Barangkali, bukti paling nyata bahwa hati berada dalam kuasa Allah adalah kita tidak pernah benar-benar bisa memilih kepada siapa rasa itu tumbuh, dan kapan rasa itu perlahan hilang. Semua terjadi atas izin-Nya.

Product Placement
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
official daine visual archive
YOU ARE THE REASON

Jar Jar Binks Fan Club
d e v o n
occasionally subtle
Sade Olutola

pixel skylines
🩵 avery cochrane 🩵

❣ Chile in a Photography ❣
almost home
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
tumblr dot com
hello vonnie

No title available

blake kathryn

Game Changer & Make Some Noise

ellievsbear
The Stonewall Inn

seen from United Kingdom
seen from Ukraine
seen from Italy

seen from India
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States

seen from Singapore
seen from Vietnam

seen from Germany
seen from Canada
seen from Georgia
seen from Ecuador
seen from United States
seen from United States
seen from Qatar

seen from Malaysia
seen from United States
@waktubercerita
Barangkali, bukti paling nyata bahwa hati berada dalam kuasa Allah adalah kita tidak pernah benar-benar bisa memilih kepada siapa rasa itu tumbuh, dan kapan rasa itu perlahan hilang. Semua terjadi atas izin-Nya.
Katanya, hidup harus punya sesuatu yang ditunggu supaya setiap harinya terasa lebih menyenangkan untuk disambut.
Sesederhana: malam nanti makan makanan favorit; besok melanjutkan buku yang belum sempat selesai dibaca; lusa pergi main bareng teman; minggu depan ada film yang ingin ditonton; menanti sore agar bisa melihat matahari terbenam; dua hari lagi paket yang dipesan akan tiba; atau akhir pekan yang tinggal menghitung hari. Dan hal-hal kecil yang terdengar remeh lainnya.
Barangkali manusia memang hidup dari penantian.
Sebab, selagi masih ada hal-hal yang kita nantikan, maka benar hidup terasa lebih menyenangkan.
Lagi pula, hal sekecil apapun akan sangat berarti besar jika kita memandangnya melalui perspektif yang tepat.
"Jika setiap langkah dalam hidup harus menunggu ketika sudah siap, barangkali tidak ada seseorang yang benar-benar bisa memulai apa pun."
Kehidupan tidak berjalan menunggu ketika kita siap.
Waktu terus berlalu, kesempatan selalu datang dan pergi, dan berbagai fase kehidupan akan silih berganti menghampiri. Kita lah yang kemudian belajar menjadi siap sembari menjalaninya.
Sebab ketika ditanya tentang kesiapan, yang sering kali terpikirkan adalah berbagai kekhawatiran yang dikedepankan. Takut gagal, takut salah, takut kecewa dan mengecewakan, dan segala ketakutan menghadapi hal-hal yang belum diketahui. Padahal hidup memang tidak pernah menawarkan kepastian.
Itulah kenapa kita diajarkan untuk mengimani takdir.
Bahwa tidak semua hal harus dipahami terlebih dahulu sebelum dijalani. Hidup ini kan tidak ada simulasinya. Kita tidak bisa berlatih terlebih dahulu untuk setiap fase yang akan datang.
Kendati demikian, bukan berarti kita akan menjalani hidup dengan tangan kosong. Kesiapan tetap harus diusahakan melalui ilmu, ikhtiar, dan berbagai bekal yang bisa kita kumpulkan sebagai modal, lalu berserah kepada-Nya atas hal-hal yang berada di luar kendali.
Bagi aku sendiri, kesiapan itu sifatnya relatif. Barangkali kita sudah siap dalam satu aspek, tetapi belum siap dalam aspek lainnya. Bahkan setelah melakukan persiapan terbaik sekalipun, tidak ada jaminan bahwa kita akan siap seratus persen.
Seiring dengan itu semua, yang membuat seseorang mampu menjalani kehidupan bukanlah perihal telah siap sepenuhnya, tetapi adalah karena terus belajar, berusaha, dan percaya bahwa Sang Maha Penyayang akan mencukupkan apa yang belum dimiliki hari ini.
---
