Too young to be rushing things, too old to be wasting time.
todays bird
Sweet Seals For You, Always
Three Goblin Art
EXPECTATIONS
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Misplaced Lens Cap

@theartofmadeline
Cosimo Galluzzi

#extradirty
No title available
official daine visual archive

Origami Around
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Not today Justin

oozey mess
YOU ARE THE REASON
Sade Olutola
macklin celebrini has autism
cherry valley forever
seen from Pakistan
seen from Pakistan
seen from Tunisia

seen from United States

seen from Russia

seen from Türkiye
seen from Singapore
seen from United States
seen from Malaysia

seen from Austria

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Greece

seen from Türkiye
@goldsnafuuuu
Too young to be rushing things, too old to be wasting time.
Biarkan mereka melihat riaknya, tapi jangan biarkan mereka tahu seberapa dalam dasarnya.
Dunia mungkin melabelimu dingin, atau barangkali acuh tak acuh. Mereka tidak tahu bahwa di balik diam itu, isinya terlalu riuh untuk sekadar dibicarakan. Terkadang, kata-kata justru menyempitkan luasnya perasaan; ia seperti mencoba memindahkan samudera ke dalam sebuah gelas.
Dengan membiarkan orang lain menerka, kita sedang mengakui satu hal: ada bagian dari jiwa manusia yang memang tidak ditakdirkan untuk diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun.
biarkan mereka menerka. biarkan mereka tersesat dalam keheninganmu.
berlari sampai mana pun, kalau tujuannya tiada harus patah kemana?
“sebenarnya yang rapuh bukan lah rasa, tapi lebih kepada minda.”
mulai lah bulan baru, tarikh baru, tahun baru, kehidupan yang ku sangka akan melangkah setahun kedepan lagi bersama kamu nyatanya cuma mimpi buruk yang merubah sisi hidup ku 360 darjah. kononya kehidupan ku bakalan baik baik saja, tanpa kamu aku juga bisa lewati hari hari biasa.
sebulan, masih terasa biasa. jalan rumah ku yang dulu tidak lagi aku lalui laluan itu. aku hanya bisa melewati hari dengan melihat iras manusia seperti dimana mana, dan terkadang bau perfum mu juga pernah lewat dimana mana. aku masih jelas biasa saja. tapi masuk akhir akhir ini sudah setahun kehidupan menghambat ku dengan ketiadaan mu. terasa asing sekali, tapi nyamannya aku nikmati hidup dengan bebas . tapi nyatanya sebebas apa pun itu akhirnya aku lupa kemana rumah harus ku pulang dan kembali.
begini rasa rasanya merasai kehidupan yang senyap. tiada halah tuju cuma boleh merasa hobi baruku yang tidak bersama mu dulu. pulang pagi keluar malam, malam seperti burung hantu tak tidur dan pagi melewati hari yang sunyi.
aku tak rindu. cuma kalau kita masih bersama pasti masih bahagia kan?
Being Muslim Is Everything. It builds your character, soul, mindset, morals, manners, values, visions and priorities. You will never be lost if you put Allah and your faith first. When you start to grow closer to Allah and Islam, you start to grow out of old habits that made you attached to this dunya. You start to have a different mindset, you remember this world is nothing but a test from Allah. Time becomes precious and haram (forbidden) things no longer interest you.
Untuk bisa benar-benar memahami makna "laa hawla wa laa quwwata", seringkali manusia harus ngalamin "udah ga bisa ngapa-ngapain lagi, udah mentog, udah buntu dan ngga ada jalan lagi". Semua itu agar kita paham bahwa bukan kita, manusia yang jago, bukan kita yang hebat, bukan saya yang cerdas, bukan saya yang punya kendali. Tapi Allah yang punya Kuasa.
(Fadhillah taujih ustadz Muhammad Nuzul Dzikri)
sejauh mana lagi untuk berlari?
sejauh mana lagi untuk bertahan?
tidurnya kurang, tapi punya banyak mimpi.
sakit nya selalu, tapi rokok nya sudah habis berbatang.
yang macam mana lagi untuk tenang?
padahal sudah terlalu banyak hal yang kau langgar.
sejauh macam apa lagi untuk kau tenang?
padahal kau sudah jauh berjalan.
tidak pasti apa persimpangan itu ku capai. yang pasti umur 28 tidak berganjak. impian cuma impian, walau mimpi nya sudah terlalu banyak. khabarnya juga hilang, seolah-olah tiada jejak ditinggal. namanya siapa? nombor nya juga sudah tiada. pencariannya tamat, cuma memori berkekalan. sha tidak mudah, impian mu semakin hari semakin kabur. jiwamu meronta untuk pergi, kau masih bertahan kononnya masih kuat kekal. sudah usaha, sudah cuba, sudah sedaya upaya. jadi perlu apa lagi? pergilah dengan tenang.
tenang,tapi tidak damai.
Kamu itu butuh rehat, rehat yang cukup.
