ngh nomaku timble dot com .......

seen from Australia

seen from China

seen from Kazakhstan
seen from United States
seen from Germany

seen from India
seen from China
seen from China

seen from United States
seen from Czechia

seen from Malaysia

seen from United States

seen from China

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United States
seen from France
seen from United States
ngh nomaku timble dot com .......
. “Namaku” -Señor Jaguar Porque la figura del jaguar se encuentra presente en representaciones de diferentes comunidades (amazonicas y andinas) siempre como un animal sagrado y de poder... relacionado al sol por su color, al trueno por el sonido de su rugido y a la luna por ser un animal solitario y misterioso... —“Entre los mitos asociados a esta cultura sobresale el del jaguar como representación de la suprema deidad solar, y estrechamente relacionado con la fecundidad y la fertilidad” Además en la serranía de Chiribiquete (uno de los lugares más antiguos con presencia humana y Sagrados porque no hubo asentamientosde vivienda sino que era lugar de encuentro) se ven en pinturas rupestres : —“Son recurrentes en esta expresión pictórica la figura y el modelo conceptual con los elementos: JAGUAR-CHAMAN-ALUCINOGENO” . . Hoy es un ícono de Resistencia. de lo ancestral -mágico- y la Biodiversidad por el interés de preservar su existencia luego de casi desaparecer por ser cazado y rechazado por el modelo “moderno” de asentamiento pecuario: —“A pesar de ser un símbolo de gran fuerza y recurrencia, la imagen del jaguar se vio considerablemente afectada por la aproximación reprobatoria de las misiones y por otras formas de condenación de lo indígena. Las constantes referencias al jaguar y las relaciones de las comunidades étnicas con esta imagen fueron frecuentemente señaladas como acto de brujería “ . . . Así, le rindo homenaje a esta figura mágica de poder, y los invito a enamorarse de todos los significados y apoyar las causas que luchan por su preservación. Hecho sobre cartón kraft para comprobar que el tatuaje funciona en muchos tonos de piel #somostodosmestizos . Gracias @colectivodeltatuaje por la invitación y por unir fuerzas para hacer aportes a la cultura del tatuaje en el país 🖤✨ . . #namaku #jaguartattoo #identidadcolombia #chiribiquete #tribaldelasamericas #saritamermaid #secretsymbol #amorporloancestral #tigredelasamericas #jaguarcolombia (at Antipoda) https://www.instagram.com/p/B4Lm5sIprdO/?igshid=l3vbek8vtid6
Selamat Natal Papua
Daripadanya ada berkat melimpah, yang terbentang luas di tanah Papua Kini Dia lahir datang bagi dunia Juga untuk kita semua
Kita terpisah gunung dan lembah dan tidak saling bertatap muka hanya lewat lagu ini kami ucapkan
Selamat Natal Saudaraku Timika sampai Tembagapura Selamat Natal saudaraku di Biak, Mappi dan Nabire
Selamat Natal Saudaraku di Paniai dan…
View On WordPress
Asing dengan nama sendiri.
Ketika berada disekolah dasar selama 6 tahun aku terbiasa dipanggil dengan nama depanku dengan lengkap “Nafilah”. Jadi panggilan akrabnya "naf".
Saat beranjak SMP, namaku mulai berubah, karena sebuah akun medsos ku bernama Nanuazz, semua orang beralih memanggil Nanas yang diplesetkan dari nama medsosku tersebut. “Nas, lu dipanggil.” “Ka Nanas cantik banget.”. Sampai sekarang sih yang masih setia dengan panggilan tersebut anak mujahid. Kalau mujahidahnya udah balik lagi jadi ‘Nap’. Selain itu panggilan nanas ini juga sempat disampingi dengan panggilan lainnya seperti om, laki, dan ganteng. Jadi pembawaan gue kalo dipanggil nanas tuh feelnya kek perempuan tomboy alay gitu. Wkwk apasih. Sesungguhnya smp adalah masa terkelam dihidupq.
Dan selama tiga tahun menapaki studi di SMA, ini benar-benar panggilan yang buat gue semakin jauh dari nama asli sendiri. Selama tiga tahun aku dipanggil ‘Boss’ which is yang konotasinya negatif tapi dibalik panggilan tersebut receh bin absurd banget. Konotasi negatif karena boss itu kan tukang nyuruh-nyuruh ye? padahal gue yang disuruh-suruh. Baru pertama kali gue hidup ada yang bilang
“Bos, lu gak cocok namanya nafilah.”
“Terus apa dong nama gue? yaudah panggil azizah aja dah.”
“Gak. yang cocok nama lu bos aja.”
Hingga akhirnya semua manggil gue bos. Gak dikelas, gak di kantin, gak di rohis, gak kaka kelas, gak guru, orang ga kenal, semuanya manggil bos. Sampe gue pun aneh sendiri kalo ada yang manggil gue nafilah yang literally nama original gue.
