Suatu hari, ketika sedang scroll instagram, aku menemukan sebuah postingan seseorang. Beliau membuat thread di twitter bahwa suaminya resign dan menjadi ayah rumah tangga. Beliau bercerita bahwa sejak kecil ia tahu apa yang dimau dan diberikan kebebasan untuk memilih sehingga sejak kecil. Sejak SMP Beliau ingin menjadi wartawan sehingga ia dapat menentukan langkah-langkah untuk mencapai cita-citanya tersebut SMA masuk IPS, kuliah masuk jurusan jurnalistik. Berbeda dengan suaminya yang cenderung menurut kepada orangtua, SMA harus masuk IPA kuliah harus jurusan teknik. Kehidupan pun berjalan baik karena gaji engineer yang cukup besar. Namun suaminya berakhir burnout bahkan mendapatkan pertolongan psikologis.
Setelah membaca postingan itu, aku banyak belajar, tentang hubungan keluarga yang saling mendukung, bagaimana sebagai istri terus mendukung suami menjalani masa sulit bahkan harus keluar dari pekerjaannya. Dan yang paling penting adalah kesadaran diri, sebuah kompetensi yang sering sekali di bahas di kelas sosioemosi.
Cerita tersebut menunjukkan kepada kita bagaimana kesadaran diri memegang kunci kehidupan kita. Ketika kita kita memiliki kesadaran diri, kita dapat menjalani kehidupan dewasa dengan baik secara mental atau psikis. Namun, bagi beberapa orang mungkin kesulitan menemukan kesadaran diri atau bahkan menemukan kesadaran diri di usia dewasa. Padahal pencarian jati diri atau identitas diri adalah tugas perkembangan saat remaja. Tetapi, kembali lagi, banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan remaja, mulai dari keluarga (pola asuh orangtua, dukungan keluarga), lingkungan sosial baik sekolah, tempat tinggal maupun pertemanan. Jadi, bukan berarti orang yang belum menemukan kesadaran diri itu tidak berhasil, namun sungguh beruntung orang-orang yang telah menemukannya sejak remaja.
Kesadaran ini penting, kenapa?
Menurut, Tasha Eurich, seorang psikolog PIO, terdapat empat arketipe/karakter kesadaran diri salah satunya adalah “aware”. Karakter “aware” terjadi ketika kita memiliki kesadaran diri internal yang tinggi (mampu memahami diri sendiri dengan baik) dan kesadaran diri eksternal yang tinggi (mampu memahami bagaimana orang lain melihat diri kita). Ketika kita memiliki karakter “aware” yaitu kita tahu siapa kita, tahu apa yang kita inginkan, dan mencari tahu bagaimana opini orang lain mengenai diri kita. Ketika kita menyadari ini semua kita dapat mencapai “Flow”.
"Flow" terjadi ketika kita fokus, memusatkan perhatian pada sesuatu untuk mencapai tujuan tanpa merasa di bawah tekanan. Pernahkah kita melihat seseorang yang begitu menikmati pekerjaannya? atau pernahkah kita merasa begitu fokus asyik mengerjakan sesuatu hingga lupa waktu bahkan merasa tidak lapar? saat-saat itu lah yang disebut dengan "Flow".
Csikszentmihalyi, seorang psikolog hungaria, mengemukakan konsep "Flow" yang mana seseorang dapat mencapai kondisi "Flow" ketika ia mengerjakan sesuatu yang tingkat "tantangannya" sesuai dengan skill atau kemampuan yang dimiliki. Ketika seseorang memiliki skill yang tinggi namun kurang menantang maka ia akan merasa bosan dan ketika seseorang memiliki tantangan yang tinggi namun skillnya rendah ia akan merasa cemas. Namun ketika seseorang dapat menyeimbangkan tantangan dan skill yang dia miliki ia akan mencapai "flow" dan mengerjakan segala sesuatu dengan perasaan senang. Bagaimana kita bisa menyeimbangkan tantangan dan skill yang kita miliki? Kesadaran diri adalah jawabannya. Melalui kesadaran diri kita akan mampu memahami diri kita, emosi kita, apa yang kita inginkan dan seberapa jauh kemampuan kita untuk mencapai keinginan kita.
