Opsi untuk tidak dicintai dan mencintai
Halo, lama tak bersua. Saya baru selesai main game barusan. Mobile legends, ambil opsi role marksman atau hero dengan serangan jarak jauh.
Aturan main aslinya, kalau sudah ada yang pick satu jenis hero harusnya tim lain ambil hero jenis lain. Tapi apa daya bukannya supportif saya malah dapat rekan yang main dengan hero jenis yang sama dengan saya.
Akhirnya permainan dimulai, support yang harusnya menjaga saya dari awal pertandingan malah memilih melindungi rekan yang ambil jenis hero yang sama dengan saya tadi.
Jumlah kill kami sama, tapi terus menerus teman satu tim saya tak memperdulikan atau enggan membantu posisi saya agar tidak terbunuh oleh lawan. Sederhananya saya dan rekan yang ambil jenis hero dengan saya punya skill yang sama, bedanya satu dapat privilege berupa perlindungan dari rekan yang lain sedangkan saya tidak.
Saat melihat pertandingan barusan saya merefleksikan banyak hal yang akhir akhir ini saya alami. Akhir-akhir ini saya merasa sering terasingkan di lingkungan manapun. Padahal kerja saya giat, tugas saya penuhi dan hak kewajiban para staff saya tunaikan sebaik mungkin.
Namun tetap, perasaan terasingkan yang lumrah ini masih terus membuat saya terduduk lelah di dalam sepetak kamar saya yang gelap tiap malamnya.
Jangan salah sangka, saya tidak dimusuhi. Semua orang baik sama saya, (atau setidaknya itu yang saya duga) Mungkin diantara banyak hal yang kurang saya lakukan adalah berinteraksi dengan pegawai diluar jam kerja.
Ada banyak hal yang sering terjadi di saat pertengahan saya kerja. Banyak emosi yang belum tumpah dan sengaja saya tahan agar tidak berdampak ke orang-orang di sekitar saya. Belum lagi kondisi mess yang jadi satu tempat dengan kantor saya membuat saya ekstra berhati-hati dalam meluapkan emosi.
Ada banyak kekhawatiran bilamana saya meledak, Maka tempat bernaung sementara yang saya sebut 'shelter' ini kehilangan sifat amannya. Bisa jadi setelah ini saya dimusuhi, diusir atau bahkan ditolak lebih jauh.
Orang-orang terus berkata pada saya "Makanya ikut nongkrong mas setelah kerja."
Namun tiap kali teman teman kerja mengatakan nongkrong yang dimaksud tak lebih dari ngobrol lepas menggunakan bahasa daerah masing-masing yang membuat saya sendiri merasa makin terasingkan.
"gimana kalau belajar bahasa kami pak?"
muncul juga pertanyaan ini
gimana kalo saya yang adaptasi?
gimana kalo saya yang berusaha keras menyesuaikan diri?
gimana kalo harus saya saja yang memberi opsi ke orang lain untuk membuktikan bahwa diri saya pantas untuk dicintai?
Ada waktu-waktunya saya termotivasi untuk melakukan banyak hal agar orang mencintai saya. Hingga dalam satu waktu saya tak sadar sudah berapa lama saya mempertahankan tingkah laku seperti ini yang membuat saya menanggung luka yang tidak sedikit.
"Hopelessly to be loved" katanya...
Membuat diri saya seolah sangat mendamba cinta dari orang lain dan membuktikan bahwa ada yang salah dalam diri saya selama ini.
Ada yang tak terpenuhi..
Ada yang tak tuntas..
Ada yang ingin terisi namun tak pernah selesai...
Sama seperti di match yang saya sebutkan awal tadi, harusnya saya yang lebih merapat ke arah tim. Harusnya saya tegas minta perlindungan agar tidak kena kill lawan. Harusnya saya yang berusaha..
Tapi bila nantinya saya sudah berusaha terlalu keras, bagaimana bila semua usaha saya tak terbalas dengan cinta yang pantas?
Lantas kenapa cinta yang selalu saya cari datangnya terus dari orang lain?
Kenapa tak mencukupi tangki hati saya lewat cinta saya sendiri?
Dalam dunia yang tak berkecukupan oleh rasa kasih sayang, saya meyakini bahwa cinta yang penuh dimulai dari diri sendiri akan jadi suar hangat bagi mereka yang tak pernah terpenuhi rasa sayangnya.
Maka diantara banyak opsi, saya lebih memilih tak repot-repot dicintai dan mati-matian mencintai orang lain.
Karena banyak dari bagian jiwa yang saya miliki tak sekedar cukup diisi oleh orang lain, tak ayal saya harus memaksakan realitas kebahagiaan saya bergantung oleh dunia yang dimiliki oleh orang lain.
Karena seringkali tiap kali saya mulai mencinta, Tak sedikit jiwa ini meminta porsi setimpal dari bagian hati yang sudah setengah mati mengasihi.
Moga dalam dunia dimana di sela-sela bayangan gelap yang tercipta dari gemerlapnya kefanaan sementara ini, ada setitik cahaya hangat yang menerangi susah senangnya hidup para pejuang.
Yang tidak terus menerus harus mengubah-ubah diri untuk mendapat cinta yang setengah-setengah dari orang lain
















