— Ust. Naufal Masunika
Masya Allaah, kok bikin mewek ya.. huhu
almost home
YOU ARE THE REASON
ojovivo

Discoholic 🪩
RMH

Origami Around

Jimmy Eat World

if i look back, i am lost
Noah Kahan
tumblr dot com
Fai_Ryy
official daine visual archive
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

Product Placement
Today's Document
Monterey Bay Aquarium
d e v o n
Fieri Frames
Color Me Curious
🪼

seen from China
seen from Uruguay
seen from Brazil
seen from Türkiye

seen from Brazil
seen from Bangladesh

seen from United States
seen from Ukraine

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Türkiye

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from Indonesia

seen from Sweden
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Czechia
seen from United States

seen from Iraq
@ismiraditha
— Ust. Naufal Masunika
Masya Allaah, kok bikin mewek ya.. huhu
Rezeki yang Allah berikan pastilah cukup untuk hidupmu, tapi tidak akan pernah cukup untuk gaya hidupmu. Sebab kamu harusnya tau, mana yang menjadi kebutuhanmu dan mana yang hanya sebatas iri. Menjadi diri sendiri dan bersyukur itu butuh keberanian, keberanian untuk mengatakan "Alhamdulillah atas semua pemberianmu ya Rabb" untuk setiap datangnya penyakit hati. Mari bersyukur.
@jndmmsyhd
#Ntms
Hukum Kerja Di Kantor Pajak
Berikut ada fatwa menarik tentang hukum bekerja di kantor pajak yang sering dipertanyakan sebagian orang. Semoga bermanfaat.
حكم العمل في الجمارك والضرائب أعمل في الجمارك ، وقد سمعت أن هذا العمل غير جائز شرعاً ، فشرعت في البحث في هذه المسألة وقد مرت مدة طويلة وأنا أبحث دون أن أصل إلى نتيجة شافية . أرجو منكم أن تفصلوا لي المسألة قدر المستطاع
Hukum Bekerja di Bidang Bea Cukai dan Perpajakan
Pertanyaan, “Aku bekerja di kantor bea cukai. Aku pernah mendengar bahwa pekerjaan semacam ini itu tidak diperbolehkan oleh syariat. Mendengar hal tersebut aku lantas mengadakan pengkajian tentang permasalahan ini. Setelah sekian lama aku mengkaji, aku tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Aku berharap agar anda menjelaskan hukum permasalahan ini sejelas-jelasnya”.
الحمد لله أولاً : العمل في الجمارك وتحصيل الرسوم على ما يجلبه الناس من بضائع أو أمتعة ، الأصل فيه أنه حرام .
Jawaban pertanyaan, “Alhamdulillah, pada dasarnya hukum bekerja di bidang bea cukai yang memungut pajak atas barang-barang yang didatangkan oleh masyarakat dan dimasukkan ke suatu daerah adalah haram.
لما فيه من الظلم والإعانة عليه ؛ إذ لا يجوز أخذ مال امرئ معصوم إلا بطيب نفس منه ، وقد دلت النصوص على تحريم المَكْس ، والتشديد فيه ، ومن ذلك قوله صلى الله عليه وسلم في المرأة الغامدية التي زنت فرجمت : ( لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ تَابَهَا صَاحِبُ مَكْسٍ لَغُفِرَ لَهُ ) رواه مسلم (1695)
Alasan diharamkannya hal ini adalah karena pungutan bea cukai adalah kezaliman sehingga bekerja di bea cukai berarti membantu pihak yang hendak melakukan kezaliman. Tidak boleh mengambil harta seorang yang hartanya terjaga (baca: muslim atau kafir dzimmi) kecuali dengan kerelaannya. Terdapat banyak dalil yang menunjukkan haramnya maks (baca: bea cukai) dan adanya ancaman keras tentang hal ini. Di antaranya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang seorang perempuan dari suku Ghamidiyyah yang berzina lantas dihukum rajam. Beliau bersabda, “Perempuan tersebut telah bertaubat dengan suatu taubat yang seandainya pemungut bea cukai bertaubat seperti itu tentu dia akan diampuni” (HR Muslim no 1695).
قال النووي رحمه الله : “فيه أن المَكْس من أقبح المعاصي والذنوب الموبقات ، وذلك لكثرة مطالبات الناس له وظلاماتهم عنده ، وتكرر ذلك منه ، وانتهاكه للناس وأخذ أموالهم بغير حقها ، وصرفها في غير وجهها ” اهـ .
Ketika membahas hadits di atas, an Nawawi mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa memungut bea cukai itu termasuk kemaksiatan yang paling buruk dan termasuk dosa yang membinasakan (baca: dosa besar). Hal ini disebabkan banyaknya tuntutan manusia kepadanya (pada hari Kiamat) dan banyaknya tindakan kezaliman yang dilakukan oleh pemungut bea cukai mengingat pungutan ini dilakukan berulang kali. Dengan memungut bea cukai berarti melanggar hak orang lain dan mengambil harta orang lain tanpa alasan yang bisa dibenarkan serta membelanjakannya tidak pada sasaran yang tepat”.
