Di bawah temaram lampu bangsal yang sunyi, kemewahan sering kali kehilangan suaranya.
Sebutlah seprei sutra yang seputih salju, kasur empuk yang menenggelamkan lelah, atau dinding-dinding kokoh yang kedap dari bisingnya dunia luar. Semua fasilitas terbaik itu dibeli dengan angka yang tak sedikit. Namun, sedekat apa pun ia meniru kenyamanan rumah, tempat itu tidak pernah berubah nama, ia tetaplah sebuah rumah sakit. Di atas ranjang tercanggihnya, tubuh yang terbaring tetaplah tubuh yang ringkih, yang sedang bertaruh melawan nyeri, yang jarinya terikat jarum infus, dan yang napasnya berkejaran dengan detak mesin digital.
Kemewahan tidak pernah bisa menegosiasikan rasa sakit. Ia hanya mendandaninya agar terlihat sedikit lebih anggun.
Maka ketahuilah, wahai jiwa yang sedang bermukim di bumi, begitulah sejatinya hakikat dunia yang kita pijak ini.
Dunia adalah bangsal perawatan yang besar. Tempat kita singgah, bukan tempat kita pulang.
Ketika dunia menggelar karpet merahnya, menuangkan cangkir-cangkir kenikmatan, dan membuai kita dengan tawa yang membumbung tinggi, ingatlah ia tetaplah nikmat dunia. Semanis apa pun regukannya, madu dunia selalu menyisakan getir di dasarnya. Ia memiliki tanggal kedaluwarsa. Ia dibatasi oleh waktu, dikepung oleh kebosanan, dan pada akhirnya, akan dirampas kembali oleh genggaman takdir.
Sebaliknya, ketika badai lara datang bergemuruh, meremukkan dada hingga sesak, dan air mata jatuh menyiram bumi yang gersang, lihatlah jauh ke depan. Kesedihan itu pun memegang tiket yang sama, ia memiliki batas, dan ia pun sementara. Air mata tidak akan mengalir selamanya, sebagaimana tawa tidak akan bergema abadi.
Segala rasa di dunia ini baik yang menerbangkanmu ke langit ketujuh maupun yang menghempaskanmu ke palung terdalam tunduk pada satu hukum yang pasti, mereka akan usai.
Ada batas yang telah digariskan dengan rapi oleh Sang Pemilik Semesta. Ada maut yang bersiap sebagai pemutus segala kelezatan sekaligus penghenti segala penderitaan.
Lantas, jika semuanya begitu fana dan rapuh... mengapa hati ini masih saja terpikat pada bayang-bayang? Mengapa jemari kita begitu erat mencengkeram fatamorgana yang sebentar lagi menguap? Mengapa kita masih saja terlena, seolah-olah kita akan tinggal di bangsal ini selamanya?