Siang itu aku mau ngaji dengan ibu-ibu di daerah sekitar mesjid. Seperti biasa aku ngaji di bilik depan mesjid. Tiba-tiba aku dengar suara siaran dari mesjid itu. Innalillahiiwainnailaihiraajiâun.... ada yang meninggal? Siapa? Aku penasaran, aku mencoba mendengarkan siaran dengan suara speaker yang tidak begitu jelas itu. Karena kondisi disekitarku berisik, aku agak menepi dan diam, aku coba dengarkan lagi suara siaran itu. Ketika suara bapak-bapak itu menyiarkan nama orang yg meninggal dunia, aku masih tak bisa mendengar. Kondisi kala itu brisik karena suara gemericik air di tempat wudlu turut melengkapi kebrisikan ibu-ibu dari dalam bilik. Karena aku sungguh ingin mengetahui siapa yang meninggal, aku berniat untuk bertanya kepada siapapun nanti di dalam bilik itu, yang hanya berjarak beberapa langkah denganku. Ketika aku menghampiri pintu bilik itu, seorang perempuan keluar dari dalam dan berdiri di pintu, aku merasa tercegah olehnya. Ternyata dia anaknya pak Dhe, perempuan berusia sekitar 35 tahunan.
âkamu gak pulang? Gak dengar siarannya tadi?â katanya padaku
Baru saja aku hendak menanyakan siapa yang meninggal, kebetulan banget. âemang kenapa mbak? Tadi siapa yang meninggal? Aku gak bisa denger soalnya orang-orang di dalem berisik mbakâ
âoh.. rupanya betul gak denger diaâ kata anak pak Dhe itu kepada mbak Turah, perempuan paruh baya yang tempo lalu bantu-bantu di rumah waktu ayah punya acara menikahkan kakak.
âiya sana pulang, ayah tuamu meninggalâ deg! Aku kaget dengar ucapan mbak Turah dan anak pak Dhe tadi. Aku panik dan bergegas pulang ke rumah, dengan setengah berlari. Rumahku letaknya paling jauh dari mesjid itu, dan harus melewati gang kecil yang berbelok-belok sehingga mengganggu lariku. Tiba-tiba di tengah jalan aku melihat ayah. Dia menunggangi motornya seperti biasa dari arah yang tadi aku lewati karena ini memang jalan satu-satunya menuju rumahku. Aku jadi kaget dan bingung, apakah anaknya pak Dhe dan mbak Turah salah dengar siaran pengumuman kematian tadi? Tanpa banyak berpikir aku hentikan ayah, walaupun aku tau jika tak ku hentikan pun ia akan berhenti dan mempersilahkan aku naik untuk pulang bersama. Benarlah, ayah berhenti dan kemudian aku naik di belakangnya. Aku bertanya padanya âayah gak kenapa-kenapa yah? Ayah tadi dengar siaran di mesjid gak yah?â
Ayah diam saja mendengar pertanyaanku.
âayah tadi ada pengumuman orang meninggal, dan orangnya itu ayahâ kataku lagi
Ayahku masih saja diam dan tidak menjawabku. Aku jadi gemas
âayah, tadi ayah disiarin meninggal, ayok kita ke mesjid trus bilang kalau siaran itu gak benar, ayah masih hidupâ aku bicara lagi padanya dengan nada yang agak meninggi.
âgak usahâ ayahku menyahutku dengan sangat singkat. Aku merasa bingung. Tapi aku lega ayahku masih ada. Namun sikap ayah membuat aku sedih, bagaimana mungkin ia membiarkan namanya disiarkan di mesjid dalam pengumuman orang meninggal? Ayah diam akupun diam. Aku menangkap raut sedih di wajahnya.
