Janji Hati
Satu tahun telah berlalu, sejak terakhir kali aku mengikhlaskanmu pergi. Perlahan, keping-keping kenangan yang selalu kubanggakan dan janji masa depan yang pernah kau lontarkan mulai memudar. Sudah tidak ada lagi kesempatan mengulang momen bersamamu seperti dulu.
Tapi, asal kau tahu. Saat itu, di tanganku tergenggam setangkai mawar merah layu, bersama duri yang tertancap enam tahun sebagai janjiku padamu. Dengan berbekal sederet kalimat yang terus kuingat meski tak pernah kau ucap di hadapanku, setapak demi setapak kakiku mulai melangkah berbalik arah. Ragamu terlalu jauh untuk digapai, suaraku pun tercekat ketika berusaha memanggil namamu. Hanya air mata yang sanggup mengalir, mengisyaratkan bahwa hati ini telah menerima balasan atas penantian yang dungu bertahun-tahun lamanya.
Terima kasih, sempat mengajarkanku cara menunggu tanpa ragu. Lain kali, izinkan waktu menempatkanmu di posisiku, agar kau mengerti bahwa setiap janji harus ditepati dan setiap hati perlu diisi.












