setiap hari mbak yuna bertumbuh besar, datang pertanyaan-pertanyaan baru untuk diri saya (dan mas yunus) dari diri kami sendiri. di antaranya adalah tentang bagaimana dan di mana mbak yuna nanti akan bersekolah. bertanya ke sana ke sini, berdiskusi dengan banyak ibu, saya memahami bahwa pada akhirnya semua sekolah itu baik–hanya saja, setiap sekolah memberikan pendidikan yang berbeda-beda. pendidikan apa yang ingin kita kenalkan kepada anak-anak? begitulah kemudian sekolah dipilih.
merenung tentang pendidikan apa yang paling mahal, saya akan selalu menjawab kesederhanaan yang berakhlak. bagi saya dan mas yunus, kesederhanaan itu penting sekali. seorang anak yang terbiasa hidup sederhana, menurut kami, akan lebih luwes menjalani kehidupannya sendiri di masa yang akan datang. seorang anak yang terbiasa hidup sederhana, menurut kami, akan lebih piawai menghargai orang lain, menghargai rezeki dan karunia. kesederhanaan dekat dengan sifat senang bersyukur. sifat senang bersyukur dekat dengan kebahagiaan.
kami melihat bahwa di dunia ini, kebanyakan orang yang menjadi besar adalah mereka yang dididik dengan kesederhanaan, bahkan keterbatasan.
seorang anak yang tidak pernah dibelikan mainan oleh orang tuanya, misalnya, tumbuh menjadi anak yang mudah gembira karena apa saja, kreatif untuk membuat dirinya sendiri terhibur, mau berkarya, dan lebih menghargai karyanya sendiri.
seorang anak yang mengalami kesulitan-kesulitan yang dialami oleh orang tuanya, misalnya, tumbuh menjadi anak yang suka menolong. seorang anak yang melihat dan mengalami betapa negeri kita butuh bangkit agar berdaya, misalnya, tumbuh menjadi anak yang mau berbuat.
hampir semua orang-orang yang berhasil di dunia ini, mendapat pendidikan dengan pola yang sama: mereka mengalami dan merasakan masalah di masyarakat. namun, sebelum mereka mengalami dan merasakannya, mereka mendapatkan pendidikan yang kuat terlebih dahulu di keluarga. mereka dididik bukan untuk menjadi anak penurut, melainkan menjadi anak yang punya prinsip–dan berempati.
mas yunus dan saya menyimpulkan bahwa pendidikan untuk anak itu sendiri, harus sederhana. tidak harus anak disekolahkan terlalu dini–malah sebaiknya jangan. tidak harus anak dijejali dengan pengetahuan yang belum saatnya diberikan. sebelum menjadi keren, anak perlu diajarkan untuk menjadi baik. tidak harus anak diberikan semua yang terbaik–ajarkan mereka untuk mendapatkan yang terbaik itu dengan usahanya sendiri.
memang, akan perlu usaha dan tenaga. tapi inilah cita-cita kami berdua. semoga anak-anak kami mengenang masa kecilnya sebagai waktu yang menyenangkan karena membuat berbagai mainan bersama orang tua, alih-alih menyenangkan karena bisa menonton banyak sekali video di youtube.
semoga anak-anak kami mengenang masa kecilnya sebagai petualangan yang seru karena diajak melihat dunia yang sebenarnya: pasar, jalanan, museum, bertemu dengan semua jenis manusia, alih-alih petualangan yang seru karena menjelajahi semua mall, hotel, atau taman bermain saja.
semoga anak-anak kami adalah anak-anak yang senang menghargai karya, gemar mencari ilmu dari buku dan alam semesta, melihat bahwa semua pekerjaan bisa menjadi pekerjaan yang mulia, dan memahami bahwa kelas sosial di dunia sama fananya dengan dunia itu sendiri.
semoga, anak-anak kita semua nanti menjadi orang-orang yang senang bersyukur. bukan bersyukur yang merasa lebih beruntung, melainkan bersyukur yang penuh empati. bukan bersyukur, “alhamdulillah aku bisa makan enak saat banyak orang lain tidak.” melainkan bersyukur, “alhamdulillah aku bisa makan enak. bagaimana caranya agar semua orang bisa menikmati makanan yang sama enaknya?”