Pernah gak kamu liat orang lagi jalan, terus kamu tau kalau jalan yang dia lalui itu berbahaya dan bukan jalan yang benar.
Kamu coba manggil dia, tapi dia gak denger. Kamu panggil lebih kenceng, tapi dia tetep gak denger dan malah semakin menjauh.
Sebenernya kamu bisa aja biarin dia terus jalan, semakin jauh. Toh juga kemaslahatannya kembali ke dia, bukan kamu.
Tapi karena kamu peduli. Ya, karena kamu peduli, kamu tetep manggil dia. Kamu gak pengen dia semakin jauh, makin gak denger panggilan kamu, dan tersesat semakin jauh. Akhirnya kamu pikirin berbagai cara agar dia noleh dan dateng ke kamu.
Muncul lah ide untuk melempar batu ke arahnya. Ya. Sesuai dugaan dan harapan, dia menoleh setelah terkena batu yang kamu lempar. Meski bersungut-sungut, dia datang kepadamu.
Setelah kamu menjelaskan kepadanya bahwa jalan yang ia lalui salah, ia baru menyadari bahwa sedari tadi kamu sudah memanggilnya dengan baik-baik. Lalu memanggilnya lagi dengan lebih keras, tapi dia tetap tidak mendengar.
Sampai akhirnya dia harus dilempar batu terlebih dahulu, baru menoleh dan datang menghampiri.
Sampai sini, cerita ini hanya fiktif. Ini hanya gambaran dari kasih sayang Allah yang mempedulikan hamba-Nya ketika mulai menjauh.
Dan mungkin, bisa jadi hamba itu adalah kita.
Tanpa sadar, tanpa terasa, kita lalai dan mengabaikan panggilan dari-Nya, sehingga semakin menjauh. Semakin menuju jalan yang salah.
Namun karena Allah itu Maha Peduli, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Baik dan Maha Segala;
IA tidak tinggal diam. Berbagai cara Allah lakukan agar hamba-Nya tersadar dan kembali ke jalan yang benar.
Meskipun harus membuat hamba-Nya sakit terlebih dahulu dengan melemparinya batu, misalnya. Karena hanya dengan cara itu si hamba baru mau menoleh.
Baru mau tersadar kalau salah, dan akhirnya kembali menuju-Nya.
Berapa banyak dari kita yang harus menunggu di lempari batu dulu baru mau datang kepada-Nya?
Bukan tanpa alasan Allah memberi kita cobaan ini-itu. Tidak lain hanya agar kita ingat dan kembali taat.