Ditulis oleh @nonaabuabu & @aksamoksa
Melewati detik yang telah berlalu, ada aku yang tak mampu mengaku. Sebagian diri ingin kamu disini, melampaui teman juga kekasih. Namun aku yang lainnya adalah ilustrasi kesendirian, yang ketakutan menjadi hamba dalam tautan.
Apa yang kau takutkan? Apakah kita adalah sepasang perih yang memaksa untuk tidak pamrih? Ataukah mungkin kita adalah sepasang letih yang memaksa untuk tidak merintih? Harus berapa kali kuyakinkan kau, hatimu dan dirimu, bahwa ada aku yang akan selalu menjadi pipi dimana tubuhmu luruh, bahwa ada aku yang akan menjadi tenang ketika kau dikunjungi mimpi buruk.
Kau ingat aku yang kau temukan di sudut kota itu bukan? Bahkan sebelum hari itu telah banyak kenyataan yang aku telan. Aku tak lagi mampu bertumpu pada harapan. Adamu sekarang telah cukup tanpa perlu bicara masa depan. Aku takut hanya untuk sekedar berangan, kelak ternyata kau pergi, lalu aku akan kehilangan, diri sendiri.
Bukankah masing-masing dari kita punya masa lalu? Namun kita sendiri yang memilih tuk beranjak dan berkelana maju? Bersama, bukan tentang beradu siapa yang dulu paling terluka atau bahkan bukan tentang siapa yang paling lapang merela. Ini tentang kita, kita yang baru, dan selamanya kan terlihat baru. Jadi, maukah kau berlayar sekali lagi? Terjerat pada satu sama lain tanpa memikirkan hari kemarin?
Jika aku se-iya untuk se-layar, akankah kamu menjadikan aku layaknya sepasang? Yang tiada timpang dan tak pula merasa menang. Sebab aku curiga kepada masa depan, bahwa jika sayatan tak lagi membuatku menangis, namun menjadikan aku lebih bengis.
Tak ada yang bisa menyangkali takdir, waktupun tak mampu untuk sengaja melewatinya. Barangkali iya, sesekali jarak bikin rasa tertahan. Barangkali iya, banyak kali luka bikin rasa berlubang. Tapi tak ada yang bisa mengusir bayang-bayang yang selalu muncul di dinding pikiran.
Kadang, jodoh memang seringkali salah jalan sebelum sampai di depan pintu rumah. Kadang, bodoh mesti mengetuk harapan sebelum balik pada kesadaran. Hari ini, aku ingin kau dengar, sebelum kucium keningmu, sebelum sunyi jadi hening, sebelum cincin kupasang dijarimu, kau adalah salib yang jadi tabib untuk hidupkan hati yang pernah mati ditangan kenyataan. Aku tahu, dengan menerima cinta, aku menerima patah. Tapi tak apa, sebab jatuh cinta adalah tindakan berani. Mencintai adalah pekerjaan nurani. Mengasihi dengan segenap jiwa adalah penggenapan atas segala keterbatasan. Ini sabda, dari dada. Dari jantung yang pernah tiada. Aku mencintaimu, maka aku ada.
Masuklah, rumahku telah terbuka. Bawa aku kepada kenyataan lainnya. Bahwa berdua tak selalu tentang menyatukan dua kepala. Ia juga apa yang pernah tiada akhirnya tiba. Tapi maafkan jika, genggaman tanganku bersama curiga dan pelukanku dimulai tanya, sebab aku telah terbiasa berteman nalar. Saat ini, menjadi aku yang paling berani, ajari aku mencintai dengan nurani. Harus dirimu, maka aku mau. Karena adamu, maka aku mencintai.