Tiada pundak tanpa beban
Bukan ingin diperhatikan, tapi coba memperhatikan..
Bisa jadi orang yg selalu terlihat ceria atau gembira hahahihi kesana kemari oke, ternyata memiliki masalah yang ia sendiri bingung bagaimana penyelesaiannya.
Mike Driver
Keni
Three Goblin Art
NASA
noise dept.
hello vonnie
Jules of Nature

@theartofmadeline
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

Kaledo Art
Sade Olutola

❣ Chile in a Photography ❣

PR's Tumblrdome
YOU ARE THE REASON
𓃗
Lint Roller? I Barely Know Her

izzy's playlists!
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
cherry valley forever
Today's Document
seen from Nepal

seen from United States
seen from Germany
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye
seen from Latvia
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Portugal

seen from United States

seen from Japan

seen from United States

seen from Denmark
@ihdinash-blog
Tiada pundak tanpa beban
Bukan ingin diperhatikan, tapi coba memperhatikan..
Bisa jadi orang yg selalu terlihat ceria atau gembira hahahihi kesana kemari oke, ternyata memiliki masalah yang ia sendiri bingung bagaimana penyelesaiannya.
Tadi berasa gaada tugas. Sekarang baru sadar.
Hai diriku.
Well,
Keliru
Tak pernah terpikir oleh ku. Ketika mengatakan dan meyakinkan diri kalau aku adalah seseorang yang mampu bersosialisasi dimanapun dan tetap syar'i, anti kaku dan tidak melebur.
Justru aku keliru.
Karena aku membuat kesalahfahaman, membiarkan persepsi orang terhadapku yang mana, aku tidak begitu.
Maka dari itu, tolong ingatkan aku dan beritahu jika aku sedang berada di zona keliruku itu.
Kaaangen
Siapa y?
Jika ditanya berani ya berani. Kalo ditanya kenapa ga takut jawabannya ada Allah. ---Perut lapar tiada modal apapun tuk dimasak kecuali keluar membeli.
3 Keistimewaan Umat Islam
@edgarhamas
Umat ini spesial. Bukan sekadar karena jumlah dan sejarah. Melainkan adanya Umat ini adalah tanda bertahannya dunia. Berakhirnya umat ini, itulah akhir dunia.
Pertama, Akidah yang Satu
Sejak Adam hingga manusia muslim terakhir di muka bumi kelak, umat ini meyakini keesaan Allah. Walaupun zaman berbeda dan terus berkembang, generasi terus berganti, akidah umat ini takkan lekang oleh zaman. Ka'bah kita satu, shalat kita sama, Al Qur'an kita sama, dan Islam menyatukan kita.
Kedua, Keberagaman Pemeluk
Akidah kita satu, padu, namun pemeluknya ada dari semua bangsa dan bahasa. Masjid bersuhu minus di Greenland, ada. Mushalla berbahan kayu di tengah padang sahara yang nyaris 60° celsius, ada. Nelayan muslim Karibia di Amerika Selatan shalat menghadap Ka'bah. Petani di tepian Bengawan Solo, pun shalat menghadap Ka'bah. Begitupula saudagar karpet Turki, semuanya ada.
Ketiga, Tujuan yang Agung
Umat ini Allah lahirkan untuk menegakkan keadilan. Yang lain mengembara dengan kapalnya merampas rempah-rempah negeri Asia Afrika, menjajah dan menodai kemanusiaan. Umat ini, mengorbankan jiwa raga untuk mengajak manusia menuju Allah. Bahkan mengeluarkan dana dan daya terbesarnya agar manusia bisa mengenal Tuhan mereka.
Allahuakbar !
remix
Tidur
Tidurlah Jangan dengarkan teriakan dan tangisan mereka Karena kamu ada di belahan bumi bagian sana
Tidurlah Jangan perlihatkan kesedihan atau kecaman Karena kamu bukan pemimpin sebuah negara
Tidurlah Jangan sedekahkan uang kembalian sisa belanja Karena kamu masih harus menabung untuk hura-hura
Tidurlah Pagi masih nanti dan malam masih panjang Bernyaman-nyamanlah di empuk ranjang
Tidurlah Sembari menulikan rintih sanubari di dalam Yang sedari tadi menggedor-gedor rongga dada
Tidurlah Cepat, karena di sana Tuhan Menangguhkan dan Menunggu kita
