Musings on superheroes, toys, books and pop culture. Updated by Ryandi only when inspiration strikes. Categories: Article, Book, Comics, Movie, Media, Music, Superhero, Illustration, Marvel, Television, Toys
I dropped this in the comments section of Berghain music video on YouTube exactly a month ago:
âRosalia is having fun with the golden ratio/divine proportion. This song is 178 seconds long, it starts to stop for a moment at 110th second (after Bjork sings "This is divine intervention") which is about 61.8% of the song length. The song features topics about hope and despair, spirituality and lust, light and dark, etc. Berghain in Berlin itself is a portmanteau of 2 cities, Kreuzberg and Friedrichshain. So, when you split this song into 2 parts of 89 seconds each, you will also find golden ratio in both parts. Rosalia starts singing in Spanish at 55th second mark (61.8% of first part length) and Bjork ends her part at 144th second mark (61.8% of second part length). Da Vinci's painting 'Lady with an Ermine' that appears in the jewelry shop scene is often associated with the golden ratio.â
On the November 24th episode of SubwayTakes with Kareem Rahma, she touched on the golden ratio and Fibonacci sequence (a sequence in which each element is the sum of the 2 elements that precede it). Well, the numbers 55, 89, 144 themselves are in the sequence (1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89, 144, âŠ). This 55-89-144 triad serves as a clever backbone. It places all those dynamic shifts (the language, the timbre, the vocal presence) into a mathematically coherent framework, which totally amplifies its thematic duality and structural symmetry.
Dari hari pertama penayangan âSupergirlâ, udah rame di kalangan fanboy semprul yang gampang terombang-ambing angin validasi web agregator menyebut Ana Nogueira sebagai penulis amatiran dan siap menjadikannya sebagai kambing hitam kegagalan film ini di box office. Terbaru, CNN Indonesia bahkan mendedikasikan 2 slide khusus di sebuah posting Instagram untuk mengejek naskah yang disebutnya lemah dan rapuh.
Boleh aja bilang visual filmnya biasa banget, gak setia dengan komiknya yang lebih vibran dan sureal, adegan aksinya jauh dari spektakuler, desain produksinya generik, gak punya summer vibe (wajib emang?), atau filmnya gak menawarkan pengalaman sinematik baru. Semua itu masih di wilayah apresiasi dan selera. Tapi ketika memvonis aspek yang lebih teknis  seperti kualitas naskah cuma bermodal argumen abstrak dan perasaan subjektif, ya jelas lo yang ngada-ngada, kampret! Naskah yang biasa dinilai lewat kausalitas, fungsi karakter, penyelesaian arc, dan lain-lain, bisa-bisanya dicap bobrok cuma mengandalkan perasaan.
Sepengamatan gw, banyak kritik terhadap naskah film ini berangkat dari alat ukur yang kurang tepat. Kalau dibaca menggunakan pola relasi protagonis-antagonis dalam struktur tiga babak konvensional emang banyak yang janggal, berulang-ulang, atau bahkan banyak bagian yang gak penting. Jadi kayak menilai tim-tim asuhan Carlo Ancelotti abad ke -21 cuma dari possession dan pressing rate, jelas gak nyambung. Possession cuma 35% ya emang kenapa, gak dosa ini, emang yang dicari bukan itu. Bukan berarti Carletto gak mampu memainkan gaya begitu soalnya si bapak satu ini duluan menerapkan pressing intens di Parma (duluan dia ya, setan... dibanding pelatih-pelatih panutan lo) sebelum akhirnya bertemu pemain kreatif macem Zidane di Juve dan kemudian melipatgandakannya dengan memasang sampai 4 pemain kreatif sekaligus di Milan. Sekarang dia berada di fase berbeda sehingga parameter keberhasilannya juga ikut berubah. Si bapak berkali-kali menjuarai kompetisi elite justru karena dia gak maksain satu sistem baku tapi menyesuaikan pendekatan dengan karakter pemain yang ada. Memvonis seluruh film dengan satu pake tertentu sama zalimnya kayak maksa semua pelatih bermain tiki-taka. Strukur cuma alat, bukan tujuan. Begitu pula âSupergirlâ. Ketika pusat gravitasinya bukan lagi duel protagonis-antagonis, maka parameter yang digunakan untuk menilai keberhasilan naskahnya juga gak bisa dipaksain tetap sama. Kalo emang niat Craig Gillespie dan Ana Nogueira sejak awal adalah mengecilkan ruang lingkup supaya lebih fokus ke studi karakter, maka banyak "kelemahan" yang disebut reviewer konvensional justru bisa dibaca sebagai pilihan desain. Indiewire memuji pilihan yang diambil keduanya melalui salah satu artikelnya.
Pusat gravitasi âSupergirlâ justru sengaja dialihkan ke hubungan Kara dan Ruthye, sementra Krem of the Yellow Hills lebih berfungsi sebagai tekanan eksternal terhadap pola hubungan tersebut daripada sekadar lawan utama yang harus ditaklukan. Pola hubungan semacam ini ditemukan juga di âLoganâ (2017) yang menempatkan Logan dan Laura di pusat emosional cerita. Begitu pula dengan Miles Morales dan Peter B. Parker di 'Into the Spider-Verse' (2018). Penyutradaraan James Mangold yang lebih matang di 'Logan' dan keunikan artistik 'ITSV' sepertinya berperan besar membuat publik jauh lebih mudah menerima pola hubungan seperti itu.
Sebagai alat baca, kerangka Dramatica menurut gw jauh lebih cocok memetakan âSupergirlâ. Banyak kepingan cerita yang dianggap âmuter-muterâ, âkarakter gak pentingâ, atau âkeputusan anehâ justru saling mengunci dengan rapi dan memperlihatkan jaringan kausalitas yang disiplin. Langsung aja ke pokok bahasan, capek juga ngetik begini doang, diupah juga gak.
1. CERITA BERAWAL DARI KETIDAKSEIMBANGAN
Dalam Dramatica, sebuah cerita gak benar-benar dimulai oleh konflik eksternal, melainkan oleh ketidakseimbangan mendasar yang membuat dunia cerita berada dalam kondisi gak beres. Ketidakseimbangan terbesar dalam âSupergirlâ bukanlah Krem, upaya pencarian obat penawar, ataupun penculikan remaja perempuan. Ketidakseimbangan terbesar justru terletak pada keyakinan Kara bahwa dirinya gak pernah benar-benar berarti. Masih dibayangi oleh kehancuran kota kelahirannya yang merupakan pecahan planet Krypton, Kara kesulitan beradaptasi dengan kehidupan di Metropolis yang menurutnya terlalu bising. Saat merasa kontribusinya kecil dan keberadaannya gak dianggap sepenting Superman, Kara lalu memilih keluyuran lintas galaksi tanpa tujuan yang jelas, menenggak minuman keras, sambil perlahan ngejauh dari pesan terakhir ibunya untuk menjalani hidup yang baik di rumah baru.
Film bahkan menanamkan luka psikologis tersebut sejak menit-menit awal melalui koran Daily Planet yang dikencingi Krypto. Superman mendapat headline besar karena menyelamatkan warga dari ledakan reaktor nuklir, sementara Supergirl hanya mendapat jatah berita kecil di pojok halaman karena menyelamatkan 2 ekor kucing yang jatuh ke selokan. Bagi penonton biasa, mungkin ini hanya lelucon. Bagi pembacaan Dramatica, ini adalah manifestasi pertama dari luka psikologis Kara. Saat merayakan ulang tahunnya di sebuah bar bersama Krypto, Kara bercanda merendahkan dirinya sendiri, âThe 23 will be the best year yet. Let's be honest. It's not a very high bar to clear.â Seluruh cerita setelahnya pada dasarnya adalah proses panjang untuk membuktikan bahwa keyakinan Kara tentang dirinya sendiri ternyata keliru.
2. EMPAT PERSPEKTIF
Berikut adalah 4 perspektif dalam Dramatica dan pembagiannya di âSupergirlâ:
A. Karakter Utama (Main Character/MC)
Main Character Throughline sepenuhnya milik Kara Zor-El. Permasalahannya bukan karena dia kurang kuat, kurang kompeten, atau gagal mengalahkan musuh, melainkan karena krisis identitas dan rendahnya penghargaan terhadap dirinya sendiri. Konflik batinnya sejak awal bukan, "Bagaimana mengalahkan Krem dan menyelamatkan Krypto?", melainkan: "Apakah saya benar-benar layak menyandang simbolisme Supergirl?"
Perlu dibedakan antara tujuan eksternal dan konflik utama karakter. Banyak pembacaan menyederhanakan motivasi Kara sebagai "menyelamatkan Krypto". Jawaban yang gak salah, tapi juga gak nyentuh inti persoalan film. Menyelamatkan Krypto hanyalah tujuan yang menggerakkan peristiwa di permukaan, sedangkan konflik utama Kara tetap berkisar pada krisis identitas dan penghargaan terhadap dirinya sendiri. Dengan kata lain, Krypto adalah kendaraan naratif, bukan akar konflik batin Kara. Bisa dibilang seluruh petualangan ini adalah ruang forensik bagi batin Kara.
Berikut ringkasan karakter utama:
Keberatan dikirimkan ke Bumi oleh orang tuanya, baginya lebih baik mati terpapar radiasi Kryptonite bersama keluarganya di Argo City, sebuah kota pecahan planet Krypton yang mengapung di angkasa.
Kesulitan beradaptasi dengan kebisingan Metropolis sekaligus merasa kontribusinya tidak sebesar Superman melindungi kota tersebut. Kara menganggap kostum Supergirl pemberian sepupunya itu bodoh dan gak berguna.
Gak pernah merasa istimewa dan terakumulasi menjadi penghargaan terhadap sendiri yang rendah. Kara antusias bercerita tentang Superman tapi terlihat gak bersemangat saat harus menceritakan diri sendiri.
Enggan memproses trauma masa lalu dan gak tau apa yang harus dilakukan besok, lalu menjadikan alkohol dan keluyuran lintas galaksi sebagai pelarian. Kara semakin menjauh dari pesan dan harapan terakhir ibunya.
Suka menyamarkan maksud sebenarnya sebagai benteng pertahanan diri sehingga ucapan dan tindakannya sering kali tampak bertolak belakang. Kara mengagumi sepupunya, tetapi hampir selalu menghindar saat dihubungi.
Sejak awal menolak upaya balas dendam Ruthye membunuh Krem. Dia berkata, âLook, if you think I'm going to leave you on the mountains through some sort of revenge plot, turning you into a psychotic child murderer, then you must be, as they say, on glue. Sebagai gantinya, Kara menjanjikan bahwa Krem akan menderita karena juga telah menyakiti Krypto.
B. Karakter Pengaruh (Influence Character/IC)
Influence Character Throughline diwakili oleh Ruthye Marye Knoll. Ruthye yang berusia 13 tahun bukan sekadar sidekick. Dia terus menantang cara pandang Kara sepanjang perjalanan. Salah satunya, Kara menganggap kepahlawanan diukur oleh pencapaian besar. Ruthye justru melihat kebaikan dalam tindakan-tindakan kecil Kara. Kalimat sederhana Ruthye, "You're not always perfect, but you're good," yang kemudian ditutup dengan "So thank you for taking me with you," menjadi pukulan terbesar terhadap keyakinan salah Kara selama ini.
Berikut ringkasan karakter pengaruh:
Berpandangan bahwa Krem harus dibunuh dengan cara apa pun karena selain membantai keluarganya dengan sadis, Krem dan Brigand juga menjadi ancaman bersama yang bebas menerobos planet manapun yang mereka mau.
Berkali-kali mengabaikan Kara yang menyuruhnya pulang dan melupakan misinya.
Berbeda dengan Kara yang selalu lirih saat menceritakan masa lalunya, Ruthye justru lantang menyebut asal-usulnya. Dia menyebut nama ayahnya, Elias Knoll, dengan bangga. Hal ini berbeda dengan counterpart komiknya yang memilih merahasiakan nama sang ayah agar tidak ada yang bisa menelusuri silsilah keluarganya.
Di akhir babak kedua, Ruthye menegaskan bahwa dirinya gak pengen jadi kayak Kara. Menurutnya, Kara terlalu pengecut, gak berani memproses trauma masa lalu dan memilih alkohol sebagai pelarian. Sebaliknya, Ruthye percaya satu-satunya jalan keluar dari penderitaan batinnya adalah menuntaskan dendamnya kepada Krem.
Mendapat validasi ketangguhan dari Lobo yang membuatnya semakin percaya diri mampu menghabisi Krem.
Selain Ruthye, ada beberapa karakter pendukung yang turut memberikan tekanan internal untuk Kara, yaitu:
Zor-El dan Alura
Kedua orang tuanya menganggap Kara sebagai seluruh kehidupan bagi mereka. Dengan sumber daya terbatas, Zor-El mengirimkan Kara yang keberatan meninggalkan kampung halamannya yang tengah di ambang kehancuran ke bumi untuk tinggal bersama sepupunya, Kal-El. Sebelum meninggal, Alura berpesan pada putrinya untuk berbuat baik dan membantu mereka yang membutuhkan. Pesan yang terdengar sederhana tapi justru menjadi beban bagi Kara. Menariknya, dua peninggalan orang tua Kara menjadi motif visual yang terus muncul sepanjang film. Krypto yang sedang mengais sampah ditemukan Kara tepat saat pemakaman ibunya, sementara jam sakunya merupakan pemberian terakhir dari ayahnya. Di awal cerita, Kara nyaris tidak pernah memedulikan waktu. Namun ketika Krypto berada di ambang kematian, untuk pertama kalinya dia menggunakan jam tersebut dan mengaktifkan hitung mundur. Dua peninggalan orang tuanya akhirnya saling melengkapi: satu menjadi alasan yang harus diselamatkan, satunya lagi mengingatkan bahwa waktunya semakin tipis. Untuk pertama kalinya sepanjang cerita, Kara harus berhadapan dengan urgensi.
Superman
Orang pertama yang menyambut kedatangan Kara dan Krypto dengan hangat saat mendarat di Antartika. Superman terlihat kesulitan menyembunyikan antusiasmenya dengan terus berbicara kikuk dan belepotan sekalipun lawan bicaranya tersebut gak ngerti apa yang dia katakan karena terkendala bahasa. Dia menjanjikan Kara akan betah di rumah barunya tapi akhirnya khawatir dengan proses adaptasi yang gak mulus melihat sepupunya terus-terusan keluyuran lintas galaksi. Kara hampir selalu mengindar saat Superman coba menghubunginya.
C. Hubungan (Relationship Story/RS)
Hubungan Kara dan Ruthye menjadi titik pusat emosional film ini. Awalnya Kara hanya ingin menyelamatkan Krypto sedangkan Ruthye hanya ingin membalas dendam keluarganya dengan membunuh Krem. Selama perjalanan, hubungan mereka perlahan mengubah sudut pandang masing-masing. Relationship Story Throughline mendominasi babak ketiga saat Kara sekarat di Barenton akibat paparan matahari hijau. Kara yang sebelumnya enggan menunjukkan emosinya di depan orang lain akhirnya mengekspresikan kesedihannya di samping Ruthye karena tidak sempat mengucapkan selamat tinggal pada Krypto yang juga sedang sekarat. Ruthye minta maaf atas ucapan sebelumnya yang menyakiti Kara. Validasi Ruthye di planet yang mengorbit dua matahari inilah yang akhirnya mengubah cara Kara memandang dirinya sendiri.
D. Cerita Keseluruhan (Overall Story/OS)
Overall Story Throughline membahas konflik yang dialami semua karakter. Di film ini terdapat Krem dan Brigand, Sklarian Raiders, perdagangan manusia, berbagai peristiwa di planet-planet yang disinggahi, pasangan Mareck dan Bomar Vran, perburuan penawar racun, Lobo (bagian pertama tulisan ini menunjukkan betapa multifungsinya si pengendara Spacehog ini), dan pertempuran akhir. Semua elemen tersebut berfungsi sebagai tekanan eksternal yang terus menggerakkan cerita sekaligus memaksa hubungan Kara dan Ruthye berkembang.
Sedikit catatan mengenai keluarga Vran yang dibantai Krem. Pengkhianatan Mareck dan Bomar menunjukkan betapa rapuhnya solidaritas di tengah barbarisme Brigand. Bahkan pihak yang sudah mengambil langkah paling pragmatis sekalipun belum tentu selamat dari kebiadaban mereka. Peristiwa inilah yang menjadi titik balik bagi Kara. Setelah menyaksikan keluarga Vran tetap dibantai meski telah berkompromi, Kara akhirnya menyadari bahwa Krem bukan lagi sekadar persoalan balas dendam Ruthye, melainkan ancaman nyata bagi siapa pun yang berada di jalurnya. Karena itu, keputusan Kara membunuh Krem dengan tangannya sendiri bukanlah tindakan yang muncul tiba-tiba, melainkan payoff yang konsisten dengan arah moral dan dramatik yang telah dibangun cerita (bisa dibaca di bagian pertama).
3. EMPAT BABAK SEBAGAI WADAH EMPAT PERSPEKTIF
Struktur tiga babak cenderung membangun ekspektasi penonton akan ekskalasi yang terus meningkat menuju klimaks. Sebaliknya, struktur empat atau lima babak memberi ruang lebih besar bagi konflik untuk berkembang secara spiral. Intensitas bisa naik, turun, belok, bahkan tampak mereda sebelum kembali meningkat menuju resolusi.
Empat babak 'Supergirl' menjadi wadah yang sesuai bagi perkem-bangan keempat perspektif Dramatica. Babak pertama membangun ketidakseimbangan Kara sekaligus memperkenalkan tekanan eksternal melalui overall story. Babak kedua mulai menggeser fokus ke hubungan Kara dan Ruthye, sementara berbagai karakter dan peristiwa yang mereka temui terus menguji cara pandang keduanya. Babak ketiga menjadi titik ketika seluruh perspektif saling bertabrakan: konflik eksternal mencapai puncaknya, hubungan Kara-Ruthye mengalami perubahan besar, luka psikologis Kara akhirnya dipaksa keluar ke permukaan, dan Ruthye memperoleh validasi atas kegigihannya dari Lobo. Babak keempat kemudian menyelesaikan konflik fisik sekaligus menutup perjalanan batin Kara hingga ia mampu menerima dirinya sebagai Supergirl. Dengan kata lain, perkembangan plot dan perkembangan karakter berjalan beriringan, bukan saling menggantikan. Banyak yang ngerasa (ngerasa ya bukan mikir, beda soalnya) film ini plotnya tipis banget, padahal penulisnya emang sengaja ngejadiin plot sebagai kendaraan untuk menyelesaikan konflik psikologis Kara.
4. RESOLUSI MASING-MASING PERSPEKTIF
Main Character (MC)
Selesai ketika Kara menerima bahwa dirinya memang layak menjadi simbol harapan sekaligus akhirnya menganggap Bumi sebagai rumah yang benar-benar dia pilih.
Influence Character (IC)
Selesai ketika Ruthye membatalkan balas dendamnya. Ironisnya, justru melalui keteguhan dan validasi yang ia berikan kepada Kara, Ruthye berhasil mengubah cara pandang Kara terhadap dirinya sendiri.