Tulisan ini ditulis ketika diri sedang berada di fase mempersiapkan diri untuk segala hal-hal yang mungkin dan pasti akan dihadapi di depan sana. Walau faktanya, kenyataan tidak semudah tulisan dan serangkaian kata ini saja 😬
Hal Lain dalam Kesetaraan
Dalam konteks 'kesetaraan' mencari pasangan hidup, selain hal yang fundamental, pastikan masing-masing pihak berada dalam kesetaraan untuk saling berjuang—berjuang dan diperjuangkan. Tidak melulu harus dibuktikan dengan sesuatu yang besar, megah dan menawan. Cukup ada bukti kesungguhan bahwa ia adalah orang yang terus berusaha, menghargai batasan, berjuang dengan cara benar, maupun menjaga dan nenyiapkan diri dengan sebaik mungkin.
Meskipun hasilnya bukan sesuatu yang besar dari kacamata kebanyakan orang, namun kegigihannya untuk berusaha itu menandakan bahwa diri kita layak diperjuangkan, layak untuk dijadikan partner seumur hidup. Maka dalam hal ini, bukan pada output hari ini, melainkan outcome—sesuatu yang akan memiliki dampak dan manfaat jangka panjang.
Oleh karena itu, jika dalam proses yang (barangkali) kamu lalui terasa melelahkan, seolah dari pihakmu yang merasa berjuang sendiri, maka cek ulang kembali dimana letak salahnya—apakah perasaan tersebut bisa divalidasi, atau sebatas perasaan yang berbasis keraguan semu yang menjad ciri khas sebelum akad terjadi.
Di fase inilah, masing-masing kita berada pada fase krusial. Sebuah fase yang menuntut adanya kedewasaan dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan-keputusan genting. Berlindung dan minta selalu petunjuk dari-Nya. Semoga ikhtiar baik senantiasa hadir, walapun baru sebatas angan di dalam hati dan kepala.
Yeah, of course it's only my random thought. Might delete later if it gets weird, but letting it sit for now 😃
"Jika setiap langkah dalam hidup harus menunggu ketika sudah siap, barangkali tidak ada seseorang yang benar-benar bisa memulai apa pun."
Kehidupan tidak berjalan menunggu ketika kita siap.
Waktu terus berlalu, kesempatan selalu datang dan pergi, dan berbagai fase kehidupan akan silih berganti menghampiri. Kita lah yang kemudian belajar menjadi siap sembari menjalaninya.
Sebab ketika ditanya tentang kesiapan, yang sering kali terpikirkan adalah berbagai kekhawatiran yang dikedepankan. Takut gagal, takut salah, takut kecewa dan mengecewakan, dan segala ketakutan menghadapi hal-hal yang belum diketahui. Padahal hidup memang tidak pernah menawarkan kepastian.
Itulah kenapa kita diajarkan untuk mengimani takdir.
Bahwa tidak semua hal harus dipahami terlebih dahulu sebelum dijalani. Hidup ini kan tidak ada simulasinya. Kita tidak bisa berlatih terlebih dahulu untuk setiap fase yang akan datang.
Kendati demikian, bukan berarti kita akan menjalani hidup dengan tangan kosong. Kesiapan tetap harus diusahakan melalui ilmu, ikhtiar, dan berbagai bekal yang bisa kita kumpulkan sebagai modal, lalu berserah kepada-Nya atas hal-hal yang berada di luar kendali.
Bagi aku sendiri, kesiapan itu sifatnya relatif. Barangkali kita sudah siap dalam satu aspek, tetapi belum siap dalam aspek lainnya. Bahkan setelah melakukan persiapan terbaik sekalipun, tidak ada jaminan bahwa kita akan siap seratus persen.
Seiring dengan itu semua, yang membuat seseorang mampu menjalani kehidupan bukanlah perihal telah siap sepenuhnya, tetapi adalah karena terus belajar, berusaha, dan percaya bahwa Sang Maha Penyayang akan mencukupkan apa yang belum dimiliki hari ini.
---
Padahal kalau kita takut karena merasa tidak mampu, Allah pun gak akan kasih itu. Kalau Allah kasih, berarti artinya apa?
Kita mampu. Sederhana tapi kadang kita lupa menghayati,
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." —QS. Al-Baqarah: 286
Mengambil Ilmu dari Setiap Temu
Tidak lagi bisa mengabaikan perihal sedemikian bagian dari diriku hari ini yang lahir dari beragam pertemuan-pertemuan yang pernah terjadi.
