Ujian Online vs Ujian Offline
“Alhamdulillah, akhirnya kewajiban ngawas ujian online kelar juga”
Itu adalah ungkapan rasa syukur dari teman saya saat ngglinding bersama pada Ahad pagi beberapa minggu lalu. Teman saya sebut saja Ibnu adalah seorang guru di sebuah madrasah terkenal di kecamatan Naki. Kecamatan tersebut tidak begitu jauh dari kecamatan saya. Ibnu acapkali bercerita tentang kesehariaannya sebagai seorang guru muda di madrasahnya. Tidak jarang pula berkeluh kesah tentang pandemi yang kurang lebih dua tahun melanda sehingga benar-benar merubah secara drastis kegiataanya sebagai seorang guru. Baik dari kebiasaan hingga proses pembuatan bahan ajar.
Belum lama ini madrasah tempatnya mengajar mengadakan kegiatan Penilaian Akhir Tahun untuk kelas 7 dan kelas 8. Karena masih pandemi akhirnya ujiannya dilakukan secara daring atau online. Jujur awalnya saya kaget mendengarnya. Mengapa harus online? Bukannya kegiatan yang melibatkan banyak orang sudah mulai diperbolehkan oleh pemerintah? Sama seperti yang dilakukan rezim di Konoha? Dia menjelaskan memang kegiatan belajar mengajar sudah mulai diperbolehkan. Namun ujian online dipilih karena ada beberapa alasan dan pertimbangan.
Sebelum dia menjelaskan saya masih saja belum mendapat petunjuk bagaimana ujian online itu dilakukan. Apakah ujiannya dikerjakan dirumah? Apakah muridnya boleh mengerjakan dimana saja selama masih terhubung dengan internet? Apakah pengerjaannya menggunakan zoom atau aplikasi lainnya? Ternyata apa yang saya tanyakan tidak ada yang sesuai dengan apa yang dia maksud. Ibnu menjelaskan bahwasanya ujian online yang dilakukan sebenarnya tidak sepenuhnya online. Karena pada kenyataan murid tetap hadir di sekolah. Namun proses mengerjakan soalnya tidak menggunakan kertas dan pena. Namun cukup menggunakan smartphone saja.
Walaupun online siswa tidak diperbolehkan mengerjakan dari rumah dan wajib hadir di sekolah. Apabila tidak hadir di sekolah maka walaupun mengikuti ujian maka jawaban yang dikirim dianggap tidak sah. Siswa tersebut harus mengikuti ujian susulan. Saya agak kaget mendengarnya. Istilahnya online namun siswa harus tetap hadir dan mengerjakannya di sekolah. Bahkan siswa yang sakit sekalipun tidak boleh mengerjakan dari rumah dan disarankan mengikuti ujian susulan saja ketika sudah mulai sehat.
Sebagai seorang guru yang diberi amanah menjadi pengawas Ibnu lebih menyukai ujian dengan kertas atau pena (offline). Karena bagi dia lebih mudah memantau siswa yang mengerjakan ujian offline. Mengapa seperti itu? Bagi dia ujian yang bersifat online sudah berkurang nilai kesakralannya, kesuciaanya. Kalau bahasa bang Yayan Ruhiyan di film The Raid, Kurang Greget. Karena siswa merasa ujian online lebih mudah. Karena proses mengerjakannya cukup memilih jawaban yang tersedia saja tanpa harus bingung ketika tidak bisa menjawab.
Perlu diketahui ujian online memang menggunakan sistem multiple choice. Setiap soal ada beberapa jawaban yang dapat dipilih. Sehingga tidak akan terjadi soal yang tidak terjawab. Ujian online juga tidak terdapat soal isian maupun uraian. Sehingga tentu akan lebih mudah dalam memilih jawaban. Karena tidak harus menulis manual sehingga banyak siswa yang tidak membawa pena maupun pensil. Karena semuanya sudah diwakili oleh keberadaan smartphone. Bahkan untuk ujian yang paling horror sekalipun yakni matematika sekalipun mayoritas siswa tidak membawa pena, pensil, dan kertas kosong untuk menghitung. Sistem online menjadikan ujian Matematika tidak segarang dulu lagi. Ujian Matematika setara ujian mapel lainnya yang tidak membutuhkan banyak berhitung.