Relationship Story (RS)
Selesai ketika hubungan Kara dan Ruthye menghasilkan perubahan nyata pada keduanya: Ruthye melepaskan obsesinya terhadap balas dendam, sementara Kara berhasil memulihkan penghargaan terhadap dirinya sendiri.
Overall Story (OS)
Selesai ketika ancaman Krem dan Brigand berhasil dihentikan sehingga siklus kekerasan yang mendorong seluruh konflik eksternal berakhir.
5. SIMBOLISME KOSTUM
Banyak kritik mempertanyakan kenapa Kara baru mengenakan kostum Supergirl menjelang akhir film. Padahal secara dramatik justru itulah payoff yang paling logis. Saat memberikan kostum tersebut ke Kara, Superman berkata, "I know it's pretty colorful, but that's just so everyone knows we're good." Masalahnya, Kara sendiri gak pernah benar-benar percaya bahwa dirinya adalah "orang baik" yang layak menyandang simbol tersebut. Selama penghargaan terhadap dirinya sendiri masih rendah, kostum itu cuma kerasa kayak beban dan bayang-bayang Superman.
Baru setelah Ruthye berkata, "You're not always perfect, but you're good" dan "Thank you for taking me with you," Kara akhirnya memperoleh validasi yang selama ini gagal ia berikan kepada dirinya sendiri. Pada saat yang sama, pesan terakhir ibunya untuk berbuat baik dan harapan Superman agar sepupunya tersebut betah di rumah barunya kembali memperoleh makna. Karena itulah Kara baru mengenakan kostum Supergirl setelah konflik batinnya selesai.
Dengan demikian, kostum bukan sekadar pakaian tempur atau fan service menjelang klimaks. Itu merupakan simbol penyelesaian konflik identitas Kara. Urutannya bukan memakai kostum -> menjadi pahlawan, tapi menerima diri sendiri -> layak menyandang simbol Supergirl.
6. KEUTUHAN CERITA
Salah satu konsep penting Dramatica adalah cerita yang utuh (complete story). Sebuah cerita dianggap utuh ketika keempat perspektif berkembang dan masing-masing memperoleh resolusinya. Menariknya, banyak film superhero justru sangat kuat di overall story, tapi kurang bisa mengembangkan main character, influence character, atau relationship story. Jika dibaca melalui kerangka Dramatica, Supergirl justru tampak berusaha menyelesaikan keempat perspektif tersebut secara utuh. Apakah otomatis penonton akan menyukai hasil akhirnya? Belum tentu. Namun itu berbeda dengan mengatakan kalo naskahnya lemah atau struktur ceritanya berantakan. Justru banyak keputusan yang tampak ganjil (Lobo yang hanya muncul sebentar, Krem yang begitu doang, atau kostum yang baru dikenakan di akhir) menjadi jauh lebih masuk akal ketika dilihat sebagai bagian dari arsitektur cerita, bukan sekadar rangkaian adegan aksi.
Di sinilah pendekatan Ana Nogueira dan James Gunn terasa saling melengkapi sekaligus berbeda. Gunn cenderung lebih intuitif, liar, dan sering kali sengaja menabrak pakem demi menghasilkan momen-momen emosional yang tak terduga. Nogueira justru tampak lebih patuh terhadap mekanisme struktur cerita. Alih-alih mengejar kejutan demi kejutan, dia ngebangun perubahan karakter secara bertahap hingga payoff setiap keputusan terasa lahir dari fondasi yang telah ditanam sejak awal. Karena itu, kalaupun ada kritik yang layak diarahkan kepada Supergirl, menurut gw persoalannya bukan terletak pada rapuhnya naskah (karena emang gak rapuh sama sekali, woy!), melainkan pada pilihan pendekatan bercerita yang memang berbeda dari ekspektasi banyak penonton film superhero modern. Cukup sampe di sini, udah ngos-ngosan banget ngetik, sampe gak tau lagi mau ngomong apa.
Peringatan: Tulisan ini mungkin susunan dan tata bahasanya agak berantakan karena emang sebenernya gak begitu niat nulis, bikin capek doang, tapi karena rame di media sosial lokal dan luar negeri menghujat âSupergirlâ, gw jadi mikir, âApa kita nonton film yang beda???â. Banyak kritik yang argumennya bisa diterima akal sehat tapi jauh lebih banyak lagi yang di luar nalar, kebanyakan mengikuti hawa nafsu setan dengan subjektivitas gila-gilaan yang susah diuji omongannya. Yang ngerasa pusat galaksi juga lumayan banyak, pokoknya gak sesuai selera = filmnya jelek. Belum lagi yang suka bawa-bawa skor IMDb, Rotten Tomatoes, Cinemascore, dsb sebagai pendukung opini. Terobsesi banget sama konsensus, kayak pemenang pemilu itu bisa dijamin aja keadiluhungan kualitasnya. Gw lebih suka nilai film, musik, dsb mulai dari nanyain, âIni sebenernya mau ngapain sih? Tujuannya tercapai gak? Apa secara keseluruhan bekerja?â Selera bisa beda, tapi logika internal masih bisa diuji. Mau debatin selera pribadi sih sampe kiamat kubra juga gak bakal kelar. Jadi kalo pada akhirnya gak sesuai selera gw pun, gw gak otomatis bilang karya yang gw amati jelek. Begitu juga âSupergirlâ, banyak pilihan artistik Craig Gillespie dan Ana Nogueira yang gak begitu sreg, tapi bisa gw pahami alasan pilihan mereka. Kita gak bisa mengevaluasi sesuatu dengan mentalitas "gue maunya begini, malah dikasih begitu, jelek ah!" No Film School pernah nerbitin artikel tentang ini. Udah ah, langsung aja, kelamaan pembukanya, capek juga ngetiknya. Tulisannya dibagi dua biar gak ngos-ngosan (yang nulis, yang baca sih bodo amat, gak ada yang baca juga). Bagian 1 isinya bantahan terhadap opini yang sering beredar dan bagian 2 isinya tentang percobaan meneropong film ini dari lensa Dramatica.
MASA SIH? APA IYA?
Bagian ini hasil modifikasi posting ngalor ngidul di X (twitter). Berikut ini opini yang sering ditemui (dari kritikus pro yang memiliki masalah ketertiban nalar, influencer segala tau, sinefil adiluhung, fanboy karatan, dan penonton sirkus pada umumnya) beserta bantahannya:
"Krem sebagai main villain gak memorable, tipis, lemah, gak berpengaruh ke emotional journey Kara, gak ada backstory" -> Ya karena emang filmnya gak mau ngasih ruang lebih ke penjahat seksual dan lebih milih fokus ke korban trauma??? Kalo Krem kerasa tipis dan gak memorable malah bagus juga karena sampah peradaban emang gak perlu diinget. Ini sama sekali bukan cacat penulisan. Di pola cerita yang lebih dekat ke sekaikei dibanding cerita superhero konvensional, Krem emang sengaja ditempatkan di luar pusat konflik karena posisi terdepan udah ditempati Kara (main character) dan Ruthye (influence character). Karakter eksternal seperti Krem lebih berfungsi sebagai tekanan pada pola hubungan Kara dan Ruthye, jadi ngapain dia dituntut untuk mempengaruhi perjalanan emosional Kara? Bukan tugasnya, woy!!! Maen suruh-suruh aja, lo!!! Sialan, gw jadi belain penjahat kelamin macem Krem.
âFilmnya gak bisa mengartikulasikan kenapa Krypto penting buat Kara, hubungannya terasa robotik. Dialog âhome is wherever you areâ cuma modal ocehanâ -> Starting point itu aksioma (given condition), bukan misteri yang wajib dibedah abis-abisan. Penonton gak butuh kuliah 4 SKS di awal cuma buat dijelasin kenapa Kara nganggep Krypto itu rumahnya. Logika dasarnya udah cukup: pengungsi kesepian yang masa lalunya hancur lebur dan anjingnya jadi satu-satunya saksi hidup yang masih tersisa dari tempat asalnya. Di awal film sepertinya sudah lebih dari cukup memberi gambaran hubungan mereka: makan dari sendok yang sama, main bareng, Krypto bebas berbuat kerusuhan merusak apa aja, Krypto bisa memahami isi hati Kara yang kadang gak sinkron ucapan dan perbuatan, Krypto tanpa diminta langsung membantu Kara saat terdesak, dsb. Terungkap kemudian, Kara bertemu Krypto kecil yang dekil tepat di hari pemakaman ibunya. Cerita gak dimulai dari permulaan hidup, tapi dimulai ketika penggerak cerita mengganggu keseimbangan yang udah diasumsikan ada. Yang menarik justru bukan "kenapa Krypto jadi rumah?", tapi "apakah di akhir cerita Kara berubah memaknai rumah?â Itu pertanyaan yang dijawab di akhir film ini.
"Lagu pengiring final battle-nya gak sinkron sama koreografi!" -> Bisa jadi disonansi yang disengaja dengan lebih memfokuskan ke kondisi batin Kara yang mau melindungi dan menenangkan Ruthye, liriknya kan pas banget (âThe Middleâ dari Jimmy Eat World yang dibawain ulang sama Kelty Greye & KidMotel). Lagian gak ada kewajiban musik pengiring kudu sinkron sama koreografi. Kara yang bisa dibilang âemotionally indirectâ juga beberapa kali sepanjang film gak sinkron antara ucapan dan tindakan. Tuh kan lagi-lagi ngebelain pemilihan lagu yang gak gw suka. Mending gw muter 4 album RosalĂa nonstop 24 jam daripada denger lagu beginian sekali.
"Gak sesuai komik aslinya, final battle harusnya di pantai, visualnya lebih indah" -> Males komentarin yang begini sebenernya, terlalu noob gak bisa pisahin sumber dan karya adaptasi, mana buta konteks lagi. Masaâ geng predator dan perdagangan manusia lo suruh mati di tempat yang bagus. Disuruh mati atau disuruh liburan? Udah bener yang macem gitu dibuang sekalian di wasteland macem Barenton. Perubahan lokasi final battle bukan cuma soal "biar beda", tapi juga menyesuaikan versi cerita yang lagi dibangun. Lagian mana ada sih adaptasi lintas media bisa 1:1, pasti ada reinterpretasi atau rekontekstualisasi. Stake di filmnya malah lebih serem dibanding di komiknya.
"Lobo gak penting banget, malah jadi distraksi" -> Sebenernya si gagah tampan sableng ini berdaya guna agak tinggi, tapi emang integrasinya gak mulus. Lobo jadi foil tipis-tipis buat Kara: ugal-ugalan, kasar, keluyuran lintas galaksi, gak peduli moralitas (Kara punya empati dan kompas moral), transaksional (kebalikan Kara), dilabeli punya god complex (kontras dengan Kara yang memiliki inferiority compex), tapi ironisnya punya tujuan hidup gak seperti Kara yang sedang kehilangan arah. Lobo juga berfungsi jadi penanda norma kalo di ujung galaksi yang barbar sana bekerja hukum rimba. Gak pernah keliatan keberadaan sistem hukum dengan aparat penegaknya. Orang kaya rela menyewa bounty hunter untuk menyelesaikan masalah. Si kampret ini juga gak sengaja jadi mentor survival buat Ruthye di salah satu adegan sembari memberikan validasi atas ketangguhan remaja tersebut. Langsung aja kita sebut dia sebagai enabler pembalasan dendam... Selain sebagai comic relief, Lobo juga sekalian gantiin fungsi Comet si kuda super di komik aslinya sebagai wildcard. Mungkin Lobo pantas disematkan sebagai pegawai fungsional teladan karena banyak bener fungsi yang diemban. Gak usah nagih backstory macem-macem ke Lobo dan juga jangan nagih dia untuk mempengaruhi perjalanan emosional Kara. Itu bukan wilayah kerjanya. Posisi Lobo ada di jalur konflik eksternal (overall story) kayak Krem. Biasakan menagih scenes with purpose alih-alih ornamental backstory. Lagian kalo gak ada Lobo, palingan juga di media sosial rame tuduhan âwoke garbage female revenge fantasy!!!!â
"Babak ketiga ancur lebur, lack tension, tempo keseluruhan gak konsisten" -> Kalo gak bisa identifikasi struktur film dan nganggep semua film berstruktur 3 babak mending belajar lagi sih daripada bacot kosong gak ada juntrungan. Kalo film Bollywood, Korea, Jepang, Iran, dsb semua digetok dianggep 3 babak apa gak ancur lebur itu analisisnya? Ntar tiba-tiba Ozu, Wong Kar-wai, sampe Abbas Kiarostami disuruh ikutan remedial lagi. âSupergirlâ lebih pas dibagi jadi 4 babak (bukan 3 babak kayak halusinasi banyak penonton). Kalo temponya kendor di babak 3, masuk akal diselipin sebagai ruang refleksi. Perpindahan babak emang bisa jadi kesempatan ngubah tempo. Jadi kalo ritmenya tiba-tiba lebih santai gak otomatis bisa dicap "lack tension". Bisa aja filmnya emang lagi ngeganti tensi fisik jadi tensi emosional. Kayak maen bola selama 90 menit tempo dan tensinya bakal konsisten aja. Perlu disiksa dengan dicekokin liga purba Serie A nih penonton macem begini.
âPaham kenapa subjudul âWoman of Tomorrowâ dihapus, gak ada narasi âtomorrowâ-nyaâ -> Orang macem begini kalo ada ular depan mukanya juga gak ngelihat, tau-tau dirawat di RSUD terdekat aja kena patok. Babak keempat justru hampir seluruhnya ngomongin masa depan yang di film ini jadi manifestasi pemulihan trauma. Kara di awal cerita gak punya tujuan idup, ngerasa gak signifikan (self-esteem rendah), self-destructive, lari dari mandat ibunya, ngerasa lebih inferior dari sepupunya, boro-boro mikirin besok mau ngapain. Klimaksnya, Kara akhirnya memutuskan masih ada hari esok yang layak dijalani setelah sadar kalo selama ini banyak pihak yang ngasih validasi (kedua orang tuanya, Superman, dan yang terakhir Ruthye). Selain menyelamatkan masa depan Ruthye dari trauma tambahan dan remaja yang diculik, Kara juga menyelamatkan masa depan diri sendiri. Itu yang bikin banyak penonton ngerasa kelamaan nungguin dia pake kostum kebangsaannya. Padahal kostum yang sempat disebutnya bodoh dan gak berguna itu justru akhirnya jadi penanda kalo Kara berhasil berdamai dengan dirinya sendiri. Sebelum jadi Woman of Tomorrow, syarat minimal kan harus percaya dulu kalo dirinya masih punya rencana buat besok.
âFilmnya gak punya pijakan yang jelas soal kode moral Kara. Ngelarang Ruthye membunuh tapi akhirnya dia sendiri yang menghabisi Krem tanpa beban. Kontradiktif dan membingungkan!â ->Â Kara dan Ruthye (yang usianya lebih muda 10 tahun) sama-sama hidup dalam trauma, yang membedakan adalah tingkatannya. Ruthye memiliki satu lapis trauma (kehilangan keluarga dan rumah), sedangkan Kara terbebani beberapa kali lipat yang membuatnya menganggap diri sendiri sebagai sebuah kegagalan: kehilangan keluarga dan kampung halaman, ketidakmampuan menjalankan mandat ibunya, kesulitan beradaptasi di tempat baru, dan hidup dengan inferiority complex (sejak di Argo City, dia tidak pernah merasa dirinya istimewa). Sangat mungkin Kara melarang Ruthye membalas dendam bukan karena membela Krem atau punya prinsip anti-pembunuhan (Kara membunuh seorang anggota Brigand di Bilquis), tapi karena gak mau Ruthye menambah satu lagi lapis trauma yang harus dipikul seumur hidup. Ironisnya, keputusannya malah bikin Krem lolos dan membantai satu keluarga lain. Kara yang sejak awal film enggan menunjukkan kerapuhannya ke orang sekitar memilih terbang ke luar atmosfer untuk berteriak dan menangis sendirian. Keyakinan moralnya mulai runtuh karena dia sadar keputusan yang menurutnya benar ternyata juga punya konsekuensi mengerikan. Makanya, yang berubah bukan sekadar keputusan Kara, tapi caranya memandang konsekuensi dari keputusan moralnya sendiri. Sepanjang cerita, Kara beberapa kali menyamarkan maksud sebenarnya di balik ucapannya. Jadi, membaca setiap kalimat Kara secara harfiah justru berisiko kehilangan karakterisasi utamanya sebagai orang yang emotionally indirect. Dia jelas melarang Lobo melempar Krem ke luar pesawat karena masih butuh penawar racun dan menyadari Ruthye ada di jangkauan lemparan. Setelah meyakinkan Ruthye untuk membatalkan pembalasan dendamnya dan meninggalkan lokasi, Kara berperan sebagai sin-eater dengan mengeksekusi sendiri Krem melalui 2 tusukan yang masing-masing mewakili Krypto dan Ruthye. Di sini, dia gak bertindak sebagai algojo galaksi. Dia justru mengambil beban itu ke dirinya sendiri supaya Ruthye gak perlu idup dengan konsekuensi psikologis dari tindakan tersebut.
Cerita aslinya seperti esai balas dendam yang intinya menghentikan kekerasan. Film seharusnya memberikan jatah ke Lobo yang tidak peduli moralitas untuk membunuh Krem, bukan Kara -> Ini kayak pegawai tetap lembur 3 bulan ngurus pitching proyek baru, nyiapin materi, riset, dan latihan presentasi segala macem, tapi pas hari-H, si bos malah nyuruh MC kondangan kharismatik yang baru baca materi sejam sebelumnya buat presentasi ke investor. Seperti yang udah dibahas, Lobo dan Krem sama-sama pemain eksternal di sini. Lobo gak punya hubungan trauma dengan Kara juga gak punya hubungan emosional dengan Ruthye dan Krypto.  Dia bukan pemilik konfik dan gak ikut âlemburâ secara emosional sepanjang cerita. Ketika Krem membunuh keluarga Vran, Kara terbang ke luar atmosfer untuk mengekspresikan kesedihannya. Di situlah titik baliknya. Memberikan jatah ke Lobo untuk mengeksekusi Krem malah merusak payoff-nya. Payoff seharusnya jatuh ke karakter yang sejak awal memikul beban emosional cerita, bukannya ke karakter yang cuma berfungsi jadi tekanan eksternal. Perlu diinget juga, keputusan Kara lahir dari konteks dunia yang dibangun film. Di ujung galaksi yang dipenuhi barbarisme dan hukum rimba, penyelesaian yang dia ambil belum tentu akan sama kalo peristiwa serupa terjadi di bumi. Di  âWoman of Tomorrowâ karya Tom King, Krem dipenjara ratusan tahun (waktu setempat) di phantom zone dan dibebaskan ketika usianya udah tua banget. Saat bersimpuh meminta maaf, Ruthye yang masih meragukan perubahan diri Krem, menghajarnya dengan tongkat sampai tersungkur dan Supergirl sama sekali gak menghalanginya. Keduanya kemudian berjalan bersama meninggalkan Krem begitu saja. Salah satu pembacaan yang mungkin adalah Kara gak semata-mata menyelamatkan Krem, melainkan menyelamatkan Ruthye yang masih belia dari beban psikologis tambahan. Komik gak pernah menuntut Ruthye memaafkan Krem selamanya, yang ditampilkan hanyalah Supergirl mencegah balas dendam Ruthye pada fase hidup tertentu. Dari sudut pandang ini, naskah Ana Nogueira bukan sedang mengkhianati komik, melainkan mengeksplisitkan salah satu kemungkinan pembacaan atas gagasan yang sengaja dibiarkan ambigu oleh Tom King. Ana mengubah ujung arc Ruthye. Di komik berhenti pada sinisme, di film ditutup dengan transformasi. Kalo ngebaca film sebagai coming-of-age Ruthye sekaligus pemulihan Kara, perubahan itu konsisten dengan arah cerita yang dibangun sejak awal.
