Rumah
Ini adalah catatan yang saya tulis dengan cukup tenang dan bahagia karena akhirnya kami akan hidup berdua dalam satu rumah. Sebuah rumah yang meski baru bisa mengontrak tetapi kami cukup berbangga dengan rumah ini. Karena dengan adanya rumah ini yang akan menaungi kami selama tahun-tahun ke depan, secara lengkap kami akan memulai rumah tangga kami sendiri. Tidak ada lagi jarak yang akan menjadi penghalang hanya sekedar untuk bertatap muka, menikmati indahnya tatap mata setelah lama memendam rindu untuk bersua karena kini kami hidup dalam satu rumah. Tidak ada lagi waktu yang dihabiskan berjam-jam di telepon jika hanya ingin berbagi kisah apa yang telah dilalui dalam melalui hari-hari. Dan yang terpenting, kami bisa merencanakan masa depan yang kami dambakan secara lebih intensif, bukankah pepatah mengatakan bersatu kita teguh? Rumah itu berlantai dua, punya teras di lantai atas, sebuah rumah yang bisa dibilang jauh dari pusat kota, berada di pinggiran kota Bandung yang perlahan terus bergerak maju. Susah payah kami mencari rumah itu hingga akhirnya kami merasa cocok dengan beberapa hal hingga memutuskan untuk mengontraknya. Tetapi bukankah itu yang selalu orang katakan, semua akan indah pada waktunya? Dalam hal ini bisa jadi bersabar adalah pelajaran yang bisa kami ambil. Berhari-hari keliling setiap sudut kota Bandung mencari sebuah rumah mungil yang bisa kami tempat sebagai rumah kami pertama membangun rumah tangga. Dan rumah itu pun kami temukan. Banyak hal yang sedang kami rencanakan dalam rumah itu, dia bekerja di rumah dan saya bekerja di luar rumah. Dia menjadi ibu rumah tangga dan saya jadi tulang punggung rumah tangga yang utama. Dia adalah co-pilot saya di rumah, seperti yang dikatakan Ryan Bingham dalam film Up In The Air. Bisa jadi dalam setiap kehidupan kita selalu membutuhkan orang-orang seperti itu. Sebutkan semua label yang kamu tahu, selalu ada orang-orang di lingkungan terdekatmu yang bisa kamu andalkan jika kamu goyah. Dalam hal membangun rumah tangga, dialah co-pilot saya. Orang yang bisa jadi selalu memasak makanan yang saya senangi ketika saya pulang kerja dan kelaparan. Orang yang bisa menemani lelah saya dan menemani saya ke dokter gigi sekali waktu. Orang itu istri saya. Sekarang kami sedang sibuk sekali mempersiapkan kepindahan istri saya itu ke Bandung. Dan hal ini saya tahu menjadi sentimentil baginya karena seumur hidup dia belum pernah jauh dari keluarganya. Untuk itulah saya juga akan menjadi orang yang bisa dia andalkan selama kami hidup berdua membina rumah tangga. Karena bagaimanapum sebuah hubungan dimulai ketika berbicara tentang rumah tangga akan lebih baik jika sudah berada di bawah satu atap. Dan inilah saatnya. Bismillah.










