Sejatinya Tak Sebegininya
Sudah semestinya keringatku dan tangisku kelak mengkristal menjadi kebahagiaanku di masa depan, tapi makin kesini aku makin tak percaya itu.
Makin gelap, usang, dan menyakitkan jalan ini. Akan sangat baik bila aku bisa kembali dan tak tercemooh, tapi sudah tak mungkin. Yang sangat dekat kini telah diubah waktu menjadi yang paling menyakitkan dan melelahkan.
Sejujurnya aku sering bertanya kepada tuhan “ya tuhan, diluar sana tidak kurang banyak begundal yang bisa kau uji ataupun adzab, tapi kenapa aku? Aku yang seberat ini? Salahku tak sebesar mereka ya tuhan!
Kalo ada yang bilang hidup tentang menanam dan memetik hasilnya kelak, mungkin kebunku sedang dilanda badai. Tinggal bibit dan harapan berenang bersama mengikuti arus banjir itu, aku hanya bisa duduk berusaha mengikhlaskan.
Mungkin aku tak sendiri,
Manusia yang sudah lelah berharap, Manusia yang bosan melihat ujian datang per harinya tanpa alasan yang konkrit, dan Manusia yang sejujurnya sudah lelah hidup.
Sangat menyayat dan melelahkan sumpah, Aku cuman ingin ini semua normal, merasakan rotasi masalah yang normal, aku tak menolak kodrat datangnya ujian kepada manusia, tapi kenapa seberat ini?
Riyan Terlelah :)