âKara ujug-ujug pulang ke bumi tanpa alasan jelas, cuma buat nambahin adegan ekstra Supermanâ -> Ngomong apaan sih? Ada akumulasi payoff kenapa Kara akhirnya pulang. Kalo dia masih keluyuran gak jelas ya character arc-nya malah gak lengkap. Perjalanan Ruthye dan Kara sejak awal emang dibangun secara paralel, lalu sama-sama ditutup dengan penerimaan terhadap rumah baru. Ruthye yang membatalkan misi balas dendamnya akhirnya tinggal bersama bibinya (fanboy karatan bakal lanjut sok kaget, "Hah? Tiba-tiba punya bibi?"). Kara yang akhirnya menyadari bahwa dirinya berguna memilih kembali ke bumi, tempat yang sejak awal diharapkan kedua orang tuanya menjadi rumah barunya. Kehadiran Superman di akhir juga sama sekali bukan tempelan. Validasi terakhir mengenai pentingnya keberadaan Kara justru datang dari orang yang selama ini tanpa sadar menjadi bayang-bayang terbesar dalam hidupnya. Ketika Superman berkata, âI could always use your help, but I know you have places to be,â Kara yang masih mengenakan kostum Supergirl menjawab, âNo.â Jawaban itu jadi penanda bahwa akhirnya dia berhenti kabur dari hidupnya sendiri dan menerima bumi sebagai rumah.
âMasalah mendasar film ini berakar pada naskah tulisan Ana Nogueira yang terasa sangat lemah. Kara berkeliaran tanpa arah di filmnya sendiri. âSupergirlâ gagal terbang tinggi akibat naskah yang rapuh dan arah kreatif yang gamang!â -> Terasa??? Dari kesan pribadi langsung salto ke vonis naskahnya lemah tanpa observasi memadai? Tuduhan serius begini sih pantesnya dibawa ke Pengadilan Galaksi dengan menghadirkan Lobo sebagai saksi kunci. Sudah saatnya beralih ke bagian kedua!
What if Sun Wukong and his entorurage made an experimental music album inspired by their journey? Wukong himself was a two-time Westbound veteran: first conquering the two seas to seek Master Subodhi, and later navigating the Silk Road to reach India with the Monkâs crew.
Album cover and CD
Tracklist:
01. Changâan
02. Five Elements Mountain
03. Black Wind Mountain
04. Eagle Grief Stream
05. Wuzhuang Temple
06. Village of Gao
07. River of Flowing Sand
08. White Bone Ridge
09. Mount Huoyun
10. Womenâs Kingdom
11. Flaming Mountains
12. Lion Camel Ridge
13. Spider Demon Cave
14. Bottomless Cave
15. Heavenly River
16. Thunderclap Monastery
17. Flowers Fruit Mountain (Bonus Track)
The Pilgrims: Sha Wujing, Tang Sanzang, Sun Wukong, Ao Lie, Zhu Bajie
Album Artworks:
Tang recruited Wukong, Bajie, and Wujing
Wukong fought another celestial monkey. There were 4 celestial primates - the Stone-Monkey (Wukong himself!), the Red-Buttocked Horse-Monkey, the Long-Armed Gibbon, and the Six-Eared Macaque
Film Superman besutan James Gunn yang tayang pertengahan tahun ini memperkenalkan narasi empati radikal sebagai bentuk baru punk. Dekonstruksi ini terasa seperti upaya mengembalikan esensi pahlawan super ke akarnya: sebuah resistensi lembut namun tegas terhadap sinisme zaman. Keluarga Kent, yang hidup sederhana di komunitas kecil, tertinggal secara teknologi, dan kerap diremehkan, merepresentasikan marginalitas kultural. Justru dari posisi ini lahir etika empatik dan bentuk resistensi halus yang membentuk sensibilitas subkultural Superman.
Putra terakhir Krypton ini digambarkan sebagai sosok yang sedikit canggung, ekspresif, emosional, dan tidak piawai mengelola citra publiknya. Ia kerap larut dalam kesedihan mendalam dan sulit menyembunyikan kekesalannya saat menghadapi pandangan yang menurutnya keliru. Dalam tradisi punk, keberanian menampilkan emosi mentah tanpa memediasinya demi citra heroik justru dipahami sebagai tanda otentisitas. Superman menolak sikap dingin, sinis, dan terputus dari penderitaan nyata.
Menjelang akhir cerita, untuk memberi penghormatan terakhir kepada sesama imigran bernama Malik Ali, Superman sengaja memanfaatkan persona Clark Kentâyang sebenarnya tidak memiliki hubungan organik dengan pedagang falafel kaki lima tersebutâuntuk membajak korporasi media arus utama Daily Planet dan mengubahnya menjadi artefak subkultur serupa fanzine. Politisasi sensitivitas personal seperti ini merupakan praktik lumrah dalam subkultur punk. Lewat manuver ini, ia merebut kembali ruang publik dari dominasi institusi besar demi menyoroti mereka yang sering dianggap tidak penting, tidak layak didengar, atau tidak layak dikenang.
Sensibilitas punk yang melekat pada ikon budaya populer ini seketika membawa ingatan saya kembali ke tahun 2009, saat membaca buku Steven Lee Beeber, The Heebie-Jeebies at the CBGBâs (2006). Dari situ, saya berkesimpulan bahwa Peter Parkerâdiperkenalkan lewat Amazing Fantasy #15 (Juni 1962)âadalah anomali fiksi yang benar-benar mendahului zamannya. Ia meruntuhkan pakem pahlawan remaja yang biasanya cuma jadi pengiring (sidekick) bagi figur dewasa dominan. Remaja Era Atom asal Forest Hills, Queens ini sudah menunjukkan karakteristik punk hampir satu dekade sebelum terminologi musiknya lahir di jalanan New York.
Peter Parker lahir dari kolaborasi dua kreator dengan visi dan kepribadian yang bertolak belakang. Jalur pemberontakan justru yang menyatukan keduanya: Stan Lee sebagai pemberontak naratif yang menolak formula pahlawan sempurna, sedangkan Steve Ditko sebagai pemberontak visual yang memperkenalkan estetika urban neurotik dan klaustrofobik. Awalnya, Ditko bukanlah pilihan utama Lee, tetapi akhirnya terpilih karena menawarkan pendekatan yang berbeda dari gaya heroik Jack Kirby. Lee memberi narasi emosional dan humor, sedangkan Ditko menanamkan konsistensi moral, alienasi psikologis, dan estetika unik. Perpaduan ini membentuk karakter Peter Parker yang kompleks, dilematis, danâdalam arti yang paling harfiahâ menakjubkan, yang kemudian dikenal dunia sebagai Spider-Man.
Stan Lee yang ramah dan komunikatif cenderung menekankan gaya populer, daya tarik massal, serta sisi humanistik dari pahlawan super. Kepekaannya terhadap keresahan remaja New York pada awal 1960-an memungkinkan lahirnya figur seperti Peter Parker: anak muda yang dipenuhi keraguan, bermasalah di sekolah, dan terhimpit tekanan sosio-ekonomi. Figur semacam ini secara halus mengganggu standar Comics Code Authority (CCA) yang mensyaratkan pahlawan tampil nyaris sempurna, bermoral tunggal, dan steril dari kompleksitas sosial. Dalam konteks ini, kisah Spider-Man yang memindahkan konflik batin dan dilema sosial ke jantung cerita dapat dipandang sebagai bentuk resistensi naratif.
Di sisi lain, Steve Ditko yang tertutup dan idealis lebih memusatkan perhatian pada integritas visual dan konseptual ketimbang keterbacaan massal. Ia tidak menggambar dengan garis tebal yang mulus ala Kirby. Goresannya tipis, tajam, dan gelisah. Figur-figurnya kurus, lentur, memanjang, dengan postur yang sering terasa canggung dan tidak stabil. Kota yang ia bangun pun tampak menekan: dinding gedung miring, lorong gelap memotong bidang secara agresif, dan perspektif ekstrem menciptakan rasa klaustrofobik yang konstan. Resistensi visual ini menghadirkan dunia urban yang berdebu, berantakan, dan neurotik. Estetika Ditko terasa sejalan dengan bahasa visual poster punk yang terpampang di CBGB dan skena swakriya (do it yourself) New York satu dekade kemudian. Spider-Man versi Ditko bukan pahlawan yang berdiri di atas kota, melainkan tubuh marginal yang terjepit di dalamnya.
Bertemunya dua jalur resistensi ini menempatkan Spider-Man di wilayah abu-abu yang jarang disentuh pahlawan super sezamannya. Ia tidak sepenuhnya tunduk pada logika institusional, tetapi juga tidak romantik sebagai figur pemberontak murni. Peter Parker hidup di antara tuntutan moral, tekanan ekonomi, dan tubuh kota yang tidak ramah. Spider-Man lahir bukan sebagai simbol kemenangan, melainkan sebagai praktik bertahan hidup. Secara teoretis, ia layak diposisikan sebagai figur proto-punkâsebuah label retrospektif yang mulai beredar di kalangan jurnalis musik pada 1980-an untuk memetakan para pemberontak sebelum subkultur punk benar-benar merebut perhatian publik di dekade 1970-an. Tanpa menunggu restu otoritas, Peter bergerak dengan etos swakriya: merancang perangkatnya, menjahit identitasnya, dan memikul tanggung jawab besar di pundaknya. Keseluruhan praktik ini menjadi manifestasi daya tanggulang subjek terpinggirkan yang menolak tunduk pada kolektivitas mapan.
Era Atom (pertengahan 1940-an hingga akhir 1960-an) bukan sekadar soal ketakutan kolektif akan kiamat nuklir, tetapi juga turbulensi hebat dalam kehidupan remaja yang terjebak dalam moratorium psikososial. Erik Erikson, dalam Identity: Youth and Crisis (1968), membedah fase ini sebagai medan tempur antara pembentukan identitas dan kebingungan peran. Remaja dipaksa keras mencari validasi di tengah struktur otoritas yang kian kaku. Situasi ini diperparah oleh fenomena yang disebut David Riesman dalam The Lonely Crowd (1950) sebagai pergeseran menuju karakter berorientasi liyan (other-directed), di mana kecemasan soal penerimaan sosial dan kehilangan orientasi batin (inner-directed) menjadi sangat nyata. Ironisnya, mereka sering merasa terisolasi secara eksistensial justru saat berada di tengah kerumunan yang menuntut konformitas tinggi.
Peter Parker yang terhimpit oleh alienasi sosial menjadi cerminan nyata kegelisahan remaja di zamannya. Peter secara simbolis menginternalisasi teror sekaligus potensi destruktif dari teknologi nuklir ke dalam tubuhnya setelah digigit laba-laba radioaktif. Di usia 15 tahun, ia mulai beraksi sebagai "Spider-Man"âsebuah kompensasi psikis untuk melompati fase remaja yang penuh ketidakberdayaan. Dalam perspektif Erikson, ini adalah cara Peter memanipulasi moratorium psikososialnya dengan berpura-pura menjadi dewasa demi memperoleh otoritas yang sejatinya belum dimilikinya. Pendekatan ini sejalan dengan konsep orientasi liyan dari Riesman: remaja yang terlalu peka terhadap penerimaan sosial. Persona "Man" yang ia ciptakan menutupi kecemasan eksistensialnya, sekaligus menjadi sarana eskapisme dan mekanisme daya tanggulang terhadap kemarahan serta tekanan sosio-ekonomi yang menekannya.
Kepekaan sosial Peter bahkan dimanifestasikan dalam bentuk indra laba-laba (spider-sense), semacam âradarâ instingtif yang memperingatkannya terhadap bahaya. Secara metaforis, kemampuan ini paralel dengan sensitivitas remaja berorientasi liyan yang terus-menerus menavigasi tekanan sosial: acak, mengganggu, tetapi esensial untuk bertahan hidup. Dari perspektif subkultural, indra laba-laba berfungsi sebagai simbol etos proto-punk Peterâkemampuannya membaca lingkungan, tetap terhubung dengan mereka yang terpinggirkan, dan bertindak secara mandiri tanpa menunggu izin dari otoritas mapan. Dalam setiap getaran peringatan yang dirasakannya, tampak bagaimana marginalitas dan kewaspadaan sosial diramu menjadi kreativitas, ketangkasan, dan keberanian khas remaja yang melintasi batasan, sekaligus menjadi fondasi bagi persona Spider-Man.
---
Selanjutnya: Potret dari Pinggiran (Dick Hebdige dan Spider-Man)
Selama dua jam menyaksikan âGundalaâ, kita disuguhi sinematografi yang mumpuni, latar cerita yang meyakinkan, adegan pertarungan yang intens, serta musik latar yang cukup inspiratif. Mungkin hanya di satu atau dua titik saja penerapan efek visual terasa kurang maksimal, tapi secara keseluruhan tidaklah menggangu. Tema yang diusung pun dekat dengan keseharian. Jika Bong Joon-ho dipaksa untuk mengadaptasi komik pahlawan super ke layar lebar, mungkin gagasan yang ia sampaikan tak akan jauh berbeda. Di sisi lain, ambisi untuk memperkenalkan sebanyak mungkin karakter âbeberapa di antaranya tidak terintegrasi dengan baikâ serta kecenderungan Joko Anwar mengutamakan misteri dibanding urgensi malah seperti menjauhkan film ini dari koherensi.
Negeri ini butuh patriot. Begitu tulisan yang tertera di poster promo âGundalaâ. Dalam salah satu wawancara, Joko Anwar menyebut film ini memang merefleksikan situasi sosial politik Indonesia saat ini. Tak heran hoaks menggelikan pemicu kegaduhan serta beberapa hal lain yang dimunculkannya di sini terasa tak asing bagi kita. Joko yang merangkap sebagai sutradara sekaligus penulis seakan mengisyaratkan perlunya kehadiran inspirator di tengah himpitan permasalahan yang dihadapi di negeri ini. Ia pun kemudian menjadikan resonansi sebagai gagasan utama cerita. Sepanjang film, beberapa kali diperlihatkan bagaimana tindakan satu orang akan diikuti oleh orang lain yang satu pemikiran: aksi serikat pekerja menuntut keadilan, pemberontakan anak-anak panti asuhan, bersatunya masyarakat menghentikan penjarahan, dan perlawanan terhadap oligarki politik. Tak ketinggalan, aksi pamungkas Sancaka (Abimana Aryasatya) pun turut memanfaatkan kesamaan frekuensi alami sebuah kristal. Sayangnya, apa yang ditampilkan di adegan pembuka tidak âberesonansiâ dengan baik dengan apa yang ditampilkannya di penutup. Alih-alih memberikan sebuah simpulan, Joko Anwar tampak lebih tertarik menghadirkan belokan alur (plot twist) sekaligus pemantik rasa penasaran penonton terhadap film-film adisatria Bumilangit berikutnya. Jika dikaitkan dengan sifat gelombang bunyi, adegan yang ditampilkan di penghujung cerita tak ubahnya difraksi yang merupakan pembelokan arah gerak gelombang.
âGundalaâ dibuka dengan adegan para pekerja pabrik yang meneriakkan, âMaju bersatu melawan penindasan! Maju bersatu tak bisa dikalahkan!â Mudah diterka jika pada akhirnya, Â para pekerja ini harus takluk pada permainan pemilik modal. Sisa babak pertama pun kental dengan nuansa pesimisme. Di salah satu adegan, seorang rekan kerja Sancaka mengajaknya pindah ke daerah lain karena menurutnya tak ada lagi yang bisa diharapkan di Jakarta. Mendekati akhir babak kedua, Sedhah Esti Wulan (Tara Basro) mengingatkan Sancaka bahwa harapan sekecil apa pun tetap dibutuhkan untuk tetap bertahan. Percikan harapan inilah yang berusaha dipadamkan oleh sang antagonis untuk melanggengkan agendanya. Dari sisi tematik, keseluruhan cerita akan terasa lebih bermakna jika ditutup dengan momen kemenangan dan optimisme termasuk misalnya menampilkan pedagang pasar yang mampu bangkit dan memulai kembali usahanya. Yang ditampilkan oleh sang sutradara di adegan tengah kredit sebenarnya cukup representatif. Namun, jika film diibaratkan sebuah buku, apa yang disuguhkan setelah kredit ditampilkan tak ubahnya hanya sekadar apendiks. Ada baiknya jika adegan penutup film ini âsebenarnya mengurangi makna kepahlawanan Sancaka karena turut berperan membangkitkan kejahatanâ bertukar posisi dengan adegan tengah kredit. Sebagai pembanding, akhir âThe Avengersâ (2012) yang keseluruhan ceritanya berkutat seputar kolektivitas mampu menjawab pertanyaan: âDapatkah mereka mengatasi perbedaan untuk kemudian bekerja sama menghadapi serangan dari luar bumi?â Di frame terakhir, tak ada lagi huruf timbul S, T, R, dan K di Stark Tower, yang tersisa hanya huruf A. Tony Stark yang terkenal dengan ego besarnya pun resmi beralih menjadi pemain tim. Di tengah kredit, barulah Joss Whedon memperkenalkan ancaman lebih besar yang akan dihadapi tim pahlawan super tersebut ke depannya.
