Sabtu, 2 Januari 2016 bukan lagi hari yang biasa untukku. Berdiri diatas satu anak tangga di pintu rumah belakang, menghadap keselatan. Aku menerima kecupan dan pelukan terakhir dari Bapak sebelum kepergianya yang abadi.
“Belajar yang rajin ya Dek, jangan lupa sholat…’’
Adalah pesan terakhir Bapak, menyusul pesan-pesan dihari sebelumnya.
Aku mengantar Bapak sampai didepan pintu, melihat sampai kendaraan yg dinaiki tidak keliahatan lagi dari ujung gang rumah. Ada rasa sedih, kasian, kehilangan, hari itu. Meskipun aku sudah biasa ditinggal Bapak berangkat ke Jakarta untuk dinas harian, tapi lain kali itu.
Aku masuk kekamar, nangis sembari mengingat ingat pesan-pesan Bapak sebelumnya
“Masih kuat kan kuliah disana? Masih mau lanjut sekolah lagi kan? Bapak pinginya kamu sekolah lagi, orang tua pinginya anaknya sekolah sampai yg paling tinggi.. ”
Bapak memang orang yang selalu mengutamakan pendidikan anaknya. Aku ingat Bapak selalu bilang “Bahas Inggris itu nomor satu, buat kerja kalian besok Bahasa Inggris itu kunci” dan perkataan itu selalu aku dengar sejak SD. Setelah SMP ada lagi yang Bapak bilang “Mas hati-hati ya kalo sama kontraktor, kerja harus jujur. Sekarang banyak kontraktor nakal”. Itu ketika bilang ke Mas saat dia mulai kuliah.
Bapak selalu mendukung anak-anaknya, beliau nyuruh kami anak-anaknya untuk selalu ikut kursus. Bahkan sampai kita kuliah. Dari les renang, karate, les baca Qur’an, les bahasa, les lukis, les pelajaran. Apapun… kasarnya, anak-anaknya ga ikut gaul macam anak sebaya ngga papa asal anaknya ikut les ini itu. Maksud Bapak untuk memberkali kita. Bapak juga yang selalu nyuruh anak-anaknya ikut organisasi didalem atau luar kampus, oh ya dan nyuruh aktif sama kepemudaan dikampung… tapi, hanya Mas yg berhasil melaksanakan itu sementara Mbak dan aku cenderung introvert jadi picky bgt untuk masuk di org huhu (crying)
Merencanakan apapun jauh-jauh hari, disiplin, tertib, cerdas, teliti dan bertanggung jawab. Prinsipnya “Goal set as to be reach” terutama dalam karir, mangkanya dia nge force anaknya sedemikian rupa (ga force juga sih)
Sosoknya yang mandiri dan ngga mau repotin orang lain yang selalu bikin aku kemega-mega. Semua kebutuhan kami dipenuhi tanpa kami harus minta. Beberapa kali aku pernah mengecewakan Bapak. Mulai ngga mau datang les padahal udah dibayar, ngga masuk dijurusan yang diinginkan di univ tertua negri ini dan yg terakhir ngga mau kuliah padahal udah dibayar 1 semester full di salah satu univ swasta:’’) padahal maksud Bapak supaya bs paham managerial dan bisnis karena kuliah pokokku (dikampus yang sekarang) adalah semi teknik…
Banyak kesalahan yang aku lakukan, tapi Bapak ngga pernah marah. Sekali Bapak nasehatin ketika ada yang janggal.. “Kamu kan udah gede udah paham mana baik buruk benar salah, udah tau gimana caranya ambil keputusan.. salah benar kalian harus menanggung sendiri risikonya. Paham kan?’’
Tentang pelukan lain dari Bapak
Dulu setiap kali pulang ke Jogja, tiap malam minggu sering naik kendaraan roda dua buat keliling Jogja, ngasih tau tempat-tempat yang aku ngga tau. Hari minggunya pagi-pagi banget jalan bertiga sama Ibu, ke Kaliurang atau ke pantai. Kalau ada spot bagus langsung mobil berenti terus foto ditempat itu. Atau kalo ngga, jalan-jalan pagi ke pasar atau olahraga bareng. Btw, Bapak suka banget tenis, boxing, badminton, sepedaan tapi ngga suka bola. Hehe…
Dalam sehari, Bapak bisa telpon aku atau Ibu lebih dari 5x. Setiap hari, setiap saat.. He wanted to know everything about us
Sewaktu di Jogja, setiap malam Bapak ngecek kekamar tidur anaknya. Tapi berhubung sejak 2012 Mbak dan Mas dah nggak di Jogja, akhirnya kamarku doang ygb dicek. Mastiin apa hapeku dah ngga nyala, apa aku pake slimut nggak, lampu kamarku dah mati apa belum, dll. He was sweet just the way he was.
Rasanya kangen banget, Bapak yang selalu menganggap aku kaya anak kecil. Ngelarang aku main di mall sama temen-temen sewaktu SMA karena dibenak dia mall di Jogja sama kaya di Jakarta yang roof top nya bisa dipake clubbing, jadi nyuruh aku kalo nongkrong musti ada Ibu atau sama mereka even ada main sama temen-temen deket.
Begitu cara dia menjaga anaknya. Cara dia memeluk anak-anaknya dari jauh, tanpa rasa hangat tapi kelak doa kami yang selalu menghangatkan. Pelukan tanpa pamrih yang selalu kami rindukan.
Memang sudah jadi hal biasa kalau hari-hari ngga ditemani Bapak. Tapi menjadi beda karena jarak kami bukan ribuan meter lagi tapi zona dan dunia yang beda. Ibu sempat mendatangi peristirahatan Bapak disana, tapi tetap saja tidak bisa menemukan.
Sudah hampir 2 tahun ditinggal Bapak, rasanya sejak saat itu juga aku harus memulai kehidupan yang bener-bener baru. Mulai dari pesen tiket, ngurus talang air, ngurusin ini itu dimana sebelumnya semuanya dihandle oleh Bapak. Iya, meskipun Bapak tinggal di Jakarta tapi urusan rumah di Jogja selalu beres.
Seorang cenayang pernah bilang:
“Bergurulah ke Ayahmu sebelum Ayahmu ngga bisa jawab, pekerjaanmu ngga akan jauh dari Ayahmu”
Dan itu semua benar. Aku belum sempat menanyakan banyak hal ke Bapak sekarang. Aku kehilangan guru terbaikku.
Tanpa aku sadari, Bapak membentuk kami jadi orang yang kuat dan mandiri. Secara tidak langsung ngajarin untuk handle apapun sendiri (dalam case akademik dan sosial). Menghadapi beberapa problem yang lumayan bikin kepala pening. He shaped us like an engineer did. “You are your own man”
Aku pernah berdoa sebelum usiaku 20 tahun, supaya Allah bisa merubahku menjadi manusia yg lebih bijak. Dan Allah benar-benar kasih. Alhamdulillahnya, aku bisa melewati. 21 tahun bisa dapet value yg lebih berharga.
Semoga apa yang sudah Bapak tanam pada kami akan selalu berbuah manis
Semoga aku bisa terus mengadopsi apa yang Bapak lakukan. Tentang perjuangan. Tentang menjadi kaya akan ilmu dan pengalaman. Tentang diam-diam dalam melakukan hal tanpa butuh pengakuan. Tentang kebaikan.
Selamat Hari Ayah, Bapak.
Adek will always adore you