Sesederhana seperti,
sifat yang tumbuh karena melihat cara seseorang memperlakukan orang lain;
pola pikir yang berubah setelah mendengar cerita dan pengalaman hidup orang lain;
kebiasaan, cara bicara, bahkan cara memandang kehidupan yang tanpa sadar ikut terbentuk dari orang-orang yang pernah hadir;
dan banyak hal-hal lain yang... nyatanya... terbentuk karena pembelajaran tidak langsung yang diserap dari orang-orang yang ditemui, dikagumi.
---
Mengumpulkan serpihan-serpihan dari setiap manusia yang singgah. Lalu merangkainya menjadi diriku sendiri.
Tidak lantas menjadi krisis identitas, juga tidak berarti kehilangan jati diri.
Sebab dari setiap temu, selalu menyisakan hal baru yang membuat diri bertumbuh dan belajar, sedikit banyaknya.
Barangkali memang demikian kehidupan membentuk kita sebagai manusia.
Maka rasanya, cukup masuk akal jika hidup dimaknai sebagai proses saling belajar—mengambil yang baik dari setiap yang sempat dipertemukan dengan kita.
Sebuah reminder kepada diri sendiri bahwa selama masih diberi waktu untuk merasakan, maka setiap yang hadir, walau hanya sementara, tetaplah layak disyukuri sepenuh hati.
Beberapa hari ini dipenuhi dengan satu dua kejadian yang menyadarkan diri tentang "selamanya" yang tidak mungkin pernah ada. Abadi itu fana. Kemelekatan itu tidak akan lama. Semua yang hadir dalam setiap fase hidup hanyalah titipan yang sangat mungkin untuk diambil sewaktu-waktu.
Tidak cuma tentang apa-apa yang dimiliki, juga tentang apa-apa yang dilalui dan rasakan. Apa yang ada dalam genggaman hari ini, di kemudian hari bisa terlepas. Apa yang tumbuh di dalam perasaan hari ini, di kemudian hari bisa memudar bahkan menghilang. Apa yang dijaga sepenuh hati, ketika masanya nanti sudah habis pada kita, maka pun akan pergi. Dan atas semua itu, ikhlas dan menerima selalu menjadi dasar terkuatnya. Meskipun sebenarnya, untuk mencapai dasar tersebut bukanlah sebuah proses yang mudah.
---
Pada akhirnya, hidup selalu mengajarkan tentang bagaimana kita mampu menyambut, menjalani, lalu melepaskan dengan ikhlas. Kita hanya diberi kesempatan untuk merasakan, untuk singgah, untuk belajar dan lalu melanjutkan yang ada di depan sana.
Dunia ini luas,
Dada kita yang sempit, maka segalanya akan terasa menyesakkan mana kala dipaksakan masuk segala keinginan.
Kita sering minta masalah untuk dikecilkan, padahal yang kita butuhkan adalah kapasitas hati yang diluaskan.
Sebab, saat dada lapang, badai pun hanya akan terasa seperti semilir angin yang lewat..
Maka coba baca rumus ini sepenuh hati:
Ya Allah lapangkanlah dadaku, teguhkanlah hatiku, mudahkanlah urusanku, berkahilah rezekiku.
Cukupkanlah aku dengan kecukupanMu dan jagalah aku dengan penjagaanMu..
Membersamai Kata "Hati-hati" dengan Rasa Tulus yang Menyertai
Sebuah ucapan “hati-hati” agaknya terdengar seperti kata yang begitu biasa kita dengar, apalagi kalau itu datang dari orang yang kita kenal.
Seperti hanya sederhana, kan? Cuma satu kata yang berulang. Tapiii untukku, itu lebih dari sekadar ucapan atau hanya isian obrolan aja.
Setiap aku bilang “hati-hati” ke orang-orang, entah itu teman, keluarga, atau siapapun, selalu ada perasaan lebih mendalam yang menyertainya. Sebuah doa, harapan, dan rasa peduli yang benar-benar tulus apa adanya.
Selalu, ketika sesiapapun mengabari aku bahwa mereka sedang dalam perjalanan, langsung tanpa sadar aku membalas dengan bilang, “hati-hati, ya” atau kata lain apapun yang bermakna sama. Tapi kenapa sih kata ini selalu muncul gitu aja sebagai bentuk respon paling awal? Mungkin... Karena itulah bentuk aku menyampaikan rasa perhatian tanpa harus ribet(?) Apalagi si aku ini tipe yang nggak bisa terlalu mengekspresikan perasaan dengan begitu baik, hufft. Jadi, dalam hati, aku benar-benar berharap semoga mereka selalu aman dan bisa melewati segala hal yang tidak pernah aku tahu apa yang mungkin akan terjadi dalam perjalanannya. Kalau bisa berharap dan mendoakan yang baik-baik aja, kenapa enggak, 'kan?
