, mereka malah merusaki inti lingkaran. Genderang perseteruan antar anggota itu pun terbentuk. Kalkun menghardik kura-kura, kura-kura menatap iba meminta pertolongan pada kelinci, dan akhirnya kelinci meneriaki tupai.
Baiklah, sepertinya mereka sedang berproses. Tunggu sajalah hingga mereka menyadari bahwa kelompok di luarnya. sedang bercekikikan menatapi mereka dari jauh.
“Tanpa intervensi apapun, toh mereka akan tumbang sendiri. Lihatlah, mereka saling memusuhi temannya sendiri!” ucap gajah pada kawan kawannya.
Singa menimpali sambil terkekeh, “Ya, memang tinggal kita tunggu saja mereka satu per satu akan hancur dan kepayahan akan lingkungan mereka sendiri. Takkan bertahan lama, aku bertaruh!” Ucapnya menggelora ditutupin auman keras miliknya. Semuanya menyambut mengamini perkataannya sambil menaikkan gelas mereka. Berteriak-teriak sorai kegirangan.
Fenomena tersebut turut melarutkan gelak tawa membahana di balik gunung es. Suara gema tawaan kelompok luar tersebut terdengar kuat, hingga membuat beberapa kerikil gunung berjatuhan. Dan salah satu kerikil es tersebut meluncur tepat di perapian kami. Memadamkan api kesengitan. Membuat suasana kembali sejuk.
Tupai, kura-kura, kelinci dan kalkun saat itu, yang sedang bermusuhan, bersungut-sungut satu sama lain tetiba saling bertatapan. Tak lama pun akhirnya mereka semua tersadarkan.
Tunggulah sampai mereka ini memang benar dianggap sebagai kelompok kanan.
Mereka dicurangi oleh gajah, ditipu oleh singa, difitnah oleh domba, dicacimaki oleh beruang, hingga dipurapurai oleh kucing. Ternyata, tidak musim saja yang ekstrim, tetapi gemuruh perasaan itu pun juga kian semakin tersudutkan.
Mereka berempat teruji. Dan sayangnya, mereka dapat melaluinya dengan sangat baik. Tanpa ada ketidaksetiakawanan, tanpa ada menjelekjelekkan kawan, tanpa ada keburuksangkaan. Setiap gejolak muncul, selalu diupayakan jernihnya pikiran, hingga tindakan nyata hasil diskusi panjang.
Waktu berlalu, musim ke musim. Es mulai mencair, rumput menyeruak tumbuh kembali, matahari pun turut menghangat sambil menyinari.
Kelompok seberang kelelahan menunggu keterpurukan mereka berempat, namun hal yang mereka nanti tak kunjung mendatangkan. Akhirnya koloni besar ini pun berpisah, merasa tak ada lagi yang menarik. Beberapa saling bermusuhan, sebagian mencoba melerai yang pada akhirnya malah membuat kubu baru untuk berseteru, sisanya acuh menanggapi kericuhan tersebut.
“Aku tidak habis pikir, mengapa ada segerombolan, bukan hanya satu-dua, tapi benar-benar sekelompok besar, yang memiliki sifat jahat sampai ke inti perasaan mereka,” tiba-tiba kelinci membuka suara saat sarapan di pagi ini.
“Menurutku, perasaan mereka sesungguhnya tidak seburuk itu,” jawab tupai menanggapi, sambil tetap menikmati buah berry yang ia temukan ranum kemarin sore.
“Lalu? Bagaimana mereka bisa sebegitunya? Aku penasaran,” kura-kura balas menimpali, ah iya kali ini ia tak turut sarapan. Baginya sarapan hanya membuat kembung, maka ia akan melakukannya nanti saat matahari mulai naik.
Kalkun menghela napasnya panjang, berupaya mengunyah pelan bebijian gandum miliknya, “Tentu saja hal tersebut karena egoisme diri mereka lebih diutamakan, daripada menuruti kata hati mereka sendiri. Semacam khawatir akan tidak mendapat porsi kekuatan koloni seperti itulah. Ketakutan terancam jika merasa berbeda sendiri”.
Tupai tersenyum, nice try, kalkun!
“Ya, setuju, kupikir menjadi buruk sebenarnya adalah pilihan, bukan sesuatu takdir yang tidak bisa kita ubah. Tinggal kita sendiri saja, mau berubah atau tidak. Hei, kali ini aku benar kan, kalkun?” Tanya tupai sambil menyikut kalkun. Yang disikut bersungut-sungut dan bersiap pindah posisi, merasa gusar akan ancaman terhadap gangguan. Kelinci serta kura-kura tertawa melihat respon kekanakannya.
Aku lupa bilang ya, kalau kalkun seringkali mengejek pemikiran tupai? Ya, hanya mengejek di depan tupai sih, padahal kata kura-kura dan kelinci, ia menganggapnya sungguhlah seorang kawan, dalam arti secara harfiah.
Baiklah, mereka yang bertahan memegang value nuraninya ternyata menang.
Karena kemenangan, muncul oleh orang yang mau berjuang tanpa merendahkan.
Karena kemenangan, dapat terlaksana jika tidak menuruti sebuah akar dari rasa kedengkian.
Karena kemenangan, akan terus berada di pihak yang membersamai kegigihan dengan ketulusan.
Ingat cerita tupai - kura kura - kelinci - kalkun?
Jika tidak ingat, tak apa, toh aku akan selalu terkenang.