POV : Pencuri Kebahagiaan
Hidup lagi damai-damainya. Kamu sedang menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, dinafkahi dan diperlakukan dengan baik oleh pasangan. Tiba-tiba ada orang yang mengatakan kepadamu; "Jadi perempuan itu harus bekerja, biar nggak direndahin sama laki-laki. Bisa beli macem-macem sendiri. Jaga-jaga kalau ada apa-apa sama rumah tanggamu, kalau-kalau nanti suamimu selingkuh!" Hidup lagi damai-damainya. Kamu dan pasangan sedang menjalani kehidupan rumah tangga jarak jauh dan kalian saling setia. Dan kalian baik-baik saja. Tiba-tiba orang lain bilang," Ah belum ketauan aja itu pasanganmu di sana, pinter mainnya!" Hidup lagi damai-damainya. Kamu baru aja beli HP seharganya 20 juta, sesuatu yang udah kamu upayakan selama setahun terakhir dengan kerja tambahan macem-macem. Tiba-tiba ada orang yang mengatakan kepadamu ; "Beli hape mahal-mahal, mending ditabung atau dibeliin emas!" Hidup lagi damai-damainya. Kamu sekeluarga baru aja beli mobil LCGC baru, harganya sampai 200jt. Mobil baru dan mobil pertama kalian. Tiba-tiba ketemu temen yang bilang, "Yah, 200 juta sayang banget dibeliin mobil kaleng, kalau dibeliin bekas itu bisa dapat mobil yang lebih bagus!" Dan berbagai macam lainnya. Dia yang terluka hidupnya, dia yang dikecewakan sama keluarga, dia yang dikhianati laki-laki, dia yang tidak mampu beli, dia yang punya keinginan tak tercapai. Dia pula yang memaksakan orang lain untuk hidup dengan cara pikir dan pandangnya. Menyeret orang lain ke dalam luka dan traumanya. Hurt people hurt people. Kalau ada orang yang kamu kenal suka mencuri kebahagiaanmu, tinggalkan! Atau jangan-jangan, kitalah yang suka mencuri kebahagiaan orang lain?