Menurut John Mayer, seorang psikolog yang pertama kali mempelajari kecerdasan emosi, menggunakan istilah meta-mood, bagaimana kita menyadari mood kita dan pikiran kita di balik mood yang kita rasakan. Filosofis sekali yaaa, Daniel goleman mendefinisikan kesadaran diri dengan lebih singkat yaitu kemampuan untuk membaca dan memahami emosi diri sendiri dan mengetahui dampak emosi kita tersebut kepada orang lain. Singkatnya kesadaran diri adalah memahami apa yang kita rasakan dan mengapa kita merasakan perasaan itu.
Goleman mengungkapkan kesadaran diri merupakan komponen pertama dari kecerdasan emosi yang terdiri dari tiga kompetensi yaitu pertama, kemampuan me-rekognisi emosi atau perasaan diri sendiri dan dampaknya terhadap orang lain, kedua, menyadari kekuatan dan kelemahan diri, belajar dari kesalahan dan mengetahui bagaimana meningkatkan kemampuan, dan ketiga, kepercayaan diri. Kesadaran diri menjadi komponen dasar yang berpengaruh terhadap komponen kecerdasan emosi lainnya seperti manajemen diri (cara mengontrol emosi diri, memiliki sifat dapat dipercaya, berhati-hati, disiplin, bertanggung jawab, adaptif, terbuka dengan hal-hal baru), kesadaran sosial (empati, kemampuan untuk memahami orang lain ) dan manajemen hubungan (komunikasi, manajemen konflik, membangun bonding, teamwork, dsb).
Bagaimana menumbuhkan kesadaran diri?
Kesadaran diri dapat ditumbuhkan dengan satu cara yaitu dialog. Dialog atau refleksi baik dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. Dengan refleksi, kita memberikan otak kita untuk berhenti sejenak dari segala kekacauan, kemudian menguraikan satu per satu pengalaman-pengalaman yang ada, mempertimbangkan berbagai interpretasi dan kemudian menemukan pemaknaan.
Selain dengan diri sendiri, refleksi juga dapat dilakukan dengan berdialog dengan orang lain seperti dengan anggota keluarga, teman, rekan kerja, sahabat ataupun orang lain yang kita percaya. Melalui dialog dengan orang lain, membuat kita dapat melihat perspektif orang lain mengenai diri kita untuk lebih memahami diri kita sendiri. Kita dapat menilai kelemahan dan kekuatan kita dan mengkonfirmasi bias yang mungkin muncul. Misalnya, ketika kita memandang negatif diri kita, dengan melihat sudut pandang orang lain, kita menyadari bahwa orang lain melihat diri kita dengan positif sehingga sedikit demi sedikit membuat kita berpikir positif tentang diri kita juga. Atau sebaliknya, ketika kita memandang dengan positif diri kita sendiri kemudian kita mendapatkan komentar dari orang lain, hal ini dapat menjadi masukan positif untuk diri kita menjadi lebih baik.
Kesadaran diri dan Fenomena saat ini
Saat ini dunia semakin tidak baik-baik saja. Beberapa waktu hari terakhir ini, kita menyaksikan berita-berita yang mana humanity seakan-akan semakin memudar. Tragedi kanjuruhan, Tragedi halloween di Itaewon, seorang ayah yang tega membunuh anak dan istrinya, seorang anak yang tega meracuni orangtua dan saudara-saudaranya, atasan yang dengan mudah mengambil nyawa bawahannya dan sebagainya. Seakan-akan nyawa sudah tidak ada lagi harganya. Apa yang salah dengan dunia ini? Apa yang salah dengan manusia-manusia ini? Satu benang merah yang dapat ditarik dari berita-berita di atas adalah empati.