***
Tiba-tiba aku sedang duduk dengan mama, kakak, dan adikku. Di sebuah rumah yang sepi dan terlihat hampir tak berpenghuni. Ini adalah rumah pak Dhe. Aku memahami betul rumah itu, rumah yang ditinggali pak Dhe hingga akhir hayatnya. Ya, pak Dhe sudah meninggal 5 tahun yang lalu, meninggalkan satu istri di rumah ini. Namun aku merasakan bahwa pak Dhe masih eksis. Karena itu aku lebih senang menyebut istrinya dengan sebutan istrinya pak Dhe, atau menyebut mbak Soh dengan sebutan anaknya pak Dhe. Mungkin itu semua adalah karena aku sangat hormat dan sangat sayang pada beliau. Istri pak Dhe lebih sering berada di rumah anaknya. Sehingga rumah ini, sepi, dan aku merasakan kehilangan jiwa dari rumah ini. Setiap hari aku bahkan melihatnya, karena rumah ini berada persis di sebelah depan kiri rumahku.
Mama diam saja, dengan wajahnya yang terlihat sangat lesu. Anak-anaknya pun tidak ada yang berani bertanya. Aku memandangi mama, kemudian kakak dan adikku yang sama-sama bingung. Setelah mama diam cukup lama.. iya terlihat akan mengatakan sesuatu. Dengan raut wajahnya yang bergetar, mama mengatakan sesuatu pada kami. âsiaran di mesjid itu tidak salahâ
Aku kaget dan merasa tidak terima. âkok mama ngomong begitu ma? Ayah kan masih sama kitaâ aku bicara dengan nada tinggi, namun dalam hatiku aku merasa takut dengan apa yang sebenarnya terjadi.
âayah memang meninggal, tetapi besok di tanggal 5. Dan ayah sudah tau ituâ. Mamaku bicara hampir menangis. âapa yang akan mama lakukan kalau ayah pergi?â
Aku tertegun sedih. Aku tidak tau harus bicara apa. yang jelas saat itu aku mengerti maksud mama, ayah sudah melihat kematiannya yang belum datang. Aku menatap mama, melihat wajahnya yang amat teduh. Mendengar perkataannya, aku jadi merasa tak karuan. Mama telah memikirkan apa yang bisa ia lakukan ketika suami tercintanya pergi untuk selamanya. Bagaimana dengan aku, dan anak-anak ayah yang lain? Kami semua dalam keluarga ini akan kehilangan sosok bersahaja, kehilangan ayah yang tak letih-letihnya menjadi penopang dan pelindung kami dalam sebuah rumah yang mungil. Aku akan jadi gadis yang meridukan ayahnya. Siapa yang nanti akan melindungiku? Aku jadi ingat kuliahku, sepertinya aku harus mencari pekerjaan untuk membiayai kuliahku sendiri. Tapi.. siapa yang akan jadi tulang punggung keluarga nantinya? Aku ingat bahwa beberapa waktu lalu kami semua merencanakan kuliah adikku, setelah ia lulus dari MA beberapa bulan lagi. Aku juga harus ingat bahwa mama harus makan, dan menikmati masa tuanya dengan indah, mamaku seorang ibu rumah tangga yang tak memiliki modal. Kami bukan keluarga yang kaya dan banyak uang. Kakakku.. dengan keluarga barunya yang kecil, aku tak tega melihatnya harus menjadi tulang punggung keluarga ini. satu-satunya yang harus bisa diandalkan adalah aku. tapi.. bisa apa aku? seorang mahasiswi yang masih semester enam, yang tinggal jauh di Semarang sana dan tak punya keahlian apapun.
Jika telah datang waktunya untuk ayah beristirahat, dari pekerjaannya yang tak kenal lelah untuk kami yang selalu saja merepotkannya, tempatkan dia dalam tempat yang paling indah disisimu Tuhan... dan ijinkan aku menggantikan perannya sebagai tulang punggung keluarga ini. aku kemudian berpikir, bisa apa aku. kemudian aku berpikir macam-macam, kulihat kakakku dan mama, yang murung. aku tau dalam pikiran kita masing-masing tergambar jelas bagaimana kenangan indah dengan ayah, yang tak sanggup kami merelakannya. Kami semua diam. Adikku entah kemana. Tiba-tiba aku terkaget, seutas kabel panjang terjuntai di depan wajahku, kabel yang sudah rusak dan terbuka isiannya. kabel itu mengerikan sekali, menampakkan sedikit percikan api. Kakakku memahami aku takut, ia menyingkirkan kabel itu dengan tangan kosongnya. Aku bingung âkok bisa dia gak kena setrum?â tanya ku dalam hati. Tiba-tiba.. aku mendengar suara gemuruh, sepertinya ini sebuah bencana, aku berdiri dan mengamati sekelilingku, aku masih tak mengerti ada apa ini. mama dan kakak berada di belakangku, perasaanku mengatakan ada yang tak enak dengan sesuatu di atas kami, aku menunduk dan benarlah, atap di atas kami dengan cepatnya jatuh akupun menjerit. Braak!!!