Terjaga Dengan telapak kosong ke atas Baru sadar waktu kita terbatas
Tersadar Bahwa hujan di tanah mereka Adalah hujan bom dan ledakan
Terperanjat Karena kita baru terbuka Lama sekali baru paham
Meski jauh, kita bersaudara Meski jauh, kita sedarah Meski jauh, kita sama
Tetapi, tidurlah Karena Hari Kemudian masih mimpi Kenyataan akan lenyap hari ini.
Penulis kembali dengan puisi satir bertema Negeri Muslim yang terlupakan oleh saudaranya sendiri. Inspirasi puisi diambil dari keseharian di sebuah negeri dengan populasi Muslim terbesar di dunia, tetapi tampaknya masih minim kesadaran dalam hal beragama, apalagi berukhuwah. Keterlaluan bukan?
Benar, penulis sendiri pun merasa menjadi bagian dari masalah, karena ketidak mampuan dan ketidak mauan (jujur saja) penulis untuk turun dan membantu.
Hanya saja, cukupkah individu seorang mampu untuk menghentikan kezaliman orang-orang kafir?
Mari kita cari sendiri jawabannya dengan segala upaya yang kita punya.
Puisi teruntuk grup menulis kesayangan, @xyouthgen.
Asing dengan nama sendiri.
Ketika berada disekolah dasar selama 6 tahun aku terbiasa dipanggil dengan nama depanku dengan lengkap “Nafilah”. Jadi panggilan akrabnya "naf".
Saat beranjak SMP, namaku mulai berubah, karena sebuah akun medsos ku bernama Nanuazz, semua orang beralih memanggil Nanas yang diplesetkan dari nama medsosku tersebut. “Nas, lu dipanggil.” “Ka Nanas cantik banget.”. Sampai sekarang sih yang masih setia dengan panggilan tersebut anak mujahid. Kalau mujahidahnya udah balik lagi jadi ‘Nap’. Selain itu panggilan nanas ini juga sempat disampingi dengan panggilan lainnya seperti om, laki, dan ganteng. Jadi pembawaan gue kalo dipanggil nanas tuh feelnya kek perempuan tomboy alay gitu. Wkwk apasih. Sesungguhnya smp adalah masa terkelam dihidupq.
Dan selama tiga tahun menapaki studi di SMA, ini benar-benar panggilan yang buat gue semakin jauh dari nama asli sendiri. Selama tiga tahun aku dipanggil ‘Boss’ which is yang konotasinya negatif tapi dibalik panggilan tersebut receh bin absurd banget. Konotasi negatif karena boss itu kan tukang nyuruh-nyuruh ye? padahal gue yang disuruh-suruh. Baru pertama kali gue hidup ada yang bilang
“Bos, lu gak cocok namanya nafilah.”
“Terus apa dong nama gue? yaudah panggil azizah aja dah.”
“Gak. yang cocok nama lu bos aja.”
Hingga akhirnya semua manggil gue bos. Gak dikelas, gak di kantin, gak di rohis, gak kaka kelas, gak guru, orang ga kenal, semuanya manggil bos. Sampe gue pun aneh sendiri kalo ada yang manggil gue nafilah yang literally nama original gue.
Kemudian sekarang, di fase kehidupan kuliah ini, saat ini, right now, Alhamdulillah aku kembali terpanggil dengan nama ku. Sebuah kalimat doa yang dicita-citakan oleh kedua orang tua ku. Nafilah.
Sebenarnya, diawal masa-masa perkenalan pun sempat ada yang mengeluh nama gue kepanjangan. Yaudahlah, akhirnya gue ngalah bilang panggilnya Fila aja. Padahal gue aneh bat kalo dipanggil Fila selain diluar lingkungan keluarga dan rumah. Dan kalo perkenalan pake fila tuh gue harus buru-buru bilang “Nama ku Fila pake EF buka VI”.
Yang gue tau, mesti pindah lingkungan yang jauh untuk merubah panggilan gue. Memulai dari awal, mengulang menanam mindset pada khalayak umum perkara nama gue. Karena gue merasa bosan dipanggil nafilah. Pengen Azizah atau Nur gitu.
Dan,, you know? entah gue lebay atau gimana, panggilan-panggilan dari nama gue tersebut membuat gue punya perasaan tersendiri, feelnya beda-beda. kalo dipanggil nafilah gue kaya merasa gimanaaa gitu b aja si wkwk, kalo Nanas berasa kembali terpanggil jiwa tomboy w, kalo bos gue jadi kaya apaa gitu, kalo Nap gue jadi kaya keren gitu, kalo dipanggil fila dikeluarga sama fila di temen tuh beda rasanya, kalo dipanggil sayang gatau deh kalo cewe gue pites kalo cowo gue tendang kalo cowo yang udah halal mah beda cerita.