Ibnu juga menambahkan bahwasanya lebih sulit memantau kejujuran siswa dalam ujian online. Sebagai perbadingan saja saat ujian offline hal yang dilakukan siswa sebatas bertanya kepada teman, mencontek menggunakan buku, atau tidur. Tentu hal-hal tadi adalah hal yang dapat dideteksi dengan mudah. Sehingga menanggulanginya juga mudah. Siswa lebih mudah diminimalisasi dalam melakukan kecurangan. Bandingkan dengan ujian online dimana sangat sulit memantau apa yang dilakukan dengan smartphone atau smartphone mereka.
Ibnu menjelaskan bahwasanya suatu fenomena yang tidak bisa dipungkiri adalah saat ujian online siswa tampak lebih cepat selesai daripada ujian offline. Tidak terkecuali itu soal Matematika. Sebuah soal yang diberi alokasi waktu pengerjaan hingga 2 jam, mampu mereka selesaikan hanya dalam waktu setengah jam. Bahkan mungkin lebih cepat dari itu. Matematika saja yang notabene merupakan pelajaran yang dinilai paling membutuhkan usaha untuk menjawabnya ketika dikerjakan dengan online ternyata menjadi tidak lebih sulit dari soal-soal lainnya. Bahkan dalam mengerjakan soal yang dipenuhi hitungan tersebut segenap siswa tidak membutuhkan kertas coret-coretan sama sekali. Lha bagaimana mau coret-coret? Pena saja digilir pemakaiannya satu kelas.
Siswa-siswa Tampak Serius Menatap Layar Smartphone
Kemudian apa yang dilakukan setelah mengerjakan soal dimana durasi waktunya masih sangat panjang? Tentu saja siswa-siswa “memanfaatkan” smartphone yang ada dengan sebaik-baiknya. Ada yang membuka Youtube Instagram, Tiktok dan lain-lain. Tidak sedikit pula yang bermusyawarah di group atau saling berdiskusi jawaban yang benar dari sebuah soal. Tidak jarang ketika mereka juga melakukan transaksi jawaban di group dengan memfoto secara utuh jawaban-jawaban atas soal yang mereka kerjakan. Inilah yang disebut Ibnu dengan hal-hal yang susah dipantau dan dikontrol. Tentu tidak mungkin ketika seorang pengawas harus memantau satu persatu smartphone tiap siswa selama dua jam penuh.
Melalui penuturan teman saya tersebut saya mencoba beropini bahwasanya penyelenggaraan ujian berbasis online memang ada kelebihan dan kekurangannya. Kelebihan pertama adalah ujian online lebih hemat dan efisien. Harus diakui ini fakta. Ujian online menjadikan sekolah tidak harus repot-repot untuk mengcopy kertas soal dan lembar jawaban yang begitu banyak untuk mengakomodasi kebutuhan siswa-siswinya. Dengan ujian online penghematan dalam penggunaan kertas dapat ditekan hingga mencapai hampir 100% kecuali untuk lembar kehadiran atau absen peserta ujian. Apalagi ketika pemanasan global semakin nyata tentu penghematan kertas dapat menjadikan pohon-pohon lebih panjang umurnya.
Kedua,ujian online juga lebih efisien dalam hal penilaian atau koreksi soal. Segenap guru tidak lagi harus repot mengoreksi jawaban dari banyak siswa. Karena ketika mengerjakan ujian secara daring maka tidak butuh lama nilai akan keluar dengan sendirinya. Karena memang sudah diatur seperti itu. Karena ketika siswa sedang mengerjakan maka saat itu pula proses koreksi terhadap jawaban yang benar dan salah sudah berjalan secara otomatis. Segenap guru tidak lagi dibebani untuk menghitung jawaban yang salah dan benar untuk kemudian diolah menjadi nilai. Karena ketika ujian sudah selesai maka nilai ujian tersebut juga sudah terpampang jelas.
Ketiga, ujian online juga adalah sebuah langkah besar dalam menyongsong kecanggihan dunia digital dimana semakin massif perkembangannya. Segenap siswa mulai diperkenalkan dengan dunia digital yang tidak hanya tentang sosial media namun juga hal yang bermanfaat bagi kehidupan mereka kelak. Ternyata smartphone bukan sekedar sarana penghilang penat diakhir pekan atau liburan. Namun juga sebagai sarana evaluasi diri mereka sendiri selama proses pembelajaran. Tentu ini adalah langkah awal agar mereka tidak mengalami gegar budaya digital dalam dunia akademik nantinya.
Keempat, ujian online dengan menggunakan smartphone juga merupakan sebuah awal untuk mengajari segenap siswa bertanggung jawab, jujur, dan tidak curang ketika pelaksanaan ujian. Fakta yang tidak dapat dipungkiri adalah smartphone saat ini sudah dibekali aplikasi dan kemampuan yang lebih dari cukup untuk “membantu” siswa-siswa mengerjakan soal dan menemukan jawaban. Contoh saja ketika ujian Matematika yang mayoritas siswa tidak membawa coretan. Karena mereka yakin smartphone dapat menggantikan semua alat tulis dan membantu otak lebih cepat menemukan jawaban dalam soal hitung-menghitung.
Ibnu pernah mendapati smartphone beberapa siswa yang sengaja menyalakan mode translator agar ketika mengerjakan ujian bahasa asing baik itu Bahasa Inggris, Arab, dan Indonesia maka secara otomatis semua soal akan diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Tentu bagi mereka akan lebih mudah dalam mengerjakan soal-soal bahasa asing tersebut karena sudah berubah menjadi bahasa ibu mereka. Dengan fenomena tersebut tentu kejujuran siswa akan diuji, apakah mereka jujur mengerjakan soal dengan kecurangan-kecurangan tadi atau mereka mampu tetap jujur, tanggungjawab dalam mengerjakan setiap soal. Ujian online dapat menjadi latihan memperkuat kejujuran dan tingkat kesucian niat mereka.
Ketika sudah gamblang memamparkan hal-hal yang positif dari ujian online maka tidak adil bila tidak disajikan kekurangan atau minus dari ujian online. Kekurangan ujian online yang pertama adalah, merosotnya kesakralan ujian itu sendiri. Fakta yang cukup mencengangkan adalah tes, ujian atau sejenisnya akhir-akhir ini memang tampak mulai luntur nilai kesakrakalannya. Tentu berbeda dengan sekitar sepuluh tahun yang lalu dimana ketika sudah memasuki masa-masa ujian siswa-siswa sekolah seolah berusaha membatasi kegiatan dan fokus untuk belajar agar mendapat nilai yang memuaskan.
Ternyata semakin majunya dunia digital dan dunia teknologi juga semakin membuat nilai sakral dari sebuah ujian mulai memudar. Lebih-lebih saat ujian juga menggunakan digital dimana siswa tidak lagi perlu repot-repot membawa alat tulis untuk mengikuti ujian. Karena semuanya sudah terwakili dalam sebuah smartphone. Contoh paling kentara adalah ujian Matematika. Sudah barang tentu ujian yang berbasis angka dan hitung-hitungan ini memerlukan kertas coretan untuk mengerjakan sebuah soal. Namun tampaknya seperti yang dituturkan Ibnu hal seperti itu sudah jarang terlihat. Bahkan Ibnu mengatakan ada yang mencoba menghitung hanya dengan menggerak-nggerakan tangannya di meja seolah-olah sedang menghitung.
Kedua, siswa dapat dengan bebas membuka sosial media tanpa ketahuan guru. Sebagaimana diceritakan Ibnu bahwasanya ketika mengikuti ujian online segenap siswa menjadi sangat cepat dalam mengerjakan soal. Sebuah soal yang durasi mengerjakannya hingga dua jam, dapat dikerjakan hanya dalam tempo waktu 30 menit bahkan kadang lebih cepat. Kemudian apa yang dilakukan setelah mengerjakan? Tentu jawaban dapat ditebak. Segenap siswa mulai menunggu waktu habis dengan membuka sosial media yang mereka punyai. Mulai dari Instagram, Facebook, Tiktok, Youtube, Snack Video bahkan mungkin Friendster. Bahkan ada pula yang berkomunikasi dengan teman dalam group WA. Sedangkan guru tidak bisa mengawasi dan mengontrol apa yang mereka lakukan. Karena untuk mengawasi apa yang dilakukan siswa satu kelas dengan smartphone mereka masing-masing secara terus menerus adalah hal yang berat dilakukan oleh seorang guru.
Ketiga, peluang menggunakan smartphone dengan tidak bijak makin besar. Ujian online yang menggunakan smartphone menjadikan segenap siswa memiliki akses yang cukup lama dalam menggunakan handphone mereka. Berbeda ceritanya saat kegiatan belajar mengajar dimana akses terhadap smartphone dibatasi. Akses yang lama menjadikan mereka cenderung mengerjakan hal-hal yang tidak semestinya. Ibnu pernah menemukan di smartphone salah satu siswa terdapat foto pengawas yang sedang tidur, mengobrol atau lainnya. Kemudian foto tersebut dimasukkan group mereka dengan komentar yang terkadang kurang arif.
Keempat, menjadikan siswa malas berfikir. Mayoritas pertanyaan dalam ujian online adalah multiple choice. Siswa ketika menjawab tinggal memilih dari beberapa plihan yang ditawarkan. Sistem ini menjadikan siswa dimungkinkan dapat menjawab semua soal walaupun ada beberapa pertanyaan yang tidak mereka ketahui jawabannya. Sudah barang tentu hal tersebut menjadi kemudahan bagi segenap siswa. Lebih-lebih ketika menggunakan smartphone tentu akan jauh lebih mudah karena cukup dengan mengklik jawaban yang dipilih.
Ibnu menjelaskan bahwasanya ujian online memang menggunakan pilihan ganda. Karena dengan begitu lebih mudah dalam hal penilaian. Karena ketika mengklik jawaban yang benar maka secara otomatis nilai akan bertambah. Ini berbeda dengan soal isian atau uraian. Sebenarnya ujian online bisa mengunakan model soal isian atau uraian. Namun proses penilaian akan jauh lebih rumit. Karena jawaban baru dinilai benar ketika jawaban yang ditulis atau diketik oleh siswa benar-benar mirip 100% dengan jawaban yang dimasukkan ke dalam sistem. Diksi, susunan kalimat pun harus benar-benar mirip. Maka plihan ganda dipilih karena tidak terlalu rumit dan lebih mudah untuk mengkoreksi jawaban yang dipilih oleh siswa.
Kesimpulannya adalah ujian baik itu online maupun offline mempunyai kelebihan dan kekurangan masing. Tinggal bagaimana kekurangan yang ada dievaluasi untuk kemudian dilengkapi agar proses ke depannya lebih baik. Namun hal yang tidak dapat dipungkiri adalah kecanggihan dunia digital mau tidak mau menjadikan pendidikan perlahan merubah sistemnya. Yang awal offline menjadi online, manual menjadi otomatis, tulis tangan menjadi ketikan, menyilang jawaban menjadi mengklik jawaban. Selanjutnya yang harus dipersiapkan adalah kesiapan SDM yang ada di dalamnya, baik itu guru, murid dan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Karakter tiap individu juga harus disiapkan. Jangan hanya karena digital, semua serba cepat menjadikan otak menjadi malas berfikir dan ketergantungan terhadap smartphone.