---
Setiap perjalanan pasti punya makna tersendiri dalam hidup kita.
Sama halnya dengan hidup itu sendiri, yang selalunya kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi besok atau bahkan hanya untuk beberapa menit ke depan. Itulah kenapa aku merasa penting untuk menyampaikan harapan ini, meskipun dengan cara yang sangat sederhana.
Aku nggak tahu seberapa berat perjalanannya, seberapa panjang jarak yang harus ditempuh, seberapa banyaknya lampu merah yang akan dilalui, atau seberapa panjang macet yang akan dihadapi, dan segala kemungkinan lain-lainnya. Pokoknya aku berharap semoga sesiapapun mereka tetap dilindungi dan bisa sampai dengan selamat.
---
Maka itu, untuk sesiapapun yang saat ini sedang dalam perjalanan, semoga lancar perjalanamu, dimudahkan atas setiap urusanmu, semoga kamu aman di setiap langkahmu.
Kalau aku bilang “hati-hati,” anggaplah itu sebagai doa yang tulus dariku yang menginginkan segala hal yang untukmu.
Karena setiap perjalanan, akan selalu lebih mudah ketika kita tahu ada orang yang berharap kita sampai dengan selamat dan dalam keadaan baik-baik saja.
Jadi...
"hati-hati" yaa, semoga kamu selalu berada dalam lindungan dan perjalananmu dalam menuju apapun yang kamu usahakan selalu dimudahkan.
Semesta sangatlah luas dalam semua bidang.
Sangatlah luas dalam pengetahuan, seolah setiap jawaban selalu melahirkan pertanyaan baru. Luas dalam perasaan, di mana satu hati bisa menyimpan begitu banyak makna yang tak selalu mampu diungkapkan dengan kata. Bahkan luas dalam kehidupan itu sendiri, yang jalannya tidak pernah benar-benar bisa ditebak, seberapa pun kita merasa telah merencanakannya dengan rapi.
Seperti halnya langit yang tak berujung dan bintang-bintang yang tersebar jauh di sana, juga ruang-ruang kecil dalam diri manusia yang sering kali luput untuk dijelajahi.
Di tengah semua itu, manusia hanyalah penjelajah yang tidak jarang tersesat, kadang menemukan arah, dan sering kali belajar bahwa tidak semua hal harus dipahami sepenuhnya untuk bisa diterima. Ada kalanya hanya cukup dirasakan, diyakini, atau bahkan hanya perlu dilepaskan tanpa harus dimengerti.
Bahwa semesta sejatinya mengajarkan kita untuk terus berjalan, mengenal, dan bertumbuh di dalamnya, tanpa pernah menuntut kita untuk menguasainya.
Percaya kan kalo jawaban atas setiap doa itu selalu “iya”? Tapiii, “iya”-nya itu tidak selalu datang dalam bentuk yang kita harapkan.
Ada “iya” yang segera terwujud.
Ada “iya” yang ditunda.
Ada “iya” yang dikabulkan dalam wujud lain, tidak seperti yang kita minta, tetapi adalah yang sebenarnya paling kita butuhkan.
Artinya bahwa berdoa bukan hanya tentang meminta, melainkan juga tentang mempercayakan. Bahwa tidak semua yang kita inginkan baik untuk kita dan tidak semua yang tertunda berarti ditolak.
Sebab Ia tidak pernah benar-benar berkata “tidak" atas setiap apapun yang dilangitkan oleh sang hamba. Sang Maha Bijaksana mempunyai cara terbaik-Nya untuk mengatakan “iya” dengan waktu, bentuk, dan jawaban yang lebih bijaksana dari yang mampu kita pahami.
Jadi...
Mari selalu menjaga doa-doa baik dan jangan pernah merasa lelah untuk selalu berdoa bahkan untuk sesuatu yang berulang. Karena sejatinya, semua jawaban atas doa-doa tersebut adalah iya, dalam bentuk, waktu, dan jawaban yang paling baik menurut-Nya.
Pada Hari-hari di Penghujung Ramadhan
"Tau nggak apa yang lebih berat dari Ramadhan? Itu adalah hari-hari setelahnya."
Sebuah inti percakapan ini aku dengarkan dari obrolan seseorang yang aku enggak sengaja dengar.