وروى أحمد (17333) وأبو داود (2937) عن عقبة بن عامر رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : ( لا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ صَاحِبُ مَكْسٍ ) قال شعيب الأناؤوط : حسن لغيره. وضعفه الألباني في ضعيف أبي داود
Diriwayatkan oleh Ahmad no 17333 dan Abu Daud no 2937 dari Ubah bin Amir, Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Pemungut bea cukai itu tidak akan masuk surga”. Hadits ini dinilai hasan li ghairihi oleh Syu’aib al Arnauth namun dinilai lemah oleh al Albani dalam Dhaif Abu Daud.
والمَكْس هو الضريبة التي تفرض على الناس ، ويُسمى آخذها (ماكس) أو (مكَّاس) أو (عَشَّار) لأنه كان يأخذ عشر أموال الناس
Pengertian maks yang ada dalam hadits-hadits di atas adalah pajak yang diwajibkan atas masyarakat. Pemungut maks disebut dengan maakis, makkaas atau ‘asysyar (pemungut sepersepuluh), disebut demikian karena pemungut bea cukai – di masa silam – mengambil sepersepuluh dari total harta orang yang dibebani bea cukai.
. وقد ذكر العلماء للمكس عدة صور . منها : ما كان يفعله أهل الجاهلية ، وهي دراهم كانت تؤخذ من البائع في الأسواق . ومنها : دراهم كان يأخذها عامل الزكاة لنفسه ، بعد أن يأخذ الزكاة . ومنها : دراهم كانت تؤخذ من التجار إذا مروا ، وكانوا يقدرونها على الأحمال أو الرؤوس ونحو ذلك ، وهذا أقرب ما يكون شبهاً بالجمارك
Para ulama menyebutkan bahwa maks itu memiliki beberapa bentuk.
(1) Maks yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyyah yaitu uang pajak yang diambil dari para penjual di pasar
(2) Uang yang diambil oleh amal zakat dari muzakki untuk kepentingan pribadinya setelah dia mengambil zakat.
(3) Uang yang diambil dari para pedagang yang melewati suatu tempat tertentu. Uang yang diambil tersebut dibebankan kepada barang dagangan yang dibawa, perkepala orang yang lewat atau semisalnya.
Maks dengan pengertian ketiga tersebut sangat mirip dengan bea cukai.
وذكر هذه الصور الثلاثة في “عون المعبود” ، فقال : في القاموس : المكس النقص والظلم ، ودراهم كانت تؤخذ من بائعي السلع في الأسواق في الجاهلية . أو درهم كان يأخذه المُصَدِّق (عامل الزكاة) بعد فراغه من الصدقة
Ketiga bentuk maks ini disebutkan oleh penulis kitab Aunul Ma’bud (Syarh Sunan Abu Daud). Penulis Aunul Ma’bud mengatakan, “Dalam al Qamus al Muhith disebutkan bahwa makna asal dari maks adalah mengurangi atau menzalimi. Maks adalah uang yang diambil dari para pedagang di pasar pada masa jahiliyyah atau uang yang diambil oleh amil zakat (untuk dirinya) setelah dia selesai mengambil zakat.
وقال في “النهاية” : هو الضريبة التي يأخذها الماكس ، وهو العشار . وفي “شرح السنة” : أراد بصاحب المكس : الذي يأخذ من التجار إذا مروا مَكْسًا باسم العشر اهـ
Penulis kitab an Nihayah mengatakan bahwa maks adalah pajak yang diambil oleh maakis atau pemungut maks. Pemungut maks itu disebut juga asysyar. Sedangkan penulis kitab Syarh as Sunahmengatakan bahwa yang dimaksud dengan pemungut maks adalah orang yang meminta uang dari para pedagang jika mereka lewat di suatu tempat dengan kedok ‘usyur (yaitu zakat)”.
وقال الشوكاني في “نيل الأوطار” : صاحب المكس هو من يتولى الضرائب التي تؤخذ من الناس بغير حق “اهـ .
Dalam Nailul Author, asy Syaukani mengatakan, “Pemungut maks adalah orang yang mengambil pajak dari masyarakat tanpa adanya alasan yang bisa dibenarkan”.
والمَكْس محرم بالإجماع ، وقد نص بعض أهل العلم على أنه من كبائر الذنوب .
Memungut maks adalah haram dengan sepakat ulama. Bahkan sebagian ulama menegaskan bahwa perbuatan memungut maks adalah dosa besar.
قال في “مطالب أولي النهى” (2/619 ) (يحرم تعشير أموال المسلمين -أي أخذ عشرها- والكُلَف -أي الضرائب- التي ضربها الملوك على الناس بغير طريق شرعي إجماعا . قال القاضي : لا يسوغ فيها اجتهاد ) اهـ .
Dalam Mathalib Ulin Nuha 2/619 disebutkan, “Diharamkan mengambil sepersepuluh dari total harta manusia. Demikian juga diharamkan memungut pajak. Pajak adalah pungutan penguasa dari rakyatnya tanpa cara yang dibenarkan oleh syariat. Diharamkannya hal ini adalah ijma ulama. Al Qadhi mengatakan bahwa tidak ada ijtihad dalam masalah ini”.
