Pulanglah
Menjelang matahari kembali ke peraduannya, banyak manusia mempersiapkan untuk pulang ke rumah masing-masing. Ya, untuk melepas lelah sejenak setelah beraktivitas luar biasa menghadang gagahnya matahari di siang hari. Kembali sebelum pulang, mengecek apakah tidak ada yang tertinggal dan memantapkan hati untuk pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan ke rumah, ini memang sudah perjalanan yang entah berapa kali dijalani, tak terhitung lagi. Memang bosan, ketika melintasi jembatan penyebrangan melihat seonggok gedung pencakar langit memamerkan keindahan hiasan lampunya masing2. Tidak perlu lagi bercerita banyak bagaimana keindahan itu, sudah banyak melihat fotografer menjadikannya dalam jepretan terkenalnya. Ini memang kota metropolitan yang begitu mewahnya, sungguh tidak ada yang kurang dari kota ini.
Hingga berpikiran untuk kembali lagi ke sebuah kota kecil, nun jauh di sana. Keadaan yang berbeda dengan disini, tidak ada gedung pencakar tadi. Hamparan sawah dengan gembalaan kerbaunya cukup mengingatkan bagaimana suasana itu tiba-tiba menyeruak di pikiran. Masih segar di ingatan ketika seusai bapak dan ibu petani memanen padi, sawahnya dibiarkan kosong dulu untuk memasuki musim tanam lagi. Sawah tadi tiba-tiba berubah menjadi sebuah lapangan sepak bola. Tempat yang menjadi kegemaran bagi anak laki-laki. Permainan pun dimulai kira-kira matahari condong 45 derajat ke arah barat hingga matahari pun memang menghilang sama sekali. Seusai permainan itu, memang lelah tapi raut muka gembiran tak mampu untuk disembunyikan. Saatnya kembali ke rumah dan mempersiapkan untuk sekolah besok.
Begitulah rumah dulu dan rumah sekarang pun sudah berubah. Kota yang dulu pun sudah berubah juga dengan sekarang. Jalan takdir membawa perubahan yang banyak. Tapi ada satu yang tidak berubah bahwa perasaan untuk ingin kembali ke tempat itu segera mungkin.
Diambil dari: www.dphotographer.co.uk




















