Curhat Time: Ketika Gue Dicurhatin
Hai hai hai duh hari ini tiba-tiba kangen gudeg mercon Bu Tinah wkwkw.
Malam ini mau recap beberapa hal yang buat baper dan kepikiran dari pertanyaan-pertanyaan anonim minggu lalu.
Sejujurnya gue kaget banget karena banyak dari kalian yang minta pendapat secara anonim. Kayak… ternyata pembaca blog ini pada serius membaca apa yang gue tulis. Padahal niat awal, menulis untuk self-healing dan mau berbagi cerita tentang sebuah penantian.
Hari itu ada 5 pertanyaan anonim dan beberapa chat yang masuk masih keitung jari lah ya. Tapi bagi gue, membaca curhatan dan memberi saran itu buat energi habis. Kayak jadi baper sendiri. Mikirin perasaan orang-orang yang nanya pasti dia galau banget harus melalui semua itu. Lah ya tapi gue juga yang nawarin diri nerima curhatan. Seperti menjemput masalah aku tuh.
Kebaperan yang pertama, ada sebuah cerita anonim yang paling bikin speechless yaitu di sini, menceritakan sudah batal nikah dua kali karena masa lalu calon-calonnya yang keungkap. Trus gara-gara tulisan gue yang ini, dia jadi curhat dan minta saran karena selama ini selalu dihantui rasa bersalah dan berfikir bahwa dia sudah menyakiti calon-calonnya karena masalah tersebut.
Gue yang baca ceritanya aja jadi merasa bersalah, karena gak kepikiran kalau tulisan gue kadang-kadang menjadi pertimbangan orang lain atau malah membuat orang lain merasa bersalah dan lain sebagainya.
Harusnya di setiap post gue pertegas, ini adalah pendapat pribadi dan berdasarkan pengalaman pribadi. Dimohon kebijaksanaannya untuk tidak mencontohnya di rumah (laah lagi debus anda tuh? ahahahaha).
Sempet kepikiran untuk berenti nulis dulu beberapa waktu, karena takut tulisan gue mempengaruhi keputusan orang lain yang lagi galau dan mencari validasi. Tapi di sisi lain gue juga suka menulis dan bercerita, jadi ya gue lanjutkan dan akan gue kasih disclaimer di post-post selanjutnya kalau ini pendapat pribadi dan jangan ditelan mentah-mentah.
Kebaperan yang kedua, pernah juga ada pertanyaan yang gue jawab di sini, apakah cinta sebelum menikah itu penting. Kalau kalian bertanya kepada gue yang berusia 25 tahun, akan gue jawab cinta itu penting, tapi seiring dengan bertambahnya usia, banyak perempuan yang akhirnya nikah karena sudah siap dan sekufu, cinta? belum tentu.
Contoh tetangga gue, pacaran udah 6 tahun, nikahnya sama cowok yang baru dikenal 6 bulan, karena apa? Mantannya setiap ditanya kapan mau nikahin, selalu jawab gak siap. Padahal, ortu si cewek gak nuntut apa-apa bahkan menyanggupi untuk membiayai pernikahan mereka di beberapa tahun pertama. Akhirnya putus dan ada yang deketin tapi lebih muda, akhirnya sama ortunya di iyakan aja karena si cowok sudah siap.
Biasanya hal-hal begini jadi bahan diskusi gue dan nyokap, “Tuh kan, seorang ibu tuh begitu kalau ada anak perempuannya belum nikah, segala standar yang mereka punya pun kayak direlakan begitu aja kalau ada laki-laki yang berniat serius. Yang penting anaknya ada yang nikahin, mau nantinya setelah menikah laki-lakinya sanggup apa enggak biayain, sekarang mah gak mikir lama-lama. Realistis aja emang gaji orang di usia kamu gak yang besar-besar banget, tapi kalau mau berusaha untuk keluarga, Insya Allah ada jalannya dan merasa cukup terus. Jadinya nikah udah gak pake cinta-cintaan, udah kayak taruhan aja siapa cepat dia dapat.” kwkwkwkw.
Temen gue bernama A dia cerita ke gue, “gue tuh dulu pas nikah sama suami ya, biasa aja gak yang cinta banget karena udah capek diselingkuhin mulu sama mantan-mantan. Sampe gue juga gak expect waktu itu suami gue beneran ngajak nikah. Nyokap pun bilang gak boleh terlalu cinta, tetep ada jaimnya dikit biar dianya gak bangga, takutnya dia mikir seolah-olah kita (perempuan) yang takut kehilangan dia.” A ini dulunya pacaran sama mantannya 4 tahun dan sudah sampai lamaran, tapi diselingkuhin. Kenal sama suaminya kurang dari setahun.
Karena menurut gue, proses pencarian ini memang melelahkan pakai ataupun gak pakai cinta. Siklus yang kenalan-bye, kenalan-bye terus menerus membuat gue pun muak. Makanya gue bilang di atas bahwa blog ini adalah media untuk self-healing karena proses pencarian ini kena mental banget. Yang tadinya optimis, eh dijatuhkan lagi harapannya. Bener apa yang dikatakan temen gue juga, sampe gak ada ekspektasi apa-apa sama laki-laki selanjutnya.
Ada momen baper buat gue kalau gak sengaja liat pasangan yang grocery shopping bareng-bareng, trus ketawa bahagia dan langsung mikir, “padahal gue sebagai perempuan, gak yang banyak nuntut dari pasangan. At least dia bisa bawain belanjaan bulanan sampe parkiran.“ Laaah itu suami apa abang Happy Fresh ahahahah
Maksudnya gini, perempuan cuma pengen cowok tuh kelak jadi suami yang normal gitu loh, tau kodratnya sebagai suami dan ayah: menjalankan perintah agama, mencari nafkah, sayang keluarga, bergaul seperlunya, tanpa harus kita dikte.
Gue yakin kalau udah nikah bakalan lupa deh sama visi misi dan goals pernikahan yang ditulis berlembar-lembar dan agak ketinggian itu, yang tersisa hanyalah menjalankan kehidupan pernikahan secara spontan aja dan menikmati hal kecil sekecil grocery shopping dengan pasangan.
By the way, itu fakta sih gue nulis di google docs 10 halaman visi misi dan goals tentang membangun pernikahan yang bahagia. Ya, realita membuat gue jadi menuliskan banyak teori dan melakukan seleksi yang ketat.
Kebaperan yang ketiga, bahkan ada yang kirim sweet message bahwa dia gak sabar liat gue bahagia dengan si "dia” yang entah masih ada di mana. Baca message-nya seolah-olah dia yakin kalau gue bakal ketemu sama si “dia” secepatnya gitu hahaha. Kadang sedih juga karena orang lain aja yakin gue akan ketemu si dia suatu saat nanti, masa diri sendiri ragu?
Dengan adanya blog ini diharapkan orang-orang di luar sana, khususnya perempuan, tau sisi lain sebuah proses pencarian tulang rusuk. Agar gue dan kalian lebih mawas diri bahwa orang dengan niat baik seperti melamar atau sekedar sudah mengenal orang tua pun tidak menjamin bahwa hubungan tersebut sampai ke pelaminan.
Yang gue pelajari dari proses ini adalah, ada ekspektasi yang terpaksa harus diturunkan. Doa yang harus lebih banyak dipanjatkan. Ikhtiar yang harus lebih diusahakan. Memperbaiki diri yang harus lebih diseriuskan. Keyakinan yang harus lebih tingkatkan.
Favorite quote kalau lagi putus asa, “Yakinlah ada sesuatu yang menantimu selepas banyak kesabaran yang kau jalani yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa pedihnya rasa sakit.”