Semester lima, yang kata kakak-kakak tingkat ‘neraka pertama’nya kuliah, sudah terlewati hampir setengahnya. Dulu saya sering menganggap omongan-omongan seperti itu hiperbola, dan ternyata sekarang...baru ngerasain nerakanya :’) *sungkem ke kakak tingkat*
Susah banget pulang. Itu hal yang paling sering dirasakan dan paling mengganggu selama semester yang menyenangkan ini. Paling banter pulang ke rumah nenek di Jakarta dua minggu sekali, itu pun sebenernya tujuan utamanya buat lancarin nyetir...hahaha. Frekuensi homesick jadi makin meningkat, dan sedihnya komunikasi dengan keluarga di Bandung lewat telefon selalu gagal menghilangkan homesick itu. Padahal, sampe tingkat dua kemarin saya fine-fine aja kalo nggak bisa pulang dan akhirnya cuma telefon ke rumah. Tapi sekarang, setelah nelefon ke rumah berjam-jam pun saya masih merasa ada yang kurang, merasa butuh sandaran (???), dan masih benar-benar merasa kangen sama rumah dan orang-orang yang ada di dalamnya. Nah, di masa-masa homesick kayak begini lah, sering muncul keinginan untuk merenung tentang sebenernya kenapa sih dulu milih kuliah di sini? (Ngomong-ngomong, sampai tulisan ini dipost, saya masih homesick...hiks).
Kalau diingat-ingat, dulu waktu zaman kelas tiga SMA saya selalu mengulang-ulang do’a yang sama tiap selesai sholat. Intinya dalam do’a itu saya memohon agar diberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di tempat yang diinginkan, dan agar dipermudah jalannya. Menginjak detik-detik terakhir pengumuman SBMPTN, do’a saya mulai ada perubahan; saya memohon agar perguruan tinggi yang akan menjadi bagian dari hidup saya empat tahun ke depannya itu merupakan perguruan tinggi yang bisa menjadi wadah saya untuk berkembang, yang lingkungannya menjauhkan saya dari mudharat, dan yang—baik perkuliahan maupun kehidupannya—tidak memakan biaya terlalu banyak. Singkat kata, saya berharap kuliah saya ini tidak akan menyulitkan kedua orangtua dari segi apapun.
Dulu juga saya secara tersirat berharap agar dapet kampus di luar Bandung, karena pada saat itu saya di Bandung lagi masya Allah mumetnya. Selalu berpikiran bahwa Bandung yang dulu bukanlah yang sekarang (wkwk), akhirnya saya kekeuh buat nyari kampus di luar Bandung...tapi nggak di luar Jawa Barat. Herannya, pemikiran saya waktu itu sebenernya kontradiksi, di satu sisi pengen keluar dari Bandung, tapi di sisi lain nggak kepikiran mau meninggalkan rumah. Aneh, iya saya tau. Maklum lah, pemikiran bocah yang ditolak berbagai kampus :(.
Lalu, kembali ke pertanyaan yang muncul tiap homesick, “Kenapa saya dulu milih kuliah di sini?”
Ternyata jawabannya, “Ya karena ini adalah jawaban dari do’a saya”.
Saya dulu minta tempat kuliah yang bisa menjadi wadah untuk bekembang. Di sini saya alhamdulillah diberi kesempatan untuk bekerja paruh waktu di sekretariat kampus (meskipun kadang sangat memakan waktu), dan di sekretariat ini saya bisa mengembangkan berbagai keahlian: negosiasi, berkomunikasi dengan petinggi-petinggi, berkompromi dengan rekan kerja, membagi waktu, daaaan masih banyak lagi.
Di perkuliahan juga alhamdulillah saya ditempatkan di kelas yang isinya para ahli presentasi, jadi mau nggak mau saya juga harus berusaha untuk menjadi setidaknya sedikit ahli dalam presentasi. Dari segi kompetisi juga nggak usah ditanya, ketika saya masuk kelas ini di tingkat dua, hawa hunger games sangat-sangat-sangat terasa. Nggak bisa leha-leha deh, pokoknya.
Di luar perkuliahan dan pekerjaan, saya juga sempat berkesempatan untuk jadi volunteer di sekolah non-fromal bagi anak-anak yang tinggal di pinggir Stasiun Manggarai. Nggak rutin dan nggak lama berkontribusi di sana memang, tapi setidaknya bisa membuka mata saya untuk mendalami karakter-karakter anak-anak. Saya yang dulu tiap mau komunikasi sama bocah-bocah yang papasan di jalan selalu was-was takut dipelototin ibunya (what kind of nonsense thinking, right), setelah ikut volunteer jadi mulai masa bodoh dengan itu semua sehingga lebih luwes waktu ngegodain anak orang. (Istighfar Na, inget anak orang).
Itu semua wadah untuk berkembang, bukan?
Saya dulu minta tempat kuliah yang lingkungannya menjauhkan saya dari mudharat. Bermacam-macam karakter teman saya temui dari mulai tingkat satu, dan alhamdulillah yang bertahan menjadi sahabat saya adalah orang-orang hebat yang nggak pernah lelah buat mengajak dalam hal kebaikan, menjadi sumber ilmu, dan mengingatkan ketika salah. Sahabat-sahabat saya ini juga ‘satu frekuensi’ sama saya dalam banyak hal, jadi di keseharian kita nyambung banget, deh.
Sahabat-sahabat seperti mereka termasuk yang menjauhkan dari mudharat, bukan?
Terakhir, saya dulu minta tempat kuliah yang tidak memakan biaya terlalu banyak. Do the research yourself, sepengetahuan saya, kampus saya ini kampus swasta yang biaya kuliahnya terbilang murah (setidaknya pas angkatan saya sih murah), tapi dengan biaya sekian mahasiswanya bisa menikmati fasilitas yang cukup, lokasi strategis, dosen-dosen luar biasa (I’m talking about Bu Anet, Bu Trida, Bu Nilam, and Pak Thomas here), tempat ngekost terjangkau, tempat makan murah di mana-mana, dan masih banyak lagi.
Kuliah saya ini jadi tidak menyulitkan orangtua, bukan?
Itulah, sebetulnya kalau kita mau menerima dengan ikhlas dan bersyukur atas segala keputusan Allah SWT, hidup itu terasa ringan. Seperti kata Masgun, “Baik masih sendiri atau sudah menikah, ternyata kuncinya sama. Sabar dan syukur.” (Terus kamu kenapa jadi bahas menikah sih, Na). Karena mau sesempurna apapun hidup yang dijalani, kalau yang menjalaninya terus-menerus memandang ke atas tanpa sekalipun mensyukuri nikmat dan rezeki...bakal berabe, guys :).
26 Oktober 2016, 21:16.
Adlina Masyita. Masih homesick.