Sancaka dan Chaidar Subandi (Bront Palarae) ibarat dua sisi mata koin. Sepanjang babak pertama, kita diajak menyelisik bagaimana masa lalu mereka yang traumatis dan memilukan kemudian berpengaruh besar terhadap cara pandang masing-masing saat beranjak dewasa. Sancaka kecil (Muzakki Ramdhan) harus kehilangan ayahnya (Rio Dewanto) yang tewas saat memimpin pergerakan. Sancaka tahu ayahnya dijebak, tetapi terlambat saat mengejar rombongan demonstran. Ibunya (Marissa Anita) pergi ke kota untuk mencari pekerjaan dan tak pernah kembali lagi. Sancaka yang cerdas pun harus menghadapi kenyataan pahit. Dengan tertutupnya kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi, ia terpaksa menjalani kerasnya hidup di jalanan dengan menjadi pengamen dan kuli panggul pelabuhan. Awang (Faris Fadjar), anak jalanan yang ia temui, berpesan padanya agar menjauhi masalah dengan tidak mempedulikan urusan orang lain. Interaksi Sancaka dan Awang âyang merupakan identitas sipil dari seorang adisatria Bumilangitâ memang menarik, tetapi kehadiran Awang di cerita ini bisa dikatakan repetitif dan tidak ekonomis. Tanpa Awang pun, Sancaka sebenarnya sudah paham konsekuensinya jika memaksakan diri menjadi pahlawan kesiangan setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri sang ayah tergeletak bersimbah darah. Selain itu, pesan Awang agar Sancaka tidak mempercayai orang kaya juga terkesan hanya untuk menjustifikasi keberadaan adegan selanjutnya saat Sancaka bertemu dengan pasangan suami istri. Saat dewasa, ia sepertinya tak memiliki masalah berarti ketika bertemu warga kelas atas seperti Ridwan Bahri (Lukman Sardi). Buat sebagian penggemar fanatik komik Gundala karya Hasmi maupun film adaptasi besutan Lilik Sudjio rilisan tahun 1981, keputusan Joko memodifikasi latar belakang sang protagonis termasuk profesinya mungkin terlalu gegabah. Namun, jika ditilik kembali konteks cerita yang ingin ia sampaikan, keputusan ini bisa dibilang cerdik. Pekerjaannya sebagai petugas keamanan dan ketidakpeduliannya terhadap urusan orang lain menjadi ironi tersendiri bagi Sancaka. Â
Sebagai antitesis Sancaka, latar belakang Chaidar Subandi diungkap oleh politisi Ridwan Bahri. Ayah Chaidar yang merupakan pemilik salah satu perkebunan terbesar di Jawa difitnah dan dibunuh oleh pekerjanya sendiri. Oleh kerabat ayahnya yang ingin mengambil alih kekayaan, Chaidar yang separuh wajahnya terbakar dan sebagian tubuhnya mengalami disabilitas permanen pun lantas dikirim ke panti asuhan yang mengerikan. Dengan kharismanya, Chaidar memimpin pemberontakan yang kemudian menjalar di berbagai daerah. Setelah kekayaan keluarganya mampu direbut kembali, Â ia pun dengan segala cara menyusun tatanan sosial baru demi melindungi kepentingan golongannya, termasuk di antaranya membajak pemerintahan dan mengupayakan rekayasa sosial. Chaidar tak berpikir dua kali untuk menyingkirkan orang-orang yang menghalangi rencananya. Menghadirkan penyandang disabilitas seperti Chaidar Subandi sebagai antagonis tentu saja problematik karena bisa menimbulkan persepsi bahwa kekurangan fisik berkaitan erat dengan pergeseran moralitas. Tahun lalu, British Film Institute berusaha mengakhiri stigma buruk tersebut dengan mengampanyekan #IamNotYourVillain dan menolak tegas untuk mendanai film yang menjadikan kaum difabel sebagai antagonisnya. Joko Anwar tampak berusaha menyiasatinya dengan menjadikan Sancaka juga mengalami hal serupa setelah bagian daun telinganya diiris oleh anak jalanan dan preman pasar. Sayangnya, di film ini, Joko tetap mempertahankan nama julukan sang antagonis yang sebenarnya terdengar tidak etis. Padahal, untuk beberapa hal lain, ia terkesan berani mengobrak-abrik semesta cerita Gundala yang diciptakan Hasmi.
Idealnya, cara pandang yang kontras serta latar belakang yang paralel antara Sancaka dan Chaidar akan mampu menghadirkan konflik yang menarik di babak selanjutnya. Dari caranya diperkenalkan kepada penonton, sepertinya Chaidar memang dimaksudkan sebagai salah satu karakter katalis (influence character) bagi Sancaka. Namun, Joko Anwar tampak kesulitan mengatur pertemuan keduanya lebih awal. Seperti yang sudah menjadi kebiasaannya, sang sutradara malah terlihat asyik bermain dengan selubung misteri dan kejutan-kejutan acak. Di babak kedua, Joko mengalihkan perhatian penonton pada pencarian oknum pembakar pasar. Beberapa adegan muncul semata-mata untuk menyodorkan tanda tanya. Belokan-belokan yang dipersiapkannya tak pernah benar-benar membawa kita ke mana-mana. Bandingkan misalnya dengan âPintu Terlarangâ (2009) yang menjadi salah satu karya terbaik Joko Anwar. Jalan yang kita lewati menuju pengungkapan mengejutkan di akhir film tersebut telah terbangun rapi sedari awal. Sisipan misteri memang mampu menghadirkan atmosfer yang menarik, tapi terkadang apa yang lebih dibutuhkan dari sebuah adegan adalah makna dan kejelasan. Alhasil, keberadaan Chaidar Subandi tidak memiliki peran signifikan terhadap perubahan paradigma Sancaka. Mereka berdua bisa dikatakan terlambat mengetahui keberadaan masing-masing. Sancaka baru mengetahui keberadaan lawannya tersebut dari penuturan Pak Agung (Pritt Timothy) dan Ridwan Bahri di babak ketiga. Jika saja ia lebih awal mengetahui keberadaan Chaidar dan menjadi saksi kekejamannya, tentu hal tersebut akan mendorong dirinya menjadi lebih proaktif dan berpendirian di babak penutup. Di sepertiga akhir film, Sancaka yang telah menjadi inspirasi banyak orang masih juga belum mantap menentukan sikap. Masih tebersit di pikirannya untuk pindah ke kota lain. Dengan penanganan karakter seperti ini, wajar jika muncul persepsi bahwa Sancaka semata-mata menjalankan tugasnya karena terpaksa, bukan karena dorongan hati nurani. Penceritaan yang lebih fungsional dan propulsif akan mengakhiri tarik ulur semacam ini sebelum babak penutup dimulai. Jika saja Sancaka dibuat lebih proaktif, tentu ia akan berusaha menemukan alternatif lain menghadapi ancaman saat ia kesulitan mengeluarkan kemampuan supernya di musim kemarau. Transformasinya pun akan terasa lengkap dari seorang yang awalnya apatis, berubah menjadi reaktif, dan akhirnya menjadi proaktif. Sama seperti Sancaka, Luke Skywalker di âStar Warsâ (1977) pun masih dalam proses pencarian jati diri. Di film tersebut, Luke merupakan salah satu pilot yang ditugasi untuk menghancurkan Death Star dan belum menyadari jika nantinya ia akan menjadi seorang Jedi. Luke yang semula menolak ajakan Obi-Wan Kenobi ke Alderaan akhirnya berubah pikiran setelah paman dan bibinya terbunuh. Sejak mengambil keputusan tersebut, kehidupan Luke tak lagi sama. Seiring pergantian babak, pelaku cerita memang dituntut beradaptasi dengan situasi baru karena tak mungkin lagi kembali ke situasi sebelumnya.Perubahan situasi yang harus dihadapi Sancaka di babak kedua sendiri ditampilkan dengan menarik oleh Joko Anwar. Setelah akhirnya memutuskan ikut campur urusan Wulan, kehidupan Sancaka pun berubah drastis. Ia harus dikeroyok preman dan tersambar petir. Di dalam mimpinya, ia melihat ayahnya tewas bersimbah darah, bayangan sesosok pria tua âkekuatan jahat yang telah lama terkuburâ pun mendatanginya. Joko seakan mengingatkan penonton, kepedulian Sancaka bukan tak mungkin malah menggiringnya bernasib serupa seperti ayahnya. Namun, sayangnya Joko membuang kesempatan begitu saja untuk menjadikan pengalaman traumatis Sancaka tersebut sebagai penanda (foreshadowing). Menurut Carol Sansone di dalam bukunya âHandbook of Methods in Social Psychologyâ (2003), penggunaan penanda berkaitan erat dengan fungsi psikologis (psychological functioning) positif sekaligus meningkatkan koherensi cerita. Dalam satu adegan kejar-kejaran, Sancaka terjatuh dari motor setelah pengendara mobil farmasi menembakkan peluru ke arahnya. Tanpa basa-basi, Joko memanfaatkan momen ini untuk memperkenalkan seorang adisatria perempuan. Di awal film, dua kali Sancaka kehilangan orang terdekatnya karena kegagalannya mengejar mereka. Akan lebih terasa âgaungnyaâ jika mendekati akhir film, ditampilkan keberhasilan Sancaka lari mengejar mobil tersebut sekaligus menghapus traumanya.
Perlakuan Joko Anwar terhadap dua karakter katalis, Pak Agung dan Wulan, juga semestinya bisa lebih baik lagi. Keberadaan karakter katalis dimaksudkan untuk menantang sudut pandang karakter utama sehingga selanjutnya ia berubah atau tetap pada pendiriannya. Sepanjang cerita, keberadaan Pak Agung dan Wulan terkesan hanya sebagai produsen kata-kata. Kita tak pernah diajak untuk menyelami isi pikiran mereka. Keduanya tak pernah benar-benar terealisasi penuh sebagai karakter. Cukup mengherankan melihat Sancaka yang selama belasan tahun tertanam dalam pikirannya untuk tidak mencampuri urusan lain, sekonyong-konyong berubah setelah mendengar petuah dari Pak Agung. Tak ada tensi di antara mereka. Absennya argumen emosional membuat perubahan Sancaka terasa kurang organik. Bandingkan misalnya dengan adegan di awal film ketika terjadi perdebatan kecil antara Sancaka dan ayahnya mengenai pragmatisme. Ada baiknya Joko Anwar menyelipkan adegan dari sudut pandang Pak Agung, misalnya potensi dan keistimewaan apa yang ia lihat dalam diri Sancaka. Dengan demikian, saat mendekati akhir film, penonton tak lagi bertanya-tanya, âDari mana Pak Agung tahu kekuatan itu sebenarnya ada dalam diri Sancaka?â Begitu pula dengan Wulan. Perlu disajikan alasan naratif mengapa ia menunda cukup lama untuk mengabarkan informasi penting pada Sancaka. Sebelumnya, tak pernah sekali pun ditampilkan dilema yang harus dihadapinya. Saat pertama kali diperkenalkan, Wulan adalah perempuan muda yang mandiri, berani, dan peduli. Ia aktif memperjuangkan hak-hak pedagang pasar walau terus mendapat ancaman dari para preman. Wulan lah yang memicu Sancaka untuk mulai berani bertindak. Namun, saat memasuki babak ketiga, peran Wulan pun terpinggirkan. Joko terkesan kebingungan harus bagaimana lagi mengintegrasikan Wulan ke dalam cerita. Tak pernah lagi Wulan terlihat mendampingi para pedagang yang telah kehilangan tempat berjualan. Di salah satu adegan, Wulan mengatakan pada Sancaka jika ia dan Pak Agung sering berbincang mengenai dirinya. Patut disayangkan, Joko Anwar lebih memilih untuk menyertakan dialog ini dibanding obrolan antara Wulan dan Pak Agung itu sendiri.
Dalam seminggu penayangannya, âGundalaâ mampu menjaring lebih dari 1 juta penonton. Di media sosial, cukup banyak yang mengungkapkan rasa penasaran akan kelanjutan ceritanya. Kemunculan singkat beberapa karakter kunci turut meningkatkan antusiasme penonton terhadap proyek-proyek selanjutnya. Apalagi pihak studio juga telah berhasil menggaet jajaran nama-nama beken. Sedari awal, Joko Anwar jelas sangat mengerti apa yang diinginkan dari film pembuka Jagat Sinema Bumilangit ini. Sayangnya, ia seperti mengabaikan begitu saja apa yang sebenarnya dibutuhkan. (6/10)
Phase 1 dan Phase 2 bisa dibaca di sini dan di sini.
1. Captain America: Civil War (2016) :Â Lagi-lagi Bucky hanya diperlakukan sebagai objek di sini setelah momen penghujung 'The Winter Soldier' yang tampaknya menjanjikan akan ada perkembangan bagi karakternya. Scott Lang pun masih terjebak di lingkaran setan tindakan melawan hukum yang jelas menghalangi karakternya untuk berkembang. Gaya penceritaan duo sutradara Anthony dan Joe Russo yang kurang ekonomis, tidak terlalu peduli dengan jalan pikiran karakternya, terkadang mengambil jalan pintas, dan cenderung memaksakan empati instan terlihat di film ini (juga di âInfinity Warâ dan âEndgameâ). Berikut ini beberapa contohnya:
Adegan saat Vision tak sengaja menembak jatuh Rhodey memang mengejutkan dan emosional. Terlihat Tony begitu berduka melihat kondisi sahabatnya. Tapi sayangnya adegan tersebut pada akhirnya gak ada fungsinya buat bangunan cerita dan hanya sekadar menjadi momen semu. Tensi antara Tony dan Steve yang diperkirakan akan semakin memanas justru sempat mereda setelah Tony mengetahui dalang sebenarnya. Di akhir cerita, Vision tampak murung bukan karena kesalahannya, tapi lebih disebabkan karena harus berpisah dengan Wanda. Rhodey sendiri bisa diselamatkan dan menggunakan alat bantu berjalan. Bandingkan dengan kematian Coulson yang berdampak besar di adegan-adegan selanjutnya.
Jalan pikiran Tony Stark merekrut Peter Parker untuk membantunya menghadapi pasukan Steve Rogers patut dipertanyakan. Di awal film, Tony bertemu dengan seorang ibu yang menyalahkannya atas kematian anaknya di Sokovia (Tony menciptakan kecerdasan buatan Ultron yang malah menyebabkan kekacauan di Sokovia). Kemudian Tony sempat berbincang dengan Steve tentang kecenderungannya mengulangi kesalahan yang sama sehingga Pepper meninggalkannya. Cukup mengherankan di pertengahan film, kebiasaan serampangan Tony diulangi lagi dengan merekrut seorang remaja. Tony berdalih berani merekrutnya karena ia yakin Steve tak akan menyakiti Peter. Tony seakan lupa jika di tim seberang ada seorang mesin pembunuh dan seorang penyihir yang belum sepenuhnya bisa mengendalikan kekuatannya.
Audiens hanya bisa menduga-duga apakah Steve Rogers benar-benar tahu bahwa Bucky Barnes adalah pembunuh Howard dan Maria Stark (yang mungkin dari dokumen yang disodorkan Natasha) atau hanya mengetahui bahwa pembunuhnya adalah agen HYDRA (seperti yang dikatakan Arnim Zola). Baik jika Steve mengetahui fakta yang sebenernya atau tidak, dilema yang dialaminya tidak pernah ditampilkan kepada audiens sehingga suratnya untuk Tony Stark bisa dianggap omong kosong belaka.
Permasalahan perbedaan pilihan antara Steve dan Tony tampak sedikit mereda setelah Tony mengetahui Helmut Zemo merupakan dalang sebenarnya. Pertarungan final antara Tony dan Steve lebih disebabkan karena dendam. Anehnya setup untuk hal ini hanya ada di adegan pembuka ketika Winter Soldier terlihat mencelakai pengendara mobil. Empati instan seolah ditanamkan ketika Tony berteriak, âDia membunuh ibuku!â Audiens dipaksa menyelami sisi emosional Tony yang kehilangan sosok penting buatnya tapi kedekatan Tony dan ibunya sama sekali tak pernah ditampilkan di film mana pun. Versi rekaan ibunya hanya dimunculkan ketika Tony memperagakan alat penghapus pengalaman traumatis di depan alumni MIT.
Film ini diadaptasi dari miniseri 7 edisi karya Mark Millar dan Steve McNiven tentang perbedaan ideologi yang kemudian menimbulkan perpecahan. Pilihan masing-masing manusia super untuk pro atau kontra registrasi berdampak besar pada kehidupan pribadi masing-masing. Rumah tangga Reed Richards dan Susan Storm di ambang perpisahan akibat perbedaan pilihan. Keluarga Peter Parker menjadi incaran penjahat setelah identitas Spider-Man terkuak. Steve Rogers menghadapi keadaan dilematis setelah menyadari aksinya yang dianggap benar malah membawa kehancuran. Begitu juga yang dialami Tony Stark. Intinya, apa pun pilihan pihak yang terlibat akan selalu ada konsekuensinya. Hal inilah yang hilang di filmnya. Pilihan yang diambil mereka tidak benar-benar ada konsekuensi (kecuali Scott Lang dan Clint Barton yang harus menjalani tahanan rumah selama 2 tahun). Konflik awal tentang perbedaan pilihan tampak selesai ketika dalang sesungguhnya terkuak. Pernyataan Zemo kepada TâChalla tentang keberhasilannya memecah Avengers dan respon sinisnya kepada Everett Ross seolah pertanda hadirnya sebuah konsekuensi serius. Nyatanya hal tersebut dinegasikan ketika Steve mengirim surat kepada Tony, menjanjikannya akan selalu hadir jika dibutuhkan. Bandingkan dengan konsekuensi yang harus dihadapi Batman dan warga Gotham di akhir âThe Dark Knightâ bahkan setelah Batman mampu menangkap Joker. Hal terkeren di âCivil Warâ adalah ketika TâChalla dengan berbesar hati menghapus dendam pribadinya dan menyerahkan Zemo ke pihak yang berwenang. Suatu hal yang tidak bisa dilakukan Tony Stark. (7/10)
2. Doctor Strange (2016) : Sekilas kelihatan seperti remake âIron Manâ (2008) dengan polesan visual ala âInceptionâ dan âInterstellarâ. Tony Stark digantikan Stephen Strange, sains dan teknologi digantikan sihir, dan reaktor digantikan time stone. Satu perbedaan yang mencolok, Tony mengalami transformasi di film pertamanya, sedangkan Stephen tidak terlalu. Tony Stark mengubah sudut pandangnya setelah bertemu Yinsen. Rhodey dan Pepper juga mampu sedikit melunakkan ego besarnya. Stephen Strange diperkenalkan sebagai dokter bedah sukses yang congkak, egois, selektif memilih pasien, dan serampangan (yang menyebabkan dirinya mengalami kecelakaan). Selama menjalani terapi di Kamar-Taj, sifat dasar Stephen tak banyak berubah. Dia berani melawan gurunya dan juga lancang menggunakan time stone tanpa izin. Sifat jeleknya seakan malah jadi kekuatannya di film ini. Dengan tingkat kecongkakan yang sama, Doctor Strange datang menemui Dormammu. Pengorbanannya merasakan penderitaan berulang-ulang pada akhirnya direduksi menjadi guyonan. Akan jauh lebih memuaskan jika perjalanan Stephen Strange ke Kamar-Taj menjadikannya sosok baru yang lebih baik secara fisik dan spiritual. Di kemunculan perdananya (Strange Tales #110 -1963), Stan Lee dan Steve Ditko berhasil menampilkan sosok Stephen Strange yang jauh berubah di halaman terakhirnya. (7,5/10)
3. Guardians of the Galaxy vol. 2 (2017) : Film pertama GOTG begitu populer karena mampu menggabungkan karakter-karakternya yang menarik dengan humor, aksi, dan setting kosmisnya yang belum pernah ada sebelumnya di MCU. Sekuelnya ini relatif lebih lambat dan anteng sehingga mungkin bagi sebagian orang terasa membosankan. Ditambah lagi dengan materi lawakan yang berlebihan dan kurang nyaman didengar terkait tinja, alat reproduksi, dan hubungan seksual. Adegan ketika Kraglin memberikan Zune kepada Peter Quill juga terkesan terlalu dipaksakan. Namun, jika dibandingkan dengan pendahulunya, film terasa ini lebih fokus dengan cerita yang sepenuhnya dikendalikan para protagonisnya. Setting film ini berjarak beberapa bulan sejak akhir film pertamanya. Kali ini para Guardians harus berhadapan dengan Ayesha, pendeta agung Sovereign, dan Ego, celestial kesepian yang terungkap sebagai ayah biologis Peter. Keduanya tergila-gila dengan kesempurnaan.
