“Terbiasa dengan luka. Hingga satu masa, kau dah tak rasa apa-apa. Hati.. masih hidupkah engkau?”
—

ellievsbear
NASA

Love Begins
Sade Olutola
todays bird
One Nice Bug Per Day

tannertan36
No title available
Peter Solarz

JVL

#extradirty
will byers stan first human second
styofa doing anything

★

shark vs the universe

⁂
Misplaced Lens Cap
🪼
wallacepolsom
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
seen from United States

seen from Sweden

seen from Türkiye

seen from Brazil
seen from Brazil

seen from United States
seen from United States

seen from Netherlands
seen from Tunisia

seen from Malaysia
seen from Russia
seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
@halusputih
“Terbiasa dengan luka. Hingga satu masa, kau dah tak rasa apa-apa. Hati.. masih hidupkah engkau?”
—
“jalan kita”
—
dalam sebuah pernikahan, bukan perihal tentang siapa yang benar atau siapa yang salah. tapi perihal siapa yang mau menerima setiap kesalahan dengan kelapangan dan memaafkannya. mau belajar dan bertumbuh bersama dalam kebaikan.
dalam sebuah pernikahan, bukan perihal tentang aku dan kamu saja. tapi perihal bagaimana mendiskusikan segala ego, rasa dalam diskusi bersama.
dalam sebuah pernikahan, bukan perihal aku berjalan ke kiri dan kau ke kanan. tapi perihal bagaimana kita bisa berjalan bersama lurus kedepan, bila salah saling menasehati dengan kelembutan, bila dalam ketaatan semoga bisa menjalankan ibadah bersama-sama. saling menyemangati dikala futur, saling memberi udzur.
dalam sebuah pernikahan, saling memberi udzur, saling mengasihi, saling membersamai dalam kebaikan adalah tujuan kita bersama. terimakasih sudah mau melangkah sejauh ini bersamaku. semoga Allah memberikan kebaikan untuk kita. sehidup sesurga ya mas..:))
Bersama Kakek.
Kisah yang sederhana kita suka kebun, kolam ikan, sungai, padang ilalang, sapi-sapi yang kelaparan, serta kehidupan di perdesaan.
Meski sedari lahir berjiwa ke kota, hidup ditengah hiruk pikuk kebising.
Tapi saat yang benar-benar kurindu, ketika pulang kampung. Kenangan manis bersama kakek rahimahullah, saat itu beliau ingin membajak sawah.
Aku memaksa untuk ikut, tapi nenek bilang banyak serangga dan nyamuk. Akhirnya dengan segala jurus kesedihan yang ku kerahkan kakek mengizinkan.
Sepeda motor antik, suara kenalpot dan jalanan yang berkelok-kelok.. Aku menikmatinya,
Sesampai di sana beliau menggendongku di atas pundaknya, karena kondisi jalan menuju sawah yang becek.
Saat pertama kali perhatianku tertuju pada orang-orangan sawah dan burung pipit.
Selalu ku amati, sembari duduk dipondok kayu. Aku melihat nenek dan kakek yang saling menyemangati, bekerja sama, lelah bersama, sampai waktu istirahat mereka makan bersama.
Mungkin aku adalah cucu yang paling beruntung mendapatkan momen ini, karena setelah kepergian kakek semua berubah...
Tidak ada lagi sawah dan burung pipit...
Allah sayang kakek, saat umurku 14 tahun. Semuanya berduka, keluarga dari segala penjuru kembali pulang untuk mengantarkan perjalanan baru kakek.
Ternyata aku memang cucu yang beruntung, karena kakek memilihku untuk berada diatas pundaknya, melihat senyumnya, memandangi wajah lelahnya, dan merasakan hasil jerih payahnya.
Kakek tak pernah marah, kata ibu. Aku sangat percaya.
Kali ini entahlah, cucumu benar-benar rindu. Lihat kek keadaan dunia sekarang, sungguh penuh dengan kefanaan.
Lihat kek, kini cucumu sudah besar. Tidak bisa lagi berada di pundakmu. Aku ingin kesawah, menjaring ikan dan panen buah-buahan. Bisakah? Menghempaskan semua kefanaan, persakitan dan masalah perskripsian.
Bolehkah bilang lelah kek ? Ah.. Tapi ayah dan ibu lebih lelah.