***
Aku tak bisa melihat apa-apa, namun dengan lirih telingaku masih bisa mendengar sesuatu. Sepertinya ada sesuatu yang menimpaku. Aku mendengar suara beberapa orang terdengar sedang menolongku, âYa Allah..â gumamnya setelah mengangkat sesuatu yang menimpa dan meninduih tubuh kami. Tiba-tiba aku melihat diriku sendiri sedang ditolong oleh seorang pria paruh baya, aku tergolek lemas kala itu. âpak, kepalanya bocorâ aku mendengar suara seorang perempuan yang sedang mengangkatku. Aku melihat, mama kemudian menangis dan memegangi kepalaku dengan lembut, kepala yang berlumuran darah.
***
Aku berada di sebuah ruangan yang berbau cat.berdinding hanya dua sekat, sekat depan dan sekat kiri terbuka dan aku dapat melihat lalu lalang jalanan. Rupanya ruangan ini adalah sebuah petak di ujung pertigaan jalan. Dengan suara lalu lintas yang berisik, aku mendengar sedikit percakapan ayahku dan Uus namun tidak terlalu jelas karena bisingnya. Uus sedang memotong-motong kayu dan memakunya, setelah ia mengecat ruangan ini. aku datang ke tempat ini bersama ayah, aku berpikir kenapa ayah masih menyempatkan untuk pergi ke tempat Uus, sementara waktunya tidak lama lagi. Bukankah hari ini ayah harus pergi untuk selamanya? Aku baru ingat saat itu, ini bukan tanggal lima, hari ini adalah 20 Maret. Apakah yang mama maksud tanggal 5 adalah ada di bulan April? Yang tandanya ayah masih memiliki 15 hari untuk bersama kami? Aku tersenyum lebar, aku senang. Aku melihat adikku juga ada disana menonton tv, aku bermain-main perosotan yang ada di tempat itu dan kemudian menikmati nonton tv bersama adikku.
***
Aku duduk di belakang ayah, kupandangi rambutnya, ku pandangi bahunya dengan hati yang mendung. Dalam perjalanan itu tak bosan bosan aku memandangi ayah dari belakang, meskipun ia terdiam sepanjang perjalanan, namun aku sangat merasakan kehadirannya, merasakan kebersamaan kita. Aku jadi ingat sesuatu, aku pernah mengatakan sesuatu pada pacarku âsayang kamu tau gak, ada dua orang di dunia ini yang sangat aku percayai bisa membuat aku nyaman berkendara naik motor. Yang pertama adalah ayah, dan yang kedua itu kamuâ aku masih sangat ingat dengan jelas apa yang aku katakan dengan jujur kepada pacarku saat itu. Tapi saat ini justru aku sedang merasakan kesedihan terdalamku, sebentar lagi hanya ada satu orang yang membuat aku nyaman duduk di jok motornya. Aku bimbang, aku gak tau apakah aku harus menikmati kenyamanan ini, atau aku harus menangis sesak karena aku tau inilah saat-saat terakhir bersama ayahku. Hanya itu yang aku pikirkan pada perjalanan kami. Aku ingat apa tujuan kami pergi, ayah mengajakku pergi ke Tegal untuk menyelesaikan urusan-urusannya terlebih dahulu sebelum ia meninggal.