OOT!
Terkadang kita kurang menyadari hal yang kita share hanya kita anggap sebagai mainan, guyonan atau keisengan semata. Namun sadarkah kita ketika postingan atau berita yang kita sampaikan bisa menjadi ladang dosa yang terus mengalir? "Barang siapa mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala yang mengikutinya tanpa sama sekali mengurangi pahala orang yang mengerjakannya, dan barang siapa mengajak kepada kesesatan maka baginya dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sama sekali dosa yang mengerjakannya." (HR. Muslim) sooo.. yuk jadikan gadget & medsos kita sebagai ladang pahala. Mulai kurang2in share yg kurang berfaedah (literally me) 😂 Ayo jadi baik bareng! 😀😀 *merinding sendiri bikinnya juga* #reminderafterreminder #selfreminder
Bagi Yang Malas Shalat Jama’ah, Coba Renungkan Pahala Besar Ini..
1. Shalat jama’ah lebih utama dari shalat sendirian sebanyak 27 derajat (27 kali);
2. Allah akan melindungi orang yang melaksanakan shalat jama’ah dari gangguan setan;
3. Keutamaan shalat jama’ah semakin bertambah dengan semakin bertambahnya jama’ah;
4. Orang yang menjaga shalat jama’ah selama 40 hari, ia akan selamat dari kemunafikan;
5. Siapa yang shalat shubuh dalam keadaan berjama’ah di pagi hari, ia akan mendapatkan rasa aman hingga petang (sore) hari;
6. Siapa yang shalat shubuh berjama’ah di masjid lantas ia menunggu hingga matahari meninggi, lalu ia melaksanakan shalat dua raka’at ketika matahari meninggi (15 menit setelah matahari terbit), maka ia akan mendapatkan pahala haji dan ‘umrah yang sempurna dan sempurna dan sempurna;
7. Siapa yang melaksanakan shalat isya’ secara berjama’ah maka ia mendapatkan pahala shalat separuh malam. Sedangkan jika ia melaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah, ia akan mendapatkan pahala shalat semalam suntuk (semalam penuh);
8. Malaikat malam dan siang berkumpul di waktu shubuh dan ashar;
9. Orang yang menunggu shalat jama’ah terhitung berada dalam keadaan shalat;
10. Siapa yang shalatnya membaca “Amin” setelah membaca Al-Fatihah, maka ia akan mendapatkan cinta dan ampunan Allah.
Sumber: TadabburDaily
Menunggu baik
Alasan menunggu baik untuk amanah yang dirasa berat itu suatu jawaban yang gamau repot, alasan yang dibuat sebagai pembelaan agar diri terbebas dari problema yang sebenarnya mudah kemudian dibuat sulit.
Mudah jika dijalani dengan ikhlas, karena segala sesuatunya berorientasi pada Allah. Namun sulit jika dijalaninya selalu diambil pusing karena belum ada Lillah yang ikhlas.
Daripada nanti saya gak konsisten melakukannya, lebih baik dari awal saya putuskan. Saya belum cukup baik untuk menjadi ini, dan masih banyak kekurangan diri saya yang tidak pantas untuk dijadikan sebagai panutan. Itu jawabannya. Memang sih, diri sendirilah yang paling tahu bagaimana dirinya, namun jika amanah itu datang, bukankah itu sudah menjadi kehendak Allah? Jika kita merasa kurang pantas mungkin saja Allah sedang memberi perhatian pada diri kita untuk kita bisa lebih memperbaiki diri, inilah saatnya menjemput hidayah dan taufik.
Yah, intinya menjadi agent of change itu tidaklah semudah membalikan telapak tangan apalagi satu kedipan mata. Nikmati saja prosesnya, Allah Maha Tahu.
Bahagiaku
Kini bukanlah kamu, kau, dan entah siapakah itu.
Bahagiaku adalah menemukan dan 'menculik' buku historis yang kutemukan dalam lemari buku umi-abi ku.