وقال ابن حجر المكي في “الزواجر عن اقتراف الكبائر” (1/180( الكبيرة الثلاثون بعد المائة : جباية المكوس , والدخول في شيء من توابعها كالكتابة عليها ، لا بقصد حفظ حقوق الناس إلى أن ترد إليهم إن تيسر. وهو داخل في قوله تعالى : ( إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ( الشورى/42 .
Ibnu Hajar al Maki dalam al Zawajir ‘an Iqtiraf al Kabair 1/180 mengatakan, “Dosa besar ke-130 adalah memungut maks dan berperan serta di dalamnya dengan menjadi juru tulis bukan dengan tujuan menjaga hak manusia sehingga bisa dikembalikan kepada pemilik harta ketika sudah memungkinkan. Dosa ini termasuk dalam firman Allah yang artinya, “Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih” (QS asy Syura:42).
والمكاس بسائر أنواعه : من جابي المكس ، وكاتبه ، وشاهده ، ووازنه ، وكائله ، وغيرهم من أكبر أعوان الظلمة ، بل هم من الظلمة أنفسهم , فإنهم يأخذون ما لا يستحقونه ، ويدفعونه لمن لا يستحقه , ولهذا لا يدخل صاحب مكس الجنة ، لأن لحمه ينبت من حرام .
Para pemungut pajak dengan berbagai tugasnya baik pemungut pajak secara langsung, juru tulisnya, saksi, petugas yang bertugas menimbang ataupun menakar barang yang akan dibebani pajak dll adalah pembantu penting para penguasa yang zalim. Bahkan mereka adalah orang-orang yang zalim karena merekalah yang mengambil harta yang bukan hak mereka dan menyerahkannya kepada orang yang tidak berhak. Oleh karena itu, pemungut pajak itu tidak akan masuk surga karena dagingnya tumbuh dari harta yang haram.
وأيضا : فلأنهم تقلدوا بمظالم العباد , ومن أين للمكاس يوم القيامة أن يؤدي الناس ما أَخَذَ منهم ، إنما يأخذون من حسناته ، إن كان له حسنات , وهو داخل في قوله صلى الله عليه وسلم في الحديث الصحيح : ( أتدرون من المفلس ؟ قالوا : يا رسول الله ، المفلس فينا من لا درهم له ولا متاع . قال : إن المفلس من أمتي من يأتي يوم القيامة بصلاة وزكاة وصيام ، وقد شتم هذا ، وضرب هذا ، وأخذ مال هذا ، فيأخذ هذا من حسناته ، وهذا من حسناته ، فإن فنيت حسناته قبل أن يقضي ما عليه أخذ من سيئاتهم فطرح عليه ثم طرح في النار)
Sebab yang kedua adalah karena mereka bertugas untuk menzalimi manusia. Dari mana para pemungut zakat tersebut pada hari Kiamat bisa mengembalikan hak orang lain yang telah mereka ambil?? Orang-orang yang dikenai pajak itu akan mengambil kebaikannya jika pemungut pajak tersebut masih memiliki kebaikan. Pemungut pajak itu termasuk dalam hadits yang sahih. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” Jawaban para sahabat, “Menurut kami, orang yang bangkrut adalah orang yang tidak punya dan tidak punya harta”. Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam , “Umatku yang bangkrut adalah orang yang datang pada hari Kiamat dengan membawa pahala shalat, zakat dan puasa. Namun dia telah mencaci maki A, memukul B dan mengambil harta C. A akan mengambil amal kebaikannya. Demikian pula B. Jika amal kebajikannya sudah habis sebelum kewajibannya selesai maka amal kejelekan orang-orang yang dizalimi akan diberikan kepadanya kemudian dia dicampakkan ke dalam neraka”.
وعن عقبة بن عامر رضي الله عنه أنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : ( لا يدخل الجنة صاحب مكس )
Dari Ubah bin Amir, beliau mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Pemungut bea cukai itu tidak akan masuk surga”.
قال البغوي : يريد بصاحب المكس الذي يأخذ من التجار إذا مروا عليه مكسا باسم العشر . أي الزكاة
Al Baghawi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan pemungut maks adalah orang yang meminta uang dari para pedagang jika mereka lewat di suatu tempat dengan kedok ‘usyur (yaitu zakat).
قال الحافظ المنذري : أما الآن فإنهم يأخذون مكسا باسم العشر ، ومكسا آخر ليس له اسم ، بل شيء يأخذونه حراما وسحتا ، ويأكلونه في بطونهم نارا , حجتهم فيه داحضة عند ربهم ، وعليهم غضب ، ولهم عذاب شديد . اهـ
Al Hafiz al Mundziri mengatakan, “Sedangkan sekarang para pemungut pajak mereka memungut pajak dengan kedok zakat dan pajak yang lain tanpa kedok apapun. Itulah uang yang mereka ambil dengan jalan yang haram. Mereka masukkan ke dalam perut mereka api neraka. Alasan mereka di hadapan Allah adalah alasan yang rapuh. Untuk mereka murka Allah dan siksa yang berat”. Sekian kutipan dari Ibnu Hajar al Makki.
