Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?”
Allah menantang kita. Siapa yang mampu menjadikan air mengalir jika sumber air kering? Ini pertanyaan retoris, yang tentu saja jawabannya Allah.
Air. Satu aspek ini saja yang Allah matikan, habislah riwayat kehidupan manusia. Manusia mutlak membutuhkan air. Dan melalui satu surat saja, Al Mulk ayat 30, Allah menunjukkan Kemahakuasaannya. Allah ingin memperlihatkan pada kita bahwa kita tak bisa sombong sama sekali.
Kita ini nol. Zero. Tidak ada apa-apanya kecuali dengan pertolongan Allah. Manusia berhasil masuk surga pun bukan karena banyaknya amal, tetapi karena rahmat dari Allah. Salah satu yang membuktikan bahwa kita ini zero adalah seringnya kita berdoa.
Jika kita masih jarang berdoa, berarti kita masih merasa ada, belum menjadi zero. Kita masih mengandalkan eksistensi diri. Bahwa kita bisa melakukan sesuatu. Bahwa kita bisa mengonsep hal baru. Bahwa kita bisa memikirkan hal lain, tanpa pertolongan Allah. Jika begini, kita masih bersandar pada diri sendiri.
Rasulullah berdoa saat tali sandalnya putus. Musa a.s. berdoa saat lalat hinggap di hidungnya. Para rasul Allah tersebut benar-benar melibatkan Allah dalam setiap urusan mereka, sekecil apa pun. Mereka tahu, meski hal tersebut kelihatan kecil, jika Allah tak ridha, maka perbuatan itu mustahil terjadi.
Doa bukanlah penutup ikhtiar. Bukan dilakukan setelah kita berpeluh, ke sana-ke mari atau berikhtiar segala rupa. Doa melekat dengan setiap aktivitas kita: di awal, tengah, dan akhir. Ia membersamai hidup kita. Boleh dibilang, kita bernapas pun sambil berdoa, saking tak terpisahkannya kita dari doa.
Renungkan doa dalam shalat dhuha yang sehari-hari kita baca: Allahumma innadh dhuhaa a dhuhaa uka.. Ya Allah, sesungguhnya dhuha ini adalah dhuha-Mu. Perhatikan: “dhuha-Mu”. Maka “dhuha-Mu” melingkupi semua hal yang ada di dalamnya: atmosfernya, langitnya, suasananya, pohonnya, mobilnya, doa yang dipanjatkan di dalamnya, semuanya. Ini dhuhanya Allah. Maka, jika lisan kita hafal sekali merapal doa ini saban dhuha, kita sadar bahwa kita dan seluruh alam semesta ini berada dalam genggamannya Allah.
Pribadi yang zero, yang menyandarkan dirinya hanya kepada Allah, bukan berarti pesimis dan minder. Justru, pribadi ini adalah mereka yang percaya bahwa kemustahilan itu tiada jika kita selalu “berjalan” bersama Allah.