Empati erat kaitannya dengan kesadaran diri. Apabila melihat framework kecerdasan emosi Daniel Goleman, Empati merupakan kemampuan kesadaran sosial yang dapat capai ketika kita telah memiliki kesadaran diri dan manajemen diri. Goleman mengungkapkan bahwa empati membutuhkan kesadaran diri, pemahaman kita mengenai perasaan orang lain hadir dari kesadaran kita akan perasaan kita sendiri. Kita akan mampu memahami perasaan orang lain ketika kita mampu memahami perasaan diri kita sendiri. Beberapa penelitian telah menunjukkan hubungan kesadaran diri dan perilaku agresi. Penelitian Scheier dkk, melalui eksperimennya, menunjukkan kesadaran diri dapat menghambat perilaku agresi ketika individu memandang agresi sebagai perilaku yang tidak pantas. Penelitian Mohammadiarya, dkk, juga menunjukkan pelatihan kesadaran diri dapat menurunkan tingkat agresi pada remaja.
Jadi, penting untuk memiliki kesadaran diri agar kita dapat berempati kepada orang lain. Dengan memahami apa yang kita rasakan dan kelebihan/kekurangan (self awareness, kita akan mampu mengelola diri kita sendiri (self-management), ketika kita telah mampu mengelola diri sendiri, kita akan dapat berempati kepada orang lain (social awareness) dan kemudian menjalin hubungan atau teamwork dengan orang lain (relationship awareness).
Bagaimana dengan diriku? sebuah refleksi
FYI, kesadaran diri ini banyak dibahas saat kelas sosioemosi. Setelah mengikuti kelas tersebut, aku semakin yakin bahwa kecerdasan emosi itu lebih penting daripada IQ. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di atas, semakin menyakinkanku bahwa sangat penting kita memiliki kesadaran diri, mengetahui emosi kita, mengenal diri kita, memahami apa yang kita inginkan.
Kesadaran diri ini penting terutama untuk mengelola emosi. Sebelum belajar tenang kesadaran diri aku merasa belum bisa mengontrol emosi, segala, marah, sedih, kecewa dikeluarkan dengan cara yang kurang baik... hehehe
Namun, setelah belajar tentang kesadaran diri, aku makin banyak merenung, merefleksikan diriku sendiri. Apa yang aku sebenarnya aku inginkan? Apa yang membuatku selalu merasa tertinggal? Apa yang membuatku selalu membandingkan pencapaianku dengan orang lain? Apa yang membuat diriku seakan-akan tidak puas dengan kehidupanku sendiri?
Dari kesadaran diri inilah, aku jadi sadar, kebahagiaan itu datang dari diri sendiri. Kalo kita udah punya kesadaran diri, kita akan fokus pada diri kita sendiri dan menemukan kebahagiaan atau paling tidak rasa nyaman dalam diri kita dan berhenti membandingkan diri kita dengan orang lain.
Ya, namun lagi-lagi aku juga merasa belum sampai ke tahap “aware”, sampai sekarang masih masih sering iri dengan orang lain, masih membandingkan kehidupan sendiri sama orang lain, ga tahu mau kemana dan ngapain huft. Tapi setidaknya dengan belajar kesadaran diri, aku bisa lebih mengenal diri sendiri dengan melakukan refleksi. Mari kita berproses bersama dan bertumbuh untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Huft, untuk pertama kali tulisannya bukan tulisan curhat. Ya lebih berbobot dikit lah yaa wkwkwk
Semoga bermanfaat. Tulisan ini spesial untuk kelas sosioemosi. Terima kasih Ibu Dosen, Bu Novi, telah menyadarkan saya pentingnya kesadaran diri. Materinya sih cuma satu semester tapi Ilmunya kebawa sampai sepannjang rentang hidup.
Csikszentmihalyi, M. (n.d.). The Conditions of Flow . In Flow : The Psychology of Optimal Experience (pp. 71–77). HyperCollins e-books.
Eurich, T. (2019). What Self-Awareness Really Is (an How to Cultivate It).
Goleman, D. (2001). An EI-Bases Theory Of Performance. In C. Cherniss & D. Goleman (Eds.), The Emotionally Intelligent Workplace (pp. 27–44). Jossey-Bass.
Mohammaediarya, et.al. 2012. The effect of training self awareness and anger management on aggression level in Iranian middle school students. Procedia. 46. 987-991
Scheier, Michael F., Fenigstein Allan., Buss, Arnold H. 1974. Self Awareness and Physical Aggression. Journal of experimental social psychology. 10. 264-273