وقال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله في “السياسة الشرعية”: ص 115 : “وأما من كان لا يقطع الطريق , ولكنه يأخذ خَفَارة ( أي : يأخذ مالاً مقابل الحماية ) أو ضريبة من أبناء السبيل على الرؤوس والدواب والأحمال ونحو ذلك , فهذا مَكَّاس , عليه عقوبة المكاسين … وليس هو من قُطَّاع الطريق , فإن الطريق لا ينقطع به , مع أنه أشد الناس عذابا يوم القيامة , حتى قال النبي صلى الله عليه وسلم في الغامدية : ” لقد تابت توبة لو تابها صاحب مكس لغفر له” اهـ .
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam al Siyasah al Syar’iyyah hal 115 mengatakan, “Sedangkan orang yang profesinya bukanlah merampok akan tetapi mereka meminta khafarah (uang kompensasi jaminan keamanan, sebagaimana yang dilakukan oleh para preman di tempat kita, pent) atau mengambil pajak atas kepala orang, hewan tunggangan atau barang muatan dari orang-orang yang lewat dan semisalnya maka profesi orang ini adalah pemungut pajak. Untuknya hukuman para pemungut pajak… Orang tersebut bukanlah perampok karena dia tidak menghadang di tengah jalan. Meski dia bukan perampok dia adalah orang yang paling berat siksaannya pada hari Kiamat nanti. Sampai-sampai Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan tentang perempuan dari suku Ghamidi, “Perempuan tersebut telah bertaubat dengan suatu taubat yang seandainya pemungut bea cukai bertaubat seperti itu tentu dia akan diampuni”
وقد سئلت اللجنة الدائمة للإفتاء عن العمل في البنوك الربوية أو العمل بمصلحة الجمارك أو العمل بمصلحة الضرائب ، وأن العمل في الجمارك يقوم على فحص البضائع المباحة والمحرمة كالخمور والتبغ ، وتحديد الرسوم الجمركية عليها
Lajnah Daimah ditanya tentang hukum bekerja di bank ribawi, di kantor bea cukai dan di kantor pajak. Orang yang bertugas di kantor bea cukai itu bertugas untuk mengecek barang yang hendak masuk ke dalam negeri baik barang yang mubah ataupun barang yang haram semisal khamr dan tembakau lalu menetapkan besaran bea cukai atas barang-barang tersebut.
فأجابت : إذا كان العمل بمصلحة الضرائب على الصفة التي ذكرت فهو محرم أيضا ؛ لما فيه من الظلم والاعتساف ، ولما فيه من إقرار المحرمات وجباية الضرائب عليها ) اهـ . “فتاوى اللجنة الدائمة” (15/64)
Jawaban Lajnah Daimah, “Bekerja di kantor pajak sebagaimana yang anda sampaikan juga haram karena dalam pekerjaan tersebut terdapat unsur kezaliman dan kesewenang-wenangan, membiarkan barang-barang yang haram dan mengambil pajak atasnya” (Fatawa Lajnah Daimah 15/64).
ومن هذا يتبين أن أخذ هذه الرسوم والضرائب ، أو كتابتها والإعانة عليها ، محرم تحريما شديداً .
Dari penjelasan di atas jelaslah bahwa bekerja sebagai pemungut pajak, pencatat pajak dan komponen pendukung yang lain adalah sangat diharamkan.
ثانياً : نظراً لأن هذا الظلم واقع على المسلمين ، وامتناعك من العمل فيه لن يرفعه ، فالذي ينبغي في مثل هذه الحال – إذا لم نستطع إزالة المنكر بالكلية – أن نسعى إلى تقليله ما أمكن .
Menimbang bahwa kezaliman ini merupakan realita kaum muslimin dan andai anda tidak bekerja di sana kezaliman ini juga tidak hilang maka yang sepatutnya dalam kondisi semacam ini yaitu kondisi kita tidak bisa menghilangkan kemungkaran secara total adalah kita berupaya untuk meminimalisir kezaliman semaksimal mungkin.
فإذا كنت تعمل في هذا العمل بقصد رفع الظلم وتخفيفه عن المسلمين بقدر استطاعتك ، فأنت في ذلك محسن ، أما من دخل في هذا العمل بقصد الراتب ، أو الوظيفة , أو تطبيق القانون ، ونحو ذلك فإنه يكون من الظلمة ، ومن أصحاب المكس ، ولن يأخذ من أحد شيئاً ظلماً إلا أُخِذَ بقدره من حسناته يوم القيامة . نسأل الله السلامة والعافية .
Jika anda bekerja di kantor pajak dengan tujuan menghilangkan kezaliman atas kaum muslimin atau menguranginya semaksimal yang bisa anda lakukan maka apa yang anda lakukan adalah baik. Sedangkan orang yang kerja di tempat ini dengan pamrih gaji, dapat pekerjaan, menerapkan UU perpajakan atau tujuan semisal maka orang tersebut termasuk orang yang melakukan tindakan kezaliman dan pemungut pajak. Siapa saja yang mengambil hak orang lain secara zalim maka amal kebajikannya akan diambil pada hari Kiamat sesuai dengan kadar kezaliman yang dia lakukan.
قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله في “مجموع الفتاوى” (28/284) : “وَلا يَحِلُّ لِلرَّجُلِ أَنْ يَكُونَ عَوْنًا عَلَى ظُلْمٍ ; فَإِنَّ التَّعَاوُنَ نَوْعَانِ : الأَوَّلُ : تَعَاوُنٌ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى مِنْ الْجِهَادِ وَإِقَامَةِ الْحُدُودِ وَاسْتِيفَاءِ الْحُقُوقِ وَإِعْطَاءِ الْمُسْتَحَقِّينَ ; فَهَذَا مِمَّا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ وَرَسُولُهُ … .
