menikah pada perjuangan, bekerja pada perjuangan.
Melarat lebih lama. Melajang lebih langgeng.
Terdengar bak vonis menakutkan, yah? :’)
Nah. Namun bagaimana jika itu pilihan? Ralat, bukan pilihan. Namun, bagaimana jikalau itu konsekuensi dari pilihan yang ditempuh?
Sudah saatnya saya mengutarakan ini. Concern yang berjumpalitan dalam diri. Bermula dari obrolan perjalanan sepulang pernikahan kenalan baik kami.
Alkisah, teman duduk samping saya sama lajangnya. Tukang mikir, sama kayak saya. Seorang pengamat pula. Perempuan. Lebih tua (serta dewasa, tentu).
Kami kemudian berbincang mengenai beberapa sejoli halal. Kemudian, saya agak menyayangkan semangat sejoli memajukan umat yang kunjung kendor usai menikah. Seolah-olah, ada keterpisahan antara rumah tangga dan perjuangan.
Kekecewaan yang tak baik sebenarnya. Saya tak berhak menghakimi. Semua orang punya pilihan dan prosesnya tersendiri, toh? Kamu picik, Tris. Saya balas hakimi diri.
Namun jika terjadi dengan diri, rasanya tak sudi betul.
Takut.
Bagaimana nasib umat jikalau saya dan suami sibuk sendiri? Membentuk istana idaman sendiri, menunjukkan kemesraan serta gembal-gembil pipi anak yang jatuh secara nggemesin?
Mesra, mantap, dan penuh gaya memang. Lolos sudah kami berdua dari bulian jomblo ngenes.
Namun, sudah merasa aman dan fulfilled wahai Tristi dan tuannya? Sekitarmu itu– telah terjamahkan dengan peluh juangmu?
Teringat akan diri yang pernah me-retweet status twitter Faisal Basri, hampir tiga tahun yang lalu.
Maka di tengah-tengah percakapan, aku berujar lugu “Aku inginnya menikahi perjuangan, Teh! Seperti anaknya Cut Nyak Dien!” Kemudian si Teteh tampak geli mendengar pernyataan si Dedek.
Namun, di satu sisi, gravitasi hampir membuat perspektifku terpental pula.
Dari zaman SMA hingga kini, kayaknya lelucon jomblo-sial, kapan-nikah, dan model-model begitu– betah banget berseliweran. Terutama di kalangan-kalangan tertentu yang kutemui. Pecah banget, ya, lelucon jenis itu.
Awalnya diri ini cuek saja. Got to mind my own bussiness. Got to keep toughly going. Namun selepas lulus, lama-lama diri ini bertanya pada diri juga.
Terlebih, kanan-kiri obrolan soal jodoh kian kencang bersamaan dengan dagelan laris itu. Belum lagi sejumlah rekan berkabar jika akan melepas masa lajang. Wah.
Jadi bertanya-tanya. Apakah benar, keberhargaan dihitung dari bersanding dengan seseorang?
Sekip soal pernikahan. Dilema ihwal karir pun kami utarakan. Si Teteh bercerita tentang kawan-kawannya yang sudah mentereng bekerja di beberapa korporasi.
Beberapa semakin sibuk tersedot dalam karir. Beberapa terkesan kian membentuk pulau-pulau kesibukan sendiri.
Kemudian teringat pula kisah seseorang yang diriwayatkan teman yang lain.
Dulunya ketika mahasiswa, dikenal sebagai pejuang ekonomi syari’ah. Eh ndatau-nya, kini malah kerja di bank konvensional. Gajinya memang waw-gitu-deh.
“Yaa, mungkin belajar dulu,” ujarnya mengingatkan agar ber-huznuzhon.
Kemudian, suka dengar-dengar kisah mereka yang capek, merasa energi terkuras dengan pekerjaan. Penghasilan oke. Tapi pekerjaan hanya dijadikan sebagai ‘sarana dapet duit. sudah saja’.
Bos marah, ya stres. Deadline berkelindan, ya dianggap musibah. Lantas, apa yang dapat dimaknai dari pekerjaan kita, jikalau mindset sudah begitu?
Bekerja di bidang yang kita banget, tapi nggak standar-kebanyakan-orang-banget– bisa bikin diri ini merasa ganjil.
Ketika kenalan Mama-Papa bertanya, “Sekarang kerja dimana?”; sempat bingung lisan ini menjawab apa.
Ya, saya berkegiatan di Masjid Salman ITB, di bagian kehumasannya. Dibayar pula, alhamdulillah. Namun, tentu bayaran dan gengsinya tak seberapa dibanding bekerja di perusahaan swasta lain.
Percaya atau tidak, terkadang rasanya ‘agak malu’ ketika bilang ‘Sekarang kerja di Masjid’.
Berkali-kali saya bertanya pada diri. Karir, jodoh. Patutkah manusia dialihkan fokusnya pada dua jenis kebingungan ini?