Pertanyaan yang Kita Hindari
Hidup selalu penuh dengan pertanyaan. Dan kita diharuskan mencari jawabannya dengan waktu yang kita punya. Namun, tidak semua pertanyaan mudah untuk dijawab. Tanpa orang lain tahu, kita berpikir keras untuk menemukan jawabannya sendirian.
Kita tak bisa berbohong, bahwa proses menemukan jawaban itu adalah perjalanan yang melelahkan. Akhirnya kita mulai mengurangi energi untuk mencemaskan jawaban itu, dan memilih untuk hidup bahagia.
Dalam usaha kita melupakan pertanyaan dan jawaban itu, sayangnya kita harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan serupa dari orang-orang yang sebenarnya berniat untuk berbasa-basi, kadang seperti tidak memedulikan perasaan kita.
Kita mungkin punya pertanyaan-pertanyaan yang tidak ingin kita dengar. Pertanyaan sederhana yang kita hindari. Menjadi tidak sederhana karena kita telah mendengar dan menjawabnya beratus bahkan mungkin beribu-ribu kali.
“Skripsi udah sampai mana?”
“Abis lulus kuliah mau ngapain?”
(silakan tambahkan sendiri sisanya).
Membuat kita ingin berteriak, “Selamat! Anda orang ke 1000000x yang bertanya begitu. Anda berhak mendapat payung cantik!” Meskipun kita tahu, dia hanya ingin berbasa-basi. Ya, tidak ada niat melukai perasaan kita.
Dalam budaya kita, terbentuk sebuah stigma bahwa bertanya adalah bukti kepedulian. Peduli berarti sayang.
Tapi kadang kita lupa, bahwa diam juga bisa berarti peduli. Peduli pada kebahagiaannya yang mungkin akan terusik oleh pertanyaan iseng kita. Peduli pada perjuangan kerasnya mencapai derajat ikhlas dan ridha terhadap takdir Allah yang mungkin akan hancur seketika saat mendengar pertanyaan basa-basi kita.
Ah, kita memang tak bisa menyalahkan penanya-penanya yang begitu peduli dan sayangnya kepada kita.
Mungkin kita hanya perlu bersabar? Bersabar menjawab dengan jawaban yang selalu sama, dengan intonasi yang kita buat agar terdengar ceria dan baik-baik saja.
“Hehe, kalem ajalah. Jodoh kan di tangan Tuhan”
“Belum dikasih nih, doain aja ya”
“Masih mau fokus ngerawat anak pertama dulu nih”
“Skripsi lagi proses ambil data. Doain lancar ya”
“Masih ikhtiar ikut tes di perusahaan, doain aja ya”
“Abis lulus inginnya kerja dan nikah. Hehe”
Walaupun sebenarnya bisa saja kita menjawab,
“Nikah mulu yang ditanya. Capek dengernya!”
“Emangnya kenapa kalau gue belum isi? Mau lo isiin? Pulsa kali”
“Ya ampun, jahitan pas lahiran kemarin aja belum kering, lo udah nanya kapan nambah anak”
“Skripsi? Udah nyampe tol karawaci noh!”
“Lah kan gue udah kerja. Kerja bakti di RW”
“Gimana nanti ajalah. Peduli amat lo sama gue?”
Dan bersabar tidak pernah mudah, tapi Allah akan jadi teman kita kalau kita bersabar. Karena Allah bersama orang-orang yang sabar.
Memaklumi. Hal lain yang juga perlu kita pelajari. Hidup dengan manusia harus banyak memaklumi dan memaafkan.
Memahami. Hebat jika kita bisa sampai pada taraf ini. Bisa menempatkan kaki di atas sepatu orang lain. Bisa berempati terhadap perasaan orang lain. Berpikir sebelum berkata. Bertanya kepada diri sendiri sebelum bertanya pada orang lain.
“Di situasi seperti ini, kalau aku nanya ABC, gimana perasaan dia?”
“Ngeliat raut mukanya sekarang, dia bakal berekspresi kayak gimana kalau aku tanya EFGH?”
“Kalau aku ada di posisi dia, aku bakal jawab apa ya?”
“Kalau aku nanya, efeknya apakah bakal lebih baik buat dia daripada kalau aku ngga nanya?”
Berinteraksi dengan manusia adalah seni. Kadang sulit dimengerti, tapi karena ketidakmengertian kita itulah ia jadi indah.
Bertanyalah bukan semata karena kepo atau basa-basi. Tapi karena benar-benar peduli.
Jawablah dengan senang hati. Kesabaran dalam menjawab mungkin saja menjadi kunci menuju level keimanan dan keikhlasan yang lebih tinggi.