Dalam Majmu Fatwa 28/284, Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Tidak boleh membantu tindakan kezaliman. Tolong menolong itu ada dua macam. Pertama, tolong menolong untuk melakukan kebajikan dan takwa semisal tolong menolong dalam jihad, menegakkan hukuman had, mengambil hak dan memberikannya kepada yang berhak mendapatkannya. Tolong menolong semacam ini diperintahkan oleh Allah dan rasul-Nya.
وَالثَّانِي : تَعَاوُنٌ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ، كَالإِعَانَةِ عَلَى دَمٍ مَعْصُومٍ ، أَوْ أَخْذِ مَالٍ مَعْصُومٍ ، أَوْ ضَرْبِ مَنْ لا يَسْتَحِقُّ الضَّرْبَ ، وَنَحْوَ ذَلِكَ ، فَهَذَا الَّذِي حَرَّمَهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ …
Kedua, tolong menolong dalam dosa dan tindakan kezaliman semisal tolong menolong untuk membunuh orang, mengambil harta orang lain, memukul orang yang tidak berhak dipukul dan semisalnya. Ini adalah tolong menolong yang diharamkan oleh Allah dan rasul-Nya.
ومَدَارَ الشَّرِيعَةِ عَلَى قَوْلِهِ تَعَالَى : ( فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ ) ; وَعَلَى قَوْلِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم : (إذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ) أَخْرَجَاهُ فِي الصَّحِيحَيْنِ .
Landasan hukum syariat adalah firman Allah yang artinya, “Bertakwalah kalian kepada Allah semaksimal kemampuan kalian” (QS at Taghabun:16), dan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam , “Jika kuperintahkan kalian untuk melakukan sesuatu maka laksanakanlah semaksimal kemampuan kalian” (HR Bukhari dan Muslim).
وَعَلَى أَنَّ الْوَاجِبَ تَحْصِيلُ الْمَصَالِحِ وَتَكْمِيلُهَا ; وَتَعْطِيلُ الْمَفَاسِدِ وَتَقْلِيلُهَا . فَإِذَا تَعَارَضَتْ كَانَ تَحْصِيلُ أَعْظَمِ الْمَصْلَحَتَيْنِ بِتَفْوِيتِ أَدْنَاهُمَا ، وَدَفْعُ أَعْظَمِ الْمَفْسَدَتَيْنِ مَعَ احْتِمَالِ أَدْنَاهَا : هُوَ الْمَشْرُوعُ .
Kewajiban kita semua adalah mewujudkan kebaikan secara utuh atau semaksimal mungkin dan menihilkan keburukan atau meminimalisirnya. Jika hanya ada dua pilihan yang keduanya sama-sama kebaikan atau sama-sama keburukan maka yang sesuai dengan syariat adalah memilih yang nilai kebaikannya lebih besar meski dengan kehilangan kebaikan yang lebih rendah dan mencegah keburukan yang lebih besar meski dengan melakukan kuburukan yang lebih rendah.
وَالْمُعِينُ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ مَنْ أَعَانَ الظَّالِمَ عَلَى ظُلْمِهِ ، أَمَّا مَنْ أَعَانَ الْمَظْلُومَ عَلَى تَخْفِيفِ الظُّلْمِ عَنْهُ أَوْ عَلَى أَدَاءِ الْمَظْلِمَةِ : فَهُوَ وَكِيلُ الْمَظْلُومِ ; لا وَكِيلُ الظَّالِمِ ; بِمَنْزِلَةِ الَّذِي يُقْرِضُهُ ، أَوْ الَّذِي يَتَوَكَّلُ فِي حَمْلِ الْمَالِ لَهُ إلَى الظَّالِمِ .
Penolong perbuatan dosa dan kezaliman adalah orang yang menolong orang yang zalim untuk bisa menyukseskan kezaliman yang ingin dia lakukan. Sedangkan orang yang menolong orang yang terzalimi agar kadar kezalimannya berkurang atau agar apa yang menjadi haknya bisa kembali maka status orang tersebut adalah wakil dari orang yang teraniaya, bukan wakil orang yang menganiaya. Orang tersebut berstatus seperti orang yang memberi hutangan kepada orang yang dizalimi atau mewakili orang yang dizalimi untuk menyerahkan hartanya kepada orang yang zalim.
مِثَالُ ذَلِكَ : وَلِيُّ الْيَتِيمِ وَالْوَقْفِ إذَا طَلَبَ ظَالِمٌ مِنْهُ مَالا فَاجْتَهَدَ فِي دَفْعِ ذَلِكَ بِمَالِ أَقَلَّ مِنْهُ إلَيْهِ أَوْ إلَى غَيْرِهِ بَعْدَ الاجْتِهَادِ التَّامِّ فِي الدَّفْعِ ؛ فَهُوَ مُحْسِنٌ ، وَمَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ …
Contoh realnya adalah orang yang memegang harta anak yatim atau pengurus harta wakaf jika ada orang zalim yang meminta sebagian harta amanah tersebut dengan menyerahkan sedikit mungkin dari harta yang diminta setelah dengan penuh kesungguhan berupaya mencegah kezaliman tersebut. Orang semacam ini adalah orang yang melakukan kebaikan dan tidak ada jalan untuk menyudutkan orang yang melakukan kebaikan.
