Laki-laki itu menulis pesan panjang, sudah diketik cukup lama dan dipikirkan dari jauh-jauh hari. Namun belum ada keberanian untuk mengirimkannya. Begini isi pesannya:
Hari ke dua puluh bulan Juni, tahun 2020
Pagi ini matahari cukup bersahabat. Sinarnya lembut tapi tetap terang, cocok untuk berkegiatan di luar rumah. Namun sayangnya, virus Corona belum juga pergi, ia masih tinggal di bumi untuk mengingatkan orang-orang agar tetap menjaga kesehatan. Hal itu lah yang menyebabkan pernikahanmu hanya dilakukan di dalam masjid. Hanya ijab dan kabul. Belum dengan resepsi. Rasanya memang belum bisa mengundang sahabat lama atau rekan kerja, karna yang terbaik adalah semua tetap #dirumahaja. Tak apa, biar akadmu kami saksikan di layar ponsel. Tenang saja, tidak ada yang berkurang dari bobot doa kami yang berkejar-kejaran menembus langit. Bunyinya masih sama: “Semoga kalian sakinah, mawaddah, wa rahmah..”
Sebenarnya belumlah sampai aku mengenalmu, hanya dengar dari teman saja. Sepertinya kamu orang yang ramah, selalu tersenyum setiap kali ku lihat di foto media sosialmu. Bukan, itu bukan senyum biasa. Senyummu menandakan keikhlasan, ketulusan, senyum yang seakan-akan berkata "terimakasih" pada setiap momen yang terjadi pada saat itu. Mungkin aku akan lebih senang jika mengenalmu pada dunia nyata. Karena jarang sekali kutemukan orang yang sepertimu.
Tapi, sudah. Cukuplah saja seperti ini. Hanya mengenalmu dari kejauhan pun sudah cukup. Tidak perlu bertemu, tidak perlu berkenalan. Kamu sudah cukup memberikanku inspirasi, bahwa pribadi yang sepertimu mungkin banyak disukai orang. Atau bahkan sudah banyak yang ingin berkenalan denganmu, hanya saja mungkin kamu memberikan batasan. Aku faham, batasan yang kau buat bukan karena tinggi hati dan merasa kamu eksklusif, tapi memang seperti itu menjaga kehormatan perempuan. Pesanku, jangan terlalu baik dan membuka perhatian pada semua laki-laki. Karena sesungguhnya tidak ada laki-laki yang hanya ingin berteman dengan wanita. Pasti lebih dari itu!
Terimakasih sudah menginspirasi, membawaku pada cara pandang baru dalam memilih perempuan yang akan jadi ibu dari anak-anakku. Ia yang menjaga kehormatannya. Semoga kutemukan perempuan lain yang punya hati seperti milikmu, atau yang lebih baik darimu.
Seseorang yang tidak perlu kau kenal.
Dan sampai saat ini, pesannya hanya mengendap di catatan ponsel. Tidak jadi dikirimkan. Biar saja disimpan rapat-rapat. Buat apa? Jika dikirim pun, hanya akan menambah beban perempuan itu.
Seandainya semua laki-laki berpikiran seperti dia, tentulah tidak ada perempuan/istri orang yang akan terbebani oleh orang yang belum dikenal. Yang memancing agar si perempuan penasaran. Lalu mencari tahu. Sampai akhirnya diam-diam 'terkesan' pada sikap sopan santun si laki-laki itu.
Jangan ada lagi jatuh cinta pada tempat yang salah. Jangan. Semoga Allah melindungi kehormatan perempuan dan laki-laki dalam berinteraksi.