Minggu, 14 februari 2018. Dini hari pukul 00.34.
Salaf dan Salafi
Antara Salaf dan Salafi, sebagian kita masih ada yang “keliru” dengan maknanya. Sehingga tidak jarang menemukan pertanyaan-pertanyaan, seperti: “Itu ustadz Salaf bukan?” “Kamu salaf atau bukan?”
Padahal kalau secara bahasa dan juga secara makna yang benar, keduanya tentu berbeda makna dan berbeda masa.
Dimana makna “Salaf” adalah orang yang telah mendahului (terdahulu) dalam ilmu, iman, keutamaan, dan kebaikan. Karena itu generasi pertama dari umat ini dari kalangan sahabat nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, tabi’in (orang-orang yang mengikuti sahabat) dan tabi’ut tabi’in (orang-orang yang mengikuti tabi’in). Tiga generasi awal inilah yang disebut dengan salafush shalih (orang-orang terdahulu yang shalih) atau Salaf. Merekalah tiga generasi utama dan terbaik dari umat ini, yang Allah jamin surga barangsiapa yang mengikuti jalan mereka. (lihat surat At-Taubah ayat 100)
Sedangkan “Salafi” adalah penyandaran kepada kema’shuman secara umum (keterbebasan dari kesalahan) sehingga memuliakan seseorang, dimana makna Salafi secara ringkasnya adalah siapapun yang mengikuti jalan (manhaj) para Salafus Shalih.
Bagi kita yang hidup di akhir zaman ini, menisbatkan diri sebagai seorang Salafi/salafiyyin tidak diwajibkan dan juga tidak dilarang. Namun tidak perlu repot memikirkan “pengakuan”. Karena yang paling penting adalah implementasinya.
Seorang Salafi sejati adalah yang mengikuti manhajnya nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para salafus shalih, secara kualitas, kuantitas ibadah, serta muamalah dan akhlaknya, baik dengan Allah maupun kepada sesama hamba-Nya.
Semoga kita yang belum bisa demikian, malu menisbatkan diri sebagai seorang Salafi/salafiyyin.
Terlepas dari menisbatkan diri sebagai salafi, yang jelas kita semua wajib bermanhaj salaf. Sedangkan penilaian seseorang benar-benar seorang salafi atau bukan, hanya Allah yang tahu.
(via gsatriaandika)
Membangun dan mempertahankan punya perjuangannya masing-masing. Begitupun kami. Masih mencari cara agar selalu kompak dan saling mengerti satu sama lain.
Mereka adalah orang-orang yang saling membersamai menjadi agent of change for ummah, InsyaAllah.
Feeling sadness - You're not Alone.
Have you ever felt so down that there’s nothing that motivates you to get back up? That feeling when you look up and there’s no bright light, so you would prefer not to move at all. Have you ever felt like in these moments there is no one in this whole entire world that could relate to you. The feeling when you feel like you have nothing to live for so you choose to give up. Everything is so negative; you don’t even want to be you. You don’t want to live the life you have.
I want you to know something. What you feel is not only normal, but it’s extremely common. You aren’t alone, in fact there’s millions out there who are feeling just as alone as you are. Remember what Islam teaches us?
If we have nothing; we always have Allah, and when we have Allah - we have everything. As long as you have Allah, nobody can take anything away from you. Everything you desire exists with Allah!
The most amazing man to walk this earth, the teacher of ALL teachers, the scholar of ALL scholars, the man of all MEN, the Habib of Allah, the NABI of Allah, the Rasool of Allah, the receiver of divine revelation, the man with the most certainty of Islam - even HE experienced a taste of sadness in his life just like you. He didn’t just go through a moment of grief, he didn’t even just pass through a phase of sorrow. Prophet Muhammad (saw) experienced depression to such a degree he actually considered ending his life.