كَذَلِكَ لَوْ وُضِعَتْ مَظْلِمَةٌ عَلَى أَهْلِ قَرْيَةٍ أَوْ دَرْبٍ أَوْ سُوقٍ أَوْ مَدِينَةٍ فَتَوَسَّطَ رَجُلٌ مِنْهُمْ مُحْسِنٌ فِي الدَّفْعِ عَنْهُمْ بِغَايَةِ الإِمْكَانِ ، وَقَسَّطَهَا بَيْنَهُمْ عَلَى قَدْرِ طَاقَتِهِمْ مِنْ غَيْرِ مُحَابَاةٍ لِنَفْسِهِ ، وَلا لِغَيْرِهِ ، وَلا ارْتِشَاءٍ ، بَلْ تَوَكَّلَ لَهُمْ فِي الدَّفْعِ عَنْهُمْ وَالإِعْطَاءِ : كَانَ مُحْسِنًا ; لَكِنَّ الْغَالِبَ أَنَّ مَنْ يَدْخُلُ فِي ذَلِكَ يَكُونُ وَكِيلُ الظَّالِمِينَ مُحَابِيًا مُرْتَشِيًا مَخْفَرًا لِمَنْ يُرِيدُ (أي يدافع عنه (وَآخِذًا مِمَّنْ يُرِيدُ . وَهَذَا مِنْ أَكْبَرِ الظَّلَمَةِ الَّذِينَ يُحْشَرُونَ فِي تَوَابِيتَ مِنْ نَارٍ هُمْ وَأَعْوَانُهُمْ وَأَشْبَاهُهُمْ ثُمَّ يُقْذَفُونَ فِيى النَّارِ” اهـ . والله أعلم
Demikian pula jika kezaliman (baca:pajak) ditetapkan atas penduduk suatu kampung, suatu jalan, pajak atau suatu kota lantas ada orang baik-baik yang menjadi mediator dalam rangka mencegah kezaliman semaksimal mungkin lantas dia bagi kezaliman (baca:pajak) tersebut atas orang-orang yang dikenai pajak sesuai dengan kadar kemampuan ekonomi mereka tanpa mengistimewakan dirinya sendiri atau orang lain dan tanpa meminta suap. Dia hanya berperan sebagai mediator untuk mencegah kezaliman dan mendistribusikan ‘kewajiban’ yang dipaksakan. Orang semisal ini adalah orang yang berbuat baik.
Akan tetapi mayoritas orang yang masuk di kancah ini mereka menjadi wakil orang yang zalim (baca: penguasa yang zalim), pilih kasih pada pihak-pihak tertentu, meminta suap, membela orang yang dia sukai dan mengambil pajak dari orang yang dia sukai. Orang semacam ini termasuk pentolan orang-orang yang berbuat zalim. Mereka, para pembantu mereka dan orang-orang yang serupa dengan mereka akan dimasukkan ke dalam kotak dari api neraka lantas dicampakkan ke dalam neraka”. Referensi: http://islamqa.com/ar/ref/39461
http://ustadzaris.com/hukum-kerja-di-kantor-pajak
Ilmu baru, baru tau. Subhanallah...
Hari ini, ada orang yang memberikan segala yang ia punya, kepada orang yang justru tidak memberikan apapun sebagai balasannya
ada? (via choqi-isyraqi)
Ada
Berwisata ke Dalam Dirimu
@edgarhamas
Kita sering berjalan ke luar, tapi pernahkah kita benar-benar bertualang masuk ke dalam diri kita sendiri?
Barangkali itulah masalahnya, kenapa jalan-jalan kita, traveling dan penjelajahan kita tidak menambah iman dan menyuburkan syukur. Soalnya mata kepala diajak melihat keindahan, tapi mata hatinya tidak dihidupkan untuk mentasbihkan denyut tadabur.
Anak muda seperti kita memang sedang suka-sukanya diajak jalan kemana saja. Gunung kita daki, pantai kita datangi sembari menulis caption “Vitamin Sea” yang rada-rada alay, desa-desa di dataran tinggi kita singgahi, dan sungai-sungai jernih kita terjuni.
Namun ternyata, kita tak imbang antara berwisata ke luar menjelajah semesta, dan berwisata jauh mengenal diri. Nah, itulah bisa jadi yang membuat kita telat dewasa, susah bijaksana dan masih suka meletup-letup membela emosi. Senja kita jadikan peraga sendu, lalu hanya sekedar itu, shalat Maghrib kelupaan karena terlalu hanyut merindu.
Ada nasihat dari Syaikh Abdul Karim Bakkar,
أن تسافر باعا في داخلك خير من أن تخطوا أميالا في أرض الله
“Berwisata sejengkal ke dalam dirimu, itu lebih baik dari pada kamu menempuh bermil-mil jarak di bumi Allah.”
Sebab, dengan kamu tahu jati dirimu, dalamnya kamu mengenal raga dan hatimu sendiri, akan membuatmu bisa mengambil hikmah dan saripati kebijaksanaan di manapun tempatmu berada, dan sejauh apapun jarak yang kamu tempuh.