James Gunn kembali mengusung tema tentang keluarga sembari menyelipkan metafora globalisasi sebagai salah satu bentuk imperialisme (bukan kebetulan ketika benih yang ditanam Ego di Missouri aktif, shot berikutnya adalah gerai waralaba restoran cepat saji internasional). Keputusan sang penulis sekaligus sutradara untuk berlama-lama bermain dengan interaksi terbayar lunas dengan adanya pengembangan karakter. Peter Quill menyadari jika Yondu merupakan sosok ayah yang dibutuhkannya selama ini walaupun tak terkait hubungan darah. Rocket menyadari sifat menyebalkan dan sok jagoannya hanya kedok untuk menutupi kerapuhannya. Gamora menyadari apa yang sebetulnya dibutuhkan Nebula. Mantis untuk pertama kalinya terlibat hubungan sosial. Dengan segala ketidaksempurnaan, Drax merangkum hubungan mereka dengan singkat, âKita adalah keluarga." (8/10)
4. Spider-Man: Homecoming (2017) : Secara singkat, karakter Marvel paling populer ini dapat dijabarkan sebagai berikut: seorang pemuda berjiwa penolong yang sepanjang hidupnya terjebak tuntutan tanggung jawab, terkadang berbuat kesalahan saat menjalankan maksud baiknya, tetapi selalu mampu bertindak korektif. Di edisi perpisahannya sebagai penulis âThe Spectacular Spider-Manâ (2018), Chip Zdarsky memberikan definisi Spider-Man dengan sempurna. Trilogi Spider-Man besutan Sam Raimi (2002-2007) mungkin diejek sebagian orang karena terasa cheesy, sang pahlawan yang kurang nyerocos, absennya web shooter, dan hal-hal tekstural lainnya, tapi nyatanya versi inilah yang paling mampu menampilkan spirit si muka jaring sebagaimana dulu Stan Lee, Steve Ditko, dan John Romita Sr. mempopulerkannya di tahun 1960-an. Tak seperti dua penerusnya, Spider-Man yang diperankan Tobey Maguire menyadari setiap konsekuensi dari pilihannya dan selalu belajar dari kesalahan. Hal seperti ini lah yang menjadikan Peter Parker seorang pahlawan, sama sekali bukan karena kekuatan supernya. Di tahun 2000-an, salah satu edisi âUltimate Spider-Manâ karya Brian Michael Bendis dan Mark Bagley bahkan diberi judul âKurva Pembelajaranâ.
Sebenarnya banyak hal menarik yang ditampilkan sutradara Jon Watts di âHomecomingâ. Nuansa filmnya terasa seperti âHome Aloneâ dan âFerris Buellerâs Days Offâ (tapi jelas Peter dan Ferris merupakan karakter yang sangat berseberangan). Midtown High ditampilkan sebagai sekolah menengah bergengsi yang multikultural: Liz dan Michelle Jones dengan latar belakang afro-amerika, Ned dari Polinesia, dan Flash Thompson dari Amerika Tengah. May Parker kini digambarkan sebagai perempuan paruh baya awet muda keturunan Italia (bukan lagi Irlandia) yang memiliki beberapa pengagum rahasia. Adrian Toomes, seorang kepala keluarga dengan motif familiar, bisa dimasukkan ke dalam daftar penjahat terbaik MCU. Sebuah analogi yang menarik sosok yang berjuluk The Vulture (burung bangkai) menghidupi diri dan keluarganya dari hasil mengumpulkan barang-barang bekas.
Film ini pada akhirnya memiliki masalah seperti âDoctor Strangeâ yang ternyata hanya menampilkan ilusi perubahan. Di akhir cerita, Peter Parker menyadari bahwa obsesinya selama ini untuk menjadi anggota Avengers ternyata salah. Sayangnya transformasi Peter ini terasa semu karena dirinya tak benar-benar mengoreksi kesalahannya. Aksi cerobohnya saat menggagalkan pembobolan ATM yang kemudian menghancurkan toko makanan langganannya tak membuatnya berpikir ulang. Peter kembali mengulangi kecerobohannya yang membuat kapal feri terbelah dan mobil Flash Thompson rusak. Konfliknya dengan Tony Stark sama sekali tidak mengubah pendekatannya saat berupaya menghentikan aksi terakhir Vulture. Peter menghadapi lawannya itu dengan tingkat kecerobohan yang nyaris tak berubah. 'Homecomingâ juga seolah enggan menghadirkan konsekuensi yang nyata. Â Bibi May menyebut Peter sudah 5 kali menghilangkan tasnya dan sepertinya tidak menjadi masalah besar. Peter juga dengan enteng meninggalkan hukuman yang dijatuhkan pihak sekolah. Ned juga gak marah ketika Peter meninggalkannya di pesta. Bandingkan dengan Peter Parker di âSpider-Man 2â (2004) yang hubungannya memburuk dengan Mary Jane, Harry Osborn, dan Bibi May karena keputusan-keputusan yang diambilnya. Belum lagi masalah yang harus dihadapinya di rusun, di kampus, dan di tempat kerja. Untuk film dengan tokoh utama pahlawan super yang seumur hidupnya dihantui tanggung jawab, âHomecomingâ terasa setengah-setengah. (7,6/10)
5. Thor: Ragnarok (2017) : Di depan kedua putranya (yang salah satunya merasa punya kekuatan telekinesis ala Jean Grey), Alamein yang diperankan Taika Waititi di film âBoyâ (2010) menyamakan dirinya dengan Hulk ketika marah. Tujuh tahun kemudian, Taika menjadi sutradara MCU pertama yang berlatar nonkaukasia dan berkesempatan bermain-main dengan plot âPlanet Hulkâ di film ketiga Thor. Hasil akhirnya mampu menggabungkan tema imperialisme, komedi segar, interaksi karakter yang menarik, dan adegan aksi yang berkesan ke dalam struktur cerita yang solid.
Sejak kedatangan Taika, logotype Thor seketika berubah seperti terinspirasi dari game lawas. Poster promonya pun mengingatkan pada salah satu game Sega di akhir tahun 1980-an. Ragnarok yang berarti kiamat para dewa secara kasar memang bisa disamakan dengan istilah âgame overâ. Sama seperti film ini yang melapisi bahasan serius dengan lawakan yang tak henti-henti, Odin juga dikisahkan mati-matian menutupi masa lalu kelam Asgard dengan mencitrakan kerajaannya itu sebagai pelindung 9 dunia. Secara literal, Hela, putri Odin yang dihapus dari sejarah Asgard, merupakan hantu kolonialisme yang terus membayangi. Dengan fakta baru ini, dua film sebelumnya kini bisa dipandang dari perspektif berbeda. Serangan Asgard ke Jotun dan Svartalf kini memiliki makna baru. Singgasana dan galeri Odin sekarang bisa dipandang sebagai refleksi opresi yang pernah dilakukan Asgard ke dunia lain. Menarik ketika Hela menyamakan Odin dengan Loki, penipu yang ingin berkuasa. Penguasa Sakaar yang berjuluk The Grandmaster pun turut menjadi karakter foil bagi Odin. En Dwi Gast yang eksentrik layaknya opresor dunia nyata yang suka menyangkal kejahatannya sendiri.
Taika Waititi serta trio penulis Eric Pearson, Craig Kyle, dan Christopher Yost juga menjadikan Hela sebagai simbol nasionalisme sempit. Ditunjukkan bagaimana Hela menyerap energi Asgard sebagai sumber kekuatannya. Misi Thor menghentikan Hela mengharuskannya membentuk tim dadakan. Hulk yang ditemuinya di Sakaar menjadi anggota pertama yang bergabung. Valkyrie, seorang mantan prajurit Asgard yang merasa tak semua hal patut diperjuangkan, turut bergabung setelah mengubah pikirannya. Slot terakhir diisi Loki yang sepertinya mulai berdamai dengan saudara angkatnya itu. Thor menjadi seperti Peter Quill di film pertama GOTG yang berlaku sebagai perekat tim. Pola interaksi yang disuguhkan di sini menarik dan fungsional terutama antara Thor dan Valkyrie yang saling mempengaruhi. Pada akhirnya, Thor mengadaptasi pendekatan Valkyrie dengan tidak menghentikan ragnarok, tapi membiarkannya terjadi. Thor yang di akhir âThe Dark Worldâ memutuskan untuk mengikuti kata hatinya dengan meninggalkan tahta kerajaan menjadi sosok yang berbeda di akhir film ini. Dia menyadari ada hal lain yang perlu dipikirkan selain pantas atau tidaknya mengangkat Mjonir. Hancurnya Asgard dapat disebut sebagai keberhasilan Thor menutup lingkaran setan dan menebus dosa masa lalu leluhurnya. Penutup âRagnarokâ menjadi sangat relevan dengan situasi politik dunia saat ini dengan menyampaikan pesan bahwa batas negara tidak boleh lebih penting dibanding orang-orang yang tinggal di dalamnya. Warga Asgard yang tersisa ditunjukkan membaur dengan revolusioner Sakaar yang berlatar belakang beragam di sebuah kapal pengungsi. Seperti kata Odin, âAsgard is not a place. Itâs a people.â
Pertarungan Thor melawan pasukan Hela di bifrost diiringi âImmigrant Songâ dari Led Zeppelin bisa dibilang sebagai salah satu momen paling berkesan di MCU. Selain keren, adegan tersebut juga fungsional karena pada akhirnya aksi Thor dan pasukannya mampu mengubah pikiran Skurge, seorang prajurit Asgard berlatar kelas pekerja, yang semula apatis. Patut diacungi jempol kepedulian sang sutradara dalam menangani karakter minornya. Russo bersaudara berusaha menandingi adegan tersebut di âInfinity Warâ dengan menampilkan aksi Thor memporakporandakan pasukan Thanos di Wakanda. Namun, aksi menghibur tersebut hanya berujung menjadi momen semu. Peta pertarungan antara Avengers dan pasukan Thanos tak banyak berubah setelah hadirnya Thor. (9/10)
6. Black Panther (2018) :Â Sama seperti âRagnarokâ, apa yang dihadirkan sutradara Ryan Coogler di sini menunjukkan jika film superhero bisa jauh lebih bermakna daripada sekadar festival CGI yang dihadiri karakter dunia fantasi berkostum ketat. âBlack Pantherâ menjadi drama geopolitik yang menampilkan sebuah negara fiktif yang selama ini mengisolasi diri dengan berbagai alasan tetapi pada akhirnya membuka diri kepada dunia luar. Wakanda yang bisa disebut sebagai negara berteknologi tercanggih di dunia menjadi semacam metafora bagaimana jika Afrika tak pernah tersentuh kolonialisme (Afrika memiliki peradaban maju jauh sebelum kedatangan penjajah seperti yang dijabarkan sejarawan Walter Rodney di bukunya âHow Europe Underdeveloped Africaâ).
Kisah yang disampaikan Pangeran N'Jobu kepada anaknya di pembuka film dan kejadian di Museum Britania Raya  seperti menunjukkan jika bangsa kulit putih berkuasa bukan karena lebih unggul tapi karena sejak dulu gemar merampok sumber daya (alam dan manusia) serta menghancurkan tatanan bangsa yang mereka anggap memiliki kultur yang lebih rendah. Sebuah âhobiâ yang masih dilanjutkan oleh Ulysses Klaue, seorang pemburu vibranium asal Afrika Selatan. Di bab pengantar salah satu bukunya yang terkenal, âOrientalismâ, Edward Said mengatakan pemajangan artefak-artefak di museum menjadi salah satu bentuk hegemoni Barat atas dunia Timur yang ironisnya jarang dibantah oleh pihak seberang. Di film ini, Erik Killmonger membantah penjelasan seorang kurator dan membunuhnya dengan racun dalam minuman.
Bukan hanya supremasi kulit putih yg ditentang Erik tetapi juga kebijakan politik dan tradisionalitas Wakanda. Erik berpendapat dengan segala superioritas negara asalnya tersebut, penindasan yang terjadi di dunia luar dapat diakhiri. Pandangan sama juga dikemukakan Nakia, seorang mata-mata Wakanda yang beroperasi di luar negeri. Wakanda di sini jadi seperti potret negara dunia nyata yang sebenarnya bisa memberi perubahan tapi seolah tidak peduli dengan kondisi sekitarnya. Pandangan Erik mengenai Black Liberation disertai kekerasan sekilas mirip dengan pandangan aktivis Frantz Fanon yang sama-sama memiliki latar belakang militer sepertinya. Namun, sulit membayangkan para aktivis Pan-Afrika seperti Fanon, Marcus Garvey, atau Malcolm X akan sebrutal Erik yang tak segan membunuhi orang-orangnya sendiri. Kekerasan yang digunakannya lebih disebabkan kondisi psikologisnya yang menginginkan orang lain juga merasakan penderitaan yang sama sepertinya setelah ayahnya tewas dibunuh. Bangunan karakter Erik Killmonger yang disusun dengan baik oleh penulis dan sutradaranya memungkinkan audiens merasakan empati dan memasuki jalan pikirannya. Mungkin bisa dikatakan Erik merupakan tokoh antagonis terbaik MCU. Kehadirannya mampu mengubah pola pikir sang protagonis, TâChalla.
Di akhir âCaptain America: Civil Warâ, TâChalla digambarkan sebagai sosok yang tak segan mengoreksi kesalahannya. Di film solonya ini, Ryan Coogler menjadikan kemampuan menerima masukan dan mengambil keputusan sebagai kekuatan super raja baru Wakanda ini. Di saat tren pemimpin negara-negara di dunia nyata yang seolah gemar memecah belah rakyatnya sendiri sedang menjamur, TâChalla justru jadi raja pertama Wakanda yang berhasil menyatukan rakyatnya setelah suku Jabari yang berbeda kepercayaan bergabung. Dia juga menjadi raja pertama yang memutuskan untuk membuka diri kepada dunia luar. Keputusan-keputusan yang diambilnya menjadi jalan tengah, tetap berakar ke tradisi tapi sekaligus progresif. Hal menarik lainnya, sepertinya film ini lebih mampu menangkap spirit miniseri âCivil Warâ karya Mark Millar dibanding film ketiga Captain America. Di tengah perang sipil, WâKabi dan loyalis Erik Killmonger menyerahkan diri setelah Okoye mengatakan tak akan segan-segan membunuh orang yang dicintainya demi negara. WâKabi menyadari dirinya dan pihak yang dilawannya memiliki tujuan besar yang sama dan perang hanya akan membawa kerugian pada kedua belah pihak. (9,3/10)
7. Avengers: Infinity War (2018) : Cerita tanpa tujuan yang jelas tentu saja akan melemahkan struktur cerita. Akhir âInfinity Warâ hadir semata karena pertunjukan sudah dianggap selesai tanpa memberikan kesimpulan. Tidak seperti film-film sebelumnya, cukup sulit untuk menjawab pertanyaan: ceritanya utamanya tentang apa? tujuan ceritanya apa? Kemungkinan jawabannya sebagai berikut:
âInfinity Warâ adalah tentang ketidaksiapan Avengers yang sebelumnya terpecah karena konflik internal menghadapi serangan Thanos. Tujuan ceritanya adalah menampilkan betapa mengerikannya konsekuensi yang harus dihadapi jika tim pahlawan terkuat bumi terpecah belah. Yang menjadi masalah untuk opsi jawaban ini, tak seorang pun anggota Avengers sempat memikirkan hal ini setelah Thanos mengalahkan mereka. Rhodey sibuk menyalahkan Jenderal Ross. Steve hanya terkejut melihat separuh rekan-rekannya jadi debu. Tony menangisi kepergian Peter Parker dan mungkin juga bingung memikirkan cara untuk pulang ke bumi. Sedangkan Thor murung menyesali diri karena tidak menebas kepala Thanos. Avengers baru menyadari perpecahan mereka berujung kekalahan justru di film berikutnya.
Film ini tentang Thanos yang ingin mewujudkan ambisi pribadinya menyeimbangkan alam semesta dengan menghapus setengah populasi. Tujuannya untuk menampilkan bagaimana seseorang yang terbutakan ambisi pribadi dengan mengorbankan orang lain pada akhirnya harus hidup kesepian (yang ditunjukkan di frame terakhir). Opsi jawaban ini juga bermasalah karena ternyata di film selanjutnya Thanos tampak tak menyesali perbuatannya dan tak keberatan hidup seorang diri. Bahkan punya rencana jahat lain dengan menata ulang alam semesta seperti yang diinginkan Malekith di âThe Dark Worldâ dan Ego di âGOTG vol. 2â.
Seperti yang dikatakan Doctor Strange, film ini tentang para anggota Avengers di ambang akhir permainan. Tujuannya? Tujuannya semata-mata cuma untuk bermain-main dengan emosi penonton.
Tujuan cerita yang buram menjadikan film ini terasa kehilangan arah. Interaksi antara karakter utama dan karakter katalis yang berseberangan sudut pandang bisa dibilang lemah. Tony Stark, Stephen Strange, Gamora dan Thor yang berkesempatan âberdialogâ dengan Thanos sama sekali tidak mampu memberikan argumen kontra untuk pandangan utilitarianisme Thanos. Upaya terbaik Doctor Strange dan Gamora masing-masing hanya sekadar âGenocide!â dan âYouâre insane!â Di dunia nyata, pemikiran pragmatis pengendalian populasi dengan positive checks yang digagas Thomas Robert Malthus ini sudah banyak dimentahkan seiring kemajuan teknologi. Jika saja Ultron masih ada, Thanos yang kurang imajinatif tentu akan menjadi korban ejekannya.Â
Thanos yang menyita sebagian besar durasi film ini ditampilkan terlalu tekstural. Kita tahu siapa Thanos, bagaimana latar belakangnya, tetapi tak pernah benar-benar mengerti mengapa ia melakukan  sesuatu. Mengapa ia berpikir menghapus setengah populasi merupakan opsi satu-satunya? Mengapa ia baru turun tangan sekarang? Mengapa ia memutuskan tidak membunuh Gamora kecil di Zen-Whoberi? Mengapa ia mencintai Gamora? Gak ada alasan emosional yang ditampilkan di sini. Penonton hanya bisa menebak-nebak. Gamora pun heran saat Thanos mengatakan mencintainya. Berbeda misalnya dengan Loki dan Erik Killmonger yang jalan pikiran dan sisi emosionalnya bisa diakses audiens. Di âGOTG vol. 2â. psikologi Ego bahkan bisa diakses melalui lagu favorit Meredith Quill, âBrandyâ yang dibawakan oleh Looking Glass.