***
Aku berada di sebuah kamar yang reot, ini adalah kamar depan rumahku, kamar ini pernah jadi kamarku dan kakak waktu kami kecil, pernah jadi kamar nenek, pernah jadi kamarku lagi waktu SMA, dan yang terakhir kamar ini ditempati mama sama ayah. Kamar itu sudah reot, setiap dindingnya terbuat dari kayu, dan sudah sering berlubang dan berkali-kali ditambal dengan gypsum, kamar yang dulu banyak tikusnya. Aku bersandar di sebuah kasur busa yang juga sudah tua, yang disenderkan berdiri di salah satu sisi dinding. Aku melihat ayahku di depanku sedang membetulkan sesuatu, yang aku sendiri tak tahu apa yang sedang ayah betulkan. Ketika aku memandangi ayah, aku mendengar suara gemuruh, sepertinya aku mengenal suara itu, suara pohon tumbang  yang menimpa dan membuat kepalaku bocor. Aku lari ke pintu belakang, dan menengok pohon besar di sebelah rumah. Ayah berteriak dari dalam âmasuk vi.. gak apa-apa, pohonnya gak akan jatuh.â Aku selalu percaya pada ayah, akupun masuk. Ayah masih membetulkan sesuatu di tangannya, ayah memintaku mengambilkan testpen. Aku bergegas mencari testpen yang ayah butuhkan. Aku membuka pintu samping dari sebuah lemari bupet, begitu orang-orang disini menyebutnya. Aku mengambil sebuah testpen berwarna biru dari sana. Tiba-tiba perutku sakit, aku kemudian ke belakang, ketika aku menutup pintunya aku merasa tak tega dengan ayah, karena aku tak segera mengantar testpen yang ia mau. Sesaat kemudian aku mendengar suara mama âvi.. mana testpennya?â aku segera memandang sesuatu di tanganku, yang ternyata bukan sebuah testpen, melainkan sebuah Drei!
***
Aku membuka mataku, aku terbaring di atas sebuah kasur merah, dengan buku berserakan, ada juga pena, dompet, flasdisk, dan sebuah binder kecil yang turut ku ajak tidur bersama di atas sini. Aku masih memikirkan kepergian ayah, Mimpi buruk dan mimpi sedih adalah hampir makananku setiap malam, tapi ini begitu jelas. Tak mau berlama-lama lagi, aku raih binder kecil dan pena di dekat kakiku. Ku tulis apa yang aku ingat dalam mimpi semalam, tentang ayah, tentang mama, kamarku, segala yang aku ingat ku tulis dalam binder kecil itu. Tapi.. banyak bagian yang kulupakan. Aku berusaha keras mengingatnya kembali. Apa yang terjadi sebelum aku pergi ke mesjid, dan bagian dimana aku pergi ke Comal sebuah tempat di kota pemalang , tapi aku hanya ingat itu dan tak bisa diceritakan. Mimpiku hanya berupa potongan-potongan.
Aku masih memikirkan kejadian-kejadian semalam. Kenapa tiba-tiba ada siaran pengumuman orang meninggal yang orangnya ternyata masih hidup? Di dunia nyata hal itu hampir tidak pernah terjadi kan? Bahkan dalam mimpiku ayahku baik-baik saja dengan itu, dan benar saja, ternyata memang ayahku memang akan meninggal dalam mimpi semalam. Bagaimana mungkin bisa secocok itu? Mengenai ayahku yang tau akan kematiannya terlebih dahulu itu juga menjadi pertanyaanku. Ayahku masih sehat, dia tidak sakit, lalu dengan cara seperti apa Tuhan akan mengambil nyawanya? Aku juga masih ganjil dengan kabel rusak yang terjuntai di depan mataku, isiannya terbuka dan menampakkan sedikit percikan-percikan api, apa maksud dibalik itu, kemudian kakakku, dengan hebatnya dia menyingkirkan kabel itu dengan tangan kosongnya tanpa tersengat listrik. Pohon yang tumbang hingga kepalaku bocor, dalam kenyataan, tak ada pohon besar di depan rumah pak Dhe, tak ada pula di samping belakang rumahku. Yang lebih aneh, kenapa bunyi pohon tumbang terdengar gemuruh seperti bencana alam? Aku juga heran dengan mimpiku yg menyadari bahwa hari itu adalah tanggal 20 Maret, sama persis dengan hari dimana aku bermimpi. Dan apa artinya angka 5?