SEPEDA MOTOR (Antara Hidup dan Gaya Hidup
Sekitar seminggu yang lalu saya selesai melakukan ritual khusus. Ritual yang sudah menjadi agenda rutin ketika kuda besi peliharaan sudah merengek minta perbaikan. Bagi pengguna kuda besi yang taat dan patuh pasti paham apa yang saya maksud. Ritual tersebut adalah servis rutin kuda besi yang mulai lelah. Seperti biasanya saya membawa kuda besi matic tersebut ke tempat servis resmi. Betul servis resmi. Karena titah dari empunya sang kuda besi berwarna hitam glowing harus dibawa ke servis resminya. Bukan di bengkel sembarangan di pinggir jalan. Kalau melawan atau melanggar titah tersebut saya takut kuwalat.
Seperti biasa bengkel sudah ramai walau belum begitu banyak motor yang antri. Karena ternyata yang membuat ramai bengkel resmi tersebut bukan hanya pelanggan namun pekerja yang lumayan banyak. Apalagi ketambahan anak SMK yang lagi magang. Pemandangan yang menarik adalah mayoritas yang antri adalah kuda besi yang tidak punya gigi alias matic. Bahkan hampir semunya adalah tipe-tipe kuda besi yang masih berumur muda. Hal tersebut tampak dari bodi masih kinclong hingga bisa untuk bercermin dan berdandan. Ban yang masih tebal menghitam menjadi tanda bahwa ban tersebut jarang mengaspal hingga tidak tampak dekil berdebu.
Sebelum saya melanjutkan tulisan ini. Sebenarnya ada hal menarik dan mengganggu , mengusik hati ketika mengantarkan servis kuda besi dari dulu sampai sekarang. Belum juga menemukan jawabannya. Hal aneh nan menarik tersebut adalah mengapa karyawan di bengkel resmi tersebut memakai seragam atau baju kerja berwarna putih. Padahal mereka kerja di bengkel yang akrab dengan debu, oli bekas, polusi, dan lainnya. Apakah mereka mempunyai deterjen yang super ampuh yang bisa meraibkan kotoran yang menempel di baju putih hanya dalam hitungan detik. Apakah hanya dengan merendamnya dengan deterjen tersebut kotoran langsung menguap seketika?. Atau mereka mempunyai sikat super sakti yang dapat mengandaskan kotoran sekali sikat.
Apa dampak psikologis dari pemakaian baju putih bagi motor yang diservis dan pemilik motor tersebut. Kalau dokter berbaju putih memang ada maksudnya. Yaitu agar menimbulkan efek tenang bagi segenap pasiennya. Warna putih juga menunjukkan kemurnian dan kommitmen yang dipegang oleh dokter tersebut. Kemudian apa alasan pekerja bengkel memakai baju putih? Apakah baju putih menjadikan motor lebih cepat selesai dikerjakan? Apakah baju putih menjadikan pelanggan akan datang kembali? Sedangkan kasir yang bekerja di depan meja pendaftaran justru memakai baju merah kalau tidak salah. Kenapa tidak tukar seragam saja mereka?
Balik lagi ke pembahasan tentang kuda besi matic. Kuda besi matic beberapa tahun berakhir memang sangat masif ekspansinya. Kepopulerannya menggusur bebek manual yang sudah dahulu ada dan merajai era sebelumnya. Padahal dulu motor matic dibuat pertama untuk kalangan kaum hawa. Bahkan laki-laki yang pake matic sekalian saja diminta pake lipstic. Kalau sedang berkendara di jalan, berhenti di lampu merah, ngantri di SPBU, ditilang polisi, hingga ban bocor di jalan pasti yang banyak mendominasi adalah kuda besi matic. Persaingan motor matic juga sangat sengit antar pabrikan satu dengan lainnya. Mereka seolah ingin menghadirkan tunggangan yang bagus, nyaman dan kekinian. Sehingga pasar dan konsumen selalu melirik barang dagangan mereka.
Padahal kalau dipikir dalam-dalam setiap motor yang dikeluarkan tidak berbeda jauh dari pendahulunya. Paling yang ditambah hanya warna, stripping, fitur-fitur baru, fitur keselamatan. Sudah itu saja. Apabila dilihat dari dapur pacu juga tidak jauh-jauh banget. Sebenarnya essensi adanya kendaraan bermotor adalah bagaimana mempermudah mobilisasi manusia dan barang mereka dari satu titik ke titik yang mereka tuju. Namun semakin kesini fungsi motor tidak lagi sebagai alat transportasi namun juga gengsi dan simbol eksistensi diri. Hampir semua pabrikan rajin membuat inovasi dan memproduksi motor baru. Dan hampir selalu laku. Lebih-lebih pabrikan besar.
Mengapa laku? Tentu jawabnya karena gengsi dan ego untuk unjuk gigi tidak akan pernah mati. Pada dasarnya manusia adalah mahluk yang dianugerahi otak/akal dan nafsu. Namun pada kenyataannya dalam membeli sesuatu pertimbangan otak acapkali dikalahkan oleh kuatnya dorongan nafsu. Sebenarnya otak masih dapat membendung nafsu untuk tidak menguasai manusia lebih jauh. Namun seringkali otak tidak berdaya ketika nafsu yang berasal dari diri manusia sendiri mendapat dukungan dari sekitarnya. Baik itu keadaan sekitar maupun bujukan dari orang lain. Hal yang terakhir inilah yang seringkali menjadikan nafsu akan sesuatu tidak dapat dikontrol.
Nafsu yang menggebu menjadikan seseorang membeli sesuatu karena keinginan bukan kebutuhan. Kalau sudah seperti ini yang lebih berperan adalah gengsi dan gaya hidup. Walau bukan hal yang essensial namun terkadang akan lebih diprioritaskan daripada yang prioritas. Memang pada akhirnya kebutuhan akan dikalahkan keinginan. Bahkan untuk memenuhi keinginan seseorang dapat melakukan berbagai hal. Mengganti motor dengan yang baru tentu adalah sesuatu keinginan. Karena seringnya motor yang lama masih bisa dipakai dan berfungsi baik. Walaupun memang ada pabrikan sepeda motor yang menyarankan setelah lima tahun pemakaian untuk mengganti motor dengan yang baru. Alasannya adalah karena kinerja mesin yang sudah menurun. Karena garansi mesin yang diberikan hanya lima tahun.
Kemudian bagaiamana seseorang bisa mempunyai keinginan untuk mengganti motor padahal motor lama masih bagus? Sebab pertama bisa dikatakan karena tergoda iklan dari motor itu sendiri. Era sosial media seperti ini iklan tidak hanya terbatas pada baliho, brosur, maupun banner yang ada dijalan. Model iklan seperti itu bisa dikatakan sudah jadul. Karena tentunya tidak semua orang dapat melihatnya. Namun di kala internet demikian masif iklan sudah mulai menggunakan sosial media yang tentu lebih murah namun lebih jitu menyasar konsumen. Facebook, Youtube, Instagram bahkan Tiktok adalah sebuah alat yang digunakan masyarakat sekarang ini. Bahkan tiap detik orang pasti mengakses sosial-sosial media tersebut. Bangun tidur hingga tidur kembali sosial media adalah sesuatu yang selalu wajib untuk dilihat.
Ada yang membukanya untuk mencari informasi, mencari tips, sekedar scroll agar tidak gabut maupun untuk kepentingan bisnis lainnya. Peran Influencer juga tidak bisa dinafikan sebagai alat promosi. Kontrak kerjasama pun dilakukan oleh pabrikan sepeda motor agar produk-produk mereka dapat wira-wiri di sosial media dan kemudian mendapat banyak like dan view. Makanya tidak jarang banyak produk yang belum launcing sekalipun, seorang Influencer sudah dapat memperkirakan dan memberi ulasan sepeda motor apa yang akan keluar. Pabrikan motor dapat sarana promosi sedangkan influencer dapat bahan untuk konten di sosial media.
Kedua adalah karena “dorongan” dari lingkungan sekitar. Seringkali seseorang ingin membeli motor baru karena tidak mau kalah dengan teman, kerabat dan tetangga. Yang terakhir inilah yang sangat besar peranannya. Khususnya kalangan masyarakat Indonesia. Karena tetangga beli motor baru maka rasanya tidak afdhol kalau tidak beli juga. Apalagi kalau sudah sering kumpul-kumpul bareng. Tentunya rasa tidak ingin kalah serasa menggebu kalau melihat tetangga membeli motor baru. Tidak mau kalah saing pokoknya. Sekalipun harus membeli motor secara cicilan. Lebih-lebih ketika tetangga sudah melancarkan omongan-omongan yang dapat membakar semangat dan nafsu untuk membeli motor baru. Sudah barang tentu segala hal akan dilakukan agar tidak kalah dengan apa yang dimiliki oleh tetangga. Ditambah lagi apabila tingkat ekonomi tetangga jauh lebih tidak mampu daripada orang tersebut.
Kemudian yang ketiga adalah untuk eksistensi dan gaya hidup. Ada yang bilang uang berapapun cukup untuk hidup, namu uang sebanyak apapun tidak akan cukup untuk gaya hidup. Semakin majunya zaman menjadikan semakin tinggi pula gaya hidup seseorang. Lebih-lebih ketika era sosial media menjadi sangat gencar. Hampir semua pengguna sosial media ingin esksis di dunia maya baik itu melalu Whats App, Youtube, Instagram hingga Tiktok. Hampir setiap orang seolah-olah ingin apa yang dilakukannya selalu menjadi sorotan. kemudian apa tujuannya, tentu agar mendapat jempol, like, dan perhatian. Kemudian setelah itu akan dianggap orang yang eksis, gaya, dan berkecukupan.
Kendaraan pribadi baik itu mobil maupun sepeda motor dapat menjadi simbol sosial seseorang di sosial media mereka. Kerap kali hal tersebut dijadikan bahan untuk mengisi sosial media mereka. Hemat saya hampir semua orang yang mempunyai sosial media adalah konten creator. Setidaknya untuk dinikmati mereka sendiri. Konten yang dibuat pun adalah hal-hal yang berasal dari diri mereka sendiri. Baik itu barang-barang, pakaian, gadget hingga transportasi. Apabila sepeda motor atau kendaraan yang dimiliki jadul, kuno, atau usang sudah pasti tidak akan menjadi konten yang baik dan menarik untuk dilihat. Akibatnya akan diremehkan karena dianggap tidak punya, tidak mampu dan kekinian.
Motor memang saat ini seolah menjadi kebutuhan primer bagi setiap orang. Apakah hal itu salah? Tentu tidak. Karena sejatinya keberadaan sepeda motor memang membantu dalam mobilitas banyak orang. Namun yang menjadi masalah adalah ketika fungsinya yang awalnya essensial semakin lama berubah menjadi simbol sosial di masyarakat dan di media sosial. Akibatnya membeli motor tidak lagi menjadi kebutuhan namun berubah menjadi keinginan yang harus selalu berganti seiring lahirnya motor-motor baru. Keberadaan motor tidak lagi untuk mempermudah hidup namun untuk gaya hidup. Motor yang paling sederhana bahkan kuno sekalipun sudah cukup untuk hidup. Namun berapapun motor tidak akan pernah cukup untuk gaya hidup.














