Jangan salahkan aku ketika kita dipertemukan kembali.
Aku tahu bahwa kau sangat menginginkan aku menjauh darimu.
Aku pun sudah berusaha melangkah jauh darimu.
Aku juga tidak paham kenapa kita selalu saja berada di ruang dan waktu yang sama.
Aku sudah berjalan keluar dari lingkaran hidupmu.
Maksudku, aku telah keluar dari lingkaran yang sebatas diriku lihat. Tapi entahlah jika Tuhan menggoreskan garis melingkar yang lebih besar, yang membuat lingkaran-Nya mengitari lingkaranku.
Itu berarti aku masih berada dalam lingkaranmu, atau mungkin kau yang berada dalam lingkaranku? Entah langkah siapa yang dituntun. Kau yang bergerak ke arahku, atau langkahku yang mendatangimu.
Demi Tuhan, aku pun tidak pernah menginginkan ini.
Aku juga lelah bertemu dengan seseorang yang tak menginginkanku. Jika sebelumnya aku tahu bahwa kita akan bertemu, percayalah, aku yang lebih dulu berbalik arah, memutar langkahku, berbelok entah kemana, yang jelas ke tempat yang tak ada dirimu.
Jadi, jangan pernah berpikir bahwa aku merencanakan semua ini.
Jangan beranggapan bahwa aku sengaja mengikutimu. Kau tahu? Aku juga berpikiran sama denganmu. Aku rasa kau yang mengikutiku.
Baiklah. Kita berdua sama-sama tak menginginkan ini.
Tapi, sepertinya Tuhan sangat menginginkannya.
Aah, aku bingung.
Aku tidak tahu harus melakukan apa ketika takdirku tak menginginkanku.
Bahkan ketika aku masih menginginkannya menjadi takdirku, tidak ada yang bisa kulakukan.
Iya, hatiku pernah mendambakanmu menjadi takdirku, hingga aku tersadar bahwa takdirku tak menginginkanku. Dan saat itu, aku memutuskan untuk berlari jauh darimu. Itu melelahkan, tak ada yang bisa lari dari takdir. Seberapapun aku sangat menginginkannya, atau sangat tidak menginginkannya, bahkan saat aku berlari sangat cepat dan jauh, takdir tetap bisa menangkapku.
by : Perempuan Penunggu Senja