Kemudian sekarang, di fase kehidupan kuliah ini, saat ini, right now, Alhamdulillah aku kembali terpanggil dengan nama ku. Sebuah kalimat doa yang dicita-citakan oleh kedua orang tua ku. Nafilah.
Sebenarnya, diawal masa-masa perkenalan pun sempat ada yang mengeluh nama gue kepanjangan. Yaudahlah, akhirnya gue ngalah bilang panggilnya Fila aja. Padahal gue aneh bat kalo dipanggil Fila selain diluar lingkungan keluarga dan rumah. Dan kalo perkenalan pake fila tuh gue harus buru-buru bilang “Nama ku Fila pake EF buka VI”.
Yang gue tau, mesti pindah lingkungan yang jauh untuk merubah panggilan gue. Memulai dari awal, mengulang menanam mindset pada khalayak umum perkara nama gue. Karena gue merasa bosan dipanggil nafilah. Pengen Azizah atau Nur gitu.
Dan,, you know? entah gue lebay atau gimana, panggilan-panggilan dari nama gue tersebut membuat gue punya perasaan tersendiri, feelnya beda-beda. kalo dipanggil nafilah gue kaya merasa gimanaaa gitu b aja si wkwk, kalo Nanas berasa kembali terpanggil jiwa tomboy w, kalo bos gue jadi kaya apaa gitu, kalo Nap gue jadi kaya keren gitu, kalo dipanggil fila dikeluarga sama fila di temen tuh beda rasanya, kalo dipanggil sayang gatau deh kalo cewe gue pites kalo cowo gue tendang kalo cowo yang udah halal mah beda cerita.
OOT!
Teruntuk yang sebenar-benarnya hanya ingin menseragamkan emosi
Kadang ada baiknya kita melangkah kembali bukan untuk pergi ataupun lari namun apalah arti jika kita bukan menjadi diri sendiri.
“Rif, tetap saja kamu tidak bisa sebijak namamu” Seseorang mengatakan itu padaku, lalu berlalu. Dan aku, hanya diam, mataku sudah tidak menatap kemana perginya, tapi telingaku merekam hampir sempurna kata dan intonasi bicaranya, terngiang sampai sekarang.
"Rif, kukira kamu tidak pernah sebijak namamu..." Ini dejavu, seseorang lain mengatakan hal yang sama dengan seseorang yang dulu itu. Tidak, ini tidak sama, kata-katanya berlanjut, "..tapi aku tidak masalah, aku akan selalu disampingmu, membersamai setiap langkahmu, menguatkan bijak yang semestinya ada." Seseorang itu tetap tinggal, melebarkan senyuman, tangannya melingkar di lenganku. Sungguh. Cantik. Istriku.
(prosa) Namaku Rio Hidayat
Siapa sangka, namaku secara harfiah berarti sungai petunjuk (Tuhan). Bukan apa-apa, belakangan ini jadi terpikir, tidakkah nama itu terlalu berat? Seolah-olah setiap orang yang meminum air sungai ini akan sampai kepada kenikmatan Allah. Seakan-akan setiap orang yang bermain di setiap jeramnya akan menjumpa Allah. Seperti laiknya setiap orang yang menikmati pemandangannya akan melihat Allah.
Berat sekali.
Seringkali aku berdoa dengan sungguh-sungguh, yaa muqollibal quluub tsabit qalbi ‘alaa diinik, wa ‘alaa tho’atik. Di sisi lain aku tahu, sadar atau tidak aku sering berdosa. Aku pendosa. Jangan minum air dari sini!, nanti beracun aku tak jamin yang mana yang kau dapat.
Kendati para filsuf berbeda pendapat soal sungai yang mengalir. Yang satu menganggap sungai yang mengalir selalu berbeda, tidak pernah sama dalam perjalanan waktu. Di satu lainnya menganggap sungai tetaplah sungai yang sama walau bagaimanapun alirannya. Filosofi ini membuatku takut. Jangan-jangan aku tidak ada bedanya dari waktu ke waktu? Yang berubah hanya lapuknya bebatuan, berlumutnya tetanah, dan hanyutnya kotoran, bangkai atau apapun.
Paham maksudku? Duh, jadi merasa bersalah juga karena aku tak punya topik lain selain membicarakan tentang diriku sendiri. Egois sekali sungai yang ditempa musim hujan.
Ah sudahlah, jangan kau minum di sini, nanti beracun! Jangan kau main jeram di sini, kalau saja kau hanyut! Dan jangan kau nikmati keindahan di sini, khawatir kau terlena.
Aku masih mengalir dalam waktu, berharap menjadi lebih bening saat musim hujan. Berharap hilir bisa membawa kepada haribaan Yang Maha Pencipta, lalu menjadi sungai yang mengalir sampai telaga Kautsar.
Allahu a’lam.
Hei kamu, jika kamu masih enggan menyebut namaku ataupun memanggilku, tapi tetap sebutkan aku dalam tiap do’amu yaa. Lalu temukan aku di istikharahmu. Selanjutnya kamu boleh sekali melafadzkan namaku lagi ketika mengucap kalimat qabul ketika ijab qabul nanti. Lafadzkan namaku dengan lengkap yaa. :)
Harapan yang terlalu tinggi ya? Optimis saja. :) Tidak sedikit harapan yang terwujud karena apa yang mereka tulis kok. Percayalah.. :)