Duka Cita dan Belajar Menjadi Warga
I don’t plan on going home for this.
Libur panjang akhir minggu kemarin akhirnya memutuskan untuk pulang setelah menunda jadwal pulang beberapa kali. Aku ingin pulang dan tidur dirumah yang lama. Hari Rabu sahabatku Toya kasih kabar kalau bapaknya harus operasi. Aku perjalanan hari kamis dari surabaya, sebenarnya rencana berangkat pagi tapi harus menunda lagi karena masih ada beberapa agenda yang harus diselesaikan, akhirnya berangkat sudah sore setelah mengumpulkan tenaga untuk jalan ke terminal ketika Surabaya lagi panas-panasnya. Tepat waktu magrib aku sampai di rumah. Rencananya baru akan menjenguk hari jumat, tapi seketika sampai rumah rasanya tidak tenang, dalam hati “ayo budhal ning rumah sakit”. Akhirnya malam itu juga pamit malam malam ke RS, belum mandi belum ganti baju.
Sambil mengingat jalan menuju RS aku membatin “kayaknya kondisinya stabil”. Naik motor pelan-pelan dan jalanan sudah mulai sepi. Sampai rumah sakit keluarga Toya sudah di depan ruangan. Aku langsung salim ke ibunya Toya dan tanya dia dimana. Ibunya bilang dia sedang urus administrasi rujukan di depan. Aku langsung jalan ke depan, celingak celinguk mencari tapi semua ruangan pintunya tutup, kecuali apotek. Toya ini asisten apoteker. Akhirnya coba nengok masuk ke dalam dan dia lagi duduk di bawah mukanya pucat. I never see her face like that, dan seketika aku paham ini pasti kondisinya tidak baik baik saja.
Setelah kita ketemu dan ngobrol ternyata kondisinya beliau harus di rujuk ke rumah sakit tipe A yg lebih besar dan lengkap fasilitasnya. Toya sudah hubungi beberapa RS yang lebih besar sejak magrib dan ketika aku datang sekitar pukul 21.00 belum ada satupun kejelasan RS mana yang akan menerima rujukan tersebut. Aku ikut duduk bersama keluarga Toya yang lain, sementara dia masih keluar masuk ruang ICU dan memegang handphone nya. Sampai akhirnya jam 23.30 dan belum juga ada kabar tentang rujukan. Aku yang belum mandi, belum ganti baju dan mulai pegal-pegal akhirnya pamit duluan. Padahal rencananya kalau di rujuk malam itu juga aku akan ikut naik ambulans. Tapi karena belum ada kejelasan dan badanku mulai sakit semua akhirnya aku pamit pulang dulu dan aku pesan ke Toya, “kalau memang jadi berangkat di rujuk tengah malam tolong aku dikabari, besok pagi aku nyusul ke RS lagi”. Setelah pamitan aku pulang, tepat jam 12 malam. Sampai dirumah aku bersih-bersih dan tidur jam setengah 2 malam dengan koyo menempel di punggung dan tangan.
Sekitar pukul 04.20an handphone ku bunyi tapi aku mendengarnya ketika deringnya sudah hampir mati, dan itu dari Toya. Aku langsung bangun dan mengetik pesan menanyakan dia dimana dan kondisi bapaknya bagaimana tanpa dibalas kemudian handphoneku berbunyi lagi seketika aku langsung angkat, dan sudah mendengar Toya menangis. Aku yang tadinya sangat mengantuk seketika mengantukku hilang aku langsung terduduk di kasur. Beberapa kali aku menanyakan bapak nya bagaimana Toya tidak mampu menjawab, mungkin sampai 4 kali aku bertanya dia baru sanggup bilang kalau bapaknya sudah tidak ada. “Innalillahi wa inna ilaihi rojiun” Aku langsung berdiri dan bertanya dia dimana sekarang. Setelah mendapat jawaban aku langsung ganti baju pakai kerudung dan pamit kerumah Toya. Sampai disana rumahnya sudah ramai, ada ibunya yang terduduk sambil menangis sementara Toya belum datang masih di perjalanan.
Hari itu ke sekian kalinya mendampingi teman yang kehilangan Ayahnya. Tapi Toya sudah seperti saudara untukku. Bapak Ibunya mengenal kami walaupun sering keliru panggil dengan nama teman dekat kami yang lain, karena semua nama kami 2 suku kata dan dengan akhiran huruf a.
Ketika melihat Toya dan Ibunya menangis aku hanya bisa terdiam mengusap usap kaki dan tangannya dan sesekali menyeka air matanya. Tapi saat melihat Bapaknya disemayamkan dan di shalatkan di teras tempat kami biasa duduk bercerita ber jam-jam sambil bercanda, pecah juga tangisku.
Biasanya tempat itu jadi saksi keluh kesah dan bahagia nya kami bersama sama. Bercanda sampai larut malam dengan berisiknya. Di teras itu juga ada mushola, yang membuat kami jadi tidak khawatir kalau waktu magrib tiba. Tinggal ambil wudhu dan sholat jamaah bersama. Alangkah bersyukurnya aku ketika melihat bapaknya Toya di sholatkan di teras itu dan di hari Jumat. Ternyata di Teras itu juga kami bersama sama berduka. Dalam hati aku berterimakasih kepada beliau sudah membuatkan teras yang begitu nyaman sehingga bisa kami jadikan tempat nongkrong favorit kami, dan tidak pernah sekalipun kami dimarahi walaupun berisik dan pulang malam-malam.
Setelah beliau selesai disholatkan, aku dan temanku satu lagi ikut mengentar ke pemakaman. Aku belum pernah melakukan ini lagi setelah terakhir kali ketika ibuku meninggal. Ternyata sebelum mulai jalan ke pemakaman, Pak Modin (ahli agama di desa yang biasanya mendoakan jika ada momen-momen di desa) akan bertanya kepada tetangga yang hadir, “Si Fulan niki tiyang sae?” (apakah orang ini orang yang baik), dan pada saat itu tetangga Toya serempak menjawab “nggiiiiiihhhhhh”. Allahu Akbar. Aku baru tahu ternyata begini prosesi pemakaman. Dan jawaban serentak tetangga tadi membuat mataku berkaca kaca.
Kami berjalan pelan ke pemakaman. Para warga tidak berisik, segera menyelesaikan proses pemakaman dan kembali pulang. Seketika guyonan guyonan yang sering ku dengar di sosial media yang bunyinya kurang lebih “opo lek mati arep budal dewe?” (apa kalau mati mau mengubur diri sendiri), ku validasi kebenarannya. Selama ini ternyata aku belum menjadi warga yang sebenarnya.
Sudah seminggu dari hari kepergian bapaknya Toya, tapi badanku masih sakit semua. Aku memang bisa menyerap banyak hal, kejadian kejadian yang bagi sebagian orang biasa saja tapi bagiku kadang butuh berhari hari untuk bisa berfungsi normal kembali. Sudah beberapa kali aku mengalami ini ketika menemani teman-temanku kehilangan orang terdekatnya. Tapi yang ini bertahan cukup lama hingga satu minggu. Aku menuliskan cerita ini untuk merilis duka cita yang aku rasakan. Tapi mungkin untuk Toya duka citanya akan bertahan lebih lama. My dear Toya, berduka cita lah dengan baik, take your time. Karena kehilangan orang tua, duka cita nya bisa jadi selamanya, tapi percayalah setelahnya akan banyak kebaikan yang datang ketika semuanya diambil jadi pelajaran.
With Love, D

