Allah memang memerintahkan kita untuk jalan-jalan menjelajah bumi, tapi selalunya, perintah itu malah beriringan dengan spirit untuk bertafakur, “maka lihatlah kesudahan mereka yang berdusta.”
Teruskan hobi jalan-jalanmu, lihat jalanannya dan berpikirlah betapa besarnya nikmat Allah dengan diamnya bumi agar kau bisa tapaki, tenangnya awan hingga melindungimu dari panas, dan romantisnya senja yang tak hanya ingat pada si dia, tapi pada Sang Dia yang jauh lebih utama untuk kau cintai.
Dan jangan lupa, untuk berwisata ke dalam dirimu sendiri, “dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (Adz Dzariyat 21)
Anak muda jangan alergi politik….
Kita kira dapat hidup berlepas diri dari politik, padahal harga makanan, baju, fasilitas transportasi, pendidikan sampa karcis parkir bisa dipengaruhi oleh politik.
Tidak ada yang benar-benar netral di dunia ini, bahkan orang yang mengatakan dirinya netral pun sebenarnya dia mengklasifikasikan dirinya sebagai blok baru. Selalu ada keberpihakan apalagi jika bermainnya sudah di ranah kebijakan yang menyangkut orang banyak.
Jika tidak ditangani oleh orang-orang baik, saya tanya, maka akan diisi oleh siapa? Orang-orang baik yang tidak peduli dengan politik, akan dipimpin oleh politisi yang tidak peduli orang-orang baik.
Sedikit yang Berkah, Menjadi Pengubah Sejarah
@edgarhamas
Hanya 10 tahun lamanya Rasulullah memimpin Madinah menjadi negeri idaman yang dicintai bumi dan dimuliakan langit. Namun perhatikanlah, 10 tahun itu menjadi contoh untuk semua negara-negara besar dalam membuat aturan sampai berabad-abad setelahnya.
Hanya 313 pasukan muslim yang berlaga di medan Badar yang heroik, melawan 1000 kafir Quraisy yang angkuh dan jemawa. Namun perhatikanlah, 313 pasukan itu menjadi contoh setiap pasukan muslim di timur dan barat bumi ketika membuka gerbang-gerbang kerajaan bumi. Menjadi sinyal Ilahi; bahwa kemenangan bukan pada jumlah, melainkan karena iman.
Hanya 100 ribu shahabat Rasulullah ﷺ sepeninggal beliau. Tidak sebanyak tentara Firaun yang jumlahnya berjuta-juta. Tidak sebanyak tentara Romawi dan Persia yang menyemut di lembah dan padang pasir. Namun perhatikanlah, 100 shahabat beliau ﷺ itulah yang menyebarkan Islam hingga hari ini umat kita berjumlah 1,3 miliar.
Jangan remehkan satu hari. Sebab karena satu hari ketika Rasulullah ﷺ diangkat menjadi Nabi, saat itulah bumi tahu bahwa wajahnya akan berubah dari kezaliman menuju keadilan.
Jangan pernah remehkan satu bulan. Sebab selama sebulan lebih 10 hari, Nabi Musa telah membawa 10 perintah Allah dari bukit Tursina, yang akan mengubah arah sejarah bumi sampai berabad-abad lamanya.
Karena sesuatu yang berharga tidak melulu tentang ukuran dan jumlah. Seringkali ternyata, ia hanyalah satu sentuhan kecil dan sedikit dorongan perlahan, namun sejarah bisa berubah karenanya.
“Sometimes, history is just a push.”
istri mandiri, istri melekat.
Persepsi saya soal independensi istri pada suami diuji.
Sebelum menikah, saya pikir seorang istri harus sadar jika ia adalah hamba Allah yang mandiri. Yang dengan adanya perhatian suami atau tidak, ia tetap utuh, ia tetap memiliki kekuatan tersendiri.
Jadi ketika satu sama lain berbuat ulah, baik dirinya maupun suaminya– tidak perlu dibuat pusing. Karena sederhananya, itu mah biarlah menjadi urusan yang berbuat ulah dengan Allah, toh kita sebagai pasangannya sudah mengingatkan.
Namun, ketika sudah menikah, ada kemelekatan yang terjalin.
Rasanya kuatir jika pasangan berbuat begini dan begitu. Ada rasa tak rela jika pasangan berlaku apa-apa yang menurut saya kurang patut.
Awalnya, fokus saya adalah perilaku-perilaku suami yang tak sreg bagi saya. Tak sreg bukan berarti perilakunya salah, ya. cuma kurang sesuai dengan preferensi pribadi saya (hal ini baiknya didiskusikan supaya kadar sreg istri dan suami bisa saling diselaraskan he he). Selanjutnya, yang menjadi fokus saya adalah diri saya sendiri, “Mengapa saya merasakan kemelekatan ini. Mengapa rasanya ingin selalu bersama-sama. Mengapa kok saya jahat, suka gampang kesal, dan nggak mau kasih ruang bagi suami untuk tumbuh..”
Terkadang saya capek sendiri dengan pemikiran ini. Belum tau caranya meredam rentetan “mengapa’ dalam diri. Ingin rasanya tidak usah terlalu peduli.