This is a man who was faultless. He was amazing in his character and conduct, literally the “chosen one”. If our beloved Prophet could feel sadness being as perfect as he was, we should realize it’s only our human nature to feel both good and bad. I want you to take one lesson out of this; you should NOT feel ashamed for feeling the way you do. Shame is an emotion that is from the shaytaan.
You and I are people who have messed up plenty in life. Our scales are full of sin and a lot of the time when we look at Nabi (saw), we feel like we can never be as good as he was because we aren’t Prophets. We disobey Allah (swt) a lot in comparison to him so living up to his standard seems impossible. Let’s remember that Allah sent Muhammad (saw) down because he was the perfect role model and example that we would be able to follow. And we can see in this example that feeling emotions aren’t a sin. They aren’t a sin as long as they don’t get acted upon. If Muhammad (saw) didn’t rise up after his fall, there would be no Islam. His rise was extremely beneficial, not just for him but for the whole of human kind. Don’t underestimate the special abilities Allah put in every person to make them different from one another. With the help of Allah, your rise will be beneficial not just for yourself but for the people around you aswell, inshaa Allah.
Islam isn’t here to extinguish sadness. Allah put it there for a reason. What Islam does do though, is it navigates it in a healthy way. And the fact of life is your going to get tribulations because that is the nature of the dunya. Nothing ever happens to you that wasn’t specifically meant for you. Your problems were distinctively meant for you, and that difficulty hit its target. But don’t forget a musibah isn’t always necessarily a bad thing. It’s something Allah wanted to happen to you. Don’t forget that it is by Allah (swt)’s permission that you are going through whatever you are going through.
“That to your Lord is the final goal; that it is He who grants laughter and tears. And that it is He who grants death and life” (Quran 53:43-44)
So just be patient. Remember that there are hidden mercies in suffering. Remember that it is okay and you are going to be okay. You want to know why? Because even though it is by Allah’s will you might be hurt right now, Allah never burdens a soul more than it can bear. That is one of the marvelous promises of Allah (swt).
“Verily, with every hardship comes ease” (Quran 94:6)
Allah doesn’t leave any of his slaves. At times like this you just need to open your eyes and see that Allah is actually standing right in front of YOU reaching his hand out to YOU waiting for YOU to take it. Allah understands when you fall, but it’s not about how hard the fall is. It’s about how beneficial the rise is.
Don’t let these tribulations make you forget who Allah (swt) is.
When everything starts to look down, don’t forget that He is “The Most High” ( Al - Aliyy ).
When everything feels dark and gloomy, remember that He is “The Light” ( An-Nur ).
When you feel lonely and there’s no one who hears your pain, remember that He is “The All-Hearing” ( As-Sami ) and “The All-Seeing” ( Al-Basir ).
When you feel like you’ve been patient for too long, remember that He is “The Appreciative” ( Ash-Shakur ).
If you feel your being punished, remember that He is “The Loving One” ( Al-Wadud ).
Allah is your Protecting Friend ( Al-Waliyy ) don’t you ever forget that.
Allahuakbar