Kembali pada tiga opsi di atas, sepertinya yang dipilih oleh Joe dan Anthony Russo adalah opsi terakhir. âInfinity Warâ yang disebut sebagai film crossover terbesar yang pernah ada menampilkan hampir seluruh pahlawan super yang sudah diperkenalkan sejak 2008. Para pahlawan super ini terbagi menjadi beberapa kelompok kecil yang sepertinya harus rela berbagi adegan yang serupa: Loki memberikan Tesseract untuk menyelamatkan Thor, Gamora memberikan lokasi Vormir demi Nebula, dan Stephen Strange menyerahkan time stone demi nyawa Tony Stark. Karakter yang fungsionalitasnya diragukan untuk cerita kali ini pun tentu saja tetap dimunculkan. Pasukan Steve Rogers, keluarga kerajaan Wakanda, dan Peter Parker tak ubahnya hanya sebagai pion-pion catur. Karakter yang berkepentingan langsung seperti Vision juga direduksi hanya sebagai plot device. âWe donât trade lives,â kata Steve Rogers. Terasa manis di bibir saja memang karena selanjutnya Steve dan TâChalla terlihat memimpin pasukan Wakanda yang harus mempertaruhkan nyawa mereka demi melindungi Mind Stone dari incaran pasukan Thanos. Pandangan ini semakin inkonsisten di âEndgameâ saat Steve menyemangati timnya dengan mengatakan, âWhatever it takes.âÂ
Russo Bersaudara ibarat dua pesulap ulung yang mampu menutupi kelemahan narasinya dengan adegan-adegan bombastis yang mengejutkan. âInfinity Warâ dibuka dengan pasukan Thanos menghancurkan kapal pengungsi Asgard dan membunuh separuh warganya termasuk Loki dan Heimdall. Thor terlihat meratapi kematian saudara angkatnya. Sayangnya adegan emosional tersebut seolah sirna begitu saja ketika Thor menjadikan kematian Loki sebagai guyonan di depan Rocket. Entah dapat ilham dari mana, Thor yang tadinya tidak lagi membutuhkan senjata tiba-tiba berubah pikiran yang kemudian mengantarkan penonton ke distraksi berikutnya: peri kerdil Eitri ditampilkan sebagai raksasa! Setelah mendapatkan Stormbreaker, Thor dengan gagahnya mendatangi Wakanda. Urusan kelar? Sayangnya gak ⊠Kejadian-kejadian di babak ketiga film ini seolah saling berlomba merebut perhatian. Persetan dengan pokok bahasan dominasi/penekanan di mata kuliah nirmana! Peter Quill menampar Thanos! Doctor Strange mengeluarkan jurus barunya! Tony Stark hampir terbunuh! Bruce Banner bermasalah dengan Hulk! Wanda berusaha menghancurkan mind stone sekaligus menahan Thanos! Stormbreaker menghujam dada si plontos! Alih-alih berusaha memberikan cerita yang utuh dan bermakna, duo Russo lebih sibuk memikirkan cara untuk menciptakan ketegangan. Ketika Thanos menjentikkan jarinya dan 6 anggota awal Avengers semuanya selamat, kita pun tahu salah satu tujuan cerita film berikutnya apa. Setidaknya film berikutnya masih memiliki tujuan. (6,5/10)
8. Ant-Man and the Wasp (2018) : Ant-Man sudah jelas bukan pahlawan super MCU yang kemunculannya paling dinanti penonton. Dua kali berturut-turut, jadwal rilisnya selalu saja setelah film Avengers. Sadar dengan posisi underdog, sutradara Peyton Reed kembali menampilkan film yang apa adanya tapi berhasil menyampaikan pesannya. Film ini menjadi rilisan MCU pertama yang memuat nama karakter perempuan di judulnya. âAnt-Manâ mungkin lebih inovatif tapi âAnt-Man and the Waspâ tampil lebih tertata dibanding sebelumnya. Scott Lang yang tinggal menyisakan beberapa hari lagi untuk menyelesaikan masa tahanan rumah ditunjukkan sedang merintis usaha di bidang konsultasi keamanan bersama tiga rekannya. Andai saja Scott, Luis, Dave, dan Kurt melakukan hal ini di akhir film pertamanya, tentu transformasi mereka akan terasa lengkap: mantan kriminal yang berhasil memperbaiki hidupnya. Sayangnya penutup film pertamanya malah menjadi semacam prelude untuk âCaptain America: Civil Warâ.
Dengan plot utama membebaskan Janet van Dyne yang sudah puluhan tahun terjebak di Quantum Realm, cerita kali ini berkutat dengan pesan tematik tentang pentingnya komunikasi. Scott Lang kini digambarkan berhubungan baik dengan keluarga mantan istrinya sehingga tak ada lagi masalah terkait pengasuhan Cassie. Hank Pym dan Hope juga sepertinya mulai bisa berdamai setelah Hank menceritakan hal sebenernya mengenai istrinya. Namun, hubungan Scott dengan keluarga Pym merenggang karena Scott tidak terbuka dan memilih bertindak sendiri. Bill Foster, mantan rekan kerja Hank, dulu juga meninggalkannya karena keras kepala dan lebih senang mendengarkan dirinya sendiri. Bill menyebut hanya Janet yang mampu menghadapi Hank yang egomaniak. Garis besar adegan lucu-lucuan saat Scott ngambek ke Luis karena tidak dilibatkan dalam pengadaan inventaris kantor juga seputar kurangnya komunikasi. Bahkan konflik antara Ava Starr dan keluarga Pym juga tidak perlu terjadi jika saja sedari awal ia datang meminta tolong secara baik-baik. Setelah Janet berhasil dibebaskan dari Quantum Realm, ia pun langsung mempertunjukkan kualitas dirinya yang mampu meredam konflik seperti apa yang dikatakan Bill. Janet berbicara empat mata dengan Ava dan berjanji akan membantunya. Sebagai pembanding, Peyton Reed juga menampilkan begitu mengganggunya komunikasi yang berlebihan seperti yang tertuang di adegan komedi ketika Luis diinterogasi Sonny Burch.
Gak ngerti kenapa di Phase 3 ini, Marvel seolah gemar berputar-putar seolah bingung sendiri. Di adegan midcredit, Janet van Dyne yang dengan susah payah dibebaskan, pada akhirnya harus menjadi korban jentikan Thanos. Sama seperti apa yang dialami Thor dan rakyat Asgard. Thor yang dengan susah payah menyelamatkan rakyatnya di penghujung âRagnarokâ harus kehilangan setengahnya di âInfinity Warâ. Thor yang sebelumnya kehilangan mata, senjata, dan rambut panjangnya mendapatkan gantinya di dua film Avengers. Begitu juga dengan Peter Parker yang menolak keanggotaan Avengers di âHomecomingâ tapi malah cengengesan saat Tony Stark mengangkatnya sebagai anggota di âInfinity Warâ. (7,8/10)
9. Captain Marvel (2019) :Â Sebagai film solo MCU pertama yang protagonisnya perempuan, wajar kayaknya kalau sedari awal banyak yang membandingkannya dengan âWonder Womanâ (2017). Gender memegang peranan sentral di bangunan cerita âWonder Womanâ di mana intuisi kaum hawa yang diwakili Diana Prince harus berhadapan dengan rasionalitas kaum adam yang diwakili Steve Trevor di mana pada akhirnya dapat saling melengkapi. Namun ternyata duo sutradara Anna Boden dan Ryan Fleck serta trio penulis naskah yang semuanya perempuan mengambil arah yang berbeda dengan yang dilakukan Patty Jenkins. Kelly Sue DeConnick, penulis yang melakukan rebranding Carol Danvers sebagai Captain Marvel di tahun 2012, turut tampil sebagai konsultan cerita sekaligus cameo di salah satu adegan. Film yang momen-momen kecilnya jauh lebih menarik dibanding adegan aksinya ini menitikberatkan pada perjalanan seorang prajurit Kree menemukan kembali sisi kemanusiaannya. Adegan saat pasukan Kree melakukan pemindaian pada Nick Fury bisa menjadi indikator. Sosok yang di kemudian hari menjabat sebagai direktur SHIELD tersebut dideteksi sebagai manusia, laki-laki, dan tidak berbahaya. Dari sudut pandang alien, klasifikasi spesies jelas lebih utama dibanding gender. Manusia digambarkan lebih inferior dibanding alien tapi juga memiliki keunggulan yang tidak dimiliki spesies lainnya di alam semesta. Adegan penutup ketika sisi kemanusiaan Carol Danvers mendorongnya untuk membantu menyatukan diaspora Skrull dan menemukan habitat baru bagi mereka menjadi resonansi tema sentral yang diusung.
Ketimpangan gender menjadi subtema film ini. Dari serpihan memori yang diekstrak Skrull, ditunjukkan Carol Danvers, pilot Air Force yang dinyatakan tewas tahun 1989, mendapat perlakuan seksis dan diskriminatif dari ayah dan rekan-rekan kerja laki-lakinya. Namun, Carol adalah perempuan dengan cita-cita tinggi (Higher, Further, Faster, Baby!). Tak ingin karirnya mandeg (pilot Air Force perempuan belum diperbolehkan mengikuti misi tempur di masa itu sebelum pada akhirnya peraturan dicabut tahun 1992), ia pun mengajukan diri untuk menjalani misi berbahaya Dr. Wendy Lawson yang berujung malapetaka. Kehidupan baru Carol sebagai anggota pasukan khusus Kree, Starforce, tak membuatnya luput dari perlakuan seksis. Pelecehan dari seorang pengendara moge sempat dialaminya di hari pertama kedatangannya di Los Angeles. Mentornya, Yon-Rogg, hampir selalu memotong pembicaraan dan membantah pendapatnya, tindakan yang dikategorikan sebagai mansplaining. Dengan manipulatif, Yon-Rogg berdalih menginginkan versi terbaik dari anak didiknya tersebut. Menjadi momen kemenangan tersendiri bagi Carol saat menembak Yon-Rogg dengan energi foton sembari mengatakan tak ada lagi yang perlu dibuktikan ketika mentornya yang terdesak tersebut menantangnya duel tangan kosong. Di sisi lain, Nick Fury sangat kontras dengan Yon-Rogg. Nick menempatkan Carol di posisi yang setara dan perlahan kepercayaannya kepada rekan barunya itu semakin meningkat bahkan mengusulkan nama Marvel sambil menyanyikan lagu dari The Marvelletes, âPlease Mr. Postmanâ.
Ada biaya besar yang harus dibayar ketika Anna Boden dan Ryan Fleck memutuskan separuh filmnya mengikuti struktur cerita misteri. Psikologi karakter yang menjadi kandungan utama  di film-film Phase 1 hampir absen di sini. Perjalanan Tony Stark, Bruce Banner, Steve Rogers, dan Thor terasa lengkap dan menjadi pengalaman tersendiri bagi audiens. Di âCaptain Marvelâ, prinsip âShow, donât tell!â agak diabaikan. Terasa gak lengkap menjadikan Wendy Lawson sebagai sosok yang dibayangkan Carol saat menjumpai Supreme Intelligence tapi tak ada satu adegan pun yang yang menunjukkan alasan Carol begitu mengaguminya sampai terus terbayang-bayang. Masa lalu Carol pun diungkap hampir seluruhnya melalui flashback dan dialog. Itu pun tidak cukup memberi gambaran bagaimana kepribadian Carol sebelum hilang ingatan. Hanya disebutkan oleh Maria Rambeau jika sahabatnya tersebut sangat menyebalkan. Apakah dari sebelumnya Carol sudah memiliki sifat penolong atau tidak sama sekali tidak terjawab. Film ini juga tidak pernah menunjukkan kehidupan Maria setelah Carol dinyatakan tewas. Jika ada, tentu akan membuat reuni mereka di tahun 1995 menjadi jauh lebih bermakna. Babak pertama âBatman Beginsâ (2005) menggunakan time-shifting yang membingungkan tapi transformasi Bruce Wayne terasa penuh begitu film berakhir. Motivasi Bruce dan hubungannya dengan Rachel Dawes sedari kecil sampai dewasa terekam jelas dari potongan-potongan adegan yang saling tumpang tindih, hal yang tidak dijumpai pada Carol dan hubungannya dengan Maria. (7,8/10)
10. Avengers: Endgame (2019) : Sejak âCivil Warâ menembus angka 1 miliar dolar, tampaknya minat Russo Bersaudara untuk menyampaikan cerita yang koheren atau menampilkan seni visual melalui media film semakin meredup dan lebih tertarik untuk memproduksi mesin pencetak uang dengan memanfaatkan beraneka gimmick dan publisitas. Mereka tampak lebih gemar bercuap-cuap mengomentari dan menjelaskan karya sendiri dibanding sutradara Marvel Studios lainnya. Di studio seberang, mungkin hanya Zack Snyder yang mampu menyaingi kebiasaan kompulsif mereka. Di pagelaran komedi berlaku aturan tak tertulis âDonât explain your own joke!â Seniman yang tak henti-hentinya menjelaskan karya sendiri patut diragukan penguasaan media dan efektivitas komunikasinya. Di sebuah wawancara, Joe Russo tampak bangga membicarakan perannya sebagai karakter LGBT yang menghadiri terapi kelompok bersama Jim Starlin (kreator Thanos, Drax, dan Gamora). Entah kenapa hal ini harus dibesar-besarkan mengingat âDeadpool 2âČ langsung menghadirkan karakter LGBT tanpa perlu repot-repot menempel pengumuman. Baru dua minggu tayang, âEndgameâ sudah berhasil mengkudeta posisi âTitanicâ di posisi kedua film terlaris sepanjang masa.* Film pendahulunya, âInfinity Warâ, bercokol di posisi kelima. Prestasi yang sangat âmembanggakanâ untuk dua film yang gak begitu mempedulikan struktur naratif. Dibandingkan dengan karya sejawatnya seperti James Gunn, Ryan Coogler, Taika Waititi, maupun Joss Whedon, dua film terakhir karya Joe dan Anthony Russo ini kelihatan kayak gak punya identitas. Mungkin sadar akan minimnya keunikan, penulis Christopher Markus dan Stephen McFeely berusaha membedakan film ini dengan film-film perjalanan waktu sejenis. Alih-alih menggunakan konsep Grandfather Paradox seperti âBack to the Futureâ, âTerminatorâ, atau âDays of Future Pastâ, film ini melandaskan pada Many-Worlds Theory.
Dengan banyaknya tujuan yang harus diakomodasi (ajang reuni korban jentikan Thanos dengan para penyintas, nostalgia film-film sebelumnya, dan perpisahan aktor-aktor yang berakhir masa kontraknya), naskah culas yang ditulis Markus dan McFeely tak hanya menyajikan cerita yang inkoheren tapi juga logika super kendor yang selalu mencari pembenaran. Mereka menyerahkan sepenuhnya kepada penonton untuk menghubungkan titik-titik yang tersedia. Sebagian penonton mungkin akan merasa pintar mampu menarik garis penghubung antarparameter yang ada dengan asumsi masing-masing, tapi jelas hal ini menyalahi prinsip dasar storytelling tradisional: kejelasan. Sebagai contoh, saat Thor, Rocket, dan Groot mengunjungi Nidavellir di âInfinity Warâ, terungkap jika Thanos memaksa Eitri membuatkannya Infinity Gauntlet dari logam spesial dan kemudian memotong tangannya. Di âEndgameâ, tanpa masalah yang berarti, Tony Stark mampu membuat tiruannya walau durabilitasnya tak sebaik aslinya. Akan ada saja yang nyeletuk, âOh, itu kan karena Tony dikutuk kepintaran!â Tanpa dramatisasi, semisal dengan adanya adegan yang menunjukkan Tony berkonsultasi lebih dulu dengan Thor atau Rocket, perjalanan Thor di âInfinity Warâ jadi berkurang maknanya. Hal semacam ini tidak akan menjadi persoalan jika sedari awal penulisnya tidak mengubah aturan main di komiknya jika siapa saja bisa membuat gauntlet (Thanos, Reed Richards, Tony Stark, dan Parker Robbins bisa melakukannya). Perjalanan Thor ke Nidavellir terkesan hanya untuk menjustifikasi aturan main temporal jika Stormbreaker (yang dibuat dari bahan yang sama dengan Infinity Gauntlet) akan mampu menahan serangan enam Infinity Stones. Begitu juga dengan gampangnya Ebony Maw menduplikasi Pym Particles yang bahkan tidak ditunjukkan sama sekali di film (hanya disebutkan oleh duo Russo saat wawancara). Hadirnya kemungkinan garis waktu alternatif setelah apa yang dilakukan Steve Rogers di akhir film juga menjadi perdebatan sengit di kalangan fans. Akan muncul pertanyaan semisal apakah setelah mengembalikan Tesseract di tahun 1970, Steve Rogers kembali dulu ke tahun 1945 untuk menikahi Peggy untuk menutup putaran waktu atau ia menikahinya di tahun 1970? Apakah Peggy berbohong di acara televisi tahun 1953? Apakah Steve yang kembali di tahun 2023 berasal dari garis waktu lain? Daftar pertanyaan pun tidak berhenti sampai di situ saja. Akhir âBlade Runnerâ, âDonnie Darkoâ, atau âInceptionâ mungkin memang layak diperdebatkan. Namun sepertinya sibuk berteori tentang adegan penutup âEndgameâ cuma membuang-buang waktu karena ternyata sutradaranya pun memiliki penafsiran berbeda dengan penulisnya.
