Muslimah dan konten kreator.
Entah itu artis hollywood, bollywood, korea, ataupun arab sekalipun, kita tentu sadar jika kita tidak dibenarkan untuk mengagumi paras dan fisik mereka hingga berlebih-lebihan, islam sudah mengatur jelas hal itu, tentu banyak dari kita yang sudah mengenal konsep "godhul bashar" dalam islam, apalagi sampai membuang rasa malu kita sebagai seorang muslimah.
Tapi... Bukan berarti ketika pelarangan untuk artis maka kemudian beralih ke para penghafal qur'an, inspirator muslim, sama saja bohong.
Saya tuh miris kalau lihat akhwat bermudah-mudah menyampaikan rasa kagumnya pada seorang ikhwan yang misalnya terkenal di media sosial karena konten dakwahnya atau karena suara ngajinya yang bagus.
Masya Allah, ikhwan2 seperti mereka masih ada, yang berjuang untuk islam, berjuang dalam dakwah, alhamdulillah.
Sebagai seorang muslimah wajar saja ya kalau kita mungkin "follow" akun sosial media ikhwan tersebut untuk mendapatkan manfaat dari postingan dakwah mereka, tapi tolong posisikan niat dengan benar. Seandainya lama kelamaan ikhwan tersebut menjadi "fitnah" untuk diri kita, saran saya lebih baik "unfollow". Jangan sampai kita malah yang akhirnya menjadi "fitnah" bagi mereka yang sedang berjuang dalam dakwah.
Jangan sampai akhirnya niat awal para konten kreator dakwah itu yang murni karena Allah berubah lebih ke arah duniawi karena komentar-komentar kita para akhwat yang tidak terjaga. Kalaupun memang akhirnya kita mengagumi sosoknya karena getolnya dalam dakwah cukup disimpan dalam hati, untuk menjaga marwah kita sebagai seorang muslimah, jangan disuarakan, apalagi di media sosial.
Perempuan dalam islam itu dimuliakan dan terjaga dengan rasa malunya, jangan sampai kita kehilangan kemuliaan itu karena jari-jari kita yang bergerak atas dasar hawa nafsu.
Saya sendiri, memilih untuk tidak mengikuti konten kreator kalau konten kreator itu lebih banyak menunjukkan wajah di media sosialnya. Saya tidak menyalahkan dia yang memposting wajahnya, itu hak dia, saya hanya memilih agar saya tidak terjebak dalam angan semu dan niat yang salah ketika memutuskan untuk "mengikuti" akun si konten kreator. Menurut saya, akan lebih baik kalau kita mengikuti akun-akun dakwah yang umum dan akun-akun perempuan muslimah lainnya dibanding akun ikhwan yang malah menjadi fitnah.
Sedikit saran. Jika memang tetap ingin mengikuti akun seorang ikhwan karena konten dakwahnya, maka ingat-ingat terus niat awal itu ketika akhirnya keterpesonaan pada sosoknya menyusup diam-diam dalam hati, agar ketika itu terjadi tidak membuat seorang muslimah malah menjerumuskan dirinya dengan menanggalkan rasa malu.
Mohon maaf jika tulisan ini terkesan "sok benar" saya hanya merasa ingin menuliskannya, yah ini juga unek-unek yang memang sudah lama meresahkan saya tentang kita sebagai muslimah di era digital ini.
Dari saudarimu dalam iman dan islam. Uhibbukifillah yaa ukhti.
@dearasworld