Kalau direnungkan, benar juga, ya...
Segala kebiasaan baik yang dibangun di bulan Ramadhan, nggak jarang akan terasa berat untuk dilanjutkan di hari-hari setelah Ramadhan berakhir. Istiqomah dalam beribadah, menjaga keberlanjutan kebaikan yang sudah dilakukan, membaca Al-Qur'an one day one juz or more, dan banyak hal baik lainnya yang kadang terasa berat untuk di-maintain.
Di bulan Ramadhan, entah kenapa segala sesuatu tampak lebih mudah dilakukan. Rasanya kayak ada atmosfer penuh berkah yang membuat hati ringan, ada semangat berpadu yang memotivasi untuk terus memperbanyak amalan baik. Lalu, begitu Ramadhan selesai, itulah saatnya tantangan yang sesungguhnya dimulai.
Gimana aku bisa tetap menjaga konsistensi dalam beribadah dan menjalankan rutinitas yang telah terbentuk selama bulan suci ini?
Ya Allah, maaf hamba masih sering merasa seperti kehilangan energi itu begitu Ramadhan berakhir. Padahal, hari-hari setelah Ramadhan adalah ujian sesungguhnya untuk mempertahankan niat baik dan kebiasaan yang sudah dimulai.
Maaf masih sering lalai bahwa apa yang udah dibangun selama Ramadhan harus dilanjutkan, bukan hanya menjadi kenangan indah yang datang setahun sekali.
Maaf masih sering melakukan hal-hal baik hanya karena terbawa suasana sesaat.
Semoga di hari-hari setelah Ramadhan, aku dan kita semua masih tetap bisa menjaga Istiqomah tersebut, menjalankan segala kebiasaan baik yang sudah biasa dilakukan selama bulan Ramadhan, membawanya ke hari-hari pada bulan berikutnya.
Selalu saja ada hal-hal yang tidak pernah sampai menjadi sebuah cerita. Hal-hal yang rasanya hati ini terlalu lelah untuk menjelaskan semuanya dan berakhir tertahan di dalam sana.
Ada luka yang kita lipat rapi di dalam hati, ada resah yang tersembunyikan di balik senyuman, juga ada tangis yang hanya jatuh dalam keheningan ketika tidak seorang pun tahu.
---
Maka atas semua itu,
semoga Allah menjaga kita dari apa-apa yang tidak pernah kita ceritakan kepada dunia,
semoga Allah menjaga kita dari kegelisahan yang hanya disimpan sendiri, dari beban yang dipikul tanpa banyak keluhan,
dan semoga Allah menguatkan kita pada hal-hal yang paling sering kita tahan sendirian, pada malam-malam panjang yang hanya dilalui bersama doa, pada rasa lelah yang tidak selalu menemukan tempat pulang.
Karena pada setiap hati yang mungkin tidak banyak bercerita, tetaplah Allah Maha Mengetahui segalanya.
172
Selalu ada yang pertama kali dalam hidup kita. Yang membuat kita takut, khawatir juga berekspektasi. Memikirkan apakah ini benar, bagaimana hasilnya, bagaimana selanjutnya.
Selalu ada satu waktu dalam hidup kita, yang penuh kecemasan. Meraba-raba, apakah kedepannya sesuai dengan yang diharapkan, yang disebut dalam doa.
Tapi memang begini alurnya, harus seperti ini agar kita tahu, kita masih hidup.
(c) @ffahraa
Setiap diri adalah kedalaman yang tak terselami, dan apa yang tertangkap mata hanyalah riak di permukaan. Ada tahun-tahun yang terlewati dalam sunyi, serta bagian hidup yang memang sengaja disimpan sendiri.
Menyadari bahwa kita tidak memiliki akses ke 'naskah lengkap' hidup seseorang membuat kita paham bahwa asumsi sering kali tidak relevan, bahkan bisa melukai.
Dalam keterbatasan pandangan ini, biarlah kerendahan hati menjadi satu-satunya jawaban atas segala yang tak pernah sempat dikisahkan.
Ini isi pikiran sebenarnya lagi berisik banget. Tapi nggak punya energi juga untuk "membagi" apa-apa yang ada di dalamnya ke orang lain. Lebih ke capek, males, dan kayak yaudahlah aja gitu. Lagian kalo pun harus banget dibagi ke orang lain, yang ada malah nangis doang bisanya saking gatau lagi harus memulai cerita dari yang mana.
Mungkin karena itu juga kali ya makanya aku lebih senang menulis daripada bercerita langsung...