Tapi dimana unsur saling menjaganya? Yang namanya seimbang itu sulit ya. Namun seorang teman mengatakan, “Jangan tolak kemelekatan."
Iya. Kemelekatan hadir untuk saling memberi ruang berkasih-sayang, saling menjaga.
Hanya saja penempatannya harus tepat, berikut saat-saat yang tepat kapan fitur kemelekatan ini perlu diberdayakan, kapan justru perlu dikurangi.
Sesekali, momen menjarak seperti berpisah karena tugas-tugas tertentu, justru jadi berkah tersendiri.
Keberjarakan berguna. Untuk mengingatkan bahwa ada karya dan kekuatan yang perlu dibangun mandiri, Untuk memikirkan bagaimana menempatkan kemelekatan dengan presisi, Untuk melihat suami dari sudut pandang berbeda, disamping kurang dan lebihnya– sebagai insan berpotensi.
Beliau yang siap saya doakan dan saya dukung.
*Foto kejepret tangan sendiri.
Akhirnya bisa baca tulisan-tulisan Tristi di tumblr lagi, mantan pemred Salman Media dulu. yayyy
Tunggu!
Aku hanya butuh beberapa saat untuk merefleksikan diri dari rencana-rencana Allah. Untuk mengerti kasih sayang Allah lewat rancangan yg Dia beri.
Disaat inilah aku membiarkan Allah menjalankan perannya.
Seringkali aku terdiam ketika gemuruh hati menyelimuti tubuh ini. Tak banyak yang bisa aku katakan. Tunggu, aku sedang berupaya untuk menerimanya!
Tasikmalaya, 31 Des 2018
-
©ismiraditha
Cinta yang Banyak
Yang kamu harap mengalir dari seseorang itu tidak akan pernah sebanyak yang mengalir dari ibumu. Tidak akan pernah lebih banyak lagi dari Tuhan. Lalu, mengapa kamu berusaha menggali begitu dalam padahal tidak ada mata air itu di sana?
Padahal kamu tinggal duduk di depan rumahmu, ia jatuh sebagai hujan yang tidak pernah berhenti. Hujan dalam rintik yang tidak membuatmu sakit. Yang jatuh dengan lembut seperti menyentuh pipimu dengan tangan yang hangat.
Yang kamu harap tumbuh dari hati seseorang itu tidak akan pernah semurni yang tumbuh dari ayahmu. Meskipun bahasa cintanya ayah seperti sandi yang sulit kita mengerti tapi kita bisa memahami tindakannya. Mengapa kamu harus duduk menunggu ia tumbuh dari seseorang sementara ia tumbuh bisa dari siapapun yang kamu temui?
Kita jangan menyiakan yang sebanyak itu, demi yang sedikit. Kita jangan menyiakan yang semurni itu, demi yang dibuat-buat. Jangan melelahkan dirimu sendiri dalam penantian dan pencarian. Karena kalau kamu menyederhanakan perasaan itu menjadi bahasa yang lebih mudah dimengerti alam semesta, maka cinta itu banyak sekali dimana-mana.
Yogyakarta, 10 Januari 2016 | ©kurniawangunadi
Kita jangan menyiakan yang sebanyak itu, demi yang sedikit. Kita jangan menyiakan yang semurni itu, demi yang dibuat-buat…. :)
Please take two minutes out of your time to watch this..
In shaa Allaah it will make you feel better.
May Allaah remove your sadness, aameen.
Kadang kita menjadi dewasa setelah berbagai cobaan dalam hidup menghampiri dan berusaha menyelesaikannya dengan baik.
Merenung
Sebanyak dzikir kita kepada Allah mungkin tidak akan pernah mengalahkan dzikirnya gunung-gunung kepada Allah. Setakwa kita kepada Allah mungkin tidak akan pernah mengalahkan takwanya burung-burung yang terbang dan tunduk pada ketetapan-Nya.
Jadi darimana kita bisa menyombongkan diri? Darimana kita bisa mengakui bahwa diri kita beriman? Yang iman kita juga mungkin tidak akan pernah mengalahkan imannya pepohonan kepada Allah. Lalu, mengapa kita saling menghakimi keimanan seseorang? Mengukur keimanan dari jumlah hafalan? Dari panjang pendeknya kerudung? Dari sesuatu yang sebenarnya menjadi rahasia besar antara hamba dan Tuhannya.
Tugas kita adalah menjadi hamba yang baik, kan? Tidak bisakah kita senantiasa menjaga prasangka baik? Tidak bisakah kita baik kepada semua makhluk-Nya? Juga menegaskan yang hak dan yang bathil.
©kurniawangunadi
Entah kemana jalan yang aku tuju. Semoga kelak semua yang selalu ada dalam lantunan doa-doaku dikabulkan oleh Sang Maha Memiliki.
I’d like to spend my life with someone who makes me fall in love with my religion every day.
Hanya saja yang ingin kita raih belum tentu kita dapatkan, yang ingin kita tuju belum tentu kita sampai. Dalam banyak hal, kita perlu memahami bahwa tugas kita memang hanya untuk berjuang dan benar-benar ikhlas tentang hasil.
Kurniawan Gunadi (via kurniawangunadi)