Rehat yang kau rasakan sepi, sunyi dan paling dalam hanya inginkan hembusan angin ke muka dengan tenang. Kamu perlu rehat bukan untuk muncul dikemudian hari dengan wajah yang gembira, bukan datang dengan tawa bodoh yang lalaikan manusia sekeliling melihat kau ceria, tapi kali ini rehat kau terdiamkan. Hal hal gembira menjadi suram, yang dulu tawa riang hanya riuh nangis yang dalam, para hati hati meronta inginkan kau bangun dari istirehat sejenak itu, yang mana dulu ada kemudian hilang datang kembali dengan penyesalan, yang mana dulu ada sedikit benci kini tiba tiba ada rasa simpati.
Ya, ini rehat si mati. Mati yang dia binakan untuk binasakan hidupnya dengan sempit hidupan yang tak pernah ada bertitik noktah. Dan kalau pun mereka bertanya, sekecewa apa si mati? aku hanya diam kan istirehatku yang tenang ini, pasti tiada lagi persoalan dan jawapan, tiada lagi kerisauan dan kesakitan, tiada lagi beban dan tanggungan, hanya si mati yang diam.
bukan hanya pada mati nyawa, tapi dia juga sudah mati rasa.
- Sha, apa kau baik baik saja di tahun baru tanpa cinta lalumu? apa kau sedang usaha uruskan hal hal hidup yang baru? atau kau juga lupa yang dunia keras ini butuh satu yang menyenangkan jiwa yang berat? atau kau hanya lalui dengan tikaman tikaman manusia yang dulu nya kau anggap jiwa?
- Sha. jiwamu sudah tiada, kau sudah berusaha, jadi sejauh mana kau perlu lalui lagi? jiwa mu sudah tiada tapi apa kau perlu beri jiwa mu rehat yang lama?
30/june - sha
Semoga bahagiaku tidak pernah menyakiti hati siapapun dan bahagia mereka jangan sampai meninggalkan rasa iri dalam diriku :)
dan sial, redup cuaca seperti redupnya hati. membungkar segala hajat yang dulu kita perjuangkan. aku tidak sama skali menyalahkan takdir, dan seharusnya persoalan kenapa itu hanya perlu didiamkan dan berdamai pada takdir. yang jahatnya aku, biarkan itu jadi personal mu. apa yang kau fikirkan sebenarnya tidak perlu ku tahu pun. dan semoga kalau berjumpa di jalan, kita tidak menganggap itu lah beban. semoga kalau kau bertemu jalan mu pulang kau kembali tenang. dan semoga kalau kau jumpa rumah yang kau idamkan, kau lupakan apa yang kita pernah bangunkan. semoga ya, sejahtera hidup mu tanpa aku perlu jelaskan.
I'm sorry if I'm difficult to deal with. I don't know how to deal with myself either.
— Clementine Von Radics, from In A Dream You Saw A Way To Survive; "The Fear" (via lunamonchtuna)
Pulang, bagi sebagian orang, adalah rumah. Bagi sebagian lainnya, ia cuma kata—terdengar manis, tapi terasa jauh.
Ada yang pulang ke tempat yang penuh, dan merasa lengkap.
Ada pula yang pulang, tapi justru makin sepi.
Karena ternyata, yang kita cari dari pulang bukan sekadar pintu dan tembok,
melainkan rasa: diterima, cukup, dan tidak sia-sia.
Semakin dewasa, semakin asing kata itu di telinga, ya?
Rumah masa kecil perlahan jadi museum kenangan—penuh bingkai, tapi tak lagi hidup.
Sementara rumah hari ini kadang hanya tempat singgah,
tempat tubuh tidur tapi hati tak betah diam.
Kita berpindah—dari satu kota ke kota lain,
dari satu pelukan ke pelukan lain,
menenteng rindu yang tidak tahu entah di mana.
Berharap ada yang terasa seperti rumah,
tapi nyatanya ... yang kita temui hanya ruang-ruang asing
yang tak mengerti bahasa tangis.
Mungkin karena kita lupa,
pulang tak selalu soal ke mana kaki kembali,
tapi .... siapa yang membuat dada tenang.
Kadang ia berupa suara Ibu dari pawon—
menggoreng tempe, sambil bersenandung sajak yang tak selesai.
Kadang ia datang sebagai aroma tanah selepas hujan,
atau ucapan sederhana dari seorang teman lama,
yang cuma bilang, “Nggak apa-apa, kamu capek ya?”
Dan kadang, pulang bukan tentang kembali,
tapi tentang berhenti sebentar dari berlari.
Membiarkan diri duduk di kursi paling sunyi,
menyeduh lelah, dan berkata pelan:
“Aku ingin diam dulu. Tanpa perlu menjelaskan apa-apa.”
Karena lelah kita sering datang bukan dari dunia,
tapi dari upaya keras menjadi kuat di depan orang-orang
yang tak pernah benar-benar mendengarkan.
Maka dari semua perjalanan,
yang paling senyap adalah perjalanan pulang ke dalam diri sendiri.
Ke ruang yang tak menghakimi,
tempat di mana kita boleh menangis tanpa takut ditinggal,
boleh salah tanpa harus sembunyi.
Sebab pada akhirnya, rasa pulang adalah tentang damai.
Tentang bernapas tanpa rasa bersalah.
Tentang tahu, meski tak ada yang menunggu di ujung jalan,
kita masih bisa menyambut diri sendiri,
dan berkata:
“Alhamdulillaah 'ala kulli haal.”
Sampai kapan manusia harus selalu merasa kehilangan terlebih dahulu agar bisa menyadari betapa berharganya sesuatu yang ia miliki?
dan kadang pun menyadari nya adalah satu hal yang lambat, kadang memikirkan hal itu seawal nya pun tidak mudah.
Sampai kapan manusia harus selalu merasa kehilangan terlebih dahulu agar bisa menyadari betapa berharganya sesuatu yang ia miliki?