Jika Nebula di miniseri âInfinity Gauntletâ mampu mengembalikan korban jentikan Thanos kurang dari 24 jam, para anggota Avengers di âEndgameâ membutuhkan waktu 5 tahun. Penentuan jeda yang lumayan lama ini licik dan menyebalkan. Keputusan untuk mengembalikan korban jentikan setelah sekian tahun bisa disebut gegabah. Akan lebih rasional jika rentangnya hanya dalam hitungan bulan. Di dunia nyata, pengurangan populasi yang teramat besar tentu saja akan menyusutkan kapasitas ekonomi dan kemunculan mereka kembali secara tiba-tiba akan dianggap sebagai ledakan penduduk yang memerlukan waktu yang tak sebentar untuk penyesuaian kembali. Di tahun 2023, Tony Stark akhirnya ditunjukkan memiliki keluarga kecil yang menjadi salah satu bukti jika Marvel gemar menunda-nunda. Hal ini sebenernya bisa saja terjadi di akhir âIron Man 3â atau âAge of Ultronâ. Istri Tony, Pepper Potts, yang gampang panik secara tiba-tiba ditunjukkan begitu tenang bertempur dengan armor Rescue. Di samping itu, dengan entengnya sutradara dan penulis menghadirkan Bruce Banner yang pada akhirnya menemukan cara untuk menyatukan dirinya dengan Hulk setelah perjuangan beratnya di film-film sebelumnya. Memprihatinkan melihat karakter populer yang menjadi idola mahasiswa di tahun 1960-an dianaktirikan seperti ini. Film Crit Hulk menulis artikel yang substantif mengenai perjalanan Bruce Banner di MCU yang hampir selalu diselesaikan di luar layar (baca di sini). Begitu pula dengan Clint Barton yang tiba-tiba menjelma menjadi pembunuh berantai setelah kehilangan keluarganya. Penonton dipersilakan kembali menghubungkan titik-titik yang disediakan karena Russo Bersaudara hanya menjadikan kumpulan cerpen âTerminal Beachâ kaya J.G. Ballard (dibaca oleh seorang petugas keamanan yang diperankan Ken Jeong) sebagai petunjuk. Berbicara tentang karakter, tak mengherankan sebeneranya mengingat rekam jejak Russo Bersaudara yang cenderung memperlakukan para pelaku ceritanya hanya sebagai bidak. Tidak ada perkembangan karakter yang signifikan misalnya untuk Bucky Barnes dan Sam Wilson yang selalu muncul di empat film karya mereka. Dengan minimnya pengembangan karakter ini, terasa aneh saat Steve terlihat menyerahkan perisainya pada Sam. Lagi-lagi layak atau tidaknya Sam meneruskan perjuangan Steve diserahkan pada pemakluman masing-masing penonton. Tentu juga sangat mencengangkan saat melihat Peter Parker bertindak di luar jalur dengan mengaktifkan instant-kill mode saat dikepung Outriders. Sepanjang hampir 60 tahun perjalanan komiknya, Peter memang pernah secara tidak sengaja membunuh seorang agen KGB. Korban lainnya meliputi zombie, android, dan vampire (yang dibunuh oleh totem dalam diri Peter). Sama sekali tak pernah terpikir olehnya untuk membunuh makhluk hidup seterdesak apa pun. Sutradara Jon Watts di âHomecomingâ sangat paham hal itu dengan menampilkan Spider-Man yang bahkan tak pernah sekali pun meninju atau menendang lawannya. Di penghujung pertarungan akbar, ketika Thanos menghilang dari realitas, tak ada satu frame pun yang menunjukkan ekspresi Drax yang menyimpan dendam pribadi karena memang sutradaranya tidak pernah peduli dengan Drax. Bandingkan dengan momen saat Thor menghajar Hela dengan kekuatan petirnya di âRagnarokâ. Salah satu shot berikutnya adalah cengiran Loki yang bisa ditafsirkan sebagai bentuk kebanggaan seorang saudara. Selain itu, Peter Quill yang di dua film GOTG ditunjukkan memiliki trauma tersendiri dengan bumi terlihat baik-baik saja di sini, malah "slotnya" dihabiskan untuk momen komedi.Â
Pemilihan perjalanan waktu ke pertempuran New York tahun 2012, Asgard tahun 2013, dan Morag tepat di saat kedatangan Peter Quill tahun 2014 juga terkesan dipaksakan. Satu-satunya alasan untuk mengunjungi kembali tahun-tahun tersebut adalah nostalgia film-film sebelumnya. Jika memang harus memilih Asgard tahun 2013, tentu Steve dan Tony bisa menyerahkan tugas pada Thor untuk mengambil Tesseract di galeri Odin. Tesseract sampai tahun 1942 mengendap di Tonsberg (kini menjadi lokasi New Asgard) untuk kemudian dikuasai Red Skull sampai 1945, SHIELD sampai 2012, dan berakhir di Asgard sampai 2017. Avengers bebas memilih tahun mana saja untuk mengambilnya. Kegagalan Steve dan Tony mengambil Tesseract di 2012 malah memaksa penonton bernostalgia lebih jauh lagi ke Camp Lehigh, tempat pelatihan Steve semasa di militer, di tahun kelahiran Tony Stark, 1970. Di tempat dan waktu tersebut, Steve mencuri Pym Particles (yang sebenernya bisa diambil di tahun mana pun setelah penemuannya) dan kemudian terpaku memandangi Peggy Carter di ruangannya. Peggy yang saat itu berusia 49 tahun terlihat masih memajang foto Steve. Terasa inkonsisten jika menilik kembali serial televisi Agent Carter di mana Peggy mampu menata hidupnya kembali sejak kepergian Steve dan mulai menjalin hubungan dengan Daniel Sousa. Di âThe Winter Soldierâ, rekaman video Peggy tahun 1953 pun menyebutkan dirinya sudah menikah meski tak diketahui siapa suaminya. Jika saja penulisnya tidak perlu memasukkan Frigga dan Mjolnir ke dalam cerita, Thor sendiri sebetulnya tidak perlu repot-repot ke Asgard karena Aether menyatu dengan Jane Foster sejak di London. Berkaitan dengan Power Stone yang sebenarnya bisa diambil di galeri The Collector (yang juga dititipi Aether oleh Sif), Cosmi-Rod milik Ronan, atau Xandar di waktu tertentu, Rhodey dan Nebula lebih memilih mengunjungi Morag. Permukaan laut Morag turun setiap 3000 tahun dan itu terjadi di tahun 2014. Dengan alasan butuh pinjaman alat pengutil yang sebenarnya generik, Rhodey dan Nebula pun harus rela menunggu sampai Peter Quill datang. Cukup mengherankan Nebula ternyata tidak sekalian menggunakan elektromagnet milik Quill untuk menarik Power Stone sehingga tak perlu sampai melukai tangan kirinya. Di setting tahun yang sama, Clint dan Natasha berebut mengorbankan diri untuk mendapatkan Soul Stone di Vormir. Adegan ini sebenarnya dieksekusi dengan baik. Sayangnya sejak dulu kedekatan antara mereka hanya diungkapkan lewat dialog tanpa pernah ditunjukkan secara utuh (Nat hanya ditunjukkan memiliki kedekatan dengan Steve dan Bruce Banner) sehingga terasa perpisahan emosional mereka hanya menggantung di permukaan.Â
Secara keseluruhan, hal-hal yang menarik di âEndgameâ memang lebih banyak berkaitan dengan aspek permukaan dibanding yang substansial. Momen ketika Steve Rogers mampu menyandang Mjolnir tentu saja menghapus tanda tanya besar di âAge of Ultronâ. Permasalahannya, keberadaan Mjolnir di cerita ini sendiri tidak banyak diutilisasi selain untuk menyelamatkan Thor ketika Thanos hampir membunuhnya. Peta pertarungan tidak berubah setelah Steve menggunakannya. Kepercayaan diri Thor juga kembali lebih disebabkan wejangan Frigga dibandingkan keberadaan palu saktinya. Cameo dua sohib Thor, Korg dan Miek, mampu mencuri perhatian di sini. Adegan kocak yang melibatkan mereka berdua tampak dipinjam dari proyek motion comic hasil kerjasama Kabam dan Taika Waititi. Indikasi bahwa nasib Tony Stark di akhir film akan seperti Hamlet yang kematiannya malah mengembalikan keteraturan terjadi di menit ketiga âEndgameâ. Tony yang putus asa terkatung-katung di luar angkasa ditunjukkan merekam pesannya pada Pepper melalui helmnya, mirip dengan monolog Hamlet di hadapan tengkorak Yorick. âDonât post it on social media!â dan âItâs always youâ menjadi nostalgia tersendiri karena dua kalimat tersebut dipinjam langsung dari film-film sebelumnya. Namun, fungsionalitasnya sendiri patut dipertanyakan karena selang beberapa menit kemudian, Carol Danvers datang menyelamatkannya. Rekaman pesan ini pun gak pernah diputar ulang setelahnya seperti rekaman Paman Ben dan Gwen Stacy di dua film Amazing Spider-Man besutan Marc Webb. Mengenai shot para jagoan perempuan berjejer di belakang Carol Danvers dalam satu frame yang lebih mirip iklan A-Force, McFeely sendiri tidak yakin substantif atau tidak. Di âEndgameâ, Captain Marvel tampak seperti karyawan yang rajin mengisi absen pagi dan sore tapi menghilang saat jam kerja.Â
Seperti diketahui, di jagat media sosial banyak sekali netizen pragmatis yang memuja Thanos. Macet? Thanos benar! Kriminalitas meningkat? Thanos benar! Beda pilihan politik? Thanos benar! Dengan durasi mencapai 3 jam, Russo Bersaudara tidak begitu berminat membuktikan kesalahan Thanos apalagi menawarkan solusi alternatif. âIron Manâ, âAge of Ultronâ, âRagnarokâ, dan âBlack Pantherâ tampil lebih tegas dengan menunjukkan kesalahan antagonisnya sambil menawarkan opsi lain. âEndgameâ menjadi sama menyebalkannya dengan âAquamanâ (2018) di mana Arthur Curry tidak memberi solusi permasalahan besar yang dikeluhkan Orm tentang kerusakan ekosistem laut. Di âEndgameâ, kehilangan menjadi faktor utama yang mendorong para anggota Avengers yang tersisa bertindak mengembalikan keadaan. Dalam kurun 5 tahun tidak digambarkan bagaimana perubahan distribusi sumber daya seperti yang diinginkan Thanos, apakah masyarakat lebih makmur atau tidak. Ini sama saja seperti Bane di âThe Dark Knight Risesâ (2012) yang berceloteh panjang lebar tentang ketimpangan ekonomi tapi tak pernah ditunjukkan bagaimana kondisi masyarakat kelas bawah di sepanjang filmnya. Russo Bersaudara, Markus, dan McFeely malah terkesan malu-malu sedikit membenarkan tindakan Thanos, terungkap dari dialog antara Steve dan Natasha. (6,8/10)
*Update 21 Juli 2019: Endgame berhasil menggusur Avatar sebagai film terlaris sepanjang masa.
Catatan:
Berkaitan dengan character arc, Phase 3 terasa berputar-putar dan tekesan menunda-nunda bagi banyak pelaku cerita. Beberapa karakter malah seharusnya bisa menuntaskan transformasinya di Phase 1 atau 2. Terasa menyebalkan melihat Loki dan Gamora yang sudah menjalani perjalanan penuh harus mengulanginya lagi dari awal setelah âEndgameâ. Lebih menjijikan lagi saat menilik kembali character arc Thor. Berikut ini rangkuman perjalanan 6 anggota awal Avengers:
Tony Stark :Â Egomaniak yang bersedia mengorbankan diri untuk kepentingan orang banyak. Bibit premis ini sudah tertanam sejak film pertamanya dan terealisasi penuh di âThe Avengersâ. Sangat tidak mengherankan jika hal ini kembali ia tampilkan di âEndgameâ. Setelah âIron Man 3â, perjalanan Tony terasa berulang dan ditunda-tunda. Di awal âEndgameâ, Tony kembali menunjukkan sifat jeleknya yang hanya senang mendengar ocehannya sendiri. Kontrak Robert Downey, Jr. sendiri sudah lama berakhir dan akhirnya terus diperpanjang hingga âEndgameâ. Mungkin lebih tepat perjalanan Tony Stark berakhir di âAge of Ultronâ sebagai konsekuensi atas perbuatannya sendiri.
Steve Rogers : Membeku mendekati akhir Perang Dunia II dan baru bangkit kembali 70 tahun kemudian. Secara literal, Steve adalah man out of time. Pilihannya hanya dua, hidup dalam nostalgia atau terus maju seberat apa pun kenyataan. Jika ia memilih opsi pertama, tentu saja perjalanannya selesai setelah film âThe Avengersâ berakhir tanpa harus terbebani lagi dengan misi SHIELD. Habiskan saja sisa hidupnya dengan sabar menunggu kabar adanya penemuan teknologi perjalanan waktu. Tapi dari rangkaian kejadian di âThe Winter Soldierâ, âAge of Ultronâ, dan âCivil Warâ, ia sepertinya memilih opsi kedua. Steve tampak berhasil menyesuaikan diri dengan dunia modern. Bucky Barnes yang ternyata masih hidup juga tetap menjadi obsesi tersendiri baginya. Di âAoUâ, Steve mengatakan pada Tony tentang keinginannya untuk berkeluarga sirna sejak dirinya membeku. Tapi di âCivil Warâ, ia sepertinya akan mengubah pandangannya setelah mengenal lebih dekat Sharon Carter yang bahkan mampu membuat Bucky dan Sam cengar-cengir kegirangan. Entah wangsit apa yang mempengaruhi Markus dan McFeely sehingga anak tangga yang telah disusun diacuhkan begitu saja di akhir âEndgameâ. âTil the end of the line, palâ jadi hanya sekadar manis di bibir, memutar kata. Gary King di âThe Worldâs Endâ (lagi-lagi film keren ini disebut) tampak lebih garang dibanding Steve karena mampu membebaskan dirinya dari bayang-bayang nostalgia yang destruktif.
Thor Odinson : Putra mahkota Asgard yang tidak pernah benar-benar menginginkan tahta kerajaan. Thor lebih tertarik mengejar minat pribadinya. Hal ini terangkum jelas di akhir âThe Dark Worldâ (ditulis oleh Markus dan McFeely bersama Christopher Yost). Tapi suatu permasalahan besar yang menimpa bangsanya membuatnya lebih dewasa dan bertanggung jawab. Thor mulai menempatkan kepentingan orang banyak di atas kepentingan pribadi. Akhir âRagnarokâ (ditulis Pearson, Kyle, dan Yost) menampilkan transformasi yang sempurna untuk putra kesayangan Odin ini. Sepertinya Markus dan McFeely tidak menyukai perubahan ini. Dengan culasnya, mereka mengembalikan status quo Thor dengan mempertemukannya kembali dengan ibunya di tahun 2013 yang memberikan wejangan aneh, âEveryone fails at who they are supposed to be.â Frigga pastinya tidak pernah mengenal tradisi Tionghoa di mana untuk menunjukkan baktinya, seorang anak rela mengikuti jejak orang tuanya dan tak sedikit yang berhasil. Jadilah di akhir âEndgameâ, Thor yang sempat depresi berat menyerahkan tahtanya dan memilih menjadi dirinya yang lama. Penonton pun dipaksa menelan asumsi jika Valkyrie lebih kompeten dibanding Thor. Si Dewa Petir tentu saja berhak menyerahkan tampuk kekuasaannya kepada siapa pun, tapi akan jauh lebih terhormat jika bukan dalam kondisi seperti ini.
Bruce Banner : Seperti yang disebutkan sebelumnya, perlakuan Marvel ke Bruce Banner/Hulk sungguh menyedihkan. Di awal âThe Incredible Hulkâ, Bruce Banner menganggap Hulk sebagai penyakit dan di âEndgameâ, Bruce menyebutnya sebagai obat. Transformasinya terasa penuh tapi di antara titik awal dan titik akhir banyak sekali terjadi inkonsistensi dan tarik ulur. Pengembangan karakter dan penyelesaian konflik batinnya lebih banyak tidak ditampilkan di layar.
Natasha Romanoff : Sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk menjalani misi. Di âThe Winter Soldierâ, Natasha belajar moralitas dan pengorbanan dari Steve Rogers. Di akhir âAge of Ultronâ, Nat yang tidak bisa memiliki keturunan akhirnya menganggap rekan-rekannya sebagai keluarga. Di 'Civil War', ia menjadi orang pertama yang ingin segera mengakhiri perpecahan di tubuh timnya. Dibanding 5 rekan lainnya, konklusi perjalanan Natasha di âEndgameâ bisa dibilang yang paling memuaskan.
Clint Barton : Perjalanan Clint sebenarnya berakhir di penghujung Phase 2 setelah kelahiran anak ketiganya. Di Phase 3, Clint tampak seperti veteran bingung yang akhirnya menghitung kancing kemeja untuk menentukan: pensiun, gak, pensiun, gak, pensiun, gak ...
1. Iron Man 3 (2013) : Untuk pertama kalinya di MCU, karakter utama menjadi narator (di after credit terungkap ternyata Tony sedang cerita ke Bruce Banner yang ketiduran). Ucapan pembukanya tentang iblis yang diciptakan diri sendiri. Tony Stark adalah Amerika, musuhnya adalah diri sendiri. Begitu kira-kira pesan yang ingin disampaikan film ini. âIron Man 3â memunculkan topik kontroversial tentang industri terorisme seperti yang dikemukakan ekonom Edward S. Harman. Gambaran masyarakat Amerika yang xenofobia terekam di sini. Serangan teroris yang begitu ditakuti ternyata melibatkan pihak internal pemerintah. Fans fanatik kemungkinan besar akan benci plot twist The Mandarin (Ben Kingsley) yang ternyata adalah aktor sewaan. Tapi kenyataannya, keputusan ini fungsional banget buat kepentingan cerita. Sang protagonis ditunjukkan menderita post traumatic stress disorder setelah apa yang dialaminya di pertempuran New York. Kecemasannya yang berlebihan mendorongnya menghabiskan lebih banyak waktu untuk hobi yang paling digemarinya: menciptakan puluhan armor baru, hal yang disebut Pepper Potts sebagai pengganggu hubungan mereka. Keadaan diperparah setelah organisasi teroris mampu memanfaatkan kelemahan Tony Stark yang terlalu reaktif. Dengan initial state seperti ini, maka hal yang diharapkan selanjutnya tentu saja upaya Tony menenangkan diri dengan terapi, mulai mengurangi ketergantungannya dengan teknologi Iron Man, memperbaiki hubungannya dengan Pepper, dan menghajar organisasi teroris. Sutradara Shane Black dan penulis Drew Pierce mewujudkan semuanya. Bahkan setelah pertarungan melawan Aldrich Killian, Tony menghancurkan seluruh Iron Legion dan menyingkirkan reaktor dari dadanya. Konklusi yang logis mengingat apa yang terjadi di dua film sebelumnya. Armor yang menyelamatkannya justru perlahan membunuhnya dan keputusannya untuk memprivatisasi teknologi membuatnya bersitegang dengan pemerintah. Di adegan penutup, Tony mengambil Dum-E dari reruntuhan tempat tinggalnya di Malibu. Sebagai narator, Tony mengatakan armornya bukanlah hobi atau penggangu, melainkan kepompong. Sebuah artikel di filmschoolrejects menyebutkan adegan Tony Stark meninggalkan reruntuhan dengan mobil sport mewahnya tak ubahnya proses destruksi kreatif. Tony tampak meninggalkan pandangan libertariannya, tapi seperti kapitalis pada umumnya, ilusi tetap tersisa dalam dirinya (ucapan terakhir Tony Stark sebelum closing credit adalah âI am Iron Manâ). Sebuah alasan yang masuk akal mengapa Tony Stark tampak bersuka cita mengenakan armor barunya di adegan pembuka âAge of Ultronâ. (8/10)
Tulisan awal bisa dibaca di sini.
2. Thor: The Dark World (2013) : Jika di film sebelumnya kental dengan nuansa Shakespeare, di sekuel kali ini, sutradara Alan Taylor (âGame of Thronesâ, âThe Sopranosâ, âSex and the Cityâ) yang menggantikan Kenneth Branagh menjadikannya cerita fiksi ilmiah. Desain kostum dan pesawat luar angkasanya menarik. Petualangan ke sembilan dunianya lumayan seru. Rambut Thor dan Loki juga makin membahana. Tapi struktur ceritanya sendiri bisa dibilang lebih lemah dibanding pendahulunya. Cerita utama film-film MCU sebelumnya diawali dengan masalah pribadi: rasa bersalah Tony Stark di âIron Manâ dan perilaku destruktif di âIron Man 2â, keinginan Bruce Banner menyembuhkan diri, perjuangan Steve Rogers meraih kepercayaan, dan arogansi Thor yang menurut ayahnya sangat tidak mencerminkan sifat pemimpin. Tipe cerita semacam ini memungkinkan adanya character development dan transformational arc. Di âThe Dark Worldâ, tujuan ceritanya semata-mata untuk menghentikan Malekith yang ingin membawa alam semesta kembali ke dalam kegelapan. Parahnya, penulisan karakter Malekith sendiri seadanya banget. Boro-boro mau berkontribusi buat perkembangan karakter utamanya. Gak ngerti apa pentingnya Odin menjelaskan tentang Dark Elves sampe dua kali. Berita Erik Selvig berlari telanjang di Stonehenge juga boros banget tayang dua kali di TV. (6/10)
3. Captain America: The Winter Soldier (2014) : Anthony dan Joe Russo yang sebelumnya lebih dikenal dengan program komedi situasi tiba-tiba beralih ke film spionase bertema global surveillance. Pengaruh âThree Days of the Condorâ (1975) cukup terasa di sini. Bahkan Robert Redford yang membintangi film konspirasi klasik tersebut muncul sebagai salah satu petinggi SHIELD. Sebelum Thanos menjalankan rencananya mengurangi populasi alam semesta, HYDRA yang menyusup ke dalam organisasi pemerintah telah mengupayakannya terlebih dulu di âThe Winter Soldierâ melalui Project Insight. Film ini berhasil menyajikan karakter utama yang statis tapi jauh dari kesan membosankan. Steve Rogers merasa gak nyaman dengan orang-orang di sekitarnya yang menurutnya gak punya kompas moral. Menarik menyaksikan Steve beradu argumen dengan Natasha Romanoff dan Nick Fury yang awalnya berseberangan dengannya. Begitu juga dengan momen Steve menginspirasi Sam Wilson, Sharon Carter, dan anggota SHIELD lain untuk melawan HYDRA. Satu yang disayangkan, hubungannya yang paling emosional dengan Bucky Barnes yang kini menjadi mesin pembunuh HYDRA dimulai terlambat. Â Adegan Bucky menarik Steve ke tepian Sungai Potomac jadi terasa tergesa-gesa karena tidak menyediakan argumen yang cukup. Bucky baru ditunjukkan mengingat sedikit masa lalunya justru setelah rolling credit berakhir. (8/10)
4. Guardians of the Galaxy (2014) : Salah satu film dengan setup dan payoff terbaik. Bisa dibilang juga GOTG merupakan film MCU yang paling mampu menyatukan humor dengan konstruksi cerita. James Gunn yang sebelumnya berkutat dengan cerita horor dan monster menjijikan bertolak 180 derajat di film ini dengan menghadirkan karakter yang lucu, menarik, sekaligus mampu menanamkan empati ke audiens. Walaupun misi utama film ini terkait dengan salah satu infinity stone, tema sentral GOTG adalah tentang menemukan keluarga. Menyaksikan interaksi antarprotagonisnya yang fungsional jauh lebih menarik dibanding pertempuran melawan pasukan Ronan. Hal keren lainnya, kompilasi musik peninggalan Meredith Quill gak cuma berfungsi sebagai soundtrack tapi juga sebagai eksposisi. (9/10)
5. Avengers: Age of Ultron (2015) : Film ini seperti menegasikan apa yang dibangun sebelumnya:
Setelah apa yang dialaminya di akhir âIron Man 3â, Tony Stark tampak bersuka cita di adegan pembuka saat menggempur markas HYDRA.Â
Alasan Thor menetap di bumi adalah Jane Foster. Tapi di AoU, Thor tampak tak begitu peduli Jane sedang berada di negara mana.
Di akhir âThe Winter Soldierâ, SHIELD hancur dan Nick Fury memalsukan kematiannya untuk kemudian melanjutkan operasi bawah tanah. Di akhir AoU, Fury dan SHIELD muncul sebagai penyelamat.
Jika di film sebelumnya Iron Man, Captain America, dan Thor menjadi fokus, di sekuelnya ini Joss Whedon lebih banyak memberikan panggung pada Clint Barton, Natasha Romanoff, dan Bruce Banner sebagai jiwa cerita. Clint menjadi satu-satunya anggota Avengers yang berkeluarga. Di sisi lain, Nat dan Bruce menyadari mereka tak bisa mendapatkan kehidupan seperti Clint. Interaksi Nat dan Bruce jadi menarik karena keduanya sama-sama menanggung penyesalan tapi di akhir cerita memilih jalan yang berbeda. Tony  yang mulai menyadari Avengers sebagai keluarganya mulai bertindak protektif berlebihan dengan mengembangkan kecerdasan buatan untuk nantinya menggantikan rekan-rekannya. Bahaya singularitas teknologi yg diusung film ini mirip kekhawatiran Stephen Hawking yg mengatakan kecerdasan buatan tingkat lanjut dapat menyingkirkan keberadaan manusia (Hawking sendiri menggunakan AI Intel sebagai alat bantu bicara). Teknologi yg bisa jadi iblis sekaligus malaikat ini disimbolisasikan di AoU melalui adegan terakhir yg melibatkan Ultron dan Vision. Ultron merangkak dari bawah tanah sedangkan Vision turun dr langit, mirip gambaran umum tentang iblis dan malaikat. Sangat menghibur menyaksikan Ultron merecoki masing-masing anggota Avengers. Selain memberi ancaman fisik, Ultron juga kerap melontarkan argumen filosofis yang lebih menarik dari debat capres. Tema pendukung AOU âpulang ke rumahâ sejalan dengan saran kritikus teknologi Martin Heidegger untuk melepaskan diri dari kontol teknologi modern. Jadilah di akhir cerita, keenam anggotanya pulang: Tony dan Clint mengundurkan diri, Thor kembali ke Asgard untuk misi selanjutnya, Steve dan Nat bertahan di markas Avengers yang telah mereka anggap sebagai rumah, sedangkan Bruce mengasingkan diri karena merasa tidak punya tempat kembali. Intervensi studio terlihat jelas di sini. Joss menyebut pengalamannya menangani AoU tidak menyengangkan. Dibanding membiarkan Joss Whedon asyik dgn fantasinya, Marvel malah seperti menjadikan film ini sebagai âfeederâ untuk âCivil Warâ, âRagnarokâ, dan âInfinity Warâ. Subplot yang melibatkan Thor mencari informasi tentang infinity stones terasa janggal. Setiba di rumah Clint, Thor ujug-ujug ngilang tanpa permisi. Bagian terburuk AoU adalah logika karakter yang sangat mengganggu. Tony Stark selalu mengulangi kesalahannya tapi rekan-rekannya tak mampu melawan dengan argumen. Menciptakan Ultron adalah sebuah kesalahan karena kurang kalkulasi dan untuk memperbaikinya, Tony kembali melakukan tindakan yang sama: mengaktifkan Vision! Mengherankan juga kenapa Hulk pergi setelah keadaan mulai membaik bukannya setelah dirinya membuat kekacauan di Johannesburg. Dengan tema yang hampir mirip, konsekuensi di akhir film komedi âThe Worldâs Endâ (2013) jauh lebih nyata dibanding AoU. (6,8/10)
6. Ant-Man (2015) : Sutradara visioner Edgar Wright yang hampir 10 tahun mengerjakan proyek ini mundur beberapa bulan sebelum shooting karena ketidakcocokan dengan pihak studio sehingga akhirnya harus digantikan Peyton Reed. Hasil akhir film ini bisa saja jauh lebih berantakan karena harus dilakukan berbagai penyesuaian ulang dalam waktu singkat, tapi Peyton berhasil meminimalisirnya sekaligus menghadirkan salah satu film MCU dengan adegan aksi yang inovatif. Situasi yang dihadapi Scott Lang di film ini mirip Tony Stark yang berusaha memperbaiki kesalahan dengan melakukan kesalahan yang sama di âAge of Ultronâ. Scott yang pernah mejadi tahanan terpaksa harus mengulangi tindakan kriminalnya lagi tetapi kali ini sebagai pencuri berkostum canggih yang mampu mengubah ukuran tubuhnya. Hal seperti ini jelas menimbulkan masalah untuk narasi yang mengharapkan adanya perkembangan karakter. Film ini pun menyadarinya, terungkap lewat dialog Hank dengan Scott. Penulisan karakter Scott, interaksi dengan anak semata wayangnya, dan akting Paul Rudd sukses menanamkan empati audiens sehingga mesin ceritanya mampu berjalan baik. Scott Lang yang disebutkan berpendidikan tinggi harus menjalani kehidupan sebagai pecundang setelah maksud baiknya malah menjebloskannya ke dalam penjara. Mantan istrinya, Maggie, menyebut Scott orang baik hanya saja terkadang tidak tahu apa yang harus dilakukan. Paxton, suami baru mantan istrinya, menyebut Scott sebagai ayah yang tidak kompeten. Perusahaan juga enggan merekrutnya karena rekam jejaknya. Hanya Cassie Lang, anak perempuan semata wayangnya, yang menggaguminya. Namun, Paxton dan Maggie membatasinya kesempatan Scott untuk menemui Cassie. Di sisi lain, Hank Pym adalah seorang pria tua yang terancam kehilangan segalanya: hasil kerjanya direplikasi orang lain, perusahaannya terancam diambil alih, dan anak perempuan satu-satunya meninggalkannya. Sebagai cerita tentang dua orang pria yang berjuang mengembalikan kepercayaan diri dan kepercayaan dari orang terdekatnya, âAnt-Manâ mampu menghadirkan konklusi yang memuaskan. Subplot titipan studio (Scott menyusup ke markas Avengers untuk mencuri pengacau sinyal)  tidak semengganggu ketika Thor tiba-tiba pergi menemui Erik Selvig di AoU. (8/10)
Konsep cinematic universe sudah ada jauh sebelum Marvel memulainya tapi bisa dikatakan Marvel Cinematic Universe merupakan yang terpopuler dan tersukses (setidaknya secara finansial) sampai saat ini. Tulisan ini awalnya berasal dari twit iseng berseri bulan Maret mengomentari 21 film MCU yang rilis sebelum âAvengers: Endgameâ. Pas dibaca ulang, ngerasa utas twitnya berantakan banget kayak dibikin orang mabok lagi main medsos jadinya dirapihin di sini. Gak pengen banyak-banyak bahas adegan laga, efek visual (CGI cuma ibarat kosmetik, seadanya juga gak masalah), atau kesesuaian dengan komiknya segala macem (tuntutan narasi film beda sama media komik), jadinya yang dibahas di sini lebih didominasi sama narasi film dan elemen-elemen pembentuk cerita (tema, tujuan, karakter, setting, konflik, character arc, dsb).Â
Ahli komunikasi Walter Fisher mengatakan sebuah cerita lebih pantes disebut sebagai persuasi dibanding argumen logis (bukan berarti fakta dan logika gak penting). Cerita dengan plot seaneh apa pun punya potensi untuk diterima audiens jika mempunyai kekuatan persuasi. Fisher menawarkan dua hal yang memungkinkan pesan sebuah cerita sampai ke audiensnya: narrative coherence dan narrative fidelity. Cerita yang koheren menampilkan konsistensi (elemen yang tidak perlu ada di dalam cerita tidak seharunya ditampilkan), detail yang cukup, dan karakter yang pemikirannya, motifnya, dan aksinya dapat dipercaya. Sedangkan cerita yang akurat mampu mendekatkan audiensnya karena mampu menampilkan pengalaman, nilai, dan sistem kepercayaan yang familiar.
Ada juga yang memandang cerita sebagai sebuah upaya pemecahan masalah. Salah satu karakter benar-benar menyelesaikan masalah dan karakter lainnya merasa menyelesaikan masalah tapi ternyata hanya mencari pembenaran. Menurut Chris Huntley dan Melanie Anne Phillips di buku â Dramatica: A New Theory of Storyâ, sebuah cerita yang dipandang sebagai proses pemecahan masalah bisa disebut lengkap jika bisa menjawab pertanyaan :
ceritanya tentang apa sih?Â
sudut pandang karakter utamanya gimana?
sudut pandang karakter katalis (yang berlawanan, gak harus karakter jahat, misalnya Rocket, Drax, dan Gamora di film pertama âGuardians of the Galaxyâ) gimana?
selanjutnya apakah karakter utama mengadopsi atau malah menolak sudut pandang karakter katalis?
Di tengah-tengah nyelesain seri tulisan ini, nemu artikel resensi buku âScreenwriting 101âČ yang ternyata ngebantu banget. Daripada makin panjang basa-basinya, mending langsung aja dimulai ...
1. Iron Man (2008) : Tokoh utamanya kompleks, interaksi antarkarakternya menarik dan fungsional, adegan aksinya cukup menghibur. Pertama kali nonton, ngerasa film ini lebih mirip adaptasi komik Spider-Man cuma aja tokoh utamanya diganti Tony Stark. Sutradara Jon Favreau yang sekaligus memerankan Happy Hogan juga keliatan mengadaptasi struktur 5 babak film Spider-Man (2002) besutan Sam Raimi. Transformasi Tony Stark menjadi Iron Man cukup memakan waktu, tapi hasilnya dibayar tuntas dengan pengembangan karakter yang memuaskan. (8,5/10)
2. The Incredible Hulk (2008) : Filmnya pantes dianggep gak pernah ada. Satu-satunya aktor yang muncul di film-filmnya setelahnya cuma William Hurt yang memerankan Jenderal Ross. Cukup menarik sebenarnya menyaksikan Edward Norton memerankan Dr. Bruce Banner. Cuma aja naskahnya aneh. Berbeda dengan Tony Stark di film debutnya, penulisan karakter Bruce Banner gak mampu bikin audiens menyelami lebih dalam sosok protagonisnya yang digambarkan sebagai pelarian yang kesepian. Tujuan ceritanya juga ambigu. Delapan puluh persen lebih durasi filmnya dihabiskan untuk menunjukkan upaya Bruce mencegah dirinya berubah menjadi Hulk dan mencari antidot. Namun, film ini malah ditutup dengan aksi heroik Hulk menghentikan Abomination. Berubahnya pendirian Bruce terasa gak organik. Bruce yang selalu khawatir tak mampu mengendalikan Hulk tanpa berpikir panjang lagi meminta Jenderal Ross mengizinkannya menghadapi amukan Emil Blonsky. Kalau tujuan film ini untuk menunjukkan kepahlawanan Hulk, ngapain harus berlama-lama dengan antidot dan menahan diri. (6/10)
3. Iron Man 2 (2010) : Tony Stark menjadi alkoholik dan merusak dirinya sendiri setelah mengetahui palladium di reaktornya ternyata beracun. Sepanjang cerita, Tony banyak berinteraksi dengan Pepper Potts, Happy Hogan, Rhodey, Nick Fury, dan Natalie Rushman (Natasha Romanoff dalam penyamaran) tapi anehnya titik balik Tony justru setelah menonton video rekaman ayahnya yang jelas-jelas interaksi satu arah. Ini menunjukkan relasi antarkarakternya gak bermakna dan cenderung gak punya tujuan. Upaya rehabilitasi Tony terhadap perilaku destruktifnya sama sekali gak pernah jadi perhatian. Filmya lebih cocok disebut âfeederâ film âThorâ dan âThe Avengersâ dibanding film yang bisa berdiri sendiri. Gak ngerti sejelek apa lagi filmnya kalau aja gak ada Robert Downey, Jr. (5,5/10)
4. Captain America: The First Avenger (2011) : Filmnya mungkin jauh dari kesan spektakuler tapi sutradara Joe Johnston dan duo penulis Christopher Markus â Stephen McFeely berhasil menerapkan dasar storytelling dengan baik. Introduksi karakter-karakternya efektif. Interaksi Steve Rogers dengan Peggy Carter, Kolonel Phillips, Dr. Erskine, Howard Stark, Bucky Barnes, dan anggota Howling Commandos sangat fungsional. Hampir gak ada karakter yang kemunculannya sia-sia. Adegan di gang kecil dan di kamp pelatihan militer sudah lebih dari cukup menunjukkan siapa Steve Rogers dan akan seperti apa dia nantinya. (8,5/10)
Tulisan awal bisa dibaca di sini.
5. Thor (2011) : Thor, putra mahkota Asgard yang songong, dikirim ayahnya ke bumi untuk belajar kerendahan hati. Pertemuannya dengan Jane Foster dan Dr. Erik Selvig yang dimaksudkan agar Thor mampu mengubah perilaku gak didukung argumen emosional yang kuat. Jadinya momen titik balik Thor terasa gak organik. Beda misalnya dengan interaksi Tony Stark dengan Rhodey dan Pepper yang mampu membantu perkembangan karakter utamanya di film pertama Iron Man. Film ini jadi semacam kebalikan âThe First Avengerâ karena gak mampu menghadirkan interaksi yang fungsional. Akting Tom Hiddleston bisa jadi alasan satu-satunya film ini masih layak ditonton ulang. (6,3/10)
Tulisan awal bisa dibaca di sini.
6. The Avengers (2012) : Joss Whedon kembali membuktikan dirinya sebagai pencerita lintas media yang ulung di film ini. Empat karakter utama â Iron Man, Captain America, Thor, Hulk â tampak dipahami dengan sangat baik olehnya. Loki dengan alasan yang sangat logis dibuat lebih mengandalkan permainan psikologis dibanding sebelumnya. Film ini dimaksudkan untuk menceritakan dinamika tim yang baru saja terbentuk sehingga sebagian besar durasinya digunakan untuk membenahi konflik internal. Hampir gak ada adegan yang sia-sia. Kematian Coulson menjadi memorable karena menjadi titik balik Steve dan Tony untuk bekerja sama. Sama sekali gak ada momen semu seperti di âCivil Warâ atau âInfinity Warâ. Adegan Steve Rogers yang kesulitan beradaptasi dengan dunia modern yang sebenarnya menarik sampe harus dipotong karena dianggap Joss dapat mengganggu fokus cerita. Adegan laganya menghibur sekaligus sangat fungsional. Sebagai penggemar semiotik, di akhir film, Joss Whedon menyorot Stark Tower yang hanya menyisakan huruf A untuk menyimbolkan Tony Stark yang telah berubah menjadi pemain tim. (8,5/10)
50 Years Later: Growth and Maturity in Amazing Spider-Man 1-50
In the beginning, Peter Parker was fifteen years old. He was too young for full manhood, but too old to be treated like a child. He was coddled by his family and abused by his peers. He was a beloved nephew and professional wallflower, a bitter bookworm and great student. Then he got bitten by a radioactive spider and everything changed. He became Spiderman first, and then Spider-Man. He grew up, moved out, found friends, discovered love, lost love, found love again, and became a man. The first 50 issues of Amazing Spider-Man chart the growing pains of Steve Ditko and Stan Leeâs baby boy, and show us something rare in cape comics: true and gradual growth.