Rahimahullah 🥀🍃
Jangan jadi perasa akut, sayang. Tidak semua yang orang lain tuliskan adalah perihal dirimu. Bodoh sekali kiranya, kamu melibatkan perasaanmu dalam tulisan orang lain. Seolah tulisan itu ditujukan kepadamu padahal sekedar memikirkanmu saja ia tidak. Apatah lagi menulis perihalmu, stop being recehan dalam urusan perasaan.
***
Receh sungguh receh.
15 April 2020.
Zona Nyaman
“Ada lowongan magang nih di departemen anak abis internship? Daftar ga yaa? Mengingat IPK ku jaman kuliah ga bagus-bagus amat dan kuliah KTI ku C, bakal diterima ga ya? Bakal bisa ga ya?”, keluh saya kepada teman baik saya saat itu. Dia terus meyakinkan bahwa kita ga pernah tau kita bisa apa nggak kalo ga mencoba. Jangan pesimis dulu. Percaya sama Allah.
“Kamu itu kurangnya satu.”, ujar dia tiba-tiba.
“Apa?”
“Kurang percaya sama Allah.”, jawab dia tegas di chat kami daring Whatssap. Saya tidak membalas lebih lanjut. Bertanya kepada diri sendiri. Apakah begitu Ya Allah aku kepada-Mu?
And here I am now.. Hampir genap 5 bulan lamanya bertahan menjadi asisten riset di ilmu kesehatan anak divisi neonatologi. Siapa yang menyangka, satu hari setelah pemulangan internship, saya langsung diterima menjadi asisten riset dokter yang saat ini saya bersamai. Tidak pernah terbayang sebelumnya akan mendaftarkan diri menjadi asisten riset dokter semasa kuliah. Karena ini sama sekali diluar kompetensi dan kebiasaan saya. Sahabat-sahabat saya juga kaget, karena.. ini seperti bukan saya. Kok tumben mau menggeluti hal semacam ini? Yang semasa kuliah pun, mendengar nama ‘penelitian’, ‘KTI’, rasanya sudah tidak nyaman.
Kalau ditanya yang sudah didapat selama 5 bulan terakhir ini apa saja? Jawabannya adalah.. POLA PIKIR, KOMITMEN, KONSISTENSI, dan masih banyak lagi hal yang tidak bisa disebutkan. Ini bukan melulu tentang berapa uang yang didapat, relasi yang diperoleh dari hasil menjadi asisten ini. Tapi tentang.. Allah Maha Baik ya memberi saya waktu untuk belajar terhadap hal yang benar-benar membuat saya trauma mengenai KTI, terutama seperti peristiwa yang terjadi saat ujian skripsi jaman kuliah dulu. Allah memberi waktu saya menyembuh sekarang… Ternyata penelitian tidak semenyeramkan itu. Ini menyenangkan. Membuat otak saya berpikir, belajar, dan banyak membaca. Saya sendiri merasa saya 5 bulan yang lalu sudah jauh berbeda dari sekarang. Saya melangkah ke ranah yang bukan menjadi kesukaan saya, tapi gantinya Allah membuat saya bertumbuh. Menjadi manusia yang berkembang, tidak hanya dari segi pola pikir namun juga keilmuan. Benar-benar, Allah Maha Baik yaa..
Keluar dari zona nyaman tidak seburuk itu. Tapi justru merupakan langkah yang setiap orang harus ambil untuk bisa bertumbuh. Membuat saya benar-benar belajar untuk bertahan terhadap apa yang tidak menjadi kegemaran saya, bertahan untuk tetap berjuang terhadap hal yang mungkin membosankan, namun saya tidak lantas berhenti. Berjuang untuk mengusahakan mimpi saya menjadi kenyataan. Bahwa tidak ada yang instan di dunia ini. Bukan kah Allah memang melihat bagaimana hamba-Nya berusaha? Allah sebaik-baik penilai..
Sampai sekarang masih takjub.. Skenario Allah untuk hamba-Nya seindah itu yaa.. Baik atau buruk yang menimpa hamba-Nya tidak mungkin tanpa adanya tujuan dan hikmah yang bisa direnungi. Pastilah semua yang Allah berikan ke hamba-Nya adalah suatu bentuk penempaan keimanan, kemampuan/skill, pengembangan sifat menjadi lebih matang.. Kan kalau mau naik kelas harus ada ujian dulu toh?
Jadi, masih mau diam di zona nyamanmu? Atau keluar, merobohkan dinding-dinding kenyamanan dan keteduhan tanpa ada perubahan berarti dalam hidupmu? it’s your time to choose!
Mencintai itu sederhana; berbuat baik pada orang yang kita cintai.
-sajakremah
Perihal Teman Lama
Sumber: @peninh
Seterik ini, masih ada yang membungkuk untuk menanam satu persatu padi. Mereka seolah tak menghiraukan betapa panasnya bekerja di tengah hari.
Pun mereka yang mencangkul, mengolah tanah agar siap ditanami, yang langsung berangkat ketika hujan sedang deras-derasnya seolah tak menghiraukan dinginnya air yang mengguyur tubuh rentanya.
Jika antum bukan terlahir dari keluarga petani, mungkin hanya bisa membayangkan semua itu. Tapi mari sama-sama kita bersyukur kepada Allah, dengan selalu menghabiskan nasi yang kita makan. Karena di masa sulit seperti ini, ternyata masih banyak saudara kita yang kekurangan pangan.
Semoga keikhlasan para petani dalam berjuang di sawah ladang, Allah balas dengan kenikmatan kelak di Jannah-Nya juga mereka para ayah yang berjuang mencari nafkah.
Jangan membawa emosi negatif untuk pasangan ya..
“Saying Bismillah before do anything helps you keep your intention right. It also reminds you that Allah is watching.”
—
Ada saatnya kamu sadar bahwa keinginanmu untuk mencari tahu kabarnya adalah hal yang tidak perlu lagi disampaikan. Menahan diri kadang memang sesesak itu. Tetapi ada yang akan lebih menyesakan lagi daripada itu, yaitu ketika kamu tetap menahannya tinggal di dalam ingatanmu, sementara ragamu sudah tidak lagi mampu memeluknya.
—ibnufir
Berkata Syaikh Sulaiman ar Ruhailiy hafidzohulloh:
"Orang yang bertikai diundurkan ampunannya ada dua macam:
Pertama, orang yang mengada-ada dalam urusan agamanya dan memusuhi sunnah dan pengikutnya serta mengajak membenci dan mencela sunnah.
Kedua: Orang yang bertikai dengan mukmin yang lain lebih dari tiga hari karena sebab urusan dunia sama saja apakah ia di posisi yang benar atau salah..."
Semoga kita dijauhkan dari hal demikian.
Jika sepasang jemarimu tak mampu merangkulnya secara utuh, tak mampu menggengam, dan menahannya tuk tetap di sisimu, maka lepaskan saja, ikhlaskan, biarkan ia pergi.
Tidak ada gunanya bersikeras memperjuangkan pun mempertahankan sesuatu yang tidak ingin diperjuangkan pun enggan dipertahankan lebih lama di sisimu.
***
Lepaskan saja jika itu melukai jemarimu, mencederai ketulusanmu. Kamu berhak bahagia! Semoga Allah menjaga hatimu dari jatuh yang bukan pada tempatnya.
5 April 2020.
Tak perlu dipaksakan harus sama, jika nyatanya memang beda.
Tak perlu dipaksakan harus sejalan, jika nyatanya memang arahnya berlawanan.
Tujuan sama bukan berarti jalan yang dilewati juga harus sama bukan...
Dan kita pun juga tak harus terus bersama lagi saat ini.
Cukup..
Semakin kamu berusaha terlihat baik di depan manusia maka semakin tidak ada gunanya. Pun semakin engkau berusaha menjelaskan panjang lebar perihal dirimu di depan mereka juga sama, tidak ada gunanya sama sekali. Seperti berusaha menggenggam air pun memeluk angin, sia-sia. Standar penilaian "baik" di mata manusia itu relatif, tidak karuan.
***
Hiduplah untuk mengejar cinta, ridho, dan rahmat Allah, sudah cukup. Terserah mulut orang mau ngoceh apa, selama prinsipmu tidak menyimpang dari aturan langit, jalani hidupmu sebaik versimu. Toh pada akhirnya juga mereka yang terlalu banyak ngocehlah yang bakalan capek sendiri dengan lisan mereka.
Biasanya yang terlalu mudah mengomentari hidup orang lain itu adalah mereka yang lupa caranya bersyukur dan bahagia dengan hidupnya sendiri. Makanya pusing mikirin dan mengomentari hidup orang lain.
14 April 2020.
“Karena menerima adalah salah satu upaya mendamaikan hati dan cara untuk mendatangkan kebaikan-kebaikan